Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 81 Temani aku berenang


__ADS_3

"Aku ke toilet dulu ya". Nabila beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Rendy dan Rania yang masih dalam kebisuan.


Rendy menatap sendu kepergian Nabila hingga gadis itu tak terlihat lagi dari pandangannya.


Rania melihat hal itu merasa heran dengan tatapan yang tak biasa itu.


"Ren, kamu sedang apa disini?, Belanja juga?". Tanya Rania basa basi, rasanya dia sangat canggung duduk berdua dengan Rendy gara gara ucapannya itu, ia benar benar takut Rendy mendengarnya tadi.


"Aku tadi habis ketemuan sama sepupuku, tapi sekarang dia sudah pulang urusanku dengannya sudah selesai, saat aku lewat food court ini aku melihatmu dan Nabila jadi aku ingin menyapa kalian". Jelas Rendy, Rania mengangguk paham.


"Kamu ngga makan siang Ren?". Tanya Rania setelah menyedot jus miliknya.


"Aku sudah makan siang dengan sepupuku tadi".


"Aku pikir belum makan siang".


"Setelah ini kalian mau kemana?".


"Belum tahu Ren, kenapa memangnya".


"Gimana kalau kalian aku traktir nonton?". Rania bersorak kegirangan membuat beberapa orang di sekitarnya menoleh ke arahnya.


"Yeaaayy". Pekik Rania membuat beberapa orang menoleh ke arahnya, dia hanya menganggukkan kepala pelan sambil berkata maaf.


"Kamu beneran mau traktir kita nonton Ren?". Tanyanya memastikan, sebenarnya bukan traktirannya yang membuat Rania sebahagia itu namun karena kesempatan bisa nonton bareng Rendy yang membuatnya bshagia.


"Iya, kalian mau nonton apa nanti aku ikut saja". Ujar Rendy.


"Nanti kutanya kakak ipar dulu, dia mau nonton fim apa?". Rania kembali menyedot jus miliknya.


"Ren, kenapa kakak ipar lama sekali ya ke toilet". Tutur Rania yang baru menyadari jika Nabila sudah cukup lama ke toilet.


"Mungkin antri Ran".


Nabila memang sengaja ingin berlama lama di toilet, ia sengaja ingin menghindari Rendy.


"Itu dia". Senyum Rania mengembang saat melihat Nabila datang.


"Kakak ipar kenapa lama sekali?".


"Toiletnya antri dek". Nabila menarik kursi yang ditempatinya sebelumnya dan duduk kembali disana.


"Dek, kita pulang sekarang yukk ini sudah hampir sore". Nabila melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Ini baru juga jam berapa kak, Rendy mau traktir kita nonton kakak ipar mau nonton film apa?" Tanya Rania antusias.


"Dek kita pulang saja ya, kita sudah seharian takut papa sama mama nungguin". Nabila mencoba membujuk Rania, Nabila benar benar tidak nyaman dengan kehadiran Rendy Nabila takut jika Rangga mengetahuinya akan salah paham.

__ADS_1


Dan lagi Nabila memang sengaja ingin menghindari pria itu, ia ingin menjaga jarak dengannya.


"Papa sama mama apa kak Rangga yang nungguin?, Bilang aja kakak ipar mau melanjutkan aktivitas yang tertunda tadi pagi kan?". Tutur Rania sambil terkekeh.


Sebenarnya tadi pagi Rania tahu apa yang akan dilakukan sepasang pengantin baru itu saat dirinya mengetuk kamar mereka, Rania bisa lihat dari ekspresi Rangga yang begitu kesal kepadanya.


"Astaga Rania, kenapa dia ngomong seperti itu sihh, buat aku malu saja". Gumam Nabila dalam hati.


"Apaan sih kamu dek, sudah ayo kita pulang nontonnya lain kali saja".


"Aku maunya sekarang kak, ayolah kak. Kakak ipar tenang saja kak Rangga ngga akan marah kalau kita pulang telat".


Nabila menghembuskan nafas kasar.


"Kalian berdua saja ya yang nonton, aku mau pulang duluan". Tutur Nabila sambil mengambil beberapa paper bag yang berisi barang belanjaannya dan Rania.


"Yah ngga asyik dong". Rania mencebik.


"Ya sudah kalau begitu aku ikut pulang juga".


"Ren maaf ya kita ngga bisa nonton sekarang". Ucap Rania kepada Rendy yang sudah terlihat kecewa.


"Ngga apa apa Ran, bisa lain waktu". Ucap Rendy sambil tersenyum.


"Maaf ya Ren". Nabila merasa tidak enak kepada Rendy.


"Santai saja bil". Tutur Rendy, Rania sejenak teringat sebutan nama itu terasa tidak asing di telinganya, tapi dia pernah mendengarnya dimana?, ah Rania tidak mau memikirkan hal sepele seperti itu.


"Rania bawa mobil Ren, terimakasih atas tawarannya". Ujar Nabila, lagi lagi ia harus menelan kekecewaan. Bukan penolakannya yang membuat Rendy kecewa dan sakit hati namun kenyataan bahwa Nabila memang sengaja berniat untuk menghindarinya, menjaga jarak dengannya sungguh itu lebih sakit dari sekedar kekecewaan karena penolakan.


Nabila dan Rania juga Rendy keluar dari food court, berjalan menuju parkiran Rendy membawakan semua barang belanjaan kedua gadis itu dan mengantarkannya hingga mereka memasuki mobil milik Rania.


Rendy menatap kepergian mobil Rania yang sudah bergerak menjauh dari pandangannya.


----


Nabila dan Rania sudah memasuki kediaman Pramudita, masuk kedalam kamar mereka masing masing.


"Mas.. mas Rangga..". Teriak Nabila mencari cari keberadaan suaminya itu, ia mencari di setiap sudut kamar namun tak menemukannya juga


Nabila berjalan menuju kamar mandi, namun pintu kamar mandi terbuka itu artinya tidak ada orang di dalam sana.


Nabila coba menggeser pintu yang terbuat dari kaca transparan di sisi kamar mandi, Nabila mulai mencari Rangga di balkon namum ia tak menemukannya juga.


"Kenapa aku ngga telfon ke ponselnya saja, rumah ini terlalu besar untuk mencarinya" Gumam Nabila ia kembali masuk ke dalam kamar, mengambil ponsel miliknya yang masih tersimpan di dalam tas yang ia kenakan saat berbelanja.


Panggilan telefon di angkat setelah Nabila melakukan panggilan ke tiga kalinya.

__ADS_1


"Mas kamu dimana?, aku cari di kamar ngga ada?".


"Kamu udah pulang sayang?".


"Iya ini aku sudah di kamar, kamu dimana?".


"Coba kamu ke balkon kamar".


"Aku sudah kesana, tapi kamu ngga ada".


"Coba sekarang keluar ke balkon lagi". Nabila mengikuti instruksi suaminya, ia pun kembali ke balkon untuk mencari suaminya.


"Mana ngga ada mas, kamu dimana sih?". Kesal Nabila.


"Coba kamu lihat ke bawah". Nabila pun mengikutinya, melongokkan kepalanya kebawah.


Terlihat dari atas sana Rangga sedang melambai lambaikan tangannya dengan bertelanjang dada hanya memakai celana pendek yang cukup ketat di tepi kolam renang dengan satu tangannya memegang ponsel yang ia tempelkan di telinganya.


Nabila tersenyum, ternyata suaminya itu sedang berenang, tubuhnya yang basah kuyup bulir bulir air masih menetes dari sekujur tubuhnya membasahi lantai tepian kolam renang.


"Kemarilah sayang, temani aku berenang". Tutur Rangga sambil mendongakkan wajahnya menatap Nabila yang masih berdiri di atas balkon kamarnya.


"Turun saja dari tangga yang ada disamping balkon". Lanjutnya.


"Iya, tunggu ya aku turun sekarang". Nabila mulai bergerak dari tempatnya berdiri menuju tangga yang terhubung dengan halaman belakang.


Nabila menuruni setiap anak tangga dengan sangat hati hati.


Setelah berhasil menuruni semua anak tangga Nabila segera menghampiri suaminya yang masih berdiri di tepian kolam renang.


"Ayo temani aku berenang yank". Ujar Rangga setelah memutus panggilan tetefonnya, meletakkan ponselnya di atas meja bundar berpayung besar.


Begitu juga dengan Nabila ikut meletakkan ponselnya disana, diantara ponsel milik Rangga dan segelas minuman berwarna kuning yang isinya sudah tinggal setengah.


"Ngga ah, aku kan ngga pakai baju renang mas".


"Tidak masalah sayang". Rangga menarik Nabila lalu menjatuhkan tubuh mereka berdua di atas air yang tampak berwarna biru itu.


"Mas, kamu curang aku kan bilang ngga mau, kamu malah menarikku". Nabila melempar percikan air kolam ke wajah Rangga membuat suaminya itu tersenyum.


"Aku ingin berenang sama kamu yank". Rangga merapatkan tubuhnya dengan tubuh Nabila.


Melihat Nabila basah kuyup membuat Rangga jadi bergairah, ia mulai menciumi istrinya itu dengan panas, mereka berc*mb* dengan mesranya di dalam kolam renang.


Rangga sejenak melepaskan tubuh Nabila, mereka berenang kesana kemari sambil bergandengan.


Beberapa saat kemudian Rangga sudah tidak bisa menahan lagi gairah yang hampir meledak, ia kembali merapatkan tubuhnya dengan Nabila, lalu kembali m*nc*mb* istrinya dengan penuh gairah.

__ADS_1


"Sa..sayang aku sudah tidak tahan". Ucapnya tersenggal.


"Kita lanjutkan di kamar ya". Bisiknys membuat Nabila semakin meremang.


__ADS_2