
"Lho sayang, kapan sampai sini?" tanya Zico sembari turun dari atas ranjang. Ia berjalan mendekati Fanya yang masih berdiri di ambang pintu itu.
Fanya masih terdiam sampai Zico berada di depannya dan mengecup singkat bibir Fanya membuat wanita itu mengerjabkan matanya. Ia melihat kearah Zico dengan kerutan di keningnya.
"Kenapa sih lihatin aku kayak gitu?" tanya Zico yang hanya diabaikan begitu saja oleh Fanya. Wanita tersebut mengalihkan pandangannya kearah satu orang yang jadi berada di atas ranjang dengan tatapan yang mengarah kearah sepasang suami-istri tersebut.
Orang yang di tatap Fanya, menjadi gelagapan sendiri sekaligus takut. Takut istri dari bosnya itu berpikir yang macam-macam kepadanya. Dan karena pikirannya yang sudah menduga Fanya akan menuduh dia yang tidak-tidak. Ia langsung turun lalu berlari kecil kearah Fanya dan Zico.
"Bu bos jangan salah paham sana kita ya. Saya benar-benar tidak melakukan hubungan terlarang dengan pak bos. Saya hanya membantu pak bos buat ngerokin dia. Nih buktinya, saya masih bawa uang koin dan minyak kayu putih. Dan kalau Bu bos masih tidak percaya, lihat saja nih punggung pak bos." Orang itu memutar tubuh Zico hingga punggungnya menghadap kearah Fanya. Zico memang tidak memakai atasan sama sekali sehingga memperlihatkan bentuk tubuh atasnya.
Tentu saja hal itu membuat Fanya terkejut bukan main. Tapi saat dirinya ingin bertanya kepada Zico, ia harus menghentikan niatannya tadi karena orang yang berada di dalam kamar bersama Zico tadi kembali berkata, "Sumpah demi apapun Bu bos kalau saya dan pak bos tidak melakukan apapun. Toh saya juga masih normal. Saya masih suka terowongan bukan pisang."
Zico yang mendengar ucapan dari orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah sekertarisnya sendiri yang memiliki nama Baim itu, ia langsung memukul pelan kepala sekertarisnya itu. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. Dan tentunya pukulan yang Zico berikan berhasil membuat Baim meringis kesakitan.
"Jangan bodoh Baim. Saya juga masih normal. Kalaupun saya sudah tidak normal, saya tetap akan pilih-pilih pasangan saya yang tentunya bukan kamu orangnya. Lagian isi kepala kamu kenapa sampai kesana sih? Padahal dari tadi istri saya tidak mengucapakan sepatah katapun yang menjerumus kalau istri saya curiga kalau kita melakukan hal di nalar seperti yang kamu pikirkan itu?" semprot Zico.
Baim menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia juga tidak tau ia dapat pikiran semacam itu darimana, pasalnya saat ia melihat tatapan Fanya tadi kepadanya, ia menyimpulkan sendiri jika Fanya tengah curiga kepadanya dan Zico.
__ADS_1
"Ya---ya saya juga tidak tau kenapa saya memiliki pikiran seperti itu. Tapi saat saya melihat tatapan mata Bu bos membuat saya berinisiatif menjelaskan semua yang tengah terjadi dengan sejujur-jujurnya daripada nanti terjadi kesalahpahaman. Lagian kita kan juga tidak tau isi pikiran Bu bos yang sebenarnya seperti apa saat melihat kita berada di dalam satu kamar yang sama dalam posisi anda yang tidak memakai baju lagi." Zico yang awalnya menatap kearah Baim, kini tatapan itu ia alihkan kearah Fanya.
"Memangnya kamu berpikir aku berbuat mesum dengan Baim, Yang?" tanya Zico yang tentunya dibalas gelengan oleh Fanya. Ia memang tidak berpikir sampai kesitu, dirinya yang terdiam di ambang pintu setelah membukanya tadi karena ia bukan berpikir kalau suaminya sudah belok sehingga berhubungan dengan sesama pria. Ya walaupun tadi sempat terkejut sedikit sih, sebelum ia benar-benar melihat wajah Baim karena sekertaris suaminya itu kebetulan memiliki rambut sebahu yang jika menutupi wajahnya yang terdapat kumis itu akan membuat siapa saja menganggap jika Baim seorang perempuan, begitu pula dengan Fanya tadi. Dan sebelum ia berpikir macam-macam, ia lebih dulu melihat wajah Baim sehingga ia tak sampai berpikir jika Zico tengah selingkuh. Ia juga percaya jika suaminya itu masih normal dan tidak memiliki kelainan apapun yang mengharuskan ia berhubungan dengan laki-laki maupun perempuan.
Zico yang melihat gelengan dari Fanya, ia kini melirik sinis kearah Baim.
"Kamu lihat kan gelengan kepala dari istri saya tadi yang berarti istri saya tidak memiliki pikiran yang sama dengan isi kepala kamu itu. Ahhh sudah lah lebih baik kamu keluar sekarang juga," ucap Zico tentunya mengusir sekertarisnya itu agar ia bisa segera bermesraan dengan istrinya.
Sedangkan Baim yang mendapat usiran ia melongo tak percaya. Tapi tak urung ia tetap melangkahkan kakinya meninggalkan pasangan suami-istri tersebut setelah ia memberikan uang koin dan minyak kayu putih tadi ke tangan Zico. Namun di setiap langkah kakinya bibirnya itu tak henti-hentinya menggerutu.
"Dasar bos sialan. Tadi saja mohon-mohon sama gue buat ngerokin dia. Giliran udah ada istrinya, guenya langsung diusir begitu saja. Mana gak dapat ucapan terimakasih lagi, apalagi upah. Padahal gue tadi nolong dia biar dapat upah. Tapi nyatanya gak dapat sepeserpun. Sialan memang si Zico. Huh untung bos plus sahabat sendiri kalau gak, udah gue maling semua harta kekayaan dia." Gerutuan yang keluar dari bibir Baim itu terus berlanjut bahkan saat ia sudah berada di ruang kerjanya, ia tetap saja mengomel tak ada hentinya.
Fanya memberikan tepukan dua kali di punggung Zico sebagai kode jika ia telah selesai melakukan aktivasinya. Dan tepukan itu membuat Zico langsung membalikkan tubuhnya, hingga ia tidur telentang. Tangannya pun ia gunakan untuk memijit kepalanya yang terasa pening sebelum tangan tadi, diganti dengan kedua tangan sang istri.
Zico memejamkan matanya, menikmati pijatan sang istri. Hingga beberapa saat setelahnya ia kembali membuka matanya, menatap wajah Fanya.
Fanya yang merasa di tatap pun, ia menghentikan pijatannya lalu membalas tatapan Zico dengan gerakan di bibirnya yang membuat kata, "Kenapa?"
__ADS_1
"Kepalaku sakit banget, Yang. Perutku juga dari tadi rasanya mual mulu tapi gak bisa muntah. Nyiksa banget rasanya," rengek Zico, mengadukan apa yang tengah ia rasakan saat ini. Entah ada apa dengan tubuhnya sedari tadi pagi, ia merasa mual tapi masih bisa ia tahan sehingga Fanya tak menyadari akan hal itu. Tapi ketika ia sampai di kantor, rasa mual itu semakin menjadi di tambah rasa pusing yang membuat ia tidak konsen dalam bekerja.
"Kenapa bisa? Kamu selama ini gak telat makan kan?" tanya Fanya dengan bahasa isyaratnya.
Zico terdiam sesaat, mengingat-ingat apakah ia pernah meninggalkan jadwal makannya. Tapi setelah ia ingat-ingat lagi, seperti tidak pasalnya istirnya itu selalu mengomel jika ia belum makan sehingga ia kini menggelengkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan dari Fanya tadi.
"Aku rasa setalah aku menikah sama kamu hampir 2 tahun ini, jadwal makanku selalu teratur sayang dan aku juga tidak memiliki riwayat penyakit yang menyangkut lambung," balas Zico.
"Kamu yakin?"
Zico menganggukkan kepalanya.
"Tapi kalau memang kamu tidak telat makan, terus kamu kenapa sampai mual begini?"
Zico menggedikkan bahunya. Ia juga tidak tau kenapa tubuhnya lemah begini. Ia juga yakin rasa sakit yang tengah ia rasakan bukan karena ia kelelahan, karena ia sangat kenal dengan kondisi tubuhnya sendiri. Jika ia kelelahan yang akan ia rasakan pegal di seluruh badan dan sakit kepala sebelah. Sangat-sangat berbeda dari yang ia rasakan kali ini.
Fanya tampak menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu. Nanti setelah kamu makan siang, kita kerumah sakit buat periksa kondisi kamu. Tidak ada kata penolakan!"
Zico yang baru ingin protes, bibirnya kembali ia katupkan saat melihat Fanya tak ingin dibantah. Padahal ia tak suka dengan bau rumah sakit apalagi sampai minum obat. Ayolah Zico sudah terlalu muak dengan butiran pahit itu. Ia tak ingin mencicipi rasa pahit itu lagi setelah sakit mentalnya sembuh. Tapi sepertinya Fanya sudah kekeuh dengan keputusannya.