Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 62 Anak manja


__ADS_3

Pagi ini formasi lengkap di ruang makan keluarga Pramudita, moment yang sangat jarang dan langka sekali, menikmati sarapan bersama.


Mereka berempat berbincang bincang hangat, Rania masih baru bangun dari tidurnya belum mandi namun sudah ikut sarapan, sedangkan Rangga dan tuan Angga sudah terlihat tampan dengan setelan jasnya, mereka masih sangat sibuk dengan pekerjaannya padahal besok adalah hari pernikahan Rangga.


Berbeda dengan Rangga dan tuan Angga, nyonya Rani hari ini justru tidak ke kantor karena akan mengecek semua persiapan pernikahan Rangga.


"Ma, apa mama sudah memastikan semua persiapan buat besok pernikahan Rangga?". Tanya tuan Angga setelah menelan satu suapan yang ada dimulutnya.


"Semuanya sudah siap pa, tapi nanti akan mama pastikan lagi". Jawab nyonya Rani sambil memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.


"Pastikan jangan ada kesalahan dan kekacauan untuk besok ma, semua rekan kerja papa dari luar negeri akan turut hadir".


"Baik pa, nanti mama urus semuanya".


Rangga dan Rania hanya mendengarkan apa yang dibicarakan kedua orang tuanya. Hari ini wajah Rania berseri seri efek hatinya yang masih berbunga bunga akibat pertemuannya dengan Rendy kemarin membuat gadis itu tak henti menebar senyum manisnya.


"Dek, kamu kenapa dari tadi senyum senyum sendiri?". Tanya Rangga heran saat mendapati adik kesayangannya senyum senyum.


Rangga duduk di depan Rania hingga ia bisa dengan jelas melihat ekspresi adiknya yang nampak seperti orang sedang kasmaran, maklum pengalaman hehe.


"Apaansih kak, siapa yang senyum senyum?". Kilahnya namun pipinya yang bersemu merah tak bisa ia sembunyikan.


"Kamu sedang jatuh cinta ya..?". Ledeknya. Rania menunduk malu, kakaknya ini kenapa pintar sekali menebak suasana hatinya.


"Rania kamu tidak boleh sembarangan dekat dengan laki laki, tidak semua laki laki diluar sana baik". Sahut tuan Angga menasehati.


"Kamu perempuan harus bisa jaga diri kamu sendiri, jangan gampang dekat dengan laki laki yang belum tentu baik". Sambung tuan Angga.


"Dengerin tuh dek". Rangga menyahut yang langsung mendapat pelototan mata dari Rania.


"Iya pa". Rania mengangguk pelan.

__ADS_1


"Rangga kamu juga harus bisa jaga adik kamu". Tutur tuan Angga kepada Rangga.


"Iya pa, pasti Rangga akan jaga adik Rangga dengan baik". Ucap Rangga, nyonya Rani tersenyum mendengar jawaban Rangga.


"Dek kalau kamu dekat dengan laki laki harus kamu kenalkan kepada kakak terlebih dulu". Ucap Rangga sambil mengunyah makanan yang ada dimulutnya.


"Ngga mau!". Seru Rania sambil menggeleng cepat.


"Memangnya kamu lagi dekat dengan siapa sayang?, laki laki mana?". Tanya nyonya Rani penasaran.


"Mmmmm.." .Rania bingung harus menjawab apa?, pasalnya dia memang sedang tidak dekat dengan laki laki manapun, dia hanya merasa senang dengan pertemuannya kemarin dengan Rendy.


Entahlah apa mereka bisa bertemu kembali atau tidak, Rania tidak tahu. Bagaimana mau bertemu sedangkan nomer ponselnya saja ia tidak punya, huhh hanya bisa menunggu takdir yang mempertemukan mereka kembali dan entah itu akan terjadi atau tidak, mengingat kenyataan itu Rania menjadi sedih sepertinya ia tidak akan bertemu laki laki itu lagi, pikirnya.


"Mana ada yang mau sama anak manja seperti adek ma". Sahut Rangga sambil tersenyum miring.


"Papa..!!, lihat kak Rangga pa". Rania mengadu.


"Papa..!!". Rengek lagi Rania mengadu.


"Rangga jangan mengganggu adikmu begitu". Tutur tuan Angga membela Rania.


"Marahin saja dia pa, marahin!". Seru Rania berapi api lalu menjulurkan lidahnya mengejek Rangga.


"Ooo baik tidak ada lagi uang jajan untuk adik manja". Rangga tersenyum, rasanya ia sudah sangat merindukan mengganggu adiknya seperti ini.


"Ngga masalah, aku minta uang jajan sama papa dan ma". Kembali menjulurkan lidah mengejak.


"Dasar manja!". Seru Rangga.


"Dasar kanebo kering!". Seru Rania tak mau kalah.

__ADS_1


"Manja..manja..manja". Rangga berkali kali mengucapkan kata manja membuat Rania kesal.


"Mama..!, Lihat kakak ma!". Kali ini Rania meminta bantuan mamanya.


"Rangga, berhenti mengganggu adikmu. Sudah sana cepat berangkat Leon sudah lama menunggumu di depan". Seru nyonya Rani melihat piring yang di depan Rangga telah kosong, putra sulungnya itu telah menyelesaikan sarapannya.


Rangga berpamitan kepada kedua orang tuanya dan juga Rania untuk berangkat ke kantor, beberapa saat kemudian di susul tuan Angga juga berangkat bersama asisten pribadinya Dion.


----


Hari sudah larut malam petang berganti menjadi malam pekat, suasana ibu kota seperti tak pernah surut dari seluruh aktivitas penduduknya.


Seperti hal nya di sebuah night club ini, suara orang bersorak sorai, jingkrak jingkrak menikmati musik yang memekakan telinga, musik yang dimainkan seorang Dj profesional itu seolah menghipnotis semua manusia yang ada disana untuk turut tenggelam dalam panasnya lantai dansa dibawah gemerlap lampu warna warni yang menyinari.


Rania sedang asyik mengobrol dengan kedua sahabatnya sambil menikmati jedag jedug musik yang membuatnya ingin segera turun ke lantai dansa.


Rania diundang salah satu temannya yang merayakan ulang tahun di night club ini, sebenarnya ia ingin menolak untuk datang namun ia pikir ia juga butuh hiburan untuk sekedar melepas rasa jenuh dan bosannya, dan juga melupakan sejenak dari pikirannya yang terus saja dipenuhi laki laki penolongnya di cafe waktu itu.


Banyak laki laki yang menggoda Rania, namun gadis itu dengan tegas menolaknya bahkan tak segan mengusirnya jauh, merasa risih di dekati laki laki di tempat seperti ini, sudah pasti laki laki hidung belang yang hanya mengincar kepuasan semata, begitu pikirnya.


Ia sudah lama tinggal di luar negeri membuatnya terbiasa dengan dunia seperti ini, namun ia juga tidak pernah minum alkohol hingga mabuk paling hanya mencicipinya satu gelas dua gelas menghormati teman temannya, ia juga termasuk gadis yang pandai menjaga dirinya, walaupun kehidupan diluar negeri sangat bebas dan gaya hidup teman temannya juga demikian namun ia masih bisa menjaga harga diri dan kehormatannya baginya ia hanya akan menyerahkan mahkota yang mati matian ia jaga ini hanya untuk suaminya kelak, orang yang mencintainya tulus, orang yang akan menjaga dan membimbingnya hingga ia tua nanti.


Rania mengerjapkan matanya saat ia melihat bayangan Rendy, ruangan yang temaram membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas.


"Ahh, sepertinya aku sudah gila kepalaku dipenuhi bayang bayang laki laki itu". Gumamnya.


Rania mencoba mempertajam penglihatannya, memastikan bahwa dirinya memang tidak salah lihat dan bukan sekedar halusinasi dirinya.


"Iya itu benar laki laki penolongku". Netra Rania berbinar, ia beranjak dari duduknya hendak menghampiri meja dimana Rendy berada.


Rania tersenyum senang, jantungnya tiba tibs berpacu dengan cepat hanya dengan melihat wajah Rendy.

__ADS_1


__ADS_2