Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode42, Dia melotot!!


__ADS_3

"Kamu tenang ya sayang, aku ngga akan membiarkan itu terjadi, selama aku masih hidup ngga akan kubiarkan hal buruk terjadi kepadamu". Rangga mengecup puncak kepala Nabila dan menghapus air mata yang membanjiri wajah gadis itu.


"Mas aku takut hiks...aku takut mereka akan menangkapku lagi". Nabila kembali terisak di dalam pelukan Rangga.


Rangga memejamkan matanya terlihat berpikir solusi untuk masalah Nabila yang begitu rumit.


"Sayang, bagaimana kalau untuk sementara waktu kamu tinggal bersamaku di apartemen?". Ucap Rangga ragu, ia yakin Nabila akan menolaknya.


Benar saja, Nabila melepaskan pelukan Rangga lalu menghapus sisa sisa air mata di pipinya.


"Aku tidak mau mas". Nabila menggeleng cepat.


"Sayang, aku rasa ini solusi yang terbaik, setidaknya kamu aman bersamaku". Rangga mencoba meyakinkan Nabila.


"Aku juga akan menyewa bodyguard buat menjagamu". Sambungnya.


Nabila diam membisu, apa jadinya jika ia tinggal di apartemen Rangga ia takut akan terjadi hal hal yang tidak diinginkan.


"Aku tidak akan macam macam sama kamu sayang, aku janji". Rangga mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V, menandakan ia bersungguh sungguh bahwa ia berjanji.


"Tapi mas apa kata orang nanti kalau tahu kita tinggal satu atap?". Nabila mencebikkan bibirnya.


"Tidak akan ada yang tahu sayang Leon akan mengurusnya, bukan begitu Leon?". Rangga menoleh ke arah Leon yang berdiri tak jauh darinya.


"Betul tuan, nona jangan khawatirkan hal itu, saya akan mengurusnya". Leon menganggukkan kepalanya sopan.


Nabila masih terdiam memikirkan solusi yang baru saja Rangga usulkan.


"Kalau kamu mau besok aku bisa menikahimu sayang". Rangga tersenyum senang, membayangkan jika dirinya bisa segera menikah dengan Nabila pasti ia sangat bahagia.


Nabila begitu terkesiap dengan ucapan yang baru saja terlontar dar bibir Rangga.


"Mas, menikah itu bukanlah hal yang main main, pernikahan suatu hal yang sakral bagaimana bisa berpikiran mendadak menikah begitu".


"Lagian aku masih ingin meraih cita citaku menjadi dokter mas, masih banyak keinginan yang belum aku capai, aku belum siap untuk menikah muda". Tutur Nabila.


Rangga menghela nafas kasar.


"Aku akan menunggumu sayang". Ucap Rangga mantap.


"Tapi kamu mau kan, tinggal di apartemenku untuk sementara waktu, ini demi kebaikan kamu sayang". Rangga menggenggam kedua tangan Nabila.


"Bagaimana ini, aku ngga punya pilihan lain selain mengikuti saran dari mas Rangga, aku takut mereka akan menangkapku lagi". Gumam Nabila dalam hati.


"Adit kalau menurutmu bagaimana?, Kamu setuju ngga kalau kakakmu tinggal di apartemenku untuk sementara waktu?". Tanya Rangga kepada Aditya.


"Adit setuju aja kak, kalau itu yang terbaik buat kak Nabila. Adit juga minta tolong sama kak Rangga untuk jagain kakak karena Adit masih belum mampu menjaga kak Nabila sendiri". Tutur Aditya.


"Kamu tenang saja dit, tanpa kamu suruh juga aku akan jaga Nabila sebaik mungkin, kamu fokus saja dengan sekolahmu". Rangga menepuk bahu Aditya yang tingginya sudah hampir sama dengannya.


"Terimakasih kak". Aditya mengulum senyum.


"Jadi bagaimana sayang?, Kamu mau tinggal di apartemenku untuk sementara waktu?".


"Mmmm...tidak ada pilihan lain mas". Nabila tertunduk pasrah.


"Sabar ya sayang, aku janji akan segera membereskan masalah ini". Rangga membelai lembut rambut Nabila.


--------


Pagi itu sepulang Nabila dari rumah sakit Nabila ikut pulang bersama Rangga ke apartemen milik Rangga.


Tidak ada pilihan lain yang lebih baik selain ini, Rangga berjanji akan cepat menyelesaikan kemelut masalah dirinya membuat Nabila berharap tidak akan lama tinggal di apartemen milik Rangga.


Apa yang orang katakan jika tahu mereka tinggal satu atap tanpa pernikahan, apalagi jika kedua orang tua Rangga tahu tentu akan menjadi masalah besar.


Nabila mengurut pangkal hidungnya, terlalu pusing memikirkan masalah dalam hidupnya.

__ADS_1


"Sayang, aku harus ke kantor sekarang". Rangga menghampiri Nabila yang tengah duduk di ruang tv.


"Tapi mas ini sudah jam 10, kamu ngga telat?".


"Sayang, aku kan bosnya jadi jam berapapun aku datang ke kantor itu ngga masalah".


"Sebenarnya aku malas sekali ke kantor, tapi papa lagi ada di luar negeri jadi banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor". Tambah Rangga sambil merapikan jas berwarna navy yang baru saja ia kenakan.


"Aku berangkat kerja dulu ya sayang, kamu jangan kemana mana dulu ya". Rangga mencium puncak kepala Nabila sekilas lalu pergi meninggalkan Nabila.


"Mas Rangga.." Seru Nabila memanggil Rangga, membuat Rangga menghentikan langkahnya.


Nabila mendekati Rangga.


"Mas, aku mau ke toko boleh kan?, Banyak yang harus aku urus disana lagian aku bosan kalau harus diam disini seharian".


"Sayang kamu baru pulang dari rumah sakit, apa kamu lupa pesan dokter kamu harus banyak banyak istirahat kamu belum pulih total sayang". Rangga mengusap pelan rambut Nabila.


"Lagian kan kamu juga calon dokter masa ngga care sama kesehatan kamu sendiri". Rangga menggeleng pelan.


"Tapi aku bosan mas". Rengek Nabila sambil menarik narik jas Rangga, membuat pria itu terkekeh.


"Kamu menggemaskan sekali sihh". Rangga mencubit pipi Nabila yang begitu terlihat menggemaskan.


"Awww, sakit tau!!". Nabila mengusap usap pipinya yang sedikit memerah.


"Ya sudah tapi kamu akan dikawal dua bodyguard". Tutur Rangga.


"Aku ngga mau mas, apa kata orang nanti". Nabila mencebikkan bibirnya malas.


"Apa kamu mau kejadian kemarin sore terulang lagi?". Kesal Rangga.


"Tidak mau!!". Pekik Nabila.


"Ya sudah menurutlah".


"Siap bos". Nabila segera berlari menuju kamar untuk mengganti bajunya dengan beberapa baju yang sudah di siapkan Leon selama ia tinggal di apartemen Rangga.


"Sayang jangan lama lama, satu jam lagi aku ada meeting dengan klien penting!". Teriak Rangga.


"Iya bawel!!". Seru Nabila sambil berlari.


-------


Nabila dan Rangga telah sampai di toko bunga milik Nabila, Rangga tidak ikut turun masuk ke toko karena dirinya sedang buru buru mengejar waktu.


Namun ada dua bodyguard yang baru saja turun dari mobil yang sejak tadi mengikuti mereka, mereka adalah bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga Nabila oleh Rangga.


Dua pria berbadan besar dengan muka yang cukup seram, hampir sama auranya ketika melihat mereka dengan aura yang Nabila rasakan ketika melihat para anak buah madam Karla, membuat Nabila bergidik ngeri.


Nabila memasuki toko bunga yang terlihat cukup ramai, kedatangan Nabila dengan kedua bodyguardnya tak ayal menjadi pusat perhatian para pengunjung toko dan ketiga karyawannya.


Nabila merasa menjadi pusat perhatian hanya bisa tersenyum kikuk kepada setiap pasang mata yang menatapnya.


Tapi tidak dengan kedua bodyguard di belakangnya yang masih terlihat begitu seram dan dingin, tidak ada suara apa pun dari kedua pria besar itu hanya ada deru nafas dan beberapa kali kedipan mata yang menandakan ada kehidupan disana.


Setelah Nabila meletakkan tasnya di lantai atas, ia bergegas membantu Dea membuat pesanan buket bunga di ikuti satu bodyguard yang menjaganya.


Sedangkan yang satu lagi berdiri dengan waspada di depan toko.


"Mbak, mereka siapa?". Tanya Dea berbisik karena takut terdengar oleh bodyguard yang ada di belakang mereka.


"Itu bodyguard yang disewa mas Rangga untuk menjagaku". Sebenarnya Nabila malu mengatakan ini, takut Dea berpikiran yang tidak tidak tentang dirinya dan Rangga.


"Wahhh, sepertinya tuan Rangga bucin ya sama mbak Nabila, sampai sampai nyewa bodyguard segala. Tuan Rangga pasti takut mbak Nabila kenapa napa, uhh so sweet banget sih mbak". Tutur Dea membuat Nabila tersipu malu.


"Apaan sih kamu De, ngga gitu tau!". Nabila mencebikkan bibirnya, kalau saja Dea tahu alasan Rangga menyewa bodyguard mungkin Dea justru akan prihatin kepada Nabila.

__ADS_1


Suara ponsel Nabila berdering dari dalam saku ia segera mengambilnya dan terlihat ada panggilan dari Lisa.


"Iya Lis, ada apa?". Tanya Nabila saat sambungan telefon sudah terhubung.


"Kamu kemana?, Kenapa ngga ngampus?, Kita samperin ke rumah kamu juga ngga ada". Tanya Lisa dari ujung telefon.


"Aku di toko Lis, kalian ke rumahku?". Tanya Nabila.


"Iya, ini kita masih di depan rumah kamu".


"Kalian kesini aja ke toko".


"Ya sudah, kita otw kesitu sekarang".


"Aku tunggu ya, bye". Nabila mematikan panggilannya lalu memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celananya.


-------


Lisa, Maya dan Rendy baru saja turun dari mobil milik Rendy yang baru saja menepi di depan toko.


Mata ketiga sahabat Nabila itu dibuat terkejut dengan kehadiran sosok pria seram berbadan besar yang berdiri tanpa ekspresi di depan toko Nabila.


"Lis, dia siapa?". Maya berbisik kepada Lisa.


"Manaku tahu May". Ucap Lisa.


"Apa dia satpam disini?" . Tanya Maya lagi kepada Lisa.


Tiba tiba pria itu berdehem seperti merasa jika sedang diomongin oleh kedua gadis itu, sehingga membuat Lisa dan Maya tersentak kaget.


"Eheemmm!!!". Pria seram itu berdehem.


"Ssssst, diamlah lihat lah dia jadi melotot kan!". Ucap Lisa setengah berbisik kepada Maya.


"Astaga dia melotot Lis". Maya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Lisa dan Maya segera berlari masuk kedalam toko menghindari tatapan tajam dan muka seram bodyguard itu.


Rendy tak kalah penasarannya dengan kehadiran pria seram di toko Nabila, namun dia lebih memilih untuk mengacuhkannya.


"Nabila...!".Teriak Maya sambil berlari memeluk Nabila yang sedang menata bunga.


"Kamu kenapa ngga ngampus?".Tanyanya setelah melepaskan pelukannya.


"Iya kenapa Bil?". Tanya Lisa penasaran.


Sebelum Nabila menjawab pertanyaan Lisa dan Maya, Rendy tiba tiba meraih tangan Nabila, melihat perban yang ada di kedua siku Nabila.


"Tangan kamu kenapa Bil?". Tanya Rendy cemas.


"Eheeemm!!". Suara bodyguard yang berdiri tak jauh dari Nabila.


Membuat Nabila dan ketiga sahabatnya menoleh ke arah pria berwajah seram itu.


"Astaga, kenapa disini ada juga". Ucap Maya sambil menutup mulutnya dengan tangannya.


Pria seram itu justru menajamkan pandangannya kepada Maya.


"Kenapa dia melotot begitu". Maya membuang mukanya ke sembarang arah.


"Tangan kamu kenapa". Tanya Rendy lagi sambil menyentuh perban yang ada di tangan Nabila.


"Eheem!!". Pria seram itu kembali berdehem sambil menatap tajam tangan Rendy yang memegang tangan Nabila.


Rendy mengernyitkan dahinya menatap pria seram itu, sejenak ia berpikir kenapa dia tidak suka saat dirinya memegang tangan Nabila.


"Ah, itu pasti orang suruhan Rangga". Batin Rendy.

__ADS_1


__ADS_2