Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 52 Tertangkap basah!


__ADS_3

Nabila terkesiap, benarkah ruangan ini kedap suara?, Lalu siapa yang akan menolongnya?, Apa nasibnya benar benar berakhir hari ini?, Apa dia benar benar akan kehilangan harga dirinya saat ini?, Nabila kembali menangis tersedu sedu.


"Ya Tuhan tolong aku".


"Ya Tuhan kirimkan dewa penolong untukku".


"Mas Rangga tolong aku". Gumam Nabila di sela tangisnya.


Kakek tua semakin mendekat membuat tubuh Nabila semakin gemetar takut.


"Jangan mendekat kek, aku mohon kakek jangan mendekat!". Teriak Nabila sambil terisak.


"Sayang, aku bukan kakekmu jangan panggil aku kakek, kamu panggil aku sayang!". Kakek itu tersenyum penuh gairah.


Entah apa yang dimakan kakek ini setiap hari, hingga di usianya yang sudah lanjut masih bergelora hasrat bercintanya, sudah tua saja masih sering main perempuan bagaimana waktu mudanya?, mungkin lebih parah dari seorang playboy.


Kakek menjulurkan tangan nya yang keriput dan mengendur hendak meraih pipi mulus Nabila, dengan cepat Nabila meraih tongkat sang kakek, lalu ia mengarahkan dan menggerakkan kesana kemari menghalangi kakek tua yang semakin mendekat.


"Jangan mendekat lagi!!, Mundur!!". Nabila mengacungkan tongkat yang ia pegang ke arah kakek tua itu, mengayunkannya kesana kemari menghalangi langkah kakek yang terus mendekat, usahanya lumayan berhasil kakek tua mulai sedikit memundurkan tubuhnya.


Kakek berjalan dengan agak gemetar tanpa bantuan tongkatnya namun kakek tidak menyerah begitu saja ia mencoba merebut tongkat dari tangan Nabila hingga terjadi aksi tarik ulur tongkat antara mereka.


BRRAAAAAKK!!!


Suara seseorang mendobrak pintu membuat Nabila dan kakek menoleh bersamaan ke arah pintu.


Terlihat Rangga sedikit terhuyung setelah mendobrak pintu dengan kuat.


Rangga mendobrak pintu kamar itu dibantu dengan salah satu pengawal madam yang mengantarkannya ke kamar ini.


Nabila tersenyum lega saat melihat kedatangan Rangga, akhirnya Tuhan mendengarkan doanya, terimakasih ya Tuhan Nabila tak berhenti bersyukur atas pertolongan yang diberikan Tuhan lewat Rangga.


"Mas Rangga!". Teriak Nabila memanggil Rangga yang masih mencari cari keberadaan gadis itu di kamar yang sudah porak poranda.


Rangga melihat kamar itu begitu berantakan barang barang berserakan di lantai dan banyak pecahan vas bunga serta guci dan gelas ikut tercecer di lantai kamar, membuat kamar itu terlihat seperti kapal pecah.


Saat manik Rangga menangkap sosok yang dicarinya tengah meringkuk ketakutan di sudut kamar ia segera berlari menghampirinya.


Sang kakek menatap bingung kedatangan


Rangga dan pengawal madam yang mengganggu acara kencannya dengan Nabila.


Rangga langsung mendorong tubuh kakek tua menjauh dari Nabila hingga membuat kakek itu hampir terjatuh untung saja pengawal madam dengan cepat menangkapnya.


"Sayang, kamu tidak apa apa kan?".Rangga memeluk Nabila erat, Nabila menangis tersedu di pelukan Rangga air matanya tak bisa berhenti mengalir dari mata indahnya.


"Mas aku takut.. hikks aku takut ..".


"Jangan takut sayang semua akan baik baik saja, aku akan membawamu keluar dari sini". Rangga mengecup kening Nabila sekilas, lalu melepas jas yang ia kenakan dan membalutkannya pada tubuh Nabila yang hanya berbalut dress seksi.


"Apa apan ini?!". Teriak sang kakek.

__ADS_1


"Mau kau bawa kemana wanitaku?!". Teriaknya lagi saat melihat Rangga hendak membawa Nabila pergi.


"Wanitamu?, Ini kekasihku tua bangka dia bukan wanita penghibur seperti yang kau pikirkan". Ucap Rangga kesal.


"Apa maksudmu?, Aku sudah membayarnya mahal?".


"Tanyakanlah pada pria gemulai itu, aku tidak punya urusan denganmu".


"Berdiri saja sudah gemetar begitu tapi masih saja mikir main kuda kudaan, dasar tua bangka! Sudah bau tanah bukannya tobat malah maksiat". Tutur Rangga sambil berlalu pergi merangkul pinggang Nabila dan menuntunnya keluar dari kamar itu.


Rangga dan Nabila berjalan cepat keluar dari kamar itu meninggalkan kakek tua yang masih bersungut sungut bersama pengawal madam Karla.


Setelah berada di luar kamar Rangga menghentikan langkahnya, mengecek dan memastikan keadaan Nabilw.


"Sayang kamu tidak apa apa kan?". Rangga memegang kedua lengan Nabila meneliti setiap inci tubuh gadis itu.


Nabila mengangguk lemah, air matanya masih mengalir membasahi pipinya.


"Sudah jangan menangis lagi, kamu sudah aman sayang". Rangga menyapu air mata Nabila dengan kedua ibu jarinya.


"Apa tua bangka itu menyakitimu sayang?".


Nabila menggeleng pelan.


"Apa dia menyentuhmu?". Nabila kembali menggelengkan kepalanya.


"Syukurlah, aku belum terlambat". Rangga tersenyum lega, kembali memeluk Nabila dengan erat.


"Ini bukan salah kamu mas". Sahut Nabila sambil menangis.


"Sudah lupakan semuanya, sekarang kita pulang". Rangga melepaskan pelukannya kembali menuntun Nabila untuk segera keluar dari tempat terkutuk ini.


--------


Hari sudah mulai malam, Rangga memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemen miliknya.


Nabila terlihat memandangi kaca mobil di sampingnya dengan tatapan kosong, pikirannya melayang membayangkan kejadian buruk yang menimpanya hari ini, air matanya masih terlihat mengalir dari sudut matanya.


Rangga melihat kesedihan di wajah Nabila membuatnya ikut merasa bersedih, melihat gadis itu menangis membuat dadanya menyesak.


"Sayang, sudah jangan pikirkan kejadian itu lagi". Rangga meraih tangan Nabila lalu menciumnya begitu dalam seolah ingin memberi kekuatan kepada sang kekasih.


Melewati hari yang begitu berat dan terlalu banyak menangis membuat tubuh Nabila terasa sangat lelah, tubuhnya begitu lemas ia menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan matanya hingga tak terasa ia tertidur lelap kedua tangannya memeluk jas milik Rangga yang membalut tubuhnya.


Rangga tersenyum tipis melihat Nabila terlelap dalam tidurnya, seketika senyum itu lenyap saat Rangga mengingat kejadian buruk yang menimpa Nabila hari ini, matanya berkaca kaca ia merasa sangat iba kepada Nabila.


Nabila tidur begitu nyenyak membuat Rangga tak tega membangunkannya saat sudah sampai di basement apartement.


Rangga melepaskan seat beltnya lalu melepaskan seat belt Nabila dengan sangat hati hati ia menggendong Nabila ala bridal style memasuki loby apartemen, semua mata tertuju padanya namun Rangga memilih mengacuhkannya.


Ia menatap wajah Nabila lekat lekat, masih tertangkap jelas raut kesedihan di wajah ayunya.

__ADS_1


Dengan langkah gontai Rangga berjalan menuju lift yang akan membawanya menuju apartement miliknya.


Setelah sampai di apartemennya Rangga segera memasuki kamar yang selama ini di tempati Nabila dan membaringkan tubuh Nabila di tempat tidur dengan sangat hati hati.


Rangga tidak ingin membangunkan Nabila dari tidurnya, perlahan Rangga melepaskan heels yang di gunakan Nabila, menyelemuti Nabila hingga menutupi sebagian tubuh gadis itu.


Fokus Rangga kini beralih ke wajah Nabila yang dipoles make up cukup tebal, selama ini Rangga belum pernah melihat Nabila merias wajahnya dengan make up setebal ini biasanya Nabila hanya menggunakan make up flawless natural, Rangga lebih suka melihat Nabila tampil natural daripada dengan make up seperti sekarang justru Rangga seperti tidak mengenali sosok Nabila.


Rangga menyibak anak rambut yang menghalangi kecantikan wajah Nabila, meyelipkannya di telinga gadis itu, Rangga tersenyum simpul lalu mengecup kening Nabila.


Rangga menarik wajahnya yang masih menempel di kening Nabila, rasanya ia enggan melepas ciuman dari kening itu.


Atensi Rangga kini teralih pada bibir Nabila yang merah menyala karena warna lipstik yang digunakannya.


Ingin rasanya Rangga mencium bibir itu, namun pikiran dan hatinya menolak untuk melakukannya, tapi entah kenapa tubuhnya seolah menariknya untuk segera merasakan bibir itu.


Bibir Rangga mulai mendekati bibir Nabila tak membuang waktu lagi kini ia menempelkan bibirnya dengan bibir Nabila, tak puas hanya menempel ia mulai m*lumatnya pelan, m*ngecap dan m*ngulumnya tak sampai disitu dorongan hasrat yang begitu kuat membuat lidahnya melasak masuk kedalam mulut Nabila menjelajah setiap bagian mulut Nabila dan memainkan lidah gadis itu.


Nabila merasa dirinya sedang bermimpi, berciuman dengan Rangga hingga ia menikmati ciuman itu, Nabila membalas ciuman Rangga dengan agresif namun anehnya mimpi itu terasa begitu nyata.


Nabila seperti benar benar merasakan hangatnya ciuman Rangga, aroma mint yang sempat dua kali ia rasakan kini kembali dirasakannya, aroma mint yang menjadi candu baginya.


Melihat Nabila begitu menikmati ciuman dan meresponnya membuat Rangga semakin hilang kendali, ciuman hangat itu berubah menjadi ciuman panas.


Rangga mulai kehilangan akal sehatnya ia mulai menindih tubuh Nabila dan masih terus m****** bibir Nabila, sesaat ia melepasnya untuk menghirup oksigen sebanyak banyaknya lalu kembali menciumnya dengan panas.


Nabila terbangun dari mimpinya, ia merasa ini bukan mimpi tubuhnya sangat berat seperti ada yang menindihnya, Nabila membuka mata perlahan.


"Hummp..". Nabila membeliak saat mendapati tubuh Rangga kini berada di atasnya dan pria itu masih belum melepas ciumannya.


Nabila mencoba meronta mendorong tubuh Rangga, membuat Rangga melepas ciumannya.


Nafas mereka terengah engah.


"A..apa yang kamu lakukan mas, cepat bangun". Nabila mencoba mendorong tubuh Rangga namun tubuh pria itu bergeming Rangga semakin menindihnya membuat Nabila tak bisa bergerak.


"Sayang tenanglah, aku ti..tidak akan macam macam aku hanya ingin menciummu". Ucap Rangga tersenggal.


"Diam dan nikmatilah sayang". Rangga kembali mencium bibir Nabila.


Kata kata Rangga seolah menghipnotis Nabila, ia tidak lagi meronta justru ia kembali menikmatinya, tubuhnya kaku aliran darahnya seolah berhenti membuat tubuhnya tak bisa bereaksi selain menikmati ciuman panas itu.


Rangga memang hanya berniat mencium Nabila saja, ia berusaha untuk mengontrol dirinya untuk tidak berbuat lebih dari itu, ia hanya ingin menikmati kembali aroma strawbery yang memabukkannya.


Namun tiba tiba saja.


BRAAKKK!!


Pintu kamar terbuka lebar, membuat Nabila dan Rangga terkejut mereka melotot secara bersamaan ke arah pintu tanpa merubah posisi mereka.


"Rangga!!, Apa yang kamu lakukan!!". Teriak wanita paruh baya saat mendapati Rangga sedang berada di atas tubuh Nabila dan menciumnya dengan panas.

__ADS_1


__ADS_2