Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 100 takut kehilangan


__ADS_3

Tiba tiba saja mereka dibuat terkejut oleh teriakan seorang wanita.


"Stop!! apa yang kalian lakukan!" Pekik Nabila yang baru saja tiba di cafe, air matanya menyeruak tak tertahankan melihat suami dan sahabatnya babak belur merebutkan dirinya.


Rangga sedang mengungkung Rendy yang terkulai di lantai sambil melayangkan pukulan yang bertubi tubi.


Rangga, Rendy Leon serta pemilik kafe begitu terkesiap dengan kedatangan Nabila, sejenak Rangga dan Rendy menghentikan aksinya wajah kacau mereka menatap Nabila lekat.


Rangga segera menghentikan aksinya, ia berdiri begitu juga Rendy dengan susah payah ia berdiri memegangi perutnya yang terasa amat sakit akibat pukulan Rangga.


"Mas, kenapa kamu lakukan ini?" Nabila mendekat memeluk Rangga yang terengah engah menahan emosinya kedua tangannya masih mengepal kuat penampilannya tidak kalah kacau dari Rendy kemeja putih yang melekat ditubuhnya sudah dipenuhi bercak darah, wajah tampannya memar dan lebam serta hidungnya mengeluarkan sedikit darah.


"Sudah cukup mas jangan lanjutkan lagi," Nabila terisak dalam pelukan Rangga.


Nabila melepas pelukannya kini ia menatap tajam Rendy yang berdiri di hadapannya.


"Ren, aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, apa segitu tidak tahu malunya kamu mengirimkan pesan seperti itu kepada wanita yang sudah menjadi istri orang lain?" ujar Nabila dengan nada cukup tinggi.


Rendy terdiam, menatap lekat wajah Nabila yang sudah dibanjiri air mata.


"Kalau kamu pikir aku tidak bahagia menikah dengan suamiku, itu jelas kamu salah besar. Aku justru sangat bahagia bisa memiliki suami seperti mas Rangga," lanjutnya, Rendy menghela nafas berat hatinya teriris sembilu tak kasat mata menyayat hatinya, luka yang belum mengering di dalam hatinya kembali terkoyak menyisakan perih dan sakit teramat dalam.


Rendy menahan air matanya yang hendak menerobos keluar.


"Tolong mulai sekarang jangan ganggu rumah tanggaku lagi, jangan ganggu kebhagiaanku lagi," tatapan kecewa dan penuh kebencian tersorot dari mata sembab Nabila.


"Lo denger sendiri kan br*ngs*k! dia sangat bahagia menikah denganku, dia sudah jadi milikku seutuhnya jadi jangan harap lo bisa ngrebut dia dari gue!" Rangga menunjuk tegas Rendy, sementara pria itu hanya membuang muka ke sembarang arah.


"Gue peringatin sama lo ya, sekali lagi gue tahu lo coba ngrebut istri gue, gue ngga akan segan habisin lo!"


"Sudah mas, ayo kita pulang," Nabila menggandeng tangan Rangga untuk segera pergi dari sana.


Rasanya Rangga masih belum puas, ingin sekali ia mematahkan tangan dan kaki laki laki yang berusaha merebut istrinya itu, Rangga menghunuskan tatapan tajamnya sambil berlalu meninggalkan Rendy.

__ADS_1


Rendy hanya bisa menatap kepergian Rangga dan Nabila serta Leon dengan sendu.


"Arggghh!!" tubuhnya luruh berlutut ke lantai, kedua tangannya menarik rambutnya frustasi.


Pemilik cafe yang melihatnya merasa iba, ia mencoba menenangkan Rendy dan membantu pria itu berdiri.


****


Nabila dan Rangga sudah berada di dalam mobil yang dikemudikan Leon.


"Mas, wajahmu pasti sakit banget ya?" Nabila menyentuh wajah Rangga yang penuh memar dan dan darah segar di hidung dan kedua sudut bibirnya dengan sangat hati hati.


"Ini ngga seberapa sayang, dibandingkan dengan rasa sakit saat ada laki laki lain yang ingin merebutmu dariku," Rangga mengecup tangan Nabila sekilas.


"Nanti ku obati lukanya kalau sudah sampai rumah," Nabila memeluk Rangga erat, membuat Rangga meringis. Ya badannya terasa remuk redam pasca berkelahi sangat terasa saat Nabila memeluknya begitu erat.


Rangga mendesis.


"Ngga apa apa sayang," Rangga tersenyum.


"Badanmu sakit semua?" tebak Nabila, Rangga tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Makanya jangan berantem terus!" seru Nabila.


"Suami mana yang tidak marah kalau istrinya mau di rebut laki laki lain!" sungut Rangga.


"Kan kamu bisa bicarakan ini baik baik mas, ngga perlu pakai kekerasan begitu."


"Laki laki s*alan itu mana bisa dibilangin baik baik, dia kan bebal!" serunya.


"Sudah ya mas jangan berantem gara gara aku lagi, aku sedih loh kalau kalian terus begitu," pungkas Nabila.


"Tergantung, dianya mau nyerah atau ngga. Kalau dia masih ngejar cinta kamu ya aku akan tetap memberinya pelajaran bila perlu menghabisi nyawanya!" seru Rangga.

__ADS_1


"Mas hati hati kalau bicara, aku ngga mau ya kamu masuk penjara karena telah menghabisi nyawa orang," sungut Nabila.


"Kenapa memangnya?, kamu takut kehilanganku, heum?" Rangga meraih dagu Nabila menghadapnya, menatap wajah istrinya itu.


"Tentu sayang, aku takut kehilanganmu aku ngga mau jauh dari kamu," jawaban Nabila membuat Rangga bahagia, hatinya yang sempat memanas serasa di aliri sejuknya air pegunungan.


Rangga memeluk Nabila, mengecup puncak kepalanya sekilas.


"Terimakasih sayang."


Leon tersenyum dari balik kemudi melihat tuan mudanya terlihat begitu bahagia, ah rasanya ia jadi ingin juga mersakan indahnya cinta.


"Ngomong ngomong, kamu kenapa ada di cafe ini?, bukankah aku udah menyuruhmu pulang dengan pak Kasim?" Rangga menyelipkan anak rambut Nabila yang menghalangi wajah cantik istrinya itu.


"Aku tadi sudah pulang ke rumah tapi lama aku nungguin kamu mas, aku jadi cemas, nomormu juga di luar jangkauan jadi aku hubungi mas Leon menanyakan keberadaanmu," Pungkas Nabila.


"Leon yang memberitahukan semuanya kepadamu?" Rangga melirik Leon yang terlihat tegang di balik kemudi.


"Iya, aku mendesaknya akhirnya dia mau jujur, kenapa kamu bohongi aku?" Kesal Nabila.


"Maaf sayang, aku cuma ngga mau kamu mencemaskanku dan malah mengacaukan semuanya, aku mau beri laki laki s*alan itu pelajaran yank."


"Lain kali jangan membohongiku lagi, aku tidak suka dibohongi," Nabila mencebik.


"Ngga sayang, ngga akan kuulangi," ucap Rangga, sorot matanya menatap tajam Leon seolah minta penjelasan kenapa Leon memberitahu Nabila, begitulah kira kira.


Leon yang menyadari hal itu segera meminta maaf kepada Rangga.


"Maafkan saya tuan, saya tidak bisa berbohong lagi saat nona Nabila terus mendesakku," tutur Leon melirik ke arah spion yang memantulkan wajah kesal Rangga kepadanya.


"Jangan memarahinya mas, ini bukan salah Leon ini semua salahmu!" seru Nabila.


"Iya iya ini semua salahku," Rangga menghela nafas panjang.

__ADS_1


__ADS_2