
Rangga dan Alan baru saja tiba di toko bunga milik Nabila yang tampak terlihat ramai, Nabila, Dea dan Aditya sibuk dengan para pengunjung hingga tidak menayadari kedatangan kedua pria itu.
Kedua pria tampan itu menjadi pusat perhatian beberapa pasang mata pengunjung toko, Rangga yang sudah terbiasa akan hal itu hanya acuh dengan memasang muka dingin.
Berbeda dengan Alan yang selalu menampakkan senyum tebar pesona pada gadis gadis yang kini memperhatikannya.
Kedua pria itu kini tengah duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Lan, lo beli minuman sama makanan di cafe yang ada di samping cofee shop sebelah". Rangga menunjukkan telunjuknya ke bangunan yang ada di samping toko.
"Siap bos, mau di beliin apa?". Sahut Alan dengan posisi tangan memberi hormat, selayaknya seorang prajurit yang diberikan tugas komandannya.
"Lo beli aja minuman dingin buat kita semua". Ucap Rangga sambil melipat kakinya.
"Memangnya berapa orang?". Alan mengernyitkan kedua alisnya.
"5 orang sama pegawainya Nabila". Seru Rangga yang dibalas anggukan Alan.
Alan melangkahkan kakinya keluar toko dan mencari cafe yang dimaksud Rangga.
Sedangkan Rangga sibuk memperhatikan Nabila yang tengah melayani pembeli, ada senyuman tipis di bibir pria itu.
Setelah beberapa saat Alan sudah kembali dengan membawa 5 cup aneka jus, 2 box roti bakar dan 2 cup besar nachos.
Alan meletakkan semua belanjaannya tadi di atas meja, lalu Ia mengambil 2 cup minuman untuknya dan untuk Rangga.
Nabila dan Aditya datang menghampiri Rangga dan Alan duduk bergabung dengan mereka setelah toko sudah mulai sepi pembeli.
"Kalian sudah lama?". Tanya Nabila yang baru saja mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Tidak juga". Jawab Rangga singkat.
"Ayo diminum Bi, dit. Ada cemilan juga tuh". Rangga mengedikkan dagunya ke arah minuman dan makanan yang ada di atas meja.
"Kok jadi kalian yang menjamu, padahal kalian tamunya". Seru Aditya sambil terkekeh, lalu Ia mengambil minuman dingin dan satu potong roti bakar.
"Bil, dia pegawai kamu?, Namanya siapa?". Bukan Alan namanya jika tidak tertarik dengan wanita, dimanapun tempatnya Ia bakal kepo dengan yang namanya wanita apalagi yang baru Ia lihat.
"Iya namanya Dea, dia membantuku menjaga toko ini".
Alan tersenyum lalu berjalan ke arah Dea yang tengah merapikan beberapa display bunga.
"Jangan kamu goda dia mas Alan, dia gadis baik baik". Seru Nabila dengan nada sedikit kesal, pasalnya Nabila tahu bagaimana Alan dengan sikap playboynya.
Alan hanya menoleh sekilas dengan senyumannya ke arah Nabila lalu melanjutkan kembali langkahnya menghampiri Dea.
"Haii Dea, kamu lagi sibuk ya?, Mau abang bantuin?". Tanyanya menggoda.
"Ngga usah bang, makasi". Ucap Dea yang terlihat salah tingkah, bagaimana pria ini bisa tahu namanya pikirnya.
"Kamu manis sekali Dea, lebih manis lagi kalau senyum padaku". Gadis itu jadi semakin kikuk dibuatnya.
Nabila yang kini memperhatikan mereka dengan tatapan tidak suka, bibirnya menggerutu tidak jelas membuat Rangga mengernyit heran.
"Kamu kenapa?, Biarkan saja Alan bukan cowok brengsek kok, hanya playboy saja". Tutur Rangga yang membuat Nabila melototkan mata ke arahnya.
"Apa bedanya?, Itu kan sama saja!!". Cetus Nabila sambil melototkan matanya ke arah Rangga.
"Kenapa jadi aku yang kena sihh". Batin Rangga.
"Maksudku Alan ngga akan berbuat macam macam sama Dea, dia cuma mau gangguin Dea saja, Alan masih tahu batasan Bil, jadi kamu tenang saja".
"Memang begitulah Alan dia memang gampang sekali tertarik dengan yang namanya wanita, tapi dia juga bukan laki laki brengsek yang suka berbuat seenaknya sama wanita". Imbuhnya.
Mendengar penjelasan Rangga, Nabila bernafas lega.
"Kak Nabil, kak Rangga Adit ke atas dulu ya mau rebahan mumpung toko ngga rame". Ucap Aditya yang sudah beranjak dari duduknya. Rangga dan Nabila hanya menganggukkan kepalanya.
"Oiya besok malam aku mau ngajak kamu ke persta pernikahan anak dari klien papaku, kamu mau kan?". Rangga menegakkan badannya menandakan Ia sedang membicarakan hal penting.
"Sebenarnya itu pertanyaan, atau permintaan, kok seperti sebuah permintaan dan aku ngga punya kesempatan buat menolaknya". Gerutu Nabila dalam hati.
"Aku ngga janji ya mas".
"Kenapa begitu?". Rangga menajamkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Sudah kuduga, sebenarya itu tadi bukan pertanyaan tapi permintaan, lebih tepatnya pemaksaan". Gerutunya lagi dalam hati.
"Aku ngga mau mas, aku ngga pantas pergi ke pesta mewah seperti itu, pasti yang datang dari kalangan atas semua. Aku ngga mau aku malu". Terang Nabila.
"Ngapain malu, kan perginya sama aku lagian ngga ada yang akan nanya kamu dari kalangan atas atau bawah, kamu anak siapa, kamu punya harta apa, ngga ada yang akan nanya hal itu".
Nabila sudah mengeluarkan semua alasan agar Ia tidak ikut ke pesta itu, namun bukan Rangga namanya jika tidak ada pemaksaan disana, akhirnya Nabila hanya bisa menurut pasrah.
"Nanti sore sebelum aku antar kamu pulang, kita mampir ke butik langganan mamaku dulu". Cetus Rangga dan Nabila hanya mengangguk lemah.
-------
Suasana di mobil Rangga kini heboh dengan suara Alan yang sejak tadi mengoceh di balik kemudi, sedangkan Rangga dan Nabila hanya sesekali menyahuti ocehan Alan.
Alan melirik ke arah spion yang ada di depannya, terlihat pantulan Rangga tengah mencuri curi pandang ke arah Nabila yang sedang asyik memandangi jalanan dari kaca mobil di sampingnya.
"Lan, mampir dulu ke butik langganan mama ya".
"Yaelah gue beneran kayak supir kalau begini nih, ya mana gue tahu bro dimana butik langganan nyokap lo, kadang suka aneh nih bocah". Gerutu Alan merutuki kebodohan sahabatnya itu.
" Orchid butik!!, butik tante Dewinta ". Ucap Rangga setengah berteriak.
"Astaga!!. Ckk". Alan berdecak kesal.
"Baik tuan muda". Ucap Alan menirukan kata kata yang biasa diucapkan Leon atau semua pelayan sahabatnya itu.
"Sultan mah bebas". Seloroh Alan sambil melirik ke arah spion yang memantulkan wajah tampan namun angkuh Rangga.
Mobil yang di kemudikan Alan kini memasuki pelataran Orchid butik, sebuah butik besar sekaligus salon kecantikan yang dimiliki oleh seorang desainer terkenal yang merupakan sahabat mamanya Rangga.
"Lo tunggu disini saja lan". Rangga membuka pintu mobil lalu berjalan cepat hendak membukakan pintu mobil Nabila namun Nabila lebih dulu membuka dan menginjakkan kakinya diluar mobil.
"Bener kan, gue jadi supir lagi". Gerutu Alan, pria itu ikut keluar dari mobil dan mengikuti Nabila dan Rangga yang sudah berjalan lebih dulu memasuki butik.
"Kenapa lo ikut?, gue kan udah bilang tunggu di mobil!!". Rangga menoleh ke belakang saat terdengar derap kaki di belakangnya.
"Lo ga kasian sama gue bro, ya kali gue disuruh tunggu di mobil, memangnya gue Leon. Leon aja ngintilin lo terus". Ucap Alan protes dengan memasang wajah memelas.
Rangga tak menjawab apapun, Ia memilih melanjutkan langkahnya memasuki butik dan membiarkan Alan mengikutinya.
"Ada yang bisa kami bantu tuan , nona?". Ucapnya ramah.
"Tolong bantu nona ini cari gaun malam untuk pesta". Tutur Rangga
"Baik tuan". Ucap pegawai itu dengan senyum malu malu ke arah Alan, seketika Rangga menoleh Alan yang sedang mengerlingkan matanya menggoda pegawai butik itu, Rangga hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.
"Jangan bikin malu gue!!". Rangga menginjak sepatu Alan dengan kuat. Itulah alasan kenapa Rangga tidak mau mengajak Alan karena, pria itu tidak bisa melihat gadis yang bening dikit, pasti jiwa playboynya langsung beraksi.
"Awww!!". Pekik Alan.
"Sialan lo bro!!". Umpatnya sambil sedikit membungkuk memegangi kakinya.
"Makanya mata lo dijaga, jangan jelalatan mulu!!". Cetus Rangga. Nabila dan pegawai butik hanya tersenyum menahan tawa.
"Mari saya antar nona". Ucap pegawai butik.
"Kamu ikut saja sama dia, aku tunggu disini". Rangga mendudukkan tubuhnya di sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri, begitu juga Alan.
Nabila mengikuti pegawai butik itu dan mulai memilih dari beberapa gaun yang direkomendasikan oleh pegawai butik itu.
"Biar saya coba dulu yang ini". Nabila mengambil satu gaun berwarna navy lalu mencoba melihat bandrol yang ada di gaun tersebut, Nabila begitu terkesiap melihat harga gaun cantik yang ada di tangannya.
"Astaga, harganya 9,5 juta". Mata Nabila membulat sempurna dengan mulut menganga yang segera Ia tutup menggunakan tangan kirinya karena tangan kanannya masih sibuk memegang gaun itu, seketika tangan Nabila gemetar memegang gaun itu Ia takut gaun itu rusak atau sobek.
Dengan hati hati Nabila mengembalikan gaun itu kepada pegawai butiknya.
"Sebentar ya mbak". Nabila dengab gontai menghampiri Rangga yang tengah berbicara dengan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya, dengan penampilan stylish membuatnya terlihat awet muda.
"Rangga, Alan. Kalian menunggu siapa?". Tanya tante Dewinta yang tak lain adalah pemilik butik.
Rangga dan Alan beranjak dari duduknya, cipika cipiki dengan tante Dewinta.
"Rangga lagi nunggu teman tante". Sahut Rangga.
"Bohong tan, Rangga lagi nunggu pacarnya". Timpal Alan.
__ADS_1
"Wah yang mana pacar kamu ngga, tante jadi penasaran?". Tante Dewinta mengedarkan pandangannya memperhatikan setiap pengunjung butik.
"Yang mana sayang?". Tanyanya lagi.
Belum sempat Rangga menjawab Nabila sudah berada di antara mereka.
"Maaf nyonya, permisi". Nabila menarik tangan Rangga menjauh dari tante Dewinta dan Alan.
"Ada apa?". Tanya Rangga heran.
"Mas Rangga kita beli gaunnya di mall aja yuk, disini harganya mahal mahal banget". Nabila berbisik di telinga Rangga.
"Astaga aku pikir apa, sudah cepat sana pilih saja yang kamu suka".
"Rangga, apa ini pacar kamu". Ucap tante Dewinta menyela perdebatan Rangga dan Nabila. Rangga hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa?, Pacar?, Kenapa mas Rangga bilang aku ini pacarnya?". Gumam Naba dalam hati.
"Apa kamu tidak mau mengenalkan pacar kamu sama tante?". Tanya tante Dewinta dengan senyum mengembang sambil memperhatikan Nabila membuat gadis itu
salah tingkah.
Tante Dewinta sangat tahu Rangga, pria itu sangat sulit untuk bisa dekat dengan wanita apalagi sampai jatuh cinta, maka dari itu Ia begitu senang saat mendengar anak dari sahabatnya itu memiliki kekasih.
"Oh iya, kenalin tan ini Nabila, Nabila ini tante Dewinta pemilik butik ini sekaligus sahabat mamaku".
"Saya Nabila nyonya". Nabila mengulurkan tangannya tak lupa mengembangkan senyum manisnya.
"Dewinta, Panggil saja saya tante seperti Rangga". Nabila mengangguk pelan.
"Rangga kalian lagi nyari apa?, Biar tante bantu". Ucapnya lagi.
"Iya tan tolong carikan Nabila gaun malam untuk pesta". Ucap Rangga.
Tante Dewinta mulai memperhatikan Nabila dengan seksama, dari ujung rambut hingga ke bawah, bukan tatapan melecehkan bukan, tapi lebih untuk memindai bentuk tubuh dan tinggi badan agar lebih mudah mencarikan gaun yang cocok dengan Nabila.
"Baiklah, mari sayang ikut tante". Tante Dewinta menggandeng Nabila lalu memilihkan beberapa gaun yang menurutnya cocok untuk Nabila.
"Coba kamu pilih diantara gaun gaun yang sudah tante pilihkan kamu lebih suka yang mana". Tutur tante Dewinta.
Sejenak Nabila menimbang nimbang beberapa gaun yang sudah dipilihkan tante Dewinta, akhirnya Ia memilih mengambil gaun berwarna hijau mint.
"Aku pilih yang ini saja tante". Nabila mengambil gaun berwarna hijau mint dari tangan tante Dewinta.
Tante Dewinta tersenyum. "Ya sudah sekarang kamu coba gaunnya di fittung room ya, kalau sudah kamu panggil tante biar tante menilai". Pungkasnya.
Nabila berjalan menuju fitting room dan segera mencoba gaun yang ada di tangannya itu.
"MasyaAllah ini gaunnya bagus sekali, aku jadi terlihat cantik memakai gaun ini". Nabila memutar mutar tubuhnya melihat pantulan cermin yang menampkakkan dirinya begitu cantik.
"Tante". Nabila memanggil tante Dewinta yang menunggu tak jauh dari fitting room.
"Kamu cantik sekali". Puji tante Dewinta membuat pipi Nabila merona.
"Rangga, sini deh". Teriak tante Dewinta memanggil Rangga yang tengah duduk bersama Alan.
Rangga dan Alan berjalan menghampiri tante Dewinta.
"Lihat deh, Nabila cantik sekali kan sayang?". Tante Dewinta menarik pelan Nabila agar lebih dekat dengan Rangga.
Rangga begitu terpana dengan kecantikan Nabila setelah memakai gaun itu kecantikannya bertambah berlipat lipat, kira kira begitu yang ada di dalam pikiran Rangga.
"Gebetan lo cantik banget bro". Bisik alan kepada Rangga yang tak kalah terpana.
"Gimana menurutmu Rangga?". Tanya tante Dewinta, Rangga masih larut dalam buaian kecantikan gadis yang ada di hadapannya.
"Rangga!!". Seru tante Dewi mengagetkan Rangga, membuat sahabat mamanya itu menggeleng gelengkan kepalanya.
"Cantik tante, Rangga suka".
"Ambil yang ini saja". Tambahnya.
Nabila hanya bisa mengigit bibir bawahnya, bagaimana tidak harga gaun itu justru lebih mahal dari harga gaun yang sebelumnya dipilih Nabila.
Rangga berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaannya setelah sebelumnya mencarikan high heels warna senada dengan gaunnya untuk Nabila.
__ADS_1