Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 120 Rania hamil


__ADS_3

Pagi yang cerah menyambut semua insan dunia untuk mengawali hari kembali menjalani rutinitas harian dengan penuh semangat.


Tapi tidak dengan Rania, gadis itu terlalu takut untuk menjalani hari ini, pasalnya hari ini adalah dimana dirinya akan melakukan tes kehamilan menggunakan tespek yang kemarin dibelinya di apotek.


Karena memikirkan hal itu, semalam Rania tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia takut jika hasil tesnya tidak akan sesuai dengan harapannya, ia terlalu takut untuk menghadapi kenyataan jika hasilnya justru mengecewakannya.


Namun hari ini sudah tiba mau tidak mau Rania tetap harus melewatinya, Rania tetap harus melakukan tes itu, Rania harus menghadapi apapun nanti hasilnnya.


Rani melangkah gontai ke kamar mandi, langkahnya di penuhi keraguan yang terbersit di dalam hatinya.


Kini Rania sudah berada di dalam kamar mandi, membaca petunjuk pemakaian yang tertera pada bungkus kedua alat tes kehamilan yang kini ada di tangannya.


Setelah dirinya merasa paham dengan petunjuk pemakaiannya, kini ia segera melakukan tes kehamilan dengan kedua tespek itu.


Rania kembali ke kamarnya, meletakkan kedua tespek itu di atas nakas, dirinya berniat mandi terlebih dahulu sembari menunggu hasil tespeknya keluar.


Rania mengambil handuk bersih dari lemari lalu bergegas ke kamar mandi, beberapa saat kemudian Rania keluar dari kamar mandi sudah terlihat segar memakai bathrobe dengan rambut basah yang menjuntai mengenai punggungnya.


Rania pun mulai mengenakan baju kerjanya dan memoles make up di wajahnya, setelah terasa sempurna dirinya berjalan menuju nakas hendak meraih ponselnya namun tak sengaja netranya menangkap dua buah tespek yang tergeletak di sana.


"Astaga! Aku sampai lupa dengan tespek ini," gumamnya.


Tangan Rania terulur meraih kedua tespek itu dengan mata terpejam, jantunganya mulai berdegup kencang, tubuhnya tiba tiba saja gemetar tak karuan, Rania takut, sangat takut dengan hasilnya.

__ADS_1


Perlahan ia duduk di tepi tempat tidur saat tangannya sudah menggenggam salah satu tespek.


"Semoga garis satu, semoga garis satu, semoga garis satu, semoga garis satu," bibirnya terus merapalkan kata itu sembari membuka mata perlahan dan membuka genggaman tangannya perlahan.


Detik demi detik berlalu tespek menampakkan garis satu saat genggamannya sudah terbuka sebagian, ada rasa lega dalam diri Rania namun detik berikutnya ia kembali membuka genggamannya hingga telapak tangannya terbuka sempurna dan betapa terkejutnya ia saat menampakkan satu garis lagi, ya hasilnya adalah garis dua.


Sekujur tubuh Rania terasa lemah tak bertulang, tubuhnya semakin gemetar hebat, air matanya mulai berhamburan membanjiri wajahnya.


Rania menjerit dan menangis tersedu sedu, kenapa harus garis dua? Apa ini benar? Rania beranjak dari duduknya dan meraih satu tespek lainnya yang berada di atas nakas.


Mata Rania membeliak saat melihat tespek itu pun menunjukkan garis dua, itu artinya dia benar benar hamil.


Tubuh Rania meluruh ke lantai serasa tak sanggup menopang berat badanya, masa depannya sudah benar benar hancur, dirinya hamil di luar nikah, dirinya sudah mencoreng nama baik keluarga besarnya.


Rania memukul mukul kepalanya sendiri sambil menangis, merutuki semua kebodohan yang pernah ia lakukan bersama Rendy, kebodohannya karena telah menyerahkan kesuciannya kepada laki laki yang tidak pernah mencintainya.


Bayangan kejadian malam itu kembali berputar di kepalanya, malam dimana dirinya secara sadar melakukan perbuatan terkutuk itu dengan Rendy yang saat itu di pengaruhi alkohol.


Kenapa dirinya begitu bodoh, kenapa dirinya bisa terbuai begitu saja oleh sentuhan demi sentuhan Rendy malam itu? Kenapa dirinya begitu pasrah saat pria itu mulai meneguk kenikmatan yang tak seharusnya ia berikan kepada pria yang bukan suaminya.


Hati Rania semakin tersayat saat ia mengingat Rendy menyebut nama Nabila saat pria itu mencapai pelepasannya, perih sekali, bak sembilu tajam mengoyak luka yang terbuka di dalam hatinya, tangisnya terdengar pilu menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya.


Saat ini Rania tidak tahu harus berbuat apa? Pikirannya sudah benar benar buntu tidak bisa berpikir dengan jernih, rasa takut akan kemarahan tuan Angga dan Rangga juga rasa takut dirinya akan di kucilkan dan di cemooh oleh dunia membuat tubuhnya semakin bergetar hebat hingga mengeluarkan keringat dingin yang bercucuran di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Rania memeluk lututnya sendiri, menjerit jerit menumpahkan segala kegundahan dalam dirinya. Mengeluarakan beban yang menumpuk melumpuhkan tubuhnya.


Terlintas dalam pikirannya untuk melenyapkan janinnya, ya mungkin ini adalah jalan satu satunya, jalan yang terbaik bagi semuanya, bagi dirinya, Rendy dan keluarganya pun tidak akan menanggung malu akibat ulahnya.


Rania melonjorkan kedua kakinya di atas permadani mewah yang membentang di ata lantai kamarnya, menyandarkan tubuhnya di tempat tidur, tangannya mulai meraba perutnya yang masih rata.


"Nak, maafkan mama. Mama harus mengirimmu kembali ke surga," gumamnya, air matanya semakin deras meluncur dari setiap sudut matanya.


Rania memejamkan matanya, tangannya tak mau lepas dari perutnya, benarkah dirinya akan melenyapkan janin itu? Apakah dirinya setega itu? Bagaimanapun juga anak itu tidak berdosa, tidak tahu apa apa, jika dirinya melakukan hal itu bukankah sama saja seperti melakukan perbuatan terkutuk untuk yang ke dua kalinya.


Rania menggeleng sembari berkata," Ngaa, aku ngga boleh melenyapkan janin ini, dia tidak berdosa," sambil mengusap usap perutnya.


"Aku akan menjaga janin ini, melahirkannya ke dunia dan merawatnya sendiri, ini semua salahku, ini semua kebodohanku jadi aku harus menanggungnya sendiri," ucapnya sambil terisak.


Rania memutuskan untuk tetap membiarkan bayi itu tumbuh di dalam rahimnya, ia pun berniat akan membesarkan bayi itu sendiri, Rania masih belum punya keberanian untuk mengakui kehamilannya pada keluarganya termasuk kepada Rendy.


Jika tuan Angga tahu dirinya hamil bukan tidak mungkin tuan Angga akan mengusirnya dan mencoret namanya dari daftar keluarga Pramudita.


Dan jika Rania memberitahu Rendy akan kehamilannya, mungkin laki laki itu akan tanggung jawab dan menikahinya seperti yang pernah dikatakannya waktu itu namun sungguh dirinya tidak mau jika harus dinikahi hanya karena rasa tanggung jawab dan rasa iba kepadanya.


Rania tidak mau menikah dengan laki laki yang tidak mencintainya, membayangkannya saja sudah membuatnya sesak apalagi jika harus menjalani pernikahan tanpa cinta.


Mungkin ini adalah teguran dari Tuhan untuknya karena telah melakukan dosa besar di malam itu, Rania harus bisa menghadapi dan menjalani ini semua, karena semua ini adalah buah dari semua perbuatannya malam itu.

__ADS_1


Rania masih tak bisa berhenti menangis, pikirannya kacau, tidak ada lagi semangat dalam dirinya untuk menjalani hidup, masa depannya telah hancur karena ulahnya sendiri, mau tidak mau ia harus bisa mempertanggung jawabkan ini semua, walaupun sulit dan sangat berat tapi mau bagaimana lagi tidak ada pilihan lain selain dengan menjalaninya, yakin saja cobaan ini akan cepat terlewati, badai pasti berlalu.


__ADS_2