
Alan berjalan menuju lorong kelas hendak mencari keberadaan Rangga, benar saja saat ini Rangga berada di taman kampus yang berada pusat kampus sehingga membuat Alan dengan cepat menemukannya saat berjalan menyusuri lorong, Alan bergegas menghampiri Rangga setelah manik hitamnya itu menangkap sosok Rangga yang tengah duduk sembari memainkan ponselnya .
"Woii , gue cariin lo kemana mana?". Alan menepuk pundak Rangga hingga membuat sang empunya sedikit terjingkat.
"Apaan sih lo, ngagetin gue aja". Ucap Rangga dengan mata yang masih tetap fokus menatap layar ponselnya.
"Tadi kan gue udah sms lo, kalau gue lagi di taman". Sambungnya.
"Iya gue baru baca pesan lo tadi , lo lagi sibuk?". Alan memperhatikan Rangga yang sejak tadi fokus menatap ponselnya, sudah bisa Alan tebak kalau Rangga sedang sibuk ngurus kerjaannya lewat ponselnya, entah itu membaca email masuk atau membalas email masuk dari Leon sang kaki tangan sekaligus asisten pribadinya.
"Iya nih, banyak laporan yang masuk. Gue juga harus cabut sekarang , bokap nyuruh gue nemuin beberapa klien penting di kantor utama Paradipta Corporation". Rangga memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
"Jadi lo mau cabut sekarang?, Bukannya lo masih ada kelas sampe sore ya?". Alan mendaratkan pantatnya dikursi panjang yang tengah diduduki Rangga lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Iya mereka klien penting papa, lo kan tahu papa belum pulang dari Jepang, jadi terpaksa gue yang gantiin papa". Rangga bangkit dari duduknya dan merapikan bajunya kemudian berlalu pergi meninggalkan Alan setah memberikan salam persahabatan.
"Terus ngapain dari tadi gue susah susah nyariin lo". Sungut Alan merutuki kebodohannya.
Baru beberapa langkah Rangga berjalan meninggalkan Rangga tiba tiba terlihat Sania sedang berjalan cepat menuju arahnya, Rangga membuang nafasnya kasar melihat kedatangan wanita itu.
"Rangga, kamu mau kemana?". Sania sudah mulai bergelayutan manja , tangannya memeluk erat lengan kekar Rangga.
"Gue mau cabut". Jawab Rangga ketus sambil terus berjalan cepat, namun Sania masih tak juga melepaskan tangannya dari lengan Rangga.
__ADS_1
"Kalau gitu aku ikut ya". Ucap Sania dengan berharap.
"Gue mau ke kantor ngapain lo ikut, yang ada lo nyusahain gue nanti". Rangga mencoba melepaskan tangan Sania dari lengannya namun entah kenapa Sania begitu erat memeluk lengan Rangga hingga membuatnya kesulitan untuk melepasnya.
Sania masih bergelayutan di lengan Rangga yang kian mempercepat jalannya, tiba tiba langkah mereka terhenti saat berpapasan dengan Nabila dan Rendy yang sedang berjalan beriringan berlawanan arah dengan Rangga dan Sania. Pandangan mereka saling beradu satu sama lain, hingga kemudian Rangga melanjutkan langkahnya yang masih tetap diikuti Sania, Nabila sejenak memejamkan matanya menepis semua rasa yang bergejolak dihatinya, rasa cemburu yang tiba tiba saja tersulut didalamnya, Rendy yang melihat ekspresi Nabila dengan cepat Ia menggandeng tangan Nabila, menautkan jemari mereka dengan erat, hingga membuat Rangga merasa sangat kesal, Rangga mengepalkan kedua tangannya, menajamkan pandangannya kepada Rendy.
Mereka berjalan berpapasan dengan pikirannya masing masing, tidak ada tegur sapa diantara mereka, hanya saja Sania membisikkan sesuatu kepada Nabila ketika gadis itu berjalan tepat di sampingnya.
"Cewek kampungan". Bisik Sania kepada Nabila yang berjalan tepat di sampingnya, Sania tersenyum sinis kepadanya.
Nabila merasa sesak di dadanya yang makin membuncah, Ia mencoba memejamkan matanya dan menepisnya namun rasa itu masih tak jua pergi dari sana, hingga Ia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Nabila dan Rendy menghentikan langkahnya ketika mereka sampai di persimpangan antara fakultas mereka, Rendy masih tetap berdiri memperhatikan Nabila yang sudah berjalan memasuki area Fakultas kedokteran, kemudian Ia kembali berjalan menuju area Fakultas Ekonomi dan bisnis.
Sementara Rangga masih berjalan menuju area parkir yang diikuti Sania di sampingnya. Pikiran dan perasaan Rangga benar benar kalut saat melihat Nabila dan Rendy bergandengan tangan, amarahnya tiba tiba saja meletup letup hingga membuat Sania menjadi sasaran kemarahan Rangga.
"Lepasin tangan gue bodoh!!".Teriak Rangga sambil menatap Sania penuh emosi. Membuat tangan dan kaki gadis itu gemetar.
"Sekali lagi lo berani nyentuh gue, gue akan habisin lo". Ancamnya penuh penekanan, seketika itu Sania menundukkan pandangannya. Rangga berjalan cepat menuju parkiran meninggalkan gadis itu yang masih mematung.
"Sialan!!, Kenapa laki laki itu ngga pernah tertarik sama gue, sebenarnya tipe cewek dia itu yang seperti apa?, Gue udah habis Milyaran buat operasi plastik tapi dia nglirik gue juga ngga!!, Siall !!". Umpat Sania.
Rangga sudah memasuki mobilnya, menyandarkan tubuhnya di balik kemudi, sesekali Ia mencoba melepaskan emosi yang masih meletup letup di dadanya itu, menghirup dan melepaskan oksigen berulang ulang hingga dirasa Ia sudah mulai tenang, Ia menyalakan mesin mobilnya dan menancap gas menuju kantor utama Pradipta Corporation.
Terdengar suara dering ponsel miliknya membuyarkan fokusnya , Ia segera melihat ponselnya dan menjawab panggilan masuk dari Leon.
__ADS_1
"Selamat siang tuan muda". Sapa Leon di seberang sana saat panggilan telefon mulai berlangsung.
"Hmm, ada apa ?!".
"Maaf tuan muda, saya hanya ingin mengingatkan tuan muda satu jam lagi ada pertemuan dengan beberapa klien penting di kantor utama Pradipta Corporation". Ucap Leon.
"Iya ini, gue sudah on the way, lo udah siapin semuanya?".
"Sudah tuan, semuanya sudah siap. Saya juga sudah membawa beberapa laporan dan berkas berkas yang harus tuan muda tandatangani ?". Tutur Leon.
"Ya udah lo tunggu gue disana yon".
"Baik tuan muda, hati hati di jalan".
Setelah 30 menit kemudian mobil mewah Rangga memasuki kawasan kantor utama Pramudita Corporation, setelah Rangga memarkirkan mobilnya, kemudian berjalan memasuki kantor yang begitu megah dengan bangunan yang menjulang tinggi hingga hampir mencakar langit ibu kota, saat pertama kali memasuki bangunan itu mata kita akan dimanjakan dengan desain interior Lobi yang begitu apik, nyaman , dan welcoming juga representatif sehingga membuat citra perusahaan lebih meyakinkan dan terpercaya.
Rangga di sambut semua karyawannya dengan penuh hormat, Ia bergegas menuju lift untuk segera sampai di lantai tujuannya, tak berapa lama Ia sampai di ruang kerjanya yang ternyata sudah ada Leon menunggu disana.
"Selamat siang tuan muda". Leon membukakan pintu ruangan Rangga dan mempersilahkannya masuk.
"Siang". Jawab Rangga singkat.
Rangga memasuki ruangannya, dan segera mengganti bajunya dengan kemeja dan jas yang sudah disediakan oleh Leon. Setelah selesai ganti baju Rangga duduk di meja kerjanya sambil memeriksa beberapa laporan dan menandatangani sejumlah berkas berkas penting lainnya.
__ADS_1
30 menit kemudian Rangga dan Leon memasuki ruang meeting untuk bertemu beberapa klien penting, pertemuan kali ini memang untuk membahas rencana kerja sama antar perusahaan, setelah dua jam kemudian meeting telah selesai, mereka sudah mendapat kesepakatan yang sudah disetujui dari kedua belah pihak, Rangga dan Leon keluar dari ruang meeting dan diikuti beberapa kliennya itu.