
"Lalu apa kamu akan menuruti kemauanku untuk tidak boleh tersenyum kepada semua laki laki di dunia ini kecuali aku, Aditya dan papa". Ujar nya sambil membalikkan tubuh Nabila hingga menghadapnya.
"Astaga!, Dia ini benar benar sudah gila. Di dunia ini ada banyak laki laki sepertinya hal yang mustahil jika aku tidak boleh tersenyum kepada laki laki!". Gerutu Nabila dalam hati.
"Bagaimana, kamu bisa kan sayang?".
"Mas, jangan aneh aneh deh mana mungkin aku tidak boleh tersenyum kepada laki laki lain selain kamu, Aditya dan papa, dosen di kampusku laki laki, Leon laki laki, supir di rumahmu laki laki, penjaga rumah laki laki, satpam laki laki!". Seru Nabila protes.
"Lalu bagaimana kalau aku tidak boleh tersenyum kepada mereka?". Nabila mengangkat dagunya, meminta jawaban.
"Memang mau apa kamu senyum sama mereka?". Nadanya sudah mulai kesal.
"Ya, namanya orang bersosialisasi kan harus ramah mas, balas tersenyum jika mereka tersenyum, menurutku selagi itu dalam batasan wajar tidak masalah".
"Pokoknya tidak boleh ya tidak boleh, jangan membantah lagi!". Seru Rangga.
"Kenapa dia jadi posesive begini sih". Batin Nabila.
"Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu".
"Nah gitu dong, gadis pintar". Tersenyum sambil mengacak puncak kepala Nabila.
"I Love you". Sambungnya sambil mengecup kening Nabila sekilas.
Mungkin Nabila harus mulai terbiasa dengan sikap Rangga yang terlalu posesive, sejujurnya ia senang karena itu artinya Rangga sangat mencintainya namun entahlah semua peraturan yang dibuatnya membuat Nabila merasa tidak nyaman.
Tapi mau bagaimana lagi, begitulah Rangga mencintai Nabila dengan caranya sendiri, tergila gila kepada Nabila membuat Rangga bersikap begitu posesive.
Rasa cemburu yang tinggi dan rasa takut kehilangan yang berlebihan sehingga muncul perasaan untuk memiliki dan mengikat Nabila.
Rangga merasa iri jika Nabila bisa tertawa lepas dengan orang lain terlebih lagi lawan jenis, bahkan saat tak bersamanya. Ngeselin banget ya Rangga!
"Sayang kita lanjutkan ini di kamar". Rangga sudah menggiring Nabila ke tepi kolam.
Membantu Nabila beranjak dari kolam renang yang sudah mulai terik, menggendongnya dan membawanya ke kamar.
__ADS_1
Dan kalian tahu lah ya, apa yang selanjutnya mereka lakukan. Hehe.
***
Nabila dan Rangga baru saja tiba di bandara, mereka berdua menaiki jet pribadi milik keluarga Pramudita hingga bisa cepat sampai di Jakarta.
Leon sudah berdiri menyambut kedatangan tuan mudanya, dengan sigap Leon meraih dua koper yang tengah di bawa oleh Rangga, sementara Nabila membawa satu koper berisi oleh oleh.
Nabila terpaksa membeli satu koper lagi karena dua koper yang dibawa mereka tak cukup untuk menampung barang barang sekaligus oleh oleh yang sudah di belinya.
"Sini aku saja yang bawa". Rangga meraih koper dari tangan Nabila saat kedua koper yang dibawanya sudah berpindah tangan pada Leon.
Nabila merentangkan tangannya sambil berkata "Akhirnya sampai juga di Jakarta, aku sudah sangat merindukan kota ini".
Rangga yang melihatnya hanya tersenyum. Berjalan sambil merangkul pinggang Nabila dengan begitu posesive.
Leon yang mengekor di belakang hanya bisa megusap dadanya, ujiannya menyaksikan keromantisan tuan nya akan kembali di mulai, membuat jiwa jomblonya kembali meronta ronta.
Tak berapa lama akhirnya Rangga dan Nabila tiba di kediaman keluarga Pramudita, kedatangan mereka di sambut hangat oleh nyonya Rani.
"Kalian sudah pulang".
Nabila segera menyalimi mertuanya dan memeluknya.
"Iya ma, mama apa kabar?". Tanya Nabila.
"Mama sehat sayang, kalian bagaimana apa sudah ada kabar tentang calon cucu mama?". Tanyanya antusias sambil merangkul Nabila memasuki rumah.
Nabila terperangah dengan pertanyaaan nyonya Rani.
"Hehe maaf sayang mama sudah tidak sabar ingin menimang cucu". Nabila hanya bisa tersenyum, ia sendiri tak tahu harus jawab apa, ia hanya bisa berharap bisa cepat hamil dan memberika cucu untuk mertuanya itu.
"Apa sudah ada tanda tandanya sayang?". Tanya nyonya Rani lagi.
Nabila menggeleng pelan takut mengecewakan mertuanya.
__ADS_1
"Tidak apa apa sayang, terus berusaha". Nyonya Rani mengusap punggung Nabila pelan sambil tersenyum.
"Mama tenang saja, itu tidak lama lagi karena kami rajin membuatnya". Sahut Rangga sambil cengengesan.
"Hahaha". Nyonya Rani tertawa.
"Itu bagus sayang usaha terus ya yang rajin". Tuturnya membuat Nabila malu.
"Ya sudah kalian istirahat dulu saja". Lanjutnya.
"Iya ma".
Rangga dan Nabila berjalan menuju kamar meninggalkan nyonya Rani.
Nabila merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia kepikiran dengan ucapan nyonya Rani, membayangkan dirinya akan memiliki anak dengan Rangga betapa bahagianya hidupnya.
Rangga yang baru saja duduk di tepi tempat tidur.
"Sayang ayo kita buatkan cucu untuk mama". Ujar Rangga tersenyum jahil.
"Apaan sih kamu mas, baru juga sampai". Nabila mencebik.
"Kamu ngga dengar tadi mama minta cucu?, ayo kita buatkan sekarang. Kalau kita rajin akan cepat dapatnya". Tangannya mulai memeluk Nabila.
"Kamu ini ya, ngga ada capeknya. Sudah lah aku mau mandi dulu". Nabila beranjak dari tempat tidur buru buru ke kamar mandi takut kalau suaminya itu akan kembali menerkamnya.
Bukannya tidak mau tapi sebelum terbang ke Jakarta mereka sudah berkali kali melakukannya, rasa remuk di badan Nabila saja belum pulih.
****
Haaii readers terimakasih sudah mampir, ikuti terus kelanjutan novel ini yaa...
Jangan lupa like, vote dan ratenya ya kakak..
Tinggalkan komentar kalian untuk penyemamangat author, sekali lagi terimakasih🙏😬
__ADS_1