
Pagi sudah menyambut, sang mentari sudah mulai menampakkan dirinya. Nabila baru saja selesai mandi berjalan menuju walk in closet dengan tubuh masih memakai piyama mandi.
Nabila memilih baju yang casual santai ala rumahan, baju baju yang ada disana adalah baju baju brand ternama dunia pilihan Rangga, Nabila tidak diijinkan lagi memakai baju baju miliknya dulu karena Rangga sudah mempersiapkan semuanya sesuai seleranya.
Dari mulai baju, celana, dress, sepatu, tas , baju dalaman, baju tidur dan beberapa accesories wanita, semuanya telah tersedia disana malah Nabila melihatnya seperti sebuah toko yang menyediakan berbagai macam pakaian wanita.
Nabila memilih kaos berwarna putih dipadukan dengan celana 3/4 berbahan kain, Nabila keluar dari kamarnya hendak membuat sarapan untuk semua orang yang ada di rumah itu namun saat Nabila sudah sampai di dapur Nabila terkesiap dengan kehadiran dua orang laki laki berpakaian seperti chef tengah sibuk membuat makanan di dapur.
"Kalian sedang membuat sarapan?". Tanyanya to the point membuat kedua chef itu menoleh ke arahnya.
"Iya nona". Jawabnya singkat.
"Apa ada yang bisa aku bantu?, tadinya aku ingin membuat sarapan tapi ternyata disini ada chef nya". Tutur Nabila.
"Tidak perlu nona, ini memang sudah pekerjaan kami menyiapkan makanan disini. Jika tuan muda tahu kami mengijinkan nona bekerja di dapur tentu tuan muda akan sangat marah nona". Sahut salah satu chef itu.
"Tidak akan, ini aku yang meminta untuk membantu kalian Rangga tidak akan marah".
"Maaf nona, sebaiknya nona bersantai saja".
"Baiklah". Sepertinya mereka sangat takut Rangga akan marah jika aku membantu mereka.
Akhirnya Nabila memutuskan untuk pergi meninggalkan dapur.
Kedua mertua dan adik iparnya juga terlihat belum bangun, Nabila hanya bertemu dengan para pelayan yang sudah terlihat sibuk dengan tugasnya masing masing.
"Aku harus ngapain ya?, semua pekerjaan rumah tangga sudah ada yang mengurusnya".
Nabila memutuskan untuk pergi ke taman yang berada di belakang rumah, taman yang sangat luas beralaskan rumput yang tertata rapi serta tanaman tanaman dan bunga bunga yang terawat memperindah taman, ada juga kolam ikan dengan air mancur di dalamnya, Nabila duduk di gazebo yang cukup luas yang terbuat dari kayu jati, Nabila menikmati sejuknya udara pagi hari disana.
"Sayang kamu disini?, aku cari kamu kemana mana!". Seru Rangga yang langsung duduk dan memeluk Nabila dengan manjanya.
"Mas Rangga sudah bangun?".
"Iya aku bangun kamu malah ngilang".
"Ngilang?, aku tadi mau bikin sarapan mas tapi ternyata disini ada chefnya yang menyiapkan makanan, jadi aku memutuskan untuk berkeliling di taman ini".
"Sayang, dirumah ini ada chef dan para pelayan yang akan mengurus semua urusan rumah tangga jadi tugas kamu hanya mengurusku dan melayaniku". Tutur Rangga masih tak mau melepas pelukannya.
"Tapi kan mas, aku juga ingin masakin suamiku sendiri".
"Aku ngga akan ijinin kamu buat masak, nanti kalau tangan kamu kena minyak panas bagaimana?, Aku juga ngga mau kamu kecapean". Rangga melepas pelukannya, menangkup wajah istrinya.
__ADS_1
"Aku sudah biasa mas, itu ngga akan terjadi mas".
"Pokoknya kamu ngga boleh masak, tidak ada bantahan!".
"Tapi dulu kamu bolehin aku masak waktu di apartemen kamu mas?".
"Sayang, dulu aku belum jadi suami kamu tapi sekarang aku sudah jadi suami kamu aku berhak buat ngelarang kamu ini itu, lagian itu kan buat kebaikan kamu, kamu nurut ya".
"Baiklah, ya sudah buruan mandi nanti aku siapkan baju kerjanya". Nabila sudah beranjak dari duduknya.
"Kita ngga mandi bareng sayang?". Tanya Rangga ikut berdiri dan memeluk Nabila dari belakang.
"Aku udah mandi mas, memangnya aku kelihatan seperti belum mandi!". Nabila mencebikkan bibirnya.
"Ngga sayang, kamu selalu cantik mau sudah mandi ataupun belum kamu selalu terlihat sangat cantik, sampai aku bingung membedakannya". Tuturnya sambil tersenyum simpul.
"Alasan saja kamu mas". Nabila berlalu pergi meninggalkan taman diikuti Rangga di belakangnya.
Semua pelayan yang berpapasan dengan mereka menyapanya dengan hormat dan sopan, membuat Nabila merasa tidak enak dan risih diperlakukan seperti seorang majikan besar, ia tidak terbiasa dengan hal itu.
Setelah sampai di dalam kamar Rangga masih belum mau mandi, ia malah menjatuhkan dirinya kembali di atas kasur, ia juga menarik Nabila hingga tubuh istrinya itu ikut terjatuh di atas tubuh Rangga.
"Mas buruan mandi nanti kamu telat ngantor!". Seru Nabila.
"Aku masih mau bermesraan dengan istriku". Tuturnya sambil memeluk erat tubuh Nabila dan menghujaninya dengan banyak ciuman.
"Aku masih mau malas malasan dengan istriku, siapa suruh pagi pagi sudah ngilang. Aku jadi ngga bisa lihat wajah kamu saat pertama aku buka mata".
"Astaga!, Memang harus seperti itu?".
"Iya dong sayang, aku maunya setiap hari saat pertama aku buka mata yang kulihat pertama adalah wajah cantik kamu". Rangga kembali menghujani Nabila dengan banyak ciuman.
"Hmmm, baiklah besok besok aku akan menunggu sampai kamu bangun mas".
"Nah gitu dong sayang, jadilah istri penurut aku kan jadi makin cinta". Rangga mengusap sayang rambut Nabila yang panjang.
"Sayang, apa tamu kamu belum pergi?". Tanyanya sambil berbisik.
"Tamu?". Nabila berpikir sejenak merasa bingung.
"Iya tamu kamu yang sudah bikin raju menderita". Ujar Rangga.
"Raju?". Nabila semakin bingung.
__ADS_1
"Astaga!!, Omesnya ngga ilang ilang kamu mas". Mata Nabila membulat penuh saat ia paham dengan maksud Rangga, tangannya memukul bahu suaminya.
"Omes sama istri sendiri tidak apa apa sayang!". Ucap Rangga sambil tersenyum.
"Jadi kapan tamu mu akan pergi?". Lanjutnya.
"Seminggu mas, aku kan udah bilang kemarin".
"Lama sekali!!". Rangga berdecak kesal.
"Sudah ah aku mau ganti baju, mau ke kampus". Nabila bangkit dari tempat tidurnya menuju walk in closet.
Beberapa saat kemudian Nabila sudah terlihat cantik dengan mini dress warna putih tulang dengan motif bunga bunga kecil, Nabila merias wajahnya membubuhkan make up tipis tak lupa menyelipkan jepit rambut disisi kanan rambutnya yang tergerai.
"Ya ampun mas kamu masih belum mandi juga?". Nabila menghampiri Rangga yang kembali bergelung di dalam selimutnya.
"Aku mau di mandiin istriku". Tuturnya.
"Nanti ya lain kali saja, sekarang ayo mandi sendiri dulu". Nabila berusaha menarik tubuh Rangga dengan menarik tangan suaminya itu.
Dengan susah payah Nabila menarik namun tubuh itu bergeming, Rangga terkekeh melihat istrinya yang kesulitan menarik tubuhnya,. Akhirnya dia bangun sendiri turun dari tempat tidur dan kembali memeluk Nabila.
"Kamu dandan cantik begini mau ketemu siapa heum?". Tanya Rangga sambil menelusupkan wajahnya di ceruk leher Nabila.
"Aku mau ke kampus mas, lagian aku cuma dandan tipis tipis kok".
"Dandan tipis saja kamu secantik ini sayang, awas saja kamu genit genit di luar sana!". Serunya penuh ancaman.
"Baik tuan muda". Sahut Nabila membuat Rangga terkekeh.
"I love sayang". Rangga mencium bibir Nabila sekilas lalu berjalan menuju kamar mandi.
Baru beberapa langkah tubuhnya berbalik kemudian kembali menghampiri Nabila.
"Ada apa lagi?". Kesal Nabila, membujuk Rangga mandi sudah seperti membujuk anak kecil mandi.
"Cium lagi, enak". Tuturnya sambil cengengesan.
Lalu Rangga kembali mencium bibir Nabila, kini tak hanya mencium namun juga mengeksplor mulut istrinya itu, tangannya pun sudah tak bisa dikondisikan lagi.
Setelah puas dengan aktivitas kesukaannya Rangga bergegas mandi dan menuntaskan apa yang perlu dituntaskan di kamar mandi.
***
__ADS_1
Terimakasih sudah mau mampir di novelku yang ini, ikuti terus kelanjutan ceritanya ya kakak..
Jangan lupa Like dan vote, serta tinggalkan kementarnya untuk mendukung novel ini dan sebagai penyemangat author.🙏😘