Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 83 Masih ada Leon


__ADS_3

Dengan langkah lebar Rangga berjalan menuju meja Rania dan Rendy yang berada di sudut restoran, Leon pun mengikuti kemana kaki tuannya melangkah.


"Rania sedang apa kamu disini dengannya!". Seru Rangga, netranya menghunus tajam ke arah Rendy.


Rania begitu terkejut dengan kedatangan Rangga yang tiba tiba, ia bertambah bingung saat menangkap jelas kemarahan di raut wajah sang kakak.


Rendy pun tak kalah terkejutnya dengan Rania, namun laki laki itu bisa mengontrol emosinya hingga membuatnya terlihat tenang.


"Aku sedang makan siang dengannya, memangnya kenapa kak?". Tanya Rania tidak mengerti.


"Pulang sekarang!". Titah Rangga kepada Rania.


"Apaan sih kakak, aku ngga mau". Rania memberengut.


"Rania!, dengar kakak cepat pulang sekarang!". Teriak Rangga dengan nada membentak, hingga membuat Rania tersentak semua orang yang ada disana pun memperhatikan mereka, Rania sangat malu.


Rangga menarik kasar tangan Rania yang masih bergeming.


"Jangan kasar sama cewek!". Rendy beranjak berdiri mencoba melepaskan tanga Rania dari Rangga namun cekalan tangan Rangga sangat kuat.


"Diem lo!!, mulai sekarang jauhin adik gue, awas aja lo masih berani deketin adik gue habis lo!!". Seru Rangga dengan penuh kekesalan sambil menunjuk tegas wajah Rendy.


Mata Rania mulai berkaca kaca dengan susah payah ia menahan air matanya agar tak jatuh membasahi pipinya, ia berusaha melepas tangannya dari cengkeraman Rangga, namun sulit sekali.


Rania tidak mengerti kenapa kakaknya itu bisa semarah ini kepadanya, padahal seumur hidupnya Rangga sangat menyayanginya tidak pernah sekalipun membentaknya tapi hari ini Rangga membentaknya bahkan mempermalukannya di depan umum.


"Cihh, gue heran kenapa Nabila bisa bisanya mau punya suami kayak lo!". Seru Rendy membuat Rangga naik pitam.


"Br*ngse*k lo". Rangga melepaskan tangan Rania hendak memukul Rendy namun dengan cepat Leon menahannya.


"Tuan tahan emosimu tuan, semua orang memperhatikan tuan disini". Bisik Leon membuat Rangga mengurungkan niatnya, mengedarkan pandangannya menyapu ruangan dan benar saja saat ini dirinya sedang menjadi pusat perhatian, kalau saja ia tidak memikirkan nama baik keluarganya mungkin Rangga sudah menghabisi Rendy seketika itu juga.


"Gue peringatin lo sekali lagi, jauhi adik gue!!". Ucap Rangga penuh penekanan dengan tatapan mengerikan.


Rangga kembali menarik tangan Rania untuk segera keluar dari restoran, dengan langkah lebar mereka keluar dari sana diikuti Leon di belakangnya.


"Berikan kunci mobilmu". Tutur Rangga kepada Rania.


Rania bergeming, matanya yang dipenuhi air mata itu menatap Rangga penuh kebencian.


"Kakak akan mengantarmu pulang". Tutur Rangga


Dengan terpaksa Rania memberikan kunci mobilnya.

__ADS_1


"Yon, gue harus pulang sekarang lo balik aja ke kantor". Ujar Rangga kepada Leon yang berada di belakangnya.


"Baik tuan muda". Leon menganggukkan kepalanya memberi hormat.


Rangga dan Rania memasuki mobil milik Rania, lalu Rangga segera menginjak pedal gas keluar dari pelataran restoran.


Setelah mobil yang dikendarai bosnya itu sudah tak terlihat lagi Leon segera menuju mobilnya dan kembali ke kantor.


Di sepanjang perjalanan Rangga dan Rania hanya terdiam, mereka hanyut dengan pikiran mereka masing masing.


Hening, hening dan hening hingga akhirnya Rangga memecahkan keheningan itu.


"Dek, maafkan kakak ya. Kakak melakukan ini karena kakak sangat menyayangimu". Tutur Rangga menoleh ke arah Rania yang masih membisu dengan nada yang sudah mulai melunak.


"Sayang kakak bilang?, kalau kakak sayang sama aku kakak ngga mungkin mempermalukan aku seperti ini".


"Dek, kamu ngga ngerti dek. Kakak cuma ngga mau kamu dekat dengan dia".


"Memangnya kenapa kak?, Bukankah dia sahabat kakak ipar?, Harusnya kakak dukung aku dong!".


"Kamu menyukainya?". Rangga terkesiap dengan ucapan Rania, kenapa adiknya itu malah justru memintanya mendukungnya.


"Memangnya kenapa kalau aku menyukainya?".


"Jadi benar kamu menyukainya?".


Ciiitttt!!!. Rangga menghentikan laju mobilnya secara tiba tiba membuat Rania tersentak.


Sejenak mereka terdiam, sepersekian detik kemudian Rania berkata, "Aku mencintainya kak, jadi aku harap kakak tidak lagi melarangku dekat sama dia".


"Shitt!!". Rangga memukul kemudinya, mengacak rambutnya frustasi.


"Dek, kakak mohon sama kamu lupakan dia, masih banyak laki laki lain yang lebih baik dari pada dia di dunia ini".


"Aku ngga bisa kak, jangan memaksaku". Kesal Rania.


"Kakak tidak akan melarang kamu mencintai seseorang dek asalkan jangan dia". Rangga kembali melajukan mobilnya mencari jalanan yang sepi lalu menepikan mobilnya.


"Kenapa memangnya?, Rendy laki laki yang baik, kenapa kakak begitu membencinya?".


"Dek, kamu ngga akan ngerti masalahnya. Pokoknya kamu harus jauhi dia". Ujar Rangga kesal.


Rangga menghentikan laju mobilnya saat menemukan jalanan yang tidak begitu ramai.

__ADS_1


"Kalau kakak ngga mau memberitahuku alasan kakak membencinya, aku juga ngga mau jauhi dia". Rania melipat kedua tangannya di dada.


Rangga menghembuskan nafas berat, sepertinya dia memang harus memberitahu Rania yang sebenarnya.


"Dek, wanita yang dicintai dia itu Nabila, itu sebabnya kakak ngga suka kamu dekat dengan dia, kakak takut kamu hanya dijadikan alat dia buat balas dendam sama kakak" .


Rangga memang takut jika Rania hanya akan dijadikan alat untuk balas dendam kepadanya, kalau pun tidak Rangga tidak yakin jika Rendy mencintai Rania mengingat betapa besarnya cinta Rendy untuk Nabila, Rangga tidak mau jika Rania harus merasakan sakitnya cinta tak terbalas seperti yang Rendy rasakan.


"Apa?!". Rania terperangah, tiba tiba saja ia merasakan dadanya amat sesak, hatinya terasa perih bak luka yang disiram alkohol, tubuhnya terasa begitu lemas.


Air mata yang sejak tadi ia tahan, kini mengalir begitu saja tak mampu lagi untuk mencegahnya agar tidak membanjiri pipinya.


"Kakak ipar?, Apa maksud kakak?, apa aku ngga salah dengar?".


Rangga meraih tubuh Rania, mendekapnya begitu erat.


"Itu memang benar dek, sudah ya jauhi dia kakak mohon". Rangga mengusap pelan rambut Rania.


"Tapi kak bukankah mereka sahabatan?". Rania melepas dekapan Rangga, mata yang dipenuhi air mata itu berusaha menjangkau wajah Rangga.


"Mereka memang sahabatan dek, tapi laki laki itu mencintai Nabila, kakak tahu betul bagaimana besarnya cintanya untuk Nabila". Rangga menghapus air mata Rania dengan kedua ibu jarinya.


"Dia mencintai Nabila sudah bertahun tahun lamanya bahkan sampai saat ini kakak yakin dia masih mencintai Nabila".


Ingatan Rania berputar mengingat semua kejadian demi kejadian yang sudah ia lewati dengan Rendy, termasuk kejadian malam itu night club, betapa hancurnya Rendy saat laki laki itu di bawah pengaruh alkohol, laki laki itu menangis pilu bahkan ia memohon agar wanita yang dicintainya itu tidak meninggalkannya.


"Astaga!, aku baru ingat kalau malam itu adalah malam dimana besoknya kak Rangga menikah, jadi benar wanita itu adalah kakak ipar?". Gumam Rania dalam hati.


Pantas saja setiap kali Rania menanyakan wanita itu Rendy selalu tidak mau membahasnya, tapi kenapa waktu itu dia bilang wanita itu ke luar negeri?, sepertinya itu hanya akal akalan Rendy saja supaya Rania tidak curiga.


"Aku juga baru ingat bagaimana cara Rendy menatap kakak ipar saat di mall kemarin, ahh kenapa aku sebodoh itu sampai sampai tidak menyadarinya". Gumam Rania lagi.


"Tapi kenapa kakak ipar membohongiku, dia bilang dia tidak tahu nyatanya wanita itu adalah dia sendiri". Rania merasa sangat kecewa kepada Nabila.


"Sudah jangan menangis lagi, lupakan dia nanti kakak carikan laki laki yang baik buat kamu". Rangga menarik hidung mancung Rania.


"Apaan?, Memangnya aku ngga laku kak sampai mau dicarikan segala". Rania mencebik.


"Oiya kakak lupa kan masih ada Leon dek, kamu sama Leon aja gimana?". Ucap Rangga sambil tertawa.


"Ihh kakak!!". Rania memberengut.


"Loh kenapa?, Leon itu baik loh dek, dia juga tampan ya walaupun masih lebih tampan kakak sih". Rangga menarik kerah kemejanya.

__ADS_1


"Ngga mau kak, dia tua umurnya saja sudah tiga puluhan". Rangga tertawa mendengar alasan Rania tidak mau menerima Leon.


"Ya sudah kamu fokus saja dulu dengan kuliahmu dek, satu tahun lagi kan?, Kamu harus bisa lulus tepat waktu biar bisa bantu kakak ngurus perusahaan". Rangga mengacak puncak kepala Rania.


__ADS_2