
Rangga sempat terpaku dengan penampilan Nabila saat ini, penampilan yang sangat seksi membuatnya susah payah menelan salivanya, penampilan yang sangat menggoda bagi semua pria normal seperti dirinya.
"Mas Rangga". Ucap Nabila lirih membuat Rangga tersentak dari pikiran mesumnya.
Nabila menangis, air matanya mengalir begitu deras di pipinya membuat hati Rangga sakit melihatnya.
"Sayang, jangan menangis". Rangga hendak memeluk Nabila namun dihalangi oleh pengawal madam Karla yang membawanya.
Tangan pengawal itu juga mencekal lengan Nabila begitu kuat membuat gadis itu tak bisa lari jangankan lari bergerak pun sulit, ingin rasanya Nabila menghambur ke pelukan Rangga bersembunyi di balik tubuh tegapnya meminta perlindungan namun apalah daya pengawal itu tidak membiarkan Nabila bergerak bebas.
"Lepaskan tanganmu br*ngsek!!". Seru Rangga sambil melepaskan lengan Nabila dari cekalan pengawal itu.
"Menyingkirlah darinya!". Teriaknya lagi, Rangga benar benar emosi di buatnya pengawal itu dengan seenaknya mencekal dan berdekatan dengan Nabila, kekasih hatinya wanita sangat dicintainya tentu saja membuatnya murka.
Madam Karla tersemyum penuh kemenangan sekarang ia tahu apa hubungan gadis itu dengan Rangga, melihat sikap Rangga yang begitu posesive membuat madam dengan mudah menyimpulkannya.
"Aku sudah tahu apa hubungan mereka, ternyata mereka sepasang kekasih, baguslah aku akan gunakan gadis itu sebagai alat untuk mendapatkan uang sebanyak banyaknya dari pemuda ini". Batin madam Karla, tersenyum licik.
"Bawa dia kembali ke kamarnya, sebentar lagi ada pelanggan VVIP yang akan membookingnya". Titah madam kepada pengawalnya.
"Bedebah kalian!, Mau bawa kemana dia!". Rangga mencoba meraih tubuh Nabila yang hendak dibawa pergi pengawal itu keluar dari ruangan madam Karla.
Rangga dicekal oleh dua pengawal madam Karla membuatnya tidak bisa mencegah kepergian Nabila, Rangga meronta sekuat tenaganya namun kedua pengawal itu berbadan dua kali lipat dari badannya membuatnya kesusahan melepaskan diri.
"Mas Rangga". Nabila berjalan pergi meninggalkan ruangan madam Karla dengan berat hati, tatapannya terus ia tujukan kepada Rangga, tatapan minta tolong dan meminta perlindungan tersirat jelas di maniknya yang menyendu.
Ketakutan yang tertangkap jelas dari raut wajah dan gestur tubuh Nabila membuat Rangga semakin tersiksa melihatnya.
"Sayang tenanglah jangan menangis, aku akan membawamu pergi dari sini". Rangga menatap Nabila dengan mata yang berkaca kaca.
Ingin Rasanya Rangga memeluk tubuh gadis itu, menenangkannya dan berkata jangan takut aku akan melindungimu namun kenyataannya ia tidak bisa melakukannya, Rangga benar benar kesulitan melawan kelicikkan madam Karla terlebih dengan banyaknya pengawal sedangkan dia hanya seorang diri membuatnya tidak bisa berbuat banyak selain menuruti kemauan madam Karla.
Rangga hanya bisa mengeram kesal mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, menendang udara dengan kuat melampiaskan segala kekesalannya.
Perasaan bersalah karena tidak bisa menjaga Nabila dengan baik membuat hatinya tersayat sayat, nafasnya menyesakkan dada, sungguh ia ingin menangis.
Tidak Rangga tidak boleh kalah dari pria gemulai itu, Rangga harus bisa mendapatkan Nabila sebelum terlambat.
"Lepaskan dia sekarang juga, aku akan menebusnya mengganti uang yang sudah kau keluarkan untuk membelinya dari tangan Johan!". Ucap Rangga lantang, rahangnya mengetat tatapan matanya yang tajam sedikit membuat nyali madam Karla menyurut.
Namun madam yakin gadis itu adalah segalanya untuk Rangga membuatnya bisa leluasa melakukan aksi liciknya, ia sangat yakin Rangga akan dengan mudahnya mengeluarkan uang dalam jumlah banyak hanya demi gadis itu, madam karla kembali tersenyum licik.
"Berapa uang yang sudah kau keluarkan kepada Johan?!". Rangga sudah benar benar tidak sabar menghadapi laki laki licik dihadapannya ralat laki laki jadi jadian licik di hadapannya.
__ADS_1
"Tidak banyak hanya 5 Milyar, tapi saya yakin gadis itu akan menghasilkan uang berlipat lipat dari itu hanya dalam waktu kurang dari 2 bulan". Madam melipat kedua tangannya di dada, senyum mengejeknya tak henti ia sunggingkan membuat Rangga semakin murka.
"Br*ngsekk!!". Rangga meronta kembali namun kedua pengawal itu semakin kuat mencekal kedua lengan Rangga.
"Aku akan mengganti uangmu yang 5 milyar itu dan cepat lepaskan Nabila sekarang!".
"Dan ini apa ini?, Kalian memperlakukanku seperti ini lihat saja kalian akan tanggung akibatnya!". Serunya lagi.
"Lepaskan dia!". Titah madam kepada kedua pengawal yang mencekal lengan Rangga.
Rangga yang saat ini masih mengenakan jasnya merapikan jas seraya mengibas ibaskan seolah membersihkan kotoran dari tangan tangan para pengawal sialan.
"Apa tuan muda tadi bilang?, Tuan akan mengganti uang 5 milyar itu?,cihhh..". Madam tersenyum miring.
"Enak saja, aku sudah susah payah mendapatkannya lagi pun malam ini sudah ada yang akan membookingnya dengan bayaran mahal, jadi sebaiknya tuan lupakan saja gadis itu!!".
"Bedebah!!". Rangga mengeratkan rahangnya, melangkah maju dan menarik kerah blouse yang dikenakan madam dengan kuat.
"Apa sebenarnya maumu hahh?!". Rangga masih terus mencengkeram kerah blouse pria gemulai itu, jarak wajahnya yang begitu dekat benar benar membuat Rangga ingin muntah ia segera memalingkan wajahnya dan meludah merasa jijik melihat wajah pria gemulai itu.
Kedua pengawal madam menarik tubuh Rangga dengan kuat, namun madam menggelengkan kepalanya seolah memberikan isyarat tidak perlu mencekalnya, dia bisa melepaskan diri dari pria tampan di depannya itu.
Madam mulai mendekatkan wajahnya mengendus leher Rangga membuat Rangga dengan cepat melepaskan tangan dari kerah blouse pria gemulai itu, lalu dengan kasar ia mendorongnya hingga membuat tubuh madam menabrak meja yang berada di belakangnya.
"Kau pikir dengan uang 5 milyar aku akan melepaskan kekasihmu begitu saja baby?, No baby dia adalah tambang emasku dia akan jadi sumber kekayaanku".
"Kalau begitu aku akan menggantinya dengan 10 milyar, tapi dengan satu syarat kau tidak boleh lagi mengganggunya!".
"Woww itu sangat menarik baby, baiklah tuan muda aku akan melepaskan kekasihmu tapi setelah cek itu berada di tanganku".
"Aku harap secepatnya kau memberikan cek itu tuan muda, karena sebentar lagi orang yang akan membooking kekasihmu datang jadi selesaikanlah urusan kita secepatnya sebelum terlambat!". Madam melirik jam tangan yang melingkar di tangannya lalu tersenyum licik.
"Kau licik sekali!!". Geram Rangga.
"Terserah kau saja tuan, kalau kau tidak setuju silahkan tinggalkan tempat ini". Tutur madam tersenyum penuh kemenangan, tubuhnya meliuk liuk berjalan menuju singgasananya, mendaratkan tubuhnya disana lalu menyilangkan kakinya dengan begitu genitnya.
Sialan Rangga tidak habis pikir dirinya akan dipermainkan seperti ini, dia harus mengurus cek itu secepatnya sebelum orang yang akan membooking Nabila itu tiba, shitt membayangkan Nabila dekat dengan laki laki lain saja sudah membuat Rangga naik pitam.
Rangga tidak mempunyai banyak waktu ia harus segera menghubungi Leon dan pengacaranya untuk mengurus masalah ini, dan meminta pengacaranya untuk membuat perjanjian hitam diatas putih perihal madam Karla yang tidak boleh mengganggu Nabila lagi setelahnya.
Rangga meminta Leon dan pengacaranya datang dalam waktu 30 menit dan harus sudah mempersiapkan semua apa yang diminta olehnya.
Dengan gusar Rangga menunggu kedatangan mereka.
__ADS_1
"Duduklah dulu tuan, kita bersantai minum minum sambil menunggu kedatangan asistenmu itu". Madam memerintahkan pengawalnya untuk menuangkan anggur ke dalam dua gelas berisi es batu yang terdapat di atas meja.
Cihh, Rangga tidak sudi minum dengannya, melihat wajahnya saja sudah membuatnya mual.
"Lepaskanlah dulu Nabila, asistenku akan segera sampai". Ucap Rangga dengan nada memohon, merendahkan harga dirinya di depan pria gemulai kalau memang itu bisa membuat Nabila bebas ia tidak masalah.
Madam Karla tersenyum penuh kemenangan, bagaimana tidak dia bisa mempermainkan seorang Rangga Pramudita dengan begitu mudahnya, dan lagi dia akan mendapatkan uang 10 milyar hanya dalam hitungan jam saja.
"Tuan muda segitu bucinnya kah kau dengan kekasihmu itu?, Sungguh miris". Madam Karla menyesap anggurnya.
"Tutup mulutmu!, Aku menyuruhmu melepaskannya bukan menghinaku dasar br*ngsek!". Rasanya Rangga ingin menghajar atau bahkan menghabisi pria gemulai itu namun jika ia melakukannya sudah dapat dipastikan dia tidak akan mau melepaskan Nabila.
Rangga mengusap wajahnya frustasi, berulang kali melirik jam tangan mahal yang melingkar di tangannya.
"Kenapa mereka lama sekali!". Gumam Rangga gusar.
Suara dering ponsel memecah keheningan dalam ruangan madam Karla suara dering yang menggema membuat Rangga mengalihkan atensinya kepada madam Karla yang baru saja menempelkan ponsel di telinganya.
"Iya tuan, tuan sudah ada disini?, Baiklah kami sudah mempersiapkan semuanya tuan dan gadis baru yang akan menemani tuan malam ini". Ucap madam Karla dalam sambungan telefonnya.
"(...........................….…...........)".
"Tentu tuan, dia akan memberikan service memuaskan untukmu malam ini".
"(..............................................)".
"Baik, datanglah dulu ke ruanganku nanti biar kami antarkan ke kamarnya , dia sudah menunggu tuan di kamarnya".
Sambungan telefon berakhir.
Rangga mengepalkan tangannya ia benar benar murka mendengar percakapan madam dengan seseorang di telefon, ia yakin yang dimaksud gadis itu adalah Nabila kekasihnya.
Tanpa ba bi bu Rangga menarik kerah blouse madam lalu melayangkan pukulan di rahang pria gemulai itu.
"Bedebah kau!!".
Bughhh!!
"Hey tuan, jagalah sikapmu!, Apa kau mau aku tidak melepaskan kekasihmu itu?!". Ucap madam dengan suara bariton membuat Rangga mengurungkan niatnya untuk memukulnya lagi.
Rangga terkesiap dengan perubahan suara pada pria gemulai itu, ternyata dia bisa juga jadi garang dan tegas.
"Duduklah dulu tuan, jika cek itu sudah di tanganku aku janji akan lepaskan kekasihmu, karena sekarang ceknya belum di tanganku aku akan meminta kekasihmu untuk menemani klien VVIP ku, hanya menemaninya minum saja". Tutur madam sambil mengusap sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.
__ADS_1
Suara bariton itu kini lenyap yang ada hanya suara gemulai mendayu dayu yang sedikit mendesah membuat Rangga semakin muak dengan permainan makhluk jadi jadian di depannya itu.