
Kehangatan keluarga Pramudita begitu terasa saat weekend seperti ini mereka bisa berkumpul dan bercengkerama bersama.
Rangga dan tuan Angga sedang mengobrol di halaman belakang rumah, duduk duduk di gazebo sambil menikmati kopi hitam kesukaan mereka dan keripik pisang menjadi cemilannya.
Banyak hal yang mereka bicarakan dari mulai bisnis, rumah tangga, dan banyak lagi seputar wejangan wejangan tuan Angga kepada putra sulungnya dalam membina rumah tangga.
Sementara Nabila, Rania dan nyonya Rani sedang asyik membuat kue di dapur. Lebih tepatnya Nabila dan nyonya Rani yang sibuk membuat kue sementara Rania sejak tadi gadis itu hanya sibuk mencicipi kue yang sudah matang.
Hari ini Nabila dan nyonya Rani membuat beberapa macam kue, dari mulai matcha snow cake, matcha muffin, dan oreo cupcake.
Setelah semua kue telah matang nyonya Rani meminta seorang pelayan untuk membuatkan minuman untuk mereka semua dan mengantarkannya ke halaman belakang, sementara beliau dan Nabila serta Rania membawa kue kue yang baru saja matang ke halaman belakang tempat Tuan Angga dan Rangga berada.
Kini mereka semua tengah berkumpul di atas gazebo menikmati kuenya disana.
"Papa Rania lanjutin kuliah disini saja ya pa, Rania ngga mau balik lagi ke Amrik". Tutur Rania dengan mulut penuh dengan kue.
Semua orang yang ada disana tentu memperhatikan Rania sesaat setelah gadis itu mengucapkan keinginannya.
"Kenapa tiba tiba kau ingin melanjutkan kuliah disini?". Tanya tuan Angga.
"Aku cuma pengen kumpul sama kalian semua disini, apalagi sekarang ada kakak ipar aku jadi punya teman di rumah, aku pasti betah di rumah". Jawab Rania sambil mengambil kembali sebuah cupcake oreo.
"Benar karena itu alasannya?, bukan karena laki laki?". Tanya tuan Angga penuh selidik.
"Beneran papa, itu alasannya bukan karena laki laki". Sahut Rania.
"Bukannya kamu sendiri dek yang mau kuliah di Amrik, kenapa sekarang tiba tiba mau kuliah disini?". Rangga menimpali.
"Pliss deh kak, jangan jadi kompor!". Kesal Rania, membuat semua orang yang ada disana tekekeh.
"Memang benar kan ma?, dulu dia yang merengek rengek minta kuliah disana".
"Iya dek, kamu sabar kan hanya menunggu kurang lebih satu tahun lagi kamu akan lulus". Ucap nyonya Rani.
"Itu masih lama banget ma, Rania ngga mau!". Serunya.
"Kau harus mau!, Selesaikan dulu kuliahmu disana!". Seru tuan Angga membuat Rania membrengutkan wajahnya, meneguk orange jus miliknya meredakan tenggorokannya yang tiba tiba gersang.
"Papa tahu alasan kamu pasti karena laki laki, jadi papa tidak akan mengijinkan mu melanjutkan kuliahmu disini". Tegas tuan Angga membuat Rania ingin menangis.
Nabila yang ada disana pun hanya ikut mendengarkan saja.
Nyonya Rani memeluk putri kesayangannya itu yang sudah hampir menangis.
"Sayang, satu tahun itu ngga lama kamu juga bisa pulang saat libur semester nanti . Biasanya juga kan begitu". Nyonya Rani mengusap rambut Rania dengan sangat lembut.
Air mata Rania tak tertahan lagi, keluar membasahi pipinya, ia benar benar sedih kenapa orang tuanya tidak mengijinkannya padahal selama ini apapun keinginannya selalu mereka penuhi.
Memang kuliah di luar negeri adalah salah satu keinginannya dulu tapi kini berbeda, entah kenapa ia merasa berat jika harus pulang ke Amrik dan meninggalkan semua keluarganya, dan itu artinya ia juga tidak bisa bertemu dengan Rendy lagi, sepertinya itu yang membuat Rania sedih ia tidak akan bisa bertemu lagi dengan lelaki itu, lelaki yang sudah membuatnya dirinya merasakan indahnya jatuh cinta.
"Baiklah aku akan tetap balik ke Amrik". Tutur Rania sambil mengusap air matanya.
"Idih udah besar masih saja cengeng!". Ledek Rangga.
"Mama lihat kakak ma!". Rania mengadu.
"Sudah sudah jangan berantem, ayo kita makan kuenya lagi". Nyonya Rani menengahi.
"Ma, ini kue buatan siapa?, Buatan mama atau Nabila?". Tanya Rangga sambil mengambil sepotong kue matcha.
__ADS_1
"Ini semua buatanku!". Sahut Rania.
"Mana mungkin ini semua buatan kamu!". Ujar Rangga.
"Iya kan ma ini kue buatanku". Ucap Rania kepada nyonya Rani berharap mamanya itu mengiyakannya.
"Ini kue buatan Nabila dan mama, dari tadi kamu kan cuma bantu mencicipi saja dek".
"Ihhh mama kenapa buka kartu sih". Rania mencebikkan bibirnya.
"Aku juga bilang apa, anak manja mana bisa bikin kue seenak ini!". Rania melototkan kedua matanya setelah mendengar ucapan kakaknya itu.
"Dek kamu sudah dewasa, kamu juga harus bisa buat kue, masak, semua pekerjaan rumah tangga kamu harus bisa jadi ketika punya suami kamu tidak akan kerepotan nantinya". Tutur nyonya Rani.
"Denger tuh dek!!". Sahut Rangga.
"Apaansih ikut ikutan aja!". Rania menghunuskan tatapan tajam kepada Rangga.
"Kau minta ajarin kakak iparmu tuh, sepertinya Nabila menguasai itu semua". Tuan Angga menimpali.
"Istrinya siapa dulu dong, istri Rangga". Rangga membusungkan dadanya.
"Nabila tidak terlalu pandai pa, tapi kalau Rania mau Nabila bisa membantunya belajar".
"Bener ya kak, kapan kapan ajarin aku masak sama buat kue ya". Ucap Rania dengan wajah memelas.
"Tentu dek". Nabila tersenyum simpul.
-----
Rania teihat sangat cantik dengan balutan crop top hoodie berwarna magenta dipadukan celana jeans serta sepatu sneakers berwarna putih.
"Mau kemana kamu dek?". Tanya nyonya Rani saat melihat Rania turun dari tangga.
"Mau malam Mingguan dong ma". Sahut Rania, berjalan menghampiri semua keluarganya yang tengah menonton acara berita di televisi.
"Jomblo aja gayanya mau malam Mingguan". Sahut Rania.
"Sirik aja".
Rangga beranjak dari duduknya menghampiri adik kesayangannya itu.
"Kamu mau malam Mingguan sama siapa?". Kali ini Rangga mengusap sayang rambut Rania, mengecup puncak kepalanya sekilas.
"Sama temanku".
"Cowok?".
"Kepo!". Bisik Rania kepada Rangga.
"Dek, kakak serius kalau cowok suruh dia datang kesini temui kakak dulu".
"Apaan sih kak mulai dehh ikut campur". Kesal Rania.
"Sudah ah bisa telat aku kalau dengerin kakak ngoceh terus!". Rania berpamitan kepada mama papanya.
Tuan Angga yang sejak tadi sibuk menyimak berita di televisi jadi terlalihkan pandangannya saat Rania menyalimi tangannya.
"Kau mau kemana Rania?, Ganti bajumu!". Seru tuan Angga saat melihat Rania memakai hoodie yang hanya setengah badan, hingga menampakkan pusernya.
__ADS_1
"Apaan sih pa?, Ini ketutup papa ngga lihat Rania pakai hoodie lengan panjang sama celana jeans panjang, mananya yang seksi". Kesal Rania.
"Pusermu kelihatan keman mana masih saja kau bertanya mana yang seksi!".
"Dek, sebaiknya kamu ganti bajumu nanti kamu masuk angin". Nyonya Rani mencoba membujuk Rania.
"Aku sudah telat ma".
"Ganti bajumu sekarang!, atau kau tidak papa ijinkan keluar!". Seru tuan Angga dengan nada sedikit beteriak.
"Iya iya ini mau ganti baju". Rania berjalan dengan langkah lebar menuju tangga sambil menghentak hentakkan kakinya di lantai.
Akhirnya Rania menggantinya dengan hoodie yang tertutup, walaupun begitu ia tetap terlihat cantik.
Rania bergegas keluar dari rumahnya tanpa berpamitan lagi kepada kedua orangtuanya.
Malam ini Rania memilik janji dengan Rendy untuk menikmati malam minggu di taman kota, Rendy sudah menunggu Rania di depan gerbang pintu rumahnya.
Rendy memang sengaja menunggu Rania diluar karena ia tak mau bertemu dengan Rangga ataupun Nabila.
"Maaf lama Ren, biasa ngga gampang minta ijin papa". Tutur Rania.
Rendy memakaikan helm di kepala Rania dengan sangat hati hati, mengunci helm itu dengan benar.
"Aaaaa manisnya". Perlakuan manis sekecil itu sudah membuat Rania sangat bahagia
Ya malam ini Rendy memang sengaja menggunakan motornya karena ia ingin benar benar menikmati indahnya malam minggu di ibu kota dari atas motor.
Rania pun sudah mengetahuinya maka dari itu gadis itu memilih memakai celana jeans dan hoodie serta rambutnya pun ia ikat dengan rapi agar tidak berantakan tertiup angin saat di perjalanan nanti.
Rendy melintangkan pijakan kaki untuk memudahkan Rania menaiki motornya, Rania memijakkan satu kakinya di atas pijakan dan tangannya memegang bahu Rendy saat ia menaiki motor itu, dan akhirnya ia sudah duduk dengan sempurna di atas motor.
"Peluk aku Ran, biar kamu ngga jatuh". Tutur Rendy kepada Rania.
"*Aaaaaa bagaimana ini kalau aku meluk dia bisa bisa jantungku copot, duduk berdekatan seperti ini saja sudah membuat jantungku marathon". Batin Rani*a.
Rania bergeming, hingga Rendy sendiri yang menarik kedua tangan Rania dan melingkarkannya di perutnya.
"Ini buat kebaikan kamu Ran, biar kamu ngga jatuh". Tutur Rendy.
"Benar kan....benar kan....jantungku mau copot, aduuh bagaimana ini. Astaga Rania kenapa kamu norak banget cuma pegangan naik motor aja bisa bikin jantungan begini". Gumam Rania dalam hati.
"Ran, kamu baik baik saja kan?". Rendy merasa khawatir karena sejak tadi Rania hanya terdiam.
"Eh, iya Ren a..aku baik baik saja". Jawabnya tergagap.
"Matilah aku, sepertinya dia tahu jantungku lagi marathon, aaaa malunyaaa!". Gumam Rania lagi dalam hati sambil memajamkan matanya.
"Jangan dilepas ya pelukannya, kita berangkat sekarang". Ucap Rendy lalu ia segera menjalankan motornya meninggalkan kediaman Pramudita.
Mereka berdua terlihat sangat bahagia, menikmati malam minggu dengan jalan jalan naik motor menuju taman kota.
Membelah pekatnya malam ibukota, angin malam bertiup membuat perjalanan semakin syahdu, lampu lampu jalanan berpendar menyinari gelapnya jalanan, jalanan yang masih nampak begitu ramai itu membuat Rania berdecak kagum, inilah kali pertamanya menikmati keindahan malam menggunakan motor rasanya sungguh sangat menyenangkan.
Apalagi menikmatinya bersama dengan pujaan hati, sungguh sangat indah rasanya.
Rania bisa menghirup dengan jelas wangi parfum Rendy, wanginya menenangkan sekaligus menjadi candu baginya, rasanya ia ingin mengendus endus leher Rendy menikmati wangi parfumnya, Vampir kali ah.
Sesekali Rania memajukan wajahnya kedepan, mendekatkannya dengan wajah Rendy saat mereka berbicara, saat dilampu merah Rendy akan mengusap usap lembut tangan Rania yang melingkar diperutnya, lagi lagi perlakuan manis sekecil itu sangat berkesan untuk Rania.
__ADS_1
Indahnya malam Minggu jalan jalan naik motor bersamamu.