Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 55 Kehangatan keluarga


__ADS_3

"Papa sudah memutuskan kalian akan menikah minggu depan, dua hari lagi kalian akan bertunangan". Ujar tuan Angga sambil menatap Rangga dan Nabila yang duduk di hadapannya secara bergantian.


"Kenapa lama sekali pa?!, kenapa ngga langsung nikah saja pa". Celetuk Rangga sontak membuat orang tuanya terkekeh.


"Kenapa? kamu sudah tidak sabar?". Tanya tuan besar Angga sambil tersenyum.


Rangga tersipu malu, mukanya merona ia hanya bisa tersenyum kikuk menahan malu, benar dia memamg sudah tidak sabar ingin segera menikah dengan Nabila.


"Rangga..Rangga.. kelakuanmu sama persis seperti papamu". Seloroh nyonya Rani membuat semua yang ada disana terkekeh, termasuk Nabila yang baru saja mengetahui bahwa sifat Rangga yang menurun dari tuan besar Angga, Nabila tak percaya benarkah begitu?, Setahunya tuan besar sangat baik, ramah, bijaksana dan berwibawa sedangkan Rangga angkuh, arogan, tidak tahu malu bahkan kadang bertindak semaunya.


Ah mungkin tuan besar waktu mudanya sama seperti Rangga.


"Namanya juga anakku ma, darah dagingku kalau ngga nurun papanya terus dia nurun siapa?".


"Hmm, sudah sudah kalian berdua memang sama saja, kita kembali ke topik utama pernikahan Rangga dan Nabila".


Rasa gugup dan takut yang sempat menyelimuti diri Nabila kini enyah begitu saja digantikan dengan kehangatan sebuah keluarga utuh yang sudah lama tak dirasakan Nabila, ia bahagia dan terharu bisa berada di tengah tengah kehangatan keluaraga Rangga.


"Permisi tuan nyonya". Suara bi Minah menghentikan perdebatan mereka.


Bi Minah membawakan 2 cangkir kopi hitam dan 2 gelas orange jus serta beberapa potong kue.


Setelah bi Minah selesai menyajikannya di meja yang berada di tengah tengah majikannya, beliau pamit undur diri dari ruangan keluarga yang nampak hangat itu.


"Silahkan diminum sayang, ngga usah sungkan disini". Nyonya Rani mempersilahkan kepada Nabila, Nabila mengangguk lalu meneguk sedikit orange jus miliknya.


"Terimakasih tante, saya minum ya". Tutur Nabila lalu meneguk orange jusnya sedikit.


"Jadi bagaimana Nabila apa kamu menerima lamaran ini?, apa kamu mau jadi istri Rangga?". Tanya tuan besar Angga setelah menyesap kopi hitam miliknya lalu meletakkannya di tempat semula.


Sejenak Nabila terdiam, ia tak langsung menjawab pertanyaan tuan besar membuat Rangga cemas, Rangga memperhatikan bibir Nabila dengan seksama menunggu apa yang akan di ucapkan gadis itu.


Sebelum ia menjawab Nabila menatap ke arah Rangga yang sejak tadi seperti menunggu jawabannya.


"Aku mau om, aku terima lamarannya". Ucap Nabila membuat Rangga sangat bahagia, Rangga langsung memeluk Nabila dengan erat lalu mencium keningnyanya.


"Terimakasih sayang udah mau menikah denganku". Rangga mencium kening Nabila begitu dalam.


"Ehemm, Rangga ingat kalian itu belum halal jadi harus jaga jarak". Seru tuan besar Angga dengan memberikan tatapan tajam kepada Rangga.


"Apaan sih pa, memangnya papa dulu ngga begini?, Bukankah kata mama kita sama!". Seru Rangga tak mau kalah.


Membuat tuan Angga yang baru saja menyesap kopinya kembali tersedak seketika.


"Uhuuk..uhukk.".


"Rangga!". Teriak nyonya Rani sambil menepuk pelan punggung tuan besar berharap bisa cepat menormalkan kembali tenggorokannya.

__ADS_1


"Ampun ma". Rangga mengangkat tangan tinggi tinggi sambil terkekeh.


Setelah tuan besar lebih baik, nyonya Rani meneguk orange jus miliknya acuh dengan kelakuan putranya yang menurutnya sama saja dengan papanya saat masih muda.


"Nabila tapi kami juga harus bertemu dengan keluargamu, untuk membicarakan masalah ini". Tutur tuan Angga.


"Keluargaku sudah tidak ada om, hanya ada adik laki laki ku dengan keluarga paman Johan saja". Ucap Nabila lirih.


"Paman yang sudah menjualmu itu?". Sahut nyonya Rani, Nabila mengangguk pelan ada kesedihan teramat dalam yang nyonya Rani tangkap dari diri Nabila, ya Nabila sangat sedih ia memang sudah tidak punya keluarga lagi selain Aditya, sedangkan pamannya selalu berbuat jahat kepadanya bahkan sudah menjualnya, apa masih pantas menganggapnya keluarga?, Nabila rasa tidak.


Nyonya Rani bangkit dari sofa lalu mendaratkan tubuhnya di sofa samping Nabila, ia memeluk Nabila erat seraya berkata.


"Sayang, kamu jangan sedih mulai sekarang kami adalah keluargamu anggap om dan tante ini orang tuamu, kamu akan menjadi menantu kami itu artinya kamu akan menjadi anak kami juga". Tutur nyonya Rani memeluk Nabila sambil mengusap sayang rambut Nabila.


Nabila sangat terharu dengan perlakuan nyonya Rani, ia baru bisa merasakan hangatnya pelukan seorang ibu yang sudah lama ia rindukan, air mata Nabila lolos begitu saja dari bola mata indahnya.


"Terimakasih tante". Ucap Nabila sambil memeluk erat tubuh nyonya Rani.


"Panggil tante mama, anggap tante seperti mama kamu sendiri". Nabila mengangguk.


Nyonya Rani sangat prihatin dengan kehidupan Nabila, ia dan suaminya memang sudah banyak mengetahui semua tentang kehidupan Nabila dari orang orang kepercayaannya.


Ya mereka memang tidak ingin salah pilih menantu untuk itulah mereka pastikan jika Nabila adalah benar benar gadis yang tepat untuk dijadikan istri Rangga dengan mencari semua informasi tentang Nabila.


"Jangan sedih lagi ya, nanti kami akan bicarakan masalah pernikahan kalian dengan adikmu bagaimana pun juga dia yang akan jadi wali kamu di pernikahanmu". Nyonya Rani menghapus air mata Nabila dengan kedua ibu jarinya.


Rangga tersenyum hangat melihat kedekatan Nabila dengan mamanya, ada perasaan lega di dalam hatinya, ternyata mamanya bisa menerima dan menyayangi Nabila bahkan memperlakukan Nabila seperti beliau memperlakukan anak anaknya.


"Nabila kamu tidak keberatan kan jika persiapan pertunangan dan pernikahannya semua mama yang urus?". Tanya nyonya Rani .


"Tentu tidak tante, Nabila serahkan semuanya sama keluarga ini Nabila ikut saja". Cicit Nabila.


"Mama sayang, mulai sekarang panggil mama jangan tante, okay?".


"Iya tan..eh mama". Mulut Nabila terasa kaku mengucapkan mama, maklum sudah lama sekali mulutnya tak mengucapkan kata mama.


------


Karena hari sudah larut malam Nabila memutuskan untuk pulang ke rumahnya, ia tidak mau lagi tinggal di apartemen Rangga lagi pun masalahnya dengan madam Karla sudah berakhir ia berharap tidak akan ada lagi orang yang akan mengganggu kehidupannya.


Walaupun begitu Rangga tak membiarkan Nabila pulang begitu saja, ia menyiapkan penjagaan ketat di rumah Nabila dan tentu kedua bodyguard Nabila masih akan terus menjaga Nabila setelah sebelumnya Rangga memberikan peringatan keras terhadap kecerobohan kedua bodyguard itu kemarin.


Nabila saat ini sedang mengobrol sekaligus melepas kangen dengan Aditya di ruang tv, sudah beberapa hari ini Nabila tidak bertemu dengannya, karena adiknya itu juga sangat sibuk dengan kegiatan eskulnya terlebih sekarang ia terpilih menjadi ketua osis di sekolahnya membuatnya semakin disibukkan kegiatan sekolahnya.


Nabila menceritakan semua kejadian yang menimpanya beberapa hari ini begitu juga dengan rencana pernikahannya dengan Rangga, Aditya sangat terkejut dengan rencana pernikahan yang sangat mendadak itu namun ia juga bersyukur karena Nabila menikah tentu saja Rangga akan menjaga Nabila dengan baik pun Rangga orang yang baik dan sangat mencintai kakaknya Aditya yakin Nabila akan bahagia bersama Rangga.


"Adit ikut senang kak, kakak akan menikah dengan kak Rangga semoga kakak bahagia ya". Tutur Aditya sambil memeluk Nabila.

__ADS_1


"Terimakasih dit".


"Adit kalau kakak sudah menikah kamu mau kan tinggal sama kakak dengan mas Rangga, kakak ngga mau kalau harus ninggalin kamu tinggal sendiri di rumah ini". Ucap Nabila sambil melepas pelukannya menatap wajah Aditya lekat.


"Kak, Aditya bukan anak kecil lagi Adit sudah besar bisa mandiri kak, kakak jangan khawatir Aditya bisa jaga diri, Adit kan laki laki kak". Aditya tersenyum, sepertinya kakaknya masih menganggap dirinya anak kecil yang harus dijaga dan di awasi dengan baik, padahal sekarang dia sudah kelas 2 SMA.


"Tapi dit, kakak ngga mau jauh jauh dari kamu".


"Kak, kakak kan bisa sering main kesini atau kita bisa ketemu di toko, Adit juga bisa main ke rumah kakak nantinya. Sudah ah Adit sudah besar kak Adit juga pengen mandiri ngga mau ngrepotin kakak terus". Ucap Aditya sambil merebahkan tubuhnya di sofa ruang tv.


"Baiklah, tapi nanti kakak akan sering main kesini". Nabila menghela nafas berat, rasanya ia tidak sanggup jika harus pisah dengan adiknya setelah menikah nanti beberapa hari tidak bertemu dengannya saja sudah membuatnya sangat merindukannya.


-----


Sang mentari masih malu malu untuk menampakkan dirinya di hari yang sudah mulai pagi ini, membuat Nabila enggan beranjak dari tempat ternyamannya saat ini.


Ia kembali menarik selimutnya, suasana yang mendung membuatnya ingin melanjutkan terbang bebas ke alam mimpi.


Dering ponsel yang menggema memenuhi ruangan membuat Nabila mengerjapkan matanya, mengubah posisinya menjadi duduk sambil meraih ponselnya yang sejak tadi berdering di atas nakas.


Nabila mengucek matanya yang masih belum berhasil menangkap pandangan dengan jelas.


Nampak sebuah panggilan video call dari Maya di layar ponsel yang kini sudah berada dalam genggamannya.


"Ada apa maya sepagi ini video call". Gumam Nabila, jarinya menggeser tombol berwarna hijau pada layar ponsel hingga tampaklah wajah Maya memenuhi layar ponsel miliknya.


"Bil..!". Pekik Maya dengan hebohnya.


"Ada apa pagi pagi kamu sudah menggangguku". Tangan Nabila menutup mulutnya yang tak henti menguap.


"Bil, aku dapet undangan pesta pertunangan dan undangan pernikahan kamu dan Rangga, apa itu benar Bil?, kalian akan menikah minggu depan?!". Tanya Maya begitu heboh.


Nabila mencoba memasang indera pendengaran dan penglihatannya dengan benar mencoba menangkap dan mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Maya.


Nabila terkesiap, mana mungkin undangannya sudah tersebar pasalnya baru semalam ia dan keluarga Rangga membicarakan hal ini.


Ah, Nabila lupa dirinya akan menikah dengan seorang Rangga, anak konglomerat negeri ini tentu saja semuanya bisa saja terjadi termasuk dengan pembuatan dan penyebaran undangan yang sangat singkat, mereka punya uang bisa melakukan apapun sesuai keinginan mereka.


Mungkin untuk kedepannya akan banyak hal mengejutkan lainnya yang lebih dari sekedar menyebarnya undangan yang begitu cepat, Nabila harus mulai terbiasa dengan hal itu.


"Bil, kenapa kamu diam saja?". Tanya Maya saat melihat Nabila malah terdiam bukannya menjawab pertanyaannya.


"Eh, iya May aku dan mas Rangga memang akan menikah minggu depan". Tutur Nabila membuat Maya terkejut hingga mulutnya terlihat menganga tak percaya, ia tak percaya jika Nabila dan Rangga akan menikah secepat ini, namun ia sungguh sangat bahagia mendengar kabar Nabila akan menikah.


***


Haii Readers terimakasih sudah mampir di novel ku yang ini, jika kalian suka mohon dukungannya ya like dan vote novel ini❤️❤️.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan komentar kalian untuk penyemangat author, terimakasih😘


__ADS_2