My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 38


__ADS_3

Sesaat suasana di lantai dua rumah keluarga Abhivandya itu sunyi senyap kala Zico baru saja mengatakan rahasia kekurangan Fanya. Sebelum Mommy Della mengelus lembut bahu Zico yang otomatis membuat laki-laki itu menfokuskan pandangannya kearah Mommy Della yang saat ini tengah tersenyum kepadanya.


"Mommy, Daddy tidak akan melarang kamu berhubungan dengan perempuan manapun asalkan dia baik dan memiliki sopan santun. Mommy dan Daddy juga tidak mempermasalahkan perempuan yang tengah menjalin hubungan denganmu memiliki kekurangan asalkan kamu menerimanya dan kamu tidak memanfaatkan kekurangan dia untuk mencela kekurangan dia saat kalian bertengkar. Mommy dan Daddy akan memaklumi keterbatasan yang Fanya miliki. Dan Mommy akan pastikan jika semua keluarga kita juga akan memaklumi Fanya," ujar Mommy Della yang diangguki oleh Daddy Aiden. Kedua manusia paruh baya itu memang tidak pernah menuntut anak-anaknya memiliki pasangan yang setara dengan mereka entah itu bibit, bebet, ataupun bobotnya. Mereka tidak peduli dengan aturan memiliki pasangan yang biasanya orang-orang berada itu lakukan yang justru akan membebani putra-putrinya. Mereka justru membebaskan putra-putrinya memilih pasangan mereka sendiri-sendiri tanpa campur tangan keduanya. Asalkan orang yang akan mereka jadikan pasangan memiliki sopan, santun juga berperilaku baik, itu sudah sangat cukup untuk kriteria menantu keluarga Abhivandya.


Zico tampak terkejut mendengar penuturan dari sang Mommy. Padahal ia tadi sempat berpikir yang tidak-tidak kepada kedua orangtuanya itu. Dan siapa sangka justru kedua orangtuanya tidak mempermasalahkan kekurangan yang dimiliki Fanya. Hal tersebut membuat Zico kini bisa menghela nafas lega. Ia semakin lega dan merasa tenang saat Erland juga ikut berkata, "Benar apa yang dikatakan oleh Mommy tadi. Asalkan Fanya merupakan orang baik, kita tidak mempermasalahkan kekurangan dia apapun kekurangannya itu. Dan setelah gue lihat tadi, dari wajahnya saja sudah bisa gue jamin dia emang perempuan baik-baik. Jadi Lo tenang aja karena kita akan mendukung hubungan Lo sama Fanya, asalkan Lo bahagia."


Erland yang sudah mendekati Zico, ia memberikan tepukan beberapa kali di bahu Zico. Sedangkan Zico, ia tersenyum sembari berkata, "Terimakasih."


Tentunya ucapan terimakasih itu dibalas dengan anggukkan oleh ketiga orang yang berada di sekitarnya.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi. Ayo kita temui Fanya sekarang juga. Mommy sudah tidak sabar bertemu dengannya," ujar Mommy Della sembari meriah lengan Zico lalu ia lingkarkan tangannya di lengan anak laki-lakinya itu sebelum keduanya melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, diikuti oleh kedua laki-laki lainnya dibelakang mereka.


Ditengah-tengah jalan, Mommy Della teringat satu hal sehingga ia menghentikan langkah kakinya. Lalu dengan cepat ia menoleh kearah Zico.

__ADS_1


"Kenapa Mom?" tanya Zico penasaran kenapa sang ibunda menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba.


"Mommy mau tanya. Kan kamu tadi bilang kalau Fanya hmmm maaf tidak bisa berbicara." Zico menganggukkan kepalanya.


"Iya, terus Mom?" tanya Zico.


"Kalau dia tidak bisa bicara, bagaimana kita komunikasinya nanti? Mommy kan gak bisa bahasa isyarat Jio," ucap Mommy Della yang mulai gelisah. Tidak mungkinkan mereka nanti hanya diam saja tanpa berbincang-bincang dengan Fanya dan hanya berkomunikasi lewat tatapan mata saja yang tentu tidak bisa mereka pahami.


"Daddy juga tidak bisa bahasa isyarat," timpal Daddy Aiden. Laki-laki paruh baya yang memiliki kecerdasan cukup tinggi itu tiba-tiba ia merasa bodoh hanya karena dirinya tidak bisa bahasa isyarat. Jika saja ia dulu tau kalau akan mempunyai menantu memiliki kekurangan seperti ini, ia akan belajar bahasa isyarat itu agar dirinya bisa berkomunikasi dengan calon menantunya. Dan lihatlah dirinya cukup menyesal tidak belajar bahasa khusus itu.


Zico lagi-lagi tersenyum kala melihat tatapan berbeda-beda dari ketiga orang tadi.


"Kalian tenang saja. Fanya bisa mendengar suara kalian. Kalau kalian tidak bisa bahasa isyarat agar mengerti balasan dari Fanya nantinya, Fanya akan menulis di notebooknya. Karena begitulah cara dia berkomu dengan orang lain jika mereka tidak bisa bahasa isyarat. Jadi kalian tidak perlu khawatir lagi tentang cara berkomunikasi kalian dengan Fanya nantinya." Perkataan Zico tadi membuat ketiga orang itu dengan serempak menghela nafas lega.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu," ucap Mommy Della kembali mengeratkan pelukannya di lengan Zico kemudian keempat orang tadi melanjutkan langkah kaki mereka. Sampai akhirnya mereka telah menginjakkan kakinya di lantai satu rumah tersebut.


Dari kejauhan mereka bisa melihat seorang perempuan cantik tengah duduk disalah satu sofa di ruang tamu.


Sedangkan disisi lain, Fanya yang sedari tadi gugup menunggu kedatangan Zico bersama kedua orangtuanya, kini dirinya semakin dibuat gugup kala matanya melihat dua orang paruh baya datang bersama Zico, dan tanpa menebak-nebak lagi, ia yakin jika mereka adalah orangtua Zico walaupun tidak ada kemiripan sama sekali dengan Zico.


Fanya otomatis berdiri kala keempat orang itu telah sampai di ruang tamu.


Mommy Della yang melihat hal tersebut pun, ia segara berlari kecil mendekati Fanya yang justru semakin membuat jantung gadis itu berdetak tak beraturan. Ia bahkan berpikir jika wanita paruh baya itu buru-buru mendekatinya untuk menampar dan menjambak dirinya sebelum dia memakinya lalu menyeretnya keluar.


Tubuh Fanya kini bergetar hebat kala melihat Mommy Della sudah berdiri disampingnya, ia bahkan sudah menundukkan kepalanya sembari memejamkan matanya bersiap menahan rasa sakit yang akan diberikan oleh wanita paruh baya itu. Namun saat ia merasakan sentuhan lembut di kedua lengannya, ia membuka matanya dan dengan memberanikan diri, menegakkan kepalanya. Saat kepalanya itu sudah tegak, matanya langsung bersitatap dengan mata jernih milik Mommy Della yang tampak sedikit menyipit akibat wanita itu tengah menerbitkan senyumannya.


Dan tanpa Fanya sangka-sangka sebelumnya, tubuhnya kini ditarik untuk masuk kedalam pelukan Mommy Della. Tentu saja hal itu berhasil membuat Fanya terkejut bukan main, bahkan tubuh sempat membeku sesaat kala ia juga merasakan usapan lembut di kepalanya.

__ADS_1


Fanya ragu untuk membalas pelukan dari Mommy Della itu sehingga ia mengalihkan pandangannya kearah Zico yang sudah duduk di salah satu sofa yang tak jauh darinya. Kekasihnya itu terlihat tersenyum dengan anggukan kepala, memberikan kode agar Fanya membalas pelukan dari Mommy Della.


Tentu saja hal itu membuat Fanya akhirnya mengangkat tangannya lalu membalas pelukan dari Mommy Della tak kalah erat dari pelukan yang diberikan oleh wanita paruh baya tersebut. Terus terang saja, Fanya merasa nyaman kala wanita paruh baya tersebut memeluknya. Ia seperti merasakan ketenangan tersendiri didalam hatinya.


__ADS_2