
Rendy kembali tersenyum saat melihat luka lebam dan memar di wajah tua laki laki itu.
Dengan kasar tangan Rendy menarik lakban hitam yang menutupi mulut laki laki itu hingga membuat laki laki yang sudah beruban itu mengaduh kesakitan.
Bukannya meminta maaf Rendy justru tertawa terbahak bahak melihat laki laki itu kesakitan.
Tawa Rendy menggema memenuhi ruangan gedung yang tampak sunyi.
Johan membeliak saat melihat wajah pemuda yang ada di hadapannya, ya laki laki paruh baya itu adalah Johan paman Nabila yang sudah membuat hidup Nabila sengsara.
"Apa kabar paman?!". Rendy meraih dagu Johan sambil tersenyum miring.
Johan sudah tak berdaya tak bisa melakukan perlawanan karena sebelum Rendy datang anak buahnya sudah menghajarnya tanpa ampun sesuai dengan perintah bosnya.
Terlebih lagi kedua tangannya terikat membuatnya hanya bisa memelas berharap Rendy akan melepaskannya.
"Tentu kau mengenalku bukan?, Aku sahabat dari keponakan paman yang cantik". Tutur Rendy masih tak melepas tangannya dari dagu Johan sehingga membuat laki laki itu mendongak menatap Rendy. Tak ada lagi rasa hormat Rendy kepadanya.
"Kau pasti bingung kenapa aku bisa membawamu kesini dan memperlakukanmu seperti ini!!".
"Itu semua karena kau selalu membuat hidup Nabila sengsara!!". Rendy melempar dengan kuat dagu yang sejak tadi di pegangnya hingga membuat Johan kembali tersungkur.
Rendy menginjak kuat tubuh Johan yang sudah tak berdaya dengan satu kakinya membuat Johan mengaduh memohon ampun.
"Aaammpuuun..ampun tu..tuan". Rintih Johan.
Rendy semakin tertawa mendengar rintihan Johan.
"Ampun kau bilang setelah apa yang kau lakukan kepada kedua ponakanmu?!!, Kau bahkan sampe tega menjual ponakanmu sendiri untuk kau jadikan p*lacur!!". Rendy semakin kua menginjak tubuh Johan dengan kuat.
"Dasar binatang!!". Teriak Rendy.
Nafas Rendy naik turun dengan cepat emosinya sudah benar benar ingin meledak, mengingat semua penderitaan yang dialami Nabila selama ini.
Rendy memang tahu betul bagaimana perlakuan buruk Johan terhadap Nabila setiap Rendy ingin membalaskannya Nabila selalu mencegahnya dan sekarang dia benar benar sudah tidak bisa menahan lagi untuk membalas semua kejahatan Johan.
Rendy tidak terima setiap kali Nabila harus menderita karena ulah Johan, hatinya ikut terasa sakit dan tersayat sayat.
Rendy menarik tubuh Johan menyuruh laki laki itu bangun dengan sisa sisa tenaganya ia berdiri dengan sempoyongan, Rendy menghajarnya tanpa ampuun, hingga Johan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Aku minta kau batalkan transaksi jual beli keponakanmu dengan madam karla!!". Seru Rendy sambil menjambak rambut Johan.
"Dasar tidak tau malu, menjual ponakan sendiri hanya demi uang!!, Dimana otakmu?, Dimana hatimu?!". Rendy berteriak tepat di telinga Johan.
"Kau dengar kan apa yang ku bilang Johan?, Batalkan sekarang juga dan aku akan melepaskanmu!".
"Ta..tapi tuan, itu..itu tidak mungkin karena aku sudah memakai uangnya". Ucap Johan terbata sambil menundukkan wajahnya.
"B*debah!!". Rendy menendang tubuh Johan dengan kuat.
"Kebiri dia!!". Titahnya kepada anak buahnya lalu Rendy segera pergi meninggalkan Johan yang meraung raung minta ampun.
-------
Rangga dan Leon begitu sibuk dengan perusahaan karena tuan Angga dan asistennya belum juga kembali dari luar negeri membuatnya memiliki banyak sekali pekerjaan.
Walaupun begitu Rangga mengusahakan agar dirinya bisa pulang tepat waktu agar bisa menemani dan menjaga Nabila di apartemen.
Seperti saat ini Rangga sedang dalam perjalanan menjemput Nabila di tokonya.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di toko Nabila, Rangga menghampiri Nabila yang tengah menutup toko di bantu kedua bodyguardnya.
__ADS_1
"Sayang sini biar aku bantu".
"Ini sudah selesai mas". Nabila menarik kunci dari lubang kuncinya lalu memasukkannya ke dalam tas.
Rangga menggandeng Nabila menuju mobilnya, membukakan pintu mobil untuk Nabila, setelah memastikan Nabila duduk dengan nyaman dia berjalan memutari mobil dan masuk ke dalamnya.
Sepanjang perjalanan Nabila hanya termenung menatap jalanan ibu kota dengan tatapan kosong, raut wajahnya juga terlihat murung.
"Sayang?, Ada apa kenapa kamu murung?". Rangga meraih tangan Nabila dan menciumnya sekilas.
"Ngga ada apa apa mas, aku hanya sedikit lelah". Nabila melepaskan tangannya dari genggaman Rangga.
"Ya sudah kamu istirahat saja nanti kalau sudah sampai aku bangunkan". Rangga mengacak puncak kepala Nabila.
Nabila hanya menghembuskan nafas berat tanpa mau memejamkan matanya.
"Mas". Panggilnya.
"Iya sayang?".
"Apa aku boleh pulang ke rumahku?".
"Maaf sayang aku ngga bisa ngijinin kamu pulang dulu, kondisinya masih belum aman, aku ngga mau kejadian waktu itu terulang lagi".
Rangga belum mengijinkan Nabila kembali ke rumahnya karena bisa saja anak buah madam Karla akan mengincar Nabila kembali, Rangga tidak mau mengambil resiko yang berakibat fatal untuk Nabila.
"Tapi mas bukannya mereka sudah ngga ngikutin kita lagi?". Nabila berusaha membujuk Rangga untuk kembali ke rumah.
"Kamu benar sayang tapi aku yakin mereka tidak akan menyerah begitu saja, dan aku yakin pamanmu sudah mendapatkan uang dari madam Karla jadi ngga segampang itu mereka lepaskan kamu sayang".
Nabila menghela nafas berat membenarkan apa yang diucapkan Rangga, dirinya memang masih belum aman, namun Nabila benar benar tidak mau orang menilai buruk dirinya dan Rangga.
Bukan karena dirinya merasa paling baik bukan, tapi karena ia tidak suka difitnah atu dituduh yang bukan bukan.
Akhir akhir ini banyak sekali pekerjaan di kantor yang menyita pikiran dan waktunya membuat Rangga tidak bisa membereskan masalah Nabila dengan segera.
Walaupun begitu Rangga tetap mengusahakan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini memerintah beberapa orang kepercayaannya untuk menyelesaikan masalah ini.
Namun sayangnya madam Karla sudah hampir satu minggu berada di Luar negeri dan hal itu juga menyulitkan Rangga menyelesaikan masalah ini dengan segera.
"Maaf tuan muda, saat ini kami belum bisa menyelesaikan masalah ini karena dari informasi yang saya dapat madam Karla baru sampai di tanah air besok tuan". Ucap Leon.
"Lo urus besok Yon, gue ngga mau tahu masalah ini harus cepat selesai".
"Baik tuan, akan saya usahakan". Leon mengangguk pelan.
"Kamu dengar kan sayang?, Besok Leon akan segera menyesaikan masalah ini jadi sabar dulu ya".
"Iya mas". Nabila hanya bisa pasrah mencoba bersabar menjalani semuanya.
------
Nabila dan Rangga baru saja menyelesaikan makan malam mereka, saat ini Rangga tengah menikmati indahnya malam kota Jakarta di balkon yang terhubung dengan kamarnya.
Sedangkan Nabila tengah sibuk dengan tugas kuliahnya, lebih tepatnya Nabila memang menghindar dari Rangga ia tidak mau terlalu sering berduaan dengannya di apartemen karena bisa saja yang dikatakan oleh Rendy itu bisa kejadian.
Rangga laki laki normal yang sangat mencintai Nabila bukan tidak mungkin ia menginginkan Nabila seutuhnya, bukan tidak mungkin Rangga akan menerkamnya jika laki laki itu sudah tidak bisa mengontrol dirinya.
Tok..
Tok..
__ADS_1
Tok..
"Sayang, kamu sedang apa di dalam?". Rangga mengetuk pintu kamar Nabila.
"Ada apa mas?". Nabila membuka
pintu kamar.
"Kamu sedang apa di dalam?, Kenapa ngga keluar yang?".
"Aku banyak tugas kuliah mas, aku harus segera menyelesaikannya. Apa mas Rangga butuh sesuatu?".
"Hehe, tolong buatkan aku kopi hitam dong yang". Rangga mengerlingkan matanya.
"Ohh, kopi?, Tunggu sebentar aku buatkan tapi matanya jangan genit genit begitu dong mas aku malah ngeri lihatnya".
"Masa tubuh tegap kekar matanya genit kan ngga cocok mas". Nabila dan Rangga sama sama terkekeh.
"Ya sudah aku tunggu di balkon ya sayang nanti tolong antarkan kopinya kesana".
"Iya pergilah, aku buatkan dulu kopinya".
"Terimakasih sayangku, cintaku, manisku, duniaku, hidupku". Cup Rangga mencium pipi Nabila sekilas.
Membuat pipi Nabila merona.
"Maaf sayang, jangan marah ya kan cuma pipi". Menyadari tindakannya yang salah Rangga segera meminta maaf ia khawatir Nabila akan marah karena hal itu.
Nabila tak menghiraukan Rangga ia menutup pintu kamarnya lalu berjalan menuju dapur membuatkan kopi untuk Rangga.
Rangga pun sudah kembali menikmati malam di balkon sambil memainkan gitarnya.
Beberapa menit kemudian Nabila membawakan kopi hitam dan beberapa potong kue coklat ke balkon tempat Rangga berada.
Nabila meletakkan kopi dan sepiring kue coklat di atas meja bundar yang ada disana.
Saat hendak meninggalkan balkon Nabila baru menyadari pemandangan yang begitu indah disana, ia benar benar kagum dengan pemandangan malam dari balkon, pemandangan kota yang sangat indah jika dilihat dari atas sana membuatnya mengurungkan niatnya untuk kembali.
Nabila terdiam terpesona menikmati pemandangan indah itu, maklum baru kali ini ia menginjakkan kakinya di balkon apartemen Rangga. Jika ia tahu dari kemarin kemarin mungkin ia tidak akan melewati malam tanpa melihat pemandangan disana.
"Kamu suka sama pemandangannya sayang?". Rangga melihat Nabila nampak begitu antusias, gadis itu merentangkan kedua tangannya memejamkan mata dan menghirup dalam dalam sejuknya udara malam yang bertiup.
"Kenapa kamu ngga bilang kalau ada pemandangan bagus disini mas?". Nabila berjalan menuju pembatas besi balkon mengedarkan pandangannya kesana kemari.
"Aku pikir kamu sudah tahu sayang disini ada balkon". Rangga berjalan mendudukkan tubuhnya di kursi dan menyesap kopi hitam miliknya.
"Mana ku tahu kalau kamu ngga memberitahuku mas". Nabila mencebikan bibirnya.
Nabila benar benar terlena dengan pemandangan yang begitu indah membuatnya lupa tujuannya untuk menghindari moment berduaan dengan Rangga, kini mereka berdua menikmati pemandangan malam sambil berbincang bincang dan bernyanyi diiringi alunan gitar yang dimainkan Rangga membuat mereka lupa waktu.
Angin malam semakin berhembus kencang menyapa kulit lembut Nabila membuat gadis itu meringkuk kedinginan. Memeluk tubuhnya sendiri untuk menghangatkan tubuhnya.
Namun tiba tiba saja Rangga menghampiri Nabila dan memeluknya dengan erat.
"Kamu kedinginan sayang?". Rangga memeluk Nabila dari belakang membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Ssstttt, jangan bergerak biarkan aku menghangatkanmu". Tutur Rangga tepat di belakang telinga Nabila membuat bulu kuduknya meremang.
Tidak sampai disitu Rangga membalikkan tubuh Nabila hingga posisi mereka kini berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, nafas mereka saling bersahutan menyentuh wajah keduanya.
Aroma strawbery dari nafas Nabila terasa sangat jelas di indera penciuman Rangga membuatnya tidak bisa menahan lagi untuk merasakannya.
__ADS_1
Rangga mencium bibir Nabila dengan begitu lembut memejamkan mata dan menikmati aroma strawbery dan manis yang menyatu dengan bibirnya.
Nabila membelalak kaget, mencoba melepaskan bibirnya yang tertaut dengan bibir Rangga namun Rangga justru memegang tengkuk Nabila dan membuat ciuman itu semakin dalam.