
Saat ini Nabila dan Rangga sedang berada di sebuah warung mie ayam pinggir jalan, Rangga sudah membujuk Nabila agar makan mie ayam di rumah saja nanti dirinya akan menyuruh chef di rumahnya untuk membuatkan mie ayam yang sudah pasti rasanya tidak di ragukan lagi namun Nabila sangat keras kepala ia hanya mau makan mie ayam pinggir jalan, tukang mie ayam langganannya, begitu katanya.
Warung kecil yang memang cukup ada beberapa orang pengunjungnya memadati bangku panjang yang terbuat dari kayu dengan meja panjang di depannya.
Rangga duduk berdampingan dengan Nabila, ia sengaja memilihkan Nabila tempat duduk yang dekat dengan tembok karena tempat duduknya memanjang sehingga bisa campur dengan pengunjung lain, sementara dirinya duduk disamping Nabila berdampingan dengan laki laki dan seorang wanita lainnya yang juga sedang menikmati mie ayam.
Rangga memeperhatikan Nabila yang makan dengan begitu lahapnya, sesekali Nabila memakan kerupuk yang ada ditangannya.
"Enak?" Rangga memiringkan kepalanya, tangannya ia letakkan di atas meja untuk menopang kepalanya sambil asyik memperhatikan Nabila yang terlihat sangat menikmati semangkuk mie ayam di hadapannya dengan kerupuk sebagai pelengkapnya.
"Sangat enak," sahut Nabila dengan mulut yang penuh.
Rangga tersenyum, membelai rambut Nabila dengan lembut, "Makan yang banyak ya," tuturnya.
"Kamu tidak makan mas?" Nabila memiringkan kepalanya menatap Rangga yang terlihat belum menyentuh semangkok mie ayam miliknya yang masih terlihat penuh
"Aku melihat kamu makan saja sudah membuatku kenyang," Rangga meraih tisu yang ada di meja lalu membersihkan sudut bibir Nabila yang blepotan karena saos.
"Pelan pelan saja makannya, lihat sampai blepotan seperti ini," Rangga membersihkan mulut Nabila dengan tisu.
Nabila tersenyum, "Teriamakasih sayangku," ujarnya.
Mie ayam milik Nabila sudah habis tak tersisa, hingga mangkoknya terlihat kosong. Kini ia melirik semangkok mie ayam milik Rangga yang masih utuh.
"Mas, " ucapnya sambil melirik semangkok mie ayam milik Rangga sambil menelan salivanya.
"Kamu mau? Makanlah," Rangga memberikan semangkok mie ayam miliknya kepada Nabila.
Dengan mata berbinar Nabila menerimanya, ia menambahkan saos dan sambal yang cukup banyak di atasnya.
"Sudah cukup, jangan banyak banyak nanti kamu sakit perut," Rangga menghentikan tangan Nabila yang masih sibuk menambahkan sambal di mangkoknya.
"Nikmatnya mie ayam salah satunya karena pedasnya mas," ujarnya sambil mulai menikmati mie ayam milik Rangga.
Rangga meneguk air mineral miliknya, hingga habis satu botol.
"Mas kamu tidak makan siang, apa kamu tidak lapar?" Tanyanya pandangannya masih fokus ke semangkok mie ayam yang sedang ia nikmati.
"Aku bisa makan di kantor nanti, yang penting kamu saja makan yang banyak," sahut Rangga.
__ADS_1
"Tapi kamu harus coba ini mas, ini sangat enak, Aaaaa," Nabila menyodorkan satu suapan tepat di depan mulut Rangga.
Akhirnya Rangga membuka mulutnya dan satu suapan berhasil masuk kedalam mulutnya.
"Haahhh, huhhah" Rangga mengibas ibaskan tangannya di depan mulutnya.
"Pedas..Ini pedas sekali," ujarnya ia segera meraih air mineral milik Nabila dan meneguknya hingga rasa pedas itu mulai perlahan memudar.
Nabila tersenyum, "Kamu cemen sekali mas, baru segini sudah kepedasan," ledeknya.
"Sudah jangan dimakan lagi, itu pedas nanti perut kamu bisa sakit," cetus Rangga.
"Ngga, aku akan menghabiskannya. Sayang sekali makanan seenak ini disia siakan," sahutnya dengan bibir mengerucut.
"Tapi nanti perutmu sakit yank, sudah ya," bujuk Rangga.
Nabila tak menghiraukannya ia terus saja memakan mie ayamnya sampai habis.
Rangga hanya bisa mendengus kesal.
"Alhamdulilah, kenyangnya," Nabila mengusap usap perutnya yang kekenyangan.
Di dalam perjalanan Nabila tertidur pulas, Rangga tersenyum sambil membelai lembut rambut Nabila.
"Lucu sekali kamu sayang, habis makan dua mangkok mie ayam malah sekarang tidur," ujar Rangga.
Mobilnya sudah memasuki pelataran kediaman Pramudita, Rangga memarkirkan mobilnya lalu ia membuka seat belt miliknya, ia keluar memutari mobil dan membuka pintu mobil hendak menggendong Nabila yang masih tertidur, dirinya tak tega membangunkan Nabila.
Saat Rangga sedang membuka seat belt yang mengunci tubuh Nabila, istrinya itu mengerjapkan matanya. Nabila terkejut saat ada wajah laki laki sedekat itu dengan wajahnya, dengan cepat Nabila mendorong Rangga dengan kuat hingga membuat tubuh Rangga terpentok pintu mobil.
"Siapa kamu!" Teriak Nabila sambil mendorong tubuh Rangga.
"Astaga! Aku ini suami kamu. Kenapa kamu tiba tiba lupa ingatan begitu," Kesal Rangga, tangannya mengusap usap tubuh bagian belakangnya yang terpentok pintu mobil.
"Hehe, maaf mas. Namanya juga orang bangun tidur," ujarnya setelah nyawanya sudah terkumpul sepenuhnya.
"Sudah sampai rumah, cepat turun. Aku harus kembali ke kantor ," tutur Rangga.
"Rumah?" Nabila melongok keluar pintu mobil, benar dirinya sudah berada di rumah keluarga Pramudita.
__ADS_1
"Aku ngga mau!" seru Nabila.
"Loh kenapa?" Rangga terlihat bingung.
"Memangnya tadi aku bilang kalau aku mau pulang?" Tanya Nabila. Rangga menggeleng.
"Ya sudah, berarti kamu salah," ujarnya.
"Astaga! Kenapa dia jadi menyebalkan begini," Gumam Rangga dalam hati.
"Jadi kamu maunya apa sayang?" Tanya Rangga dengan nada selembut mungkin dan memasang senyuman yang terpaksa, meredam kekesalannya yang meledak ledak di dalam dirinya. Ia berjongkok agar bisa leluasa mengobrol dengan Nabila yang masih duduk di dalam mobil dengan pintu yang terbuka.
"Aku mau ke kantor kamu, menemani kamu kerja," ujar Nabila sambil bergelayut manja.
"Baiklah," Rangga mendengus. Ia memutari mobil, kembali duduk di balik kemudi.
Rangga kembali menjalankan mobilnya menuju kantor, saat di dalam perjalanan Nabila tidak tidur lagi ia sibuk memandang jalanan yang ada di depannya.
Saat mereka melewati kedai es krim, mulutnya mengecap membayangkan nikamtnya memakan es krim di siang hari yang begitu terik.
"Mas, aku mau makan es krim," Nabila memegang tangan Rangga yang ada di kemudi.
"Baiklah, tapi take away ya. Aku harus ke kantor sayang sebentar lagi akan ada meeting penting," sahut Rangga.
Raut wajah Nabila terlihat kecewa, entah kenapa Rangga merasa seperti tidak mengenali Nabila. Istrinya itu kenapa jadi sangat manja dan menyebalkan padahal Nabila yang ia kenal sangat dewasa dan mandiri, ah entahlah Rangga tidak mengerti.
"Aku janji kalau aku tidak sibuk kita akan makan es krim disini," ujarnya saat mobilnya sudah berada di depan kedai es krim yang terlihat ramai di padati anak anak muda dan anak anak sekolah.
Rangga dan Nabila turun dari mobil dan memasuki kedai es krim itu, segera memesan beberapa es krim yang diminta oleh Nabila. Tak hanya es krim yang Nabila pesan ia juga membeli satu kotak cake coklat dan satu box donat yang tersedia juga disana.
Setelah pesanan mereka sudah di tangan, Rangga segera membayarnya dan membawa beberapa kantong plastik yang berisi beberepa cup besar es krim gelato dengan berbagai rasa dan satu kotak cake coklat dan satu box donat dengan berbagai varian rasa.
"Kamu yakin akan menghabiskan ini semua?" Tanya Rangga saat dalam perjalanan menuju kantor. Pasalnya tadi Nabila sudah menghabiskan dua mangkok mie ayam, jadi rasanya mustahil jika Nabila akan menghabiskan semua makanan yang baru saja mereka beli.
Sebenarnya tidak masalah bagi Rangga jika Nabila tidak menghabiskannya tapi rasanya aneh saja, Nabila bukan tipe orang yang suka membuang buang makanan, selama ini Nabila selalu mengingatkan Rangga akan hal itu, namun lihatlah sekarang dia membeli banyak makanan yang belum tentu akan ia habiskan semua.
Tak lama kemudian mereka berdua sudah berada di ruangan Rangga, ia mulai membuka satu per satu kantong plastik yang berisi makanan yang baru saja di belinya.
Nabila duduk di sofa sambil menikmati satu cup besar es krim gelato dengan taburan coklat dan kacang almond di atasnya.
__ADS_1