
Setelah sampai di rumah sakit Rangga segera menggendong Nabila menuju IGD.
"Suster..dokter...!!". Pekiknya dengan begitu panik, Nabila masih dalam gendongannya.
Rangga berdecak kesal saat dilihat tidak ada suster maupun dokter yang menghampirinya.
"Sialan!!, Kemana semua penghuni rumah sakit ini". Umpatnya.
Tak lama kemudian datanglah dua orang perawat membawa brankar menghampiri Rangga yang sejak tadi berteriak teriak.
"Kenapa lama sekali, kalian mau mati!!". Serunya kepada dua perawat yang baru saja datang.
Kedua perawat itu hanya bisa menunduk tak berani membantah.
Rangga segera membaringkan Nabila di atas brankar, kedua perawat itu segera membawa Nabila setengah berlari.
Nabila kini sedang di tangani dokter, Rangga hanya bisa menunggu sambil mondar mandir cemas di depan ruang IGD.
Leon yang baru saja datang setelah memarkirkan mobil mendaratkan tubuhnya di kursi besi berwarna silver di depan ruang IGD.
"Tenang ,duduk lah dulu tuan muda. Nona Nabila akan baik baik saja". Ucap Leon saat melihat Rangga terlihat begitu cemas dan tak berhenti mondar mandir layaknya setrikaan.
"Diam lo Yon!!, Lo ngga ngerti gimana rasanya jadi gue!!". Seru Rangga yang tak menghentikan kegiatan mondar mandirnya.
"Astaga, salah lagi". Leon menghela nafas kasar.
Leon langsung bungkam tak bersuara, daripada nanti di semprot lagi lebih baik diam begitulah pikirnya.
Ponsel Rangga berdering membuatnya tersentak dan menghentikan kegiatan mondar mandirnya.
**Aditya : "Halo kak Rangga". Seru Aditya di seberang telefon. Yang menelfon adalah Aditya.
Rangga: "Iya dit".
Aditya : "Apa kak Rangga tahu dimana kak Nabila?, Kakak belum pulang dari tadi sore dan ponselnya susah sekali dihubungi". Tutur Aditya panik.
Rangga : "Nabila di rumah sakit dit, kamu kemarilah!". Seru Rangga.
Aditya : " Kakak kenapa kak?, Kenapa kakak bisa ada dirumah sakit?, Kakak sakit apa?".
Rangga: "Nabila masih ditangani dokter dit, sebaiknya kamu kesini sekarang nanti ku kirim alamat rumah sakitnya".
Aditya : "Iya kak, Adit kesana sekarang**".
Aditya langsung memutus sambungan telefonnya. Mengambil jaket dan kunci motornya dan segera menuju rumah sakit.
Aditya sama khawatirnya dengan Rangga, bagaimana tidak biasanya saat Aditya pulang dari kegiatan eskul atau tugas kelompok yang akhir akhir ini menghabiskan waktunya, Nabila sudah berada di rumah tapi hari ini saat ia pulang kakaknya itu tidak ada di rumah dengan keadaan rumah yang tidak terkunci membuatnya semakin khawatir.
Beberapa menit kemudian seorang dokter keluar dari ruangan, dengan cepat Rangga menghampirinya.
"Dokter bagaimana keadaan Nabila, dok?". Tanya Rangga cemas.
"Keadaan nona Nabila sudah lebih baik, hampir saja dia terkena hipotermia untung saja segera dibawa ke rumah sakit". Tutur dokter perempuan itu sambil tersenyum tipis.
"Syukurlah, apa Nabila harus di rawat dokter?". Rangga bernafas lega.
"Untuk malam ini sepertinya harus rawat inap dulu tuan, jika besok keadaannya sudah pulih bisa langsung pulang tapi dengan catatan harus banyak istirahat". Ucap wanita ber jas putih itu.
"Baiklah, terimakasih dokter, apa sekarang saya sudah bisa menemaninya?".
__ADS_1
"Tentu tuan, pasien sudah dipindahkan di ruang rawat inap VVIP sesuai keinginan tuan, mari saya antar". Ucap dokter mempersilhkan.
Rangga mengikuti dokter menuju ruangan tempat Nabila dirawat diikuti Leon di belakangnya.
"Silahkan tuan". Dokter mempersilahkan Rangga dan Leon memasuki ruangan Nabila.
"Saya permisi dulu tuan, masih harus memeriksa pasien lainnya". Dokter perempuan itu tersenyu ramah sebelum meninggalkan Rangga dan Leon.
"Terimakasih dokter". Ucap Leon yang dibalas anggukan pelan sang dokter.
Rangga segera menghampiri Nabila yang terbaring lemah.
"Sayang, mana yang sakit?". Tanyanya panik sambil meneliti setiap inci tubuh Nabila.
"Apaan sih kamu mas, aku sudah baik baik saja". Nabila tersenyum, betapa bahagianya dia diperhatikan sampe sebegitunya oleh Rangga.
Rangga duduk dikursi yang ada di samping Nabila, memegang erat tangan Nabila dan menciumnya begitu dalam.
"Jangan bikin aku khawatir lagi sayang". Ucapnya setelah melepaskan ciuman dari punggung tangan Nabila.
"Kamu kenapa heum?, Kenapa bisa seperti ini?, Apa pak Kasim tidak menjemputmu sehingga tubuh kamu basah kuyup kehujanan?". Tanya Rangga.
Nabila bangkit dan memposisikan dirinya duduk menyandar di bahu ranjang pasien, Rangga dengan sigap membantunya meletakkan bantal dibelakang punggung Nabila membuat gadis itu nyaman.
"Aku...aku..". Nabila tidak melanjutkan kalimatnya, mengingat kejadian sore tadi membuatnya kembali ketakutan dan sedih.
Nabila menangis tersedu, Rangga segera mendekapnya, mengusap punggung gadis itu, mencium puncak kepalanya berharap bisa membuat Nabila lebih tenang.
"Menangislah sepuasmu sayang biar kamu bisa lebih tenang". Rangga membelai sayang rambut Nabila yang terurai.
Pelukan Rangga memang membuat Nabila lebih tenang dan merasa nyaman, aroma maskulin dan aroma khas tubuh Rangga menjadi candu buat Nabila, ia menumpahkan segala kegelisahan, ketakutan dan kesedihannya dengan menangis tersedu sedu dalam pelukan Rangga.
"Permisi". Suara seorang perawat membawakan sebuah makanan untuk pasien.
Perawat itu meletakan nampan berisi makanan di atas nakas yang berada di samping ranjang pasien.
"Silahkan dimakan nona, setelah itu diminum obatnya". Ucap perawat tersebut sambil menunjukkan beberapa butir obat yang terdapat di dalam plastik ziplock yang disimpan di atas nakas.
"Terimakasih sus". Nabila mengangguk pelan.
Setelah perawat itu meninggalkan ruangan Nabila, Rangga meraih piring yang berisi makanan sehat untuk Nabila dan mulai menyuapinya.
"Biar aku makan sendiri mas". Tolak Nabila merasa tidak enak jika harus disuapi oleh Rangga.
"Ssssttt, buka mulutnya Aaaaa". Ucap Rangga sambil menirukan membuka mulut seperti hendak menyuapi anak kecil.
Mau tidak mau Nabila memakan suapan demi suapan yang diberikan Rangga hingga habis lalu Rangga membantu Nabila meminum obat.
Ceklek. Suara pintu terbuka dan nampaklah Aditya dengan wajah penuh kecemasan.
"Kakak, apa yang terjadi?, Kakak sakit apa?". Aditya berlari menghampiri Nabila.
"Kakak sudah tidak apa apa dit, tenanglah". Nabila tersenyum tipis, namun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan dan ketakutan yan sedang ia rasakan.
"Kakak jangan bohong, ada apa kak?, Ceritalah". Desak Aditya.
"Iya sayang ceritakanlah apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu bisa seperti ini?". Tutur Rangga yang tak kalah penasaran.
Nabila mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan, menenangkan dirinya sebelum mulai bercerita tentang apa yang terjadi menimpanya.
__ADS_1
"Jadi sudah 3 hari ini setiap aku pulang dari toko ada yang mengikutiku, dan sore tadi mereka mau membawaku bertemu bos mereka". Nabila mulai menitikan air mata yang coba ia tahan.
Rangga dan Aditya terkesiap mendengar cerita Nabila, begitu juga Leon pria itu bangkit dari sofa dan bergabung menyimak cerita Nabila.
"Mereka bilang paman Johan sudah menjualku sama madam Karla hikkss".
"Bedebah!!, Tua bangka itu lagi". Rangga mengepalkan kedua tangannya dengan murka. Rahangnya mengetat, suara gemeletuk giginya terdengar begitu jelas, jika saja Johan ada dihadapannya Rangga akan menghajarnya tanpa ampun.
Aditya juga sama, terlihat begitu murka saat mendengar cerita Nabila.
"Rupanya tua bangka itu belum kapok juga". Leon mengepalkan kedua tangannya hingga buku jarinya memutih.
Flashback On
3 hari yang lalu sebelum kejadian itu, Johan mendatangi sebuah night club terbesar di salah satu kota ini.
Johan mencoba menemui pemilik night club yang merangkap sebagai mucikari yang bernama Karlando yang biasa disebut madam Karla seorang pria gemulai yang terkenal kejam dan sadis, dengan langkah cepat ia memasuki ruangan privat setelah sebelumnya membuat janji terlebih dahulu.
Madam Karla tersenyum miring saat mendengar perkataan Johan yang akan menjual seorang gadis kepadanya.
"Seorang gadis yang seperti apa yang mau kau tawarkan tuan Johan?". Ucapnya dengan gaya gemulainya.
"Aku sudah banyak memiliki gadis gadis berkelas yang bisa menghasilkan uang banyak untukku, jadi simpan saja gadis murahanmu itu tuan Johan". Tuturnya sambil tersenyum smirk.
"Ini bukan gadis biasa madam, saya rasa madam akan menyukainya jika melihatnya". Ucap Johan tak mau kalah.
"Benarkah itu tuan Johan?". Gadis seperti apa yang dimaksud Johan, pikirnya.
"Saya membawa beberapa fotonya, silahkan madam lihat dulu". Johan mengeluarkan beberapa foto Nabila lalu memberikannya kepada madam Karla.
Dengan malas madam Karla mengambil foto foto itu, namun saat dirinya melihat foto itu ia benar benar terpukau.
"Wooowww, dia bisa jadi tambang emasku. Akan ku jadikan dia aset berhargaku". Tutur madam Karla tertawa lepas.
"Pasti banyak pengusaha pengusaha tua ataupun muda yang rela mengeluarkan ratusan juta hanya untuk satu kali kencan dengannya". Imbuh madam Karla dengan senyum menakutkan.
Johan tersenyum puas atas jawaban dari madam Karla.
"Baiklah, berapa harga yang anda tawarkan tuan Johan?".
"5 Milyar madam, tentu uang segitu akan menghasilkan keuntungan yang berlipat lipat bukan?".
"Baiklah". Madam Karla segera mengurus cek dan memberikannya kepada Johan.
Johan memberikan alamat rumah dan toko bunga milik Nabila kepada madam Karla, dan sejak saat itulah gerak gerik Nabila selalu diperhatikan dan diikuti oleh anak buah madam Karla.
Flashback Off.
"Siapa itu madam Karla Yon, seperti pernah denger nama itu?". Tanya Rangga pada Leon sambil dirinya mengingat ingat siapa itu madam Karla, pasalnya nama itu seperti tidak asing di telinganya.
"Madam Karla itu pemilik night club terbesar sekaligus mucikari para p*lacur elit tuan". Jawab Leon.
"Maksud lo Karlandon si pria gemulai itu?!!". Seru Rangga seakan tak percaya dengan jawaban Leon.
"Iya benar tuan". Leon mengangguk cepat.
"Bedebah!!!". Rangga semakin murka saat mendengar siapa itu madam Karla.
Nabila semakin menangis tersedu saat tahu bahwa dirinya akan dijual dan dijadikan p*lacur oleh pamannya sendiri.
__ADS_1
Rangga kembali memeluk Nabila dengan erat.
"Kamu tenang ya sayang, aku ngga akan membiarkan itu terjadi, selama aku masih hidup ngga akan kubiarkan hal buruk terjadi kepadamu". Rangga mengecup puncak kepala Nabila dan menghapus air mata yang membanjiri wajah gadis itu.