Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode20 Cemburu


__ADS_3

"Jangan menatapku seperti itu". Ucap Nabila tanpa menoleh ke arah Rangga. Rangga tersenyum, rasanya Ia begitu rindu akan kedekatannya dengan Nabila setelah hampir 1 Minggu Nabila menghindarinya, akhirnya Ia bisa duduk sedekat ini kembali dengan Nabila.


Leon hanya terkekeh melihat kelakuan tuannya dari pantulan spion di depannya, 10 menit kemudian sampailah di gedung apartemen yang begitu megah dan mewah, apartemen yang terletak di jantung ibu kota, dilengkapi dengan pelayanan cleaning service, furniture import, dan akses ekslusif.


Karena lokasi yang strategis, dengan pelayanan kelas atas tidak heran jika apartemen milik Rangga ini diharagai melebihi harga beli rumah dikawasan elit, harganya mencapai 33 Milyar dengan luas 363 m2, apartemen dengan 3 kamar dan dilengkapi indoor swimming pool.


Rangga segera membuka apartemennya dengan menggunakan acces card miliknya, kemudian mempersilahkan Aditya dan Nabila juga Leon masuk.


"Silahkan duduk". Rangga duduk di sofa import yang begitu mewah, diikuti dengan Nabila, Aditya dan Leon.


Aditya dan Nabila berdecak kagum melihat apartemen yang begitu mewah, mereka mengedarkan pandangannya di setiap sudut apartemen.


"Disini ada 3 kamar, satu kamarku dan 2 lagi kamar kosong kalian bisa memakainya". Rangga menyandarkan tubuhnya di sofa sambil melonggarkan dasi yang Ia kenakan.


" Apa kak Rangga tinggal disini sendirian?". Tanya Aditya dengan mata yang masih menyusuri setiap sudut apartemen.


"Sebenarnya aku jarang tinggal disini, aku tinggal bersama orang tuaku. Aku tinggal disini kalau lagi bosan di rumah atau lagi pengen sendiri saja".


"Kalau kamu mau , kamu bisa tinggal disini bersamaku dit". Sambungnya.


"Ngga kak terimakasih, Adit hanya heran saja kak Rangga tinggal di apartemen sebesar ini sendiri".


" Malah ini lebih besar dari rumah kami". Imbuhnya.


Rangga tersenyum sambil mengacak acak rambut Aditya.


"Ya sudah yon, lo antar mereka ke kamar masing masing ya, dan lo boleh pulang setelahnya, aku mau mandi dulu". Rangga berlalu pergi ke kamarnya sebelumnya Ia menatap Nabila dengan senyum yang mengembang.


" Mari saya antar ke kamar nona, tuan". Leon menarik koper mereka dan berjalan menuju kamar untuk Nabila dan Aditya tempati.


"Biar saya saja kak Leon yang bawa kopernya". Aditya mengambil alih kedua koper besar dari tangan Leon.


Setelah mengantar Aditya dan Nabila ke kamar, Leon masuk ke kamar Rangga untuk berpamitan kepada Rangga untuk pulang ke rumahnya. Rangga pun mengijinkannnya.


"Tuan muda saya pamit pulang dulu". Leon membungkukkan badannya.


"Tunggu yon, gue punya tugas penting buat lo".


"Apa itu tuan?". Leon memasang telinganya dengan baik untuk mendengar tugas apa yang akan diberikan tuannya itu.


"Kamu ambil alih rumah Nabila yang udah dijual itu, beli berapapun harganya. Dan satu lagi kamu harus cari pamannya Nabila dan beri dia pelajaran!!". Rangga mengepalkan tangannya , ada kekesalan yang teramat dalam diraut wajahnya. Rangga merasa tidak terima Aditya dan Nabila mendapat perlakuan yang tidak baik dari pamannya itu.


"Baik tuan". Leon menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Gue mau lo selesain ini semua secepatnya yon". Rangga menepuk bahu Leon .


"Ya sudah lo pulang gih, istirahat. Makasi atas semuanya yon". Rangga menjentikkan tangannya menyuruh Leon segera pulang.


" Saya pamit pulang dulu tuan, kalau ada apa apa tuan bisa segera hubungi saya". Leon membungkukkan badannya kemudian berlalu keluar dari kamar Rangga.


" Hati hati yon". Rangga melambaikan tangannya.


Rangga keluar dari kamar dan menuju dapur hendak membuat kopi untuknya dan susu untuk Aditya dan Nabila.


Nabila yang melihat itu segera menghampiri Rangga.


"Mas Rangga mau buat apa?". Tanya Nabila yang secara tiba tiba ada di belakang Rangga sontak membuat Rangga terjingkat kaget.


"Eh, kamu ngagetin aja".


"Aku mau buat kopi untukku, dan susu untukmu dan Aditya". Sambungnya.


"Emang bisa?, Sini biar aku buatkan". Nabila meraih gelas yang dipegang oleh Rangga dan segera memasukkan bubuk kopi dan gula kedalamnya.


Rangga duduk di kursi meja makan yang tak jauh dari dapur, menuggu dan memperhatikan Nabila membuat kopi, ada seulas senyum di bibir Rangga saat memperhatikan gadis ayu itu.


"Ini kopinya, awas masih panas". Nabila meletakkan kopi di meja tepat di hadapan Rangga.


"Aku mau antarkan susu ini dulu untuk Aditya".


"Okay, setelah itu temui aku di ruang tv ya, ada hal yang mau aku bicarakan sama kamu". Rangga membawa secangkirnya menuju ruang tv.


"Baiklah". Nabila membawa segelas susu dan berjalan menuju kamar yang ditempati Aditya.


Setelah itu Nabila dengan berat hati melangkahkan kakinya menuju ruang tv untuk menemui Rangga, sebenarnya Nabila masih enggan untuk bertatap muka lama lama dengan Rangga, namun mau bagaimana lagi Rangga sudah menolongnya malam ini jadi Ia harus menghargai Rangga , begitu pikirnya.


Nabila duduk di sofa yang berbeda dengan sofa yang diduduki oleh Rangga.


"Kok disitu sih, sini dong. Aku janji tidak akan macem macem sama kamu". Rangga menepuk sofa disampingnya.


"Aku ngga mau, apa bedanya disini sama disitu, kita kan sama sama ngobrol". Nabila memutar bola matanya sebal.


"Jelas beda dong, ayolah bil sini, aku ngga akan macem macem, aku janji". Rangga mengulangi ucapannya. Akhirnya Nabila menurut pindah duduk di samping Rangga berada satu sofa dengannya namun ada jarak yang cukup lebar diantara mereka.


"Mau ngomong apa?, Katakan cepat". Nabila kembali menggeser duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Rangga yang kini sudah berada satu sofa.


"Apa benar yang dikatakan Adit, rumah kalian dijual oleh paman kalian?, Sebenarnya ada masalah apa sampai paman kalian tega menjual rumah kalian?". Rangga menanyakan pertanyaaan pertanyaan yang sejak tadi memenuhi kepalanya.

__ADS_1


"Itu hanya masalah keluarga, mas Rangga tidak berhak tahu untuk itu".


"Baiklah, setidaknya kamu cerita sedikit masalah kamu. Aku pasti akan bantu kamu menyelesaikan masalahmu".


"Tidak ada masalah apa apa, aku ngantuk. Aku permisi ke kamar dulu". Nabila beranjak dari sofa dan hendak pergi meninggalkan Rangga namun dengan cepat Rangga menahan tangan Nabila.


"Nabil, kenapa kamu masih saja menghindar dariku, apa kamu masih marah?". Rangga tak juga melepas pergelangan tangan Nabila.


"Aku sudah memaafkan mas Rangga, aku sudah melupakan semuanya". Nabila masih berdiri di depan sofa dengan pandangan lurus tak menatap Rangga.


"Lantas kenapa kamu masih terus menghindariku". Ucap Rangga dengan nada sedikit kesal.


Nabila terdiam sejenak.


"Kenapa diam?, Coba katakan kenapa kamu menghindariku?!". Rangga beranjak dari duduknya lalu memutar tubuh Nabila yang masih berdiri dan tak menatapnya. Kini mereka berdiri saling berhadapan.


"Aku cuma ngga mau nona Sania salah paham denganku". Ucap Nabila sambil menunduk. Rangga mengerutkan keningnya mendengar jawaban Nabila.


"Kenapa jadi bawa bawa Sania?, Apa hubungannya dengan kita?".


"Nona Sania kan pacar kamu mas, ya jelas ada hubungannya. Aku cuma ngga mau dikatain pelakor". Nabila menatap Rangga dengan kesal.


"Jadi stop deketin aku!!". Sambungnya.


Nabila melipat kedua tangannya di dadanya dengan raut wajah penuh kekesalan. Rangga yang melihatnya malah justru terkekeh.


"Hahaha".


"Kenapa malah ketawa, ngga ada yang lucu!". Nabila semakin kesal dibuatnya.


"Kamu cemburu?". Rangga tersenyum sambil memegang dagu Nabila dan mengarahkan untuk menghadapnya.


"Siapa yang cemburu". Nabila menepis tangan Rangga dari dagunya lalu membuang mukanya.


"Itu kenapa wajah kamu kesal begitu?". Rangga kembali menarik dagu Nabila agar menghadapnya.


Rangga merasa sangat senang melihat ekspresi Nabila yang terlihat cemburu. Rangga terus saja menggoda Nabila.


"Kalau Sania beneran pacarku, kamu mau apa?". Tanya Rangga sambil tersenyum.


"Aku ngga mau apa apa, biarpun nona Sania pacar mas Rangga atau pun bukan aku ngga peduli!". Nabila semakin terlihat kesal.


"Yakin?". Rangga semakin tersenyum puas melihat ekspresi Nabila yang terlihat cemburu.

__ADS_1


"Yakin". Nabila mengangguk cepat.


__ADS_2