Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode19 ikutlah ke apartemenku!


__ADS_3

Aditya mengambil 2 buah koper dengan ukuran yang cukup besar dan mulai memasukkan baju baju serta barang lainnya milik Nabila ke dalam koper, setelah itu Ia segera membereskan barang barangnya dan memasukkannya kedalam koper miliknya.


Setelah di rasa semua barang barang yang penting sudah masuk ke dalam koper semua, Aditya berjalan menarik keluar kedua koper besarnya itu , di susul dengan Nabila yang membawa 2 buah ransel, Aditya menyerahkan kunci rumahnya kepada laki laki pelontos yang sudah 1 jam yang lalu menunggunya di depan rumah.


Kemudian Aditya mengeluarkan motor maticnya hingga ke halaman rumah, meletakkan satu kopernya di depan dan satu koper lagi di letakkan di pangkuan Nabila yang membonceng di belakang, sedangkan dua ranselnya dibawa masing masing, Aditya memakai ranselnya dengan posisi di depan dadanya, Nabila memakai ransel sebagaimana mestinya yaitu di punggungnya. Setelah mereka duduk dengan sempurna bersama barang bawaan mereka Aditya menjalankan motornya keluar dari halaman rumahnya.


"Kakak kita mau kemana sekarang?". Tanya Aditya dengan pandangan masih tetap fokus ke jalanan yang sudah terlihat gelap hanya ada secercah cahaya dari lampu jalanan yang menyinarinya di sepanjang jalan.


Nabila melirik ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Sudah malam Ia bingung harus mencari dimana tempat untuk bermalam. Tidak mugkin Ia merepotkan sahabat sahabatnya jika harus bermalam di rumah Maya atau Lisa, lagi pun Ia takut mengganggu waktu istirahat mereka dan keluarganya.


"Kak ?, Kakak baik baik saja kan?". Aditya melirik ke arah spion , melihat pantulan wajah Nabila disana.


"Iya Dit, sebaiknya kita bermalam di ruko saja dit, besok kakak akan cari kontrakan". Nabila mendekatkan wajahnya di telinga Aditya agar adiknya itu mendengar apa yang Ia katakan karena bisingnya suara motor dan kendaraan lain yang melintas membuat suara Nabila terdengar samar di telinga Aditya.


"Baiklah". Aditya mulai menambah kecepatan motornya, menyusuri jalanan ibu kota yang masih terlihat cukup ramai di malam hari.


------


Mobil Rangga terlihat baru saja keluar dari sebuah rumah makan yang tak jauh dari kantornya, Rangga dan Leon baru saja menyelesaikan makan malam mereka setelah pulang lembur dari kantor. Rangga terlihat begitu lelah Ia menyandarkan punggungnya di kursi belakang, sedangkan Leon terlihat fokus di balik kemudi.


"Tuan muda , saya sudah dapat informasi tentang pekerjaan baru nona Nabila". Leon melirik ke arah spion , melihat pantulan wajah tuan mudanya.


"Lo serius yon?!, Informasi apa yang lo dapat ?". Rangga memajukan posisi duduknya tidak sabar menunggu informasi dari Leon.


"Nona Nabila sekarang buka toko bunga tuan di Jl. Sudirman no.145 , toko bunganya sudah hampir satu minggu berjalan".


"Syukurlah gue ikut senang dengarnya, akhirnya dia bisa mewujudkan impiannya untuk buka toko bunga". Rangga tersenyum bahagia mendengar informasi dari Leon.


"Lo emang asisten pribadi terbaik yon, lo bisa dapetin info ini dalam hitungan jam saja". Rangga menepuk bahu Leon, leon hanya meliriknya lalu tersenyum.


Rangga kembali menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya. Hari ini Ia benar benar merasa sangat lelah harus mengurus kerjaan kantor hingga larut malam.


"Apa tuan muda sangat lelah?". Leon melirik ke arah spion melihat Rangga yang tengah menyandarkan punggungnya sambil memejamkan matanya.


"Iya seperti yang lo lihat yon". Jawabnya sambil mengurut keningnya dengan kedua jarinya, matanya terpejam seolah enggan terbuka.


"Kalau begitu tuan muda istirahat saja, nanti jika sudah sampai rumah akan ku bangunkan". Leon melirik kembali ke arah spion melihat tuan mudanya.


Baru beberapa saat Leon menutup rapat mulutnya, tiba tiba Ia seperti mengenali pengendara motor yang berhenti tepat di sampingnya saat lampu merah. Leon manajamkan matanya melihat dengan seksama pengendara motor itu, dan benar saja itu adalah Aditya dan Nabila. Saat Leon hendak membuka kaca mobilnya lampu sudah berubah hijau dan Aditya sudah melesat jauh meninggalkannya. Dengan cepat Leon menancap gasnya mengikuti Aditya dan Nabila.


"Tuan muda bangun tuan". Teriak Leon hingga mengejutkan Rangga yang baru saja tertidur.

__ADS_1


"Shitt !!". Umpat Rangga.


"Apa kita sudah sampai rumah ?". Tanya Rangga sambil mengerjapkan matanya.


"Maaf tuan muda saya mengganggu tidurnya, itu karena saya melihat nona Nabila dan tuan Aditya". Leon terus memfokuskan pandangannya agar tidak kehilangan motor yang tengah diikutinya.


"Jangan bercanda yon, gue lagi ngga mau bercanda". Rangga mendengus kesal karna Leon sudah mengganggu tidurnya yang baru sekejap.


"Maaf Tuan, tapi coba tuan muda lihat pengendara motor di depan, bukankah itu nona Nabila dan tuan Aditya". Leon menunjuk pengendara motor dari balik kaca mobilnya.


"Yang mana?". Rangga masih mencoba mencari cari pengendara motor yang Leon maksud itu. Di depan mobil mereka terlihat ada dua pengendara yang sekilas tertutup oleh mobil lain di belakangnya.


"Sebentar tuan, aku akan mencari celah untuk bisa menyalipnya". Leon kembali menambah kecepatan mobilnya hingga saat dijalanan yang lengang Ia bisa menyalip motor yang di kendarai Aditya dan Nabila.


Ciiiiittttt...!!!!.


Aditya dengan cepat menarik rem tangannya saat tiba tiba sebuah mobil mewah berhenti secara tiba tiba di depannya.


"Ada apa dit ?". Nabila merasa bingung dengan Aditya yang tiba tiba mengerem.


"Kak, bukankah itu mobil kak Rangga ?". Ucap Aditya tanpa menoleh ke arah Nabila, pandangannya lurus menghadap mobil mewah di depannya.


Sesaat kemudian terlihat Leon turun lebih dulu kemudian bergegas membukakan pintu untuk tuan mudanya, Nabila memutar bola matanya malas saat melihat Rangga keluar dari mobilnya dan hendak menghampiri dirinya dan Aditya yang masih duduk di atas motor.


"Astaga jadi ini beneran kalian". Rangga berjalan mendekati Aditya dan Nabila, dengan cepat Nabila mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Kalian mau kemana dengan barang bawaan sebanyak ini?". Rangga memperhatikan dua buah koper besar dan ransel yang mereka bawa.


Aditya dan Nabila hanya terdiam lemas tanpa bisa menjawab pertanyaan Rangga.


"Nabila, ada apa dengan kalian?, Apa yang sudah terjadi ?, Kenapa kalian bawa barang sebanyak ini malam malam begini?, Kalian mau kemana?". Rentetan pertanyaan itu keluar dari mulut Rangga, terlihat jelas kekhawatiran di wajah laki laki itu, Ia menatap Nabila penuh rasa khawatir namun Nabila hanya menunduk tak berani untuk membalas tatapan Rangga.


"Rumah kami dijual oleh paman kami kak, jadi mau tidak mau kami harus pergi dari rumah itu malam ini juga". Ucap Aditya dengan penuh rasa kekesalan , emosi dan amarahnya kembali tersulut kala mengingat kejadian yang saat ini menimpanya dam kakaknya.


"Astaga !!, Bagaimana bisa ?!". Rangga masih merasa sulit untuk percaya akan kondisi saat itu, namun Ia sangat yakin Aditya tidak mungkin berbohong atas ucapannya.


"Lantas kalian mau kemana?". Rangga menatap iba Aditya dan Nabila, rasanya Ia tidak tega melihat mereka harus luntang lantung dengan barang bawaan segitu banyaknya malam malam begini.


"Kami akan ke ruko , jadi sebaiknya mas Rangga beri kami jalan supaya kami bisa melanjutkan perjalanan kami". Nabila mencoba bersitatap dengan Rangga yang masih terlihat cemas.


"Sebaiknya kalian ikut ke apartemenku saja, letaknya ngga jauh dari sini . Ini sudah malam ngga baik kalau harus melanjutkan perjalanan kalian ke ruko yang masih cukup jauh".

__ADS_1


"Darimana dia tahu letak rukoku yang masih jauh dari sini". Gumam Nabila dalam hati. Ah sudahlah itu bukan sesuatu yang penting.


"Adit terserah kak Nabil saja kak". Sahut Aditya.


"Bagaimana Bil?, Kamu mau ...?".


" Aku tidak mau merepotkan mas Rangga atau siapapun, jadi tolong biarkan aku dan Aditya melanjutkan perjalanan kami".


"Ayolah Bil, setidaknya untuk malam ini saja kalian bermalam di apartemenku".


"Kak, apa yang dibilang kak Rangga ada benarnya juga, ruko masih jauh dari sini kak. Sebaiknya kita ikut bermalam di tempat kak Rangga saja". Aditya menoleh ke belakang mencoba membujuk kakaknya untuk menerima tawaran Rangga.


"Baiklah". Nabila merasa tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran Rangga.


Rangga tersenyum lega mendengar ucapan Nabila, Leon yang sejak tadi berdiri di belakang Rangga dengan sigap menurunkan barang bawaan Nabila dan meletakkannya di bagasi mobil.


"Dit, kamu kasih kunci motornya sama Leon , biar dia yang bawa motor kamu". Rangga menepuk pelan bahu Aditya.


"Tidak usah kak, biar Adit saja yang bawa motornya. Adit ikutin mobil kakak dari belakang".


"Kamu yakin?". Rangga memastikan.


"Iya kak, ngga apa apa biar Adit saja yang bawa motornya". Aditya tersenyum tipis.


"Ya sudah kalau begitu , kamu hati hati ya. Apartemennya deket kok , 10 menit juga sampai". Rangga kembali menepuk bahu Aditya.


"Adit, kamu yakin ngga apa apa ?". Nabila yang sudah turun dari motornya dan berdiri di samping Rangga merasa khawatir kepada Aditya.


"Kakak tenang saja, Adit tidak apa - apa". Aditya mengangguk dan tersenyum meyakinkan Nabila.


"Ya sudah , tapi kamu harus hati hati". Ucap Nabila menatap lekat adik kesayangannya itu. Aditya mengangguk lalu tersenyum.


Rangga dan Nabila berjalan menuju mobil Rangga, dengan cepat Rangga membukakan pintu untuk Nabila.


"Aku bisa sendiri !". Ujar Nabila sedikit ketus.


Rangga hanya tersenyum meresponnya.


Rangga berputar mengelilingi mobil dan masuk kedalamnya setelah Leon membukakan pintu untuknya. Leon pun bergegas mengendalikan kemudinya menuju apartement, sunyi senyap suasana di dalam mobil, hanya terdengar deru nafas penumpangnya yang saling bersautan. Nabila melemparkan pandangannya keluar jendela mobil, Rangga sejak tadi tak henti menatap wajah gadis ayu yang sudah beberapa hari ini Ia rindukan, saat sadar dirinya di perhatikan sejak tadi oleh Rangga Nabila terlihat canggung, Ia merasa kikuk dan malu.


"Jangan menatapku seperti itu". Ucap Nabila tanpa menoleh ke arah Rangga. Rangga tersenyum, rasanya Ia begitu rindu akan kedekatannya dengan Nabila setelah hampir 1 Minggu Nabila menghindarinya, akhirnya Ia bisa duduk sedekat ini kembali dengan Nabila.

__ADS_1


__ADS_2