Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode31 Merasa bersalah


__ADS_3

"Jangan sok jual mahal!". Bisiknya tepat di telinga Nabila membuat bulu kuduk Nabila meremang, air matanya berlinang membasahi kedua pipinya saat tangan pria itu mulai membelai rambut Nabila penuh gairah, menyentuh pipi dan menelusuri leher jenjangnya.


Rangga yang sejak tadi asyik mengobrol baru menyadari kalau Nabila begitu lama di toilet, Ia mencoba menunggunya sambil melanjutkan obrolan dengan Alex dan Eric.


-----


Nabila terus meronta namun sia sia saja, tubuhnya semakin lemah tak berdaya saat rasa takut kian menyelimuti dirinya, gadis itu hanya bisa menangis pasrah.


"Ya Tuhan tong aku, tolong kirimkan dewa penolongmu". Doa itu terus dirapalkan dalam hati Nabila.


Pria itu semakin memepetkan tubuhnya dengan tubuh Nabila yang sudah terhimpit tembok dan semakin membuat gadis itu tak bisa bergerak.


Tangan laki laki itu terus menyusuri setiap inci wajah dan leher jenjang Nabila, mencoba mengendus aroma strawbery yang keluar dari nafas gadis itu.


"Siapapun itu tolong aku!!". Teriak Nabila namun sayangnya itu hanya bisa Ia teriakkan dalam hatinya.


Mata laki laki itu kini tertuju pada dada Nabila yang kini sedikit terbuka akibat ulahnya, tatapan penuh gairah panas membuat Nabila semakin menangis tersedu.


Ternyata Tuhan memang Maha baik, laki laki mabuk itu tersungkur setelah kerah kemejanya di tarik begitu kuat dan mendapatkan bogeman yang sangat keras tepat dirahangnya hingga darah segar mengalir deras dari sana.


"Brengsekk lo!!!". Teriak Rangga dengan cepat Ia menarik kerah baju laki laki mabuk itu dan memberikan bogeman hingga tersungkur.


Nabila seketika menghambur memeluk Rangga dan menangis tersedu di pelukannya, sejenak Rangga melepaskan pelukan gadis itu yang sudah terlihat sangat kacau, Rangga segera melepaskan tuxedo yang Ia kenakan dan segera membalutkannya di tubuh Nabila.


Rangga tidak akan melepaskan laki laki kurang ajar yang sudah mencoba melecehkan gadis yang sangat Ia cintai itu.


Deru nafasnya naik turun begitu cepat, wajahnya merah padam terbakar amarah yang begitu memuncak, rahangnya mengetat hingga suara gemeletuk giginya terdengar begitu jelas, Rangga menatap tajam laki laki yang kini tersungkur lemah dengan darah mengucur dari mulutnya.


Rangga kembali membangunkan laki laki itu yang masih terpengaruh alkohol membuat tubuhnya terhuyung kesana kemari, membuat Rangga dengan mudahnya menghajarnya habis habisan.


Rangga memukulinya membabi buta hingga hampir saja membuat laki laki itu meregang nyawa di tangannya, kalau saja Alex dan Eric tidak segera menghentikan Rangga bisa dipastikan laki laki itu sudah dikirim Rangga ke neraka.


Nabila hanya bisa menyaksikan dengan tubuh bergetar hebat, kaki yang tak sanggup lagi menopang tubuhnya membuat Ia merosot terduduk di lantai dengan tangan memeluk erat tuxedo milik Rangga yang kini membalut tubuhnya, air mata yang tak henti membanjiri pipinya membuat wajahnya terlihat sangat kacau.


Bersamaan dengan datangnya Alex dan Eric, datang juga tuan Raymond, Nyonya Raimond beserta Elsa dan Sania serta beberapa tamu undangan dan beberapa wartawan.


"Stop Rangga, dia bisa mati bro!!". Eric menghentikan Rangga yang masih membabi buta.


Alex mencoba membangunkan Nabila yang terduduk lemas di lantai, dengan cepat Rangga mengambil alih membangunkan Nabila setelah melihat lawannya benar benar terkulai tak berdaya dengan luka memar dan darah di sekujur tubuhnya.


Laki laki mabuk itu kini telah diamankan oleh petugas keamanan hotel tempat pesta berlangsung.


"Bawa dia ke kantor polisi, dan tolong serahkan bukti rekaman CCTV tempat ini kepada pihak yang berwajib!!". Titah Rangga kepada kedua petugas keamanan yang berseragam serba hitam itu.


"Nanti asistenku yang akan mengurus semuanya!!". Sambung Rangga dengan penuh penekanan.


Tuan Raymond begitu ketakutan melihat kemarahan Rangga, bagaimana tidak pemuda itu adalah anak dari orang yang sangat disegani di negeri ini, Ia bisa saja melakukan apa pun yang dikehendaki termasuk menghancurkan bisnis tuan Raymond dalam sekejap.


Laki laki paruh baya itu terus berpikir bagaimana caranya agar Rangga tidak membatalkan kerja sama dengan perusahaanya, dan tidak menghancurkan bisnis keluarganya itu.

__ADS_1


Dengan cepat tuan Raymond melangkah mendekati Rangga dan memohon maaf kepadanya tanpa mempedulikan lagi harga dirinya, yang terpenting baginya saat ini adalah keselamatan bisnisnya.


"Nak Rangga om benar benar minta maaf atas semua kekacauan ini". Tuan Raymond mengatupkan kedua tangannya dengan memasang wajah memelas di hadapan Rangga yang tengah merangkul Nabila dan hendak meninggalkan tempat itu.


Rangga menatap tajam tuan Raymond hingga membuat laki laki itu menundukkan kepalanya.


"Minta maaf anda bilang?, Apa anda bisa mengembalikan keadaan seperti semula?, tidak membiarkan ini semua terjadi?!!". Seru Rangga membuat tuan Raymond hanya bisa menutup rapat mulutnya.


"Aku pastikan perusahaan anda akan hancur". Cetus Rangga.


"Dan satu lagi bereskan mereka semua sekarang juga!!". Seru Rangga sambil menunjuk beberapa awak media yang sejak tadi merekam kejadian demi kejadian disana


.


"Baik nak Rangga, tapi tolong jangan hancurkan bisnis om". Ucap tuan Raymond dengan suara serendah mungkin.


Rangga tak menghiraukannya Ia terus berjalan meninggalkan tempat itu dengan merangkul Nabila yang masih terlihat menangis.


Semua orang memperhatikan mereka, membuat Nabila semakin terisak, rasa takut, shock dan malu berbaur menjadi satu menenggelamkan gadis itu dalam tangisannya membuat Rangga merasa semakin bersalah, sebenarnya Nabila sudah berkali kali menolak datang ke pesta ini namun Rangga memaksa untuk menemaninya jadilah Nabila mau menemaninya.


"Ini semua salahku, coba saja aku ngga maksa Nabila untuk datang ke pesta ini, mungkin semuanya ngga akan terjadi". Batin Rangga.


Kini Rangga dan Nabila sudah berada di mobil, Rangga segera menancap gas keluar dari tempat terkutuk itu.


Di dalam perjalanan Nabila masih terisak dengan tangan masih memeluk erat kedua sisi tuxedo yang membalut tubuhnya.


Rangga melirik Nabila berkali kali menatap sendu gadis berparas cantik itu, ada penyesalan yang teramat dalam di dalam diri Rangga, Ia merasa sangat menyesal telah memaksa Nabila menemaninya datang ke pesta itu.


"Hallo Yon". Seru Rangga setelah sambungan telefon tersambung.


"Iya tuan muda, ada apa tuan?". Ucap Leon di seberang sana.


"Lo urus kekacauan di pesta om Raymond sekarang juga, dan bungkam semua para media yang sudah berhasil merekam kekacauan disana!!". Titahnya penuh penekanan.


"Baik tuan muda, akan saya bereskan malam ini juga". Cetus Leon. Sebenarnya Leon tidak tahu kekacauan apa yang telah dibuat tuan mudanya itu, tapi Ia enggan menanyakannnya langsung karena Ia tahu betul siapa Rangga, tuannya itu paling tidak suka denga orang yang banyak bertanya dan orang yang tidak bisa mencerna perintahnya dengan baik.


Jadi Leon harus bisa menanggapi perintah Rangga walaupun hanya dalam suatu isyarat sekalipun. Untuk kasus ini Ia akan segera mengerahkan tim dan anak buahnya untuk menyelesaikan masalah dan Ia juga akan menemui tuan Raymond secara langsung.


Setelah sambungan telefon Ia putus begitu saja kini Ia melanjutkan fokusnya kepada Nabila yang saat ini masih belum berhenti mengeluarkan air matanya.


"Bil, sudah jangan menangis lagi ya, kamu sudah aman disini". Ucapnya sambil mengusap sayang rambut Nabila.


"Aku minta maaf ini semua salahku, andai saja aku ngga maksa kamu buat datang ke pesta itu, ini semua ngga akan terjadi". Ucap Rangga penuh penyesalan.


Nabila masih bergeming, menatap lurus jalanan dengan air mata yang masih mengalir, hingga membuat matanya sembab dan menyipit.


"Apa dia sempat men..meciummu?". Tanya Rangga dengan ragu, Ia takut membuat Nabila semakin bersedih.


Nabila menggeleng pelan.

__ADS_1


"Ta...hiks..tapi.. dia hampir saja menciumku hikss.. dia menyentuh rambutku, menyentuh leherku dan hiks hiks.. dia merobek gaunku ". Ucap Nabila terbata karena isakkannya.


Sebelum kejadian itu Rangga masih begitu asyik mengobrol dengan kedua temannya sesama eksekutif muda hingga membuatnya tak menyadari kalau Nabila sudah terlalu lama di toilet.


Rangga melirik jam, sudah hampir satu jam Nabila tak kunjung kembali , hatinya mulai was was akhirnya Ia memutuskan untuk pamit kepada kedua temannya untuk menyusul Nabila.


Setelah sampai di toilet yang nampak sepi itu Rangga terkesiap saat melihat seorang pria sedang mengungkung Nabila dan hendak menciumnya dengan tatapan penuh gairah membuat Rangga naik pitam, tak membuang waktu Rangga segera menarik kerah baju laki laki itu lalu memberinya bogeman yang tepat mendarat di rahangnya.


Menghajarnya membabi buta hingga membuat beberapa tamu undangan berdatangan mencari sumber kegaduhan, termasuk kedua teman Rangga, Tuan Raymond, Nyonya Raymond, Elsa dan Sania juga kedua petugas keamanan. Disusul dengan para pemburu berita yang memang sedang meliput acara pesta pernikahan anak tuan Raymond.


Rangga menggeleng cepat mengenyahkan sekelebat bayangan kejadian di toilet tadi, Ia kembali menatap wajah Nabila, merengkuh membawanya ke dalam pelukannya.


"Jangan menangis lagi, itu membuatku semakin merasa bersalah padamu. Aku janji akan menjobloskan dia kepenjara!!". Seru Rangga.


Rangga melepaskan pelukannya, menangkup wajah sendu Nabila, mengusap air matanya dengan kedua ibu jarinya.


"Kamu lupakan semua kejadian tadi ya, anggap saja itu hanya mimpi buruk, dan sekarang kamu sudah bangun kembali melanjutkan hidup untuk meraih masa depan yang lebih baik lagi". Turur Rangga lembut.


"Aku akan selalu ada buat kamu, dan akan selalu menjagamu Nabila, I Love you". Rangga mencium puncak kepala Nabila.


"I Love you too". Ucap Nabila lirih.


Rangga mencoba menajamkan indera pendengarannya, memastikan Ia tidak salah dengar apa yang baru saja Nabila ucapkan.


"Bisa kamu ulangi sekali lagi, apa yang baru saja kamu ucapkan?". Titah Rangga penasaran.


"I love you too mas Rangga". Nabila menunduk malu, entah kenapa saat ini Ia ingin sekali membalas ucapan Rangga yang itu, Rangga sudah sangat baik Nabila sudah bisa menilai sendiri seberapa besar pria itu mencintainya jadi tidak ada salahnya Ia mencoba menerima Rangga, dan tidak lagi membohongi perasaannya.


Toh Rendy juga menyuruhnya demikian, semoga saja keputusannya tidak salah, begitu pikir Nabila.


Rangga tersenyum bahagia membuatnya semakin terlihat tampan dan menawan.


"Apa itu artinya kamu menerima cintaku?, Kamu mau jadi kekasihku?". Tanyanya antusias.


Nabila mengangguk pelan, Rangga begitu senang dengan jawaban Nabila, Rangga meraih kedua tangan Nabila dan mencium tangan lembut Nabila berkali kali.


"Terimakasih". Ucap Rangga sambil menciumi kedua tangan Nabila, membuat Nabila tersenyum geli.


"Nah gitu dong senyum kan tambah cantik". Tutur Rangga.


"Aku janji aku bakal berusaha bahagiakan kamu". Imbuh Rangga dengan tatapan yang begitu dalam dan tulus.


"Jangan sedih lagi ya".


Nabila mengangguk.


"Janji?".


Nabila tersenyum "Janji". Balas Nabila.

__ADS_1


Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan mereka dengan perasaan begitu lega.


__ADS_2