
Rendy terdiam masih belum membuka mulutnya, tenggorakannya seperti tercekat hingga membuatnya susah untuk mengungkapkan apa yang menjadi tujuannya datang ke rumah Nabila kala itu.
Ada perasaan ragu yang begitu besar membuatnya berniat untuk mengurungkan niatnya, Ia takut Nabila akan menghindarinya atau bahkan lebih parahnya membencinya namun ada perasaan yang begitu kuat yang mendorongnya untuk mengungkapkannya.
Rendy mengambil nafas begitu dalam membuangnya perlahan, mengatur nafasnya berharap bisa mengatur rasa gugup yang saat itu Ia rasakan.
Rendy meraih tangan Nabila dan menggenggamnya erat, sorot matanya begitu dalam penuh cinta.
"Bil, mungkin kamu akan mikir kalau aku ini adalah orang yang paling tidak tahu malu di dunia ini". Pria itu sejenak memejamkan matanya lalu kembali menatap Nabila.
"Aku sudah dua kali menyatakan perasaan ku sama kamu, dan yang ini adalah yang ketiga kalinya, meskipun aku tahu kamu akan menjawabnya dengan jawaban yang sama seperti dulu, tapi setidaknya aku sudah mengungkapkan isi hatiku".
Nabila hanya terdiam memandang Rendy dengan perasaan yang tidak karuan.
"Bil, perasaanku sama kamu dari dulu hingga saat ini tidak pernah berubah, aku masih mencintai kamu bahkan semakin besar rasa ini tumbuh di dalam hatiku". Manik hitam Rendy sudah mulai berkaca kaca.
Membuat Nabila merasa sangat bersalah, dari dulu Nabila memang tidak menyukai moment seperti ini, moment dimana Rendy menyatakan perasaannya, Ia akan merasa menjadi orang yang sangat bersalah karena Ia tidak bisa membalas perasaan pria yang sejak 3 tahun lalu mencintainya.
Pria yang selama ini Ia anggap sebagai sahabat, sebagai seorang kakak, dan orang yang selalu ada buat dia.
Nabila tidak tahu harus berkata apa, Ia hanya bisa membisu mendengarkan setiap ucapan Rendy yang membawanya semakin dalam ke jurang rasa bersalah.
"Bil, aku tahu kamu tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku, tapi Bil apa kamu tidak mau mencoba untuk membuka hatimu untukku, mencoba menerimaku dan belajar mencintaiku". Rendy menggenggam erat kedua tangan Nabila.
"Ren, aku kan sudah bilang aku lebih nyaman kita sahabatan, aku takut kalau kita menjalin hubungan lebih dari ini aku bakal kehilangan sahabat seperti kamu".
Itu salah satu alasan kenapa selama ini Nabila tidak mau mencoba membuka hatinya untuk Rendy, pun sekarang dihatinya sudah ada cinta untuk pria lain, Nabila sendiri tidak mengerti kenapa Ia tidak bisa mencintai Rendy tapi malah mencintai pria lain.
Bukankah cinta itu memang datang dengan sendirinya, tanpa disuruh, dan tanpa alasan kepada siapa Ia datang dan bagaimana bisa Ia datang. Mungkin itulah yang terjadi kepada Nabila.
"Maafkan aku Ren, aku tidak bisa karena hatiku sudah diisi oleh pria lain, aku sudah mencintai pria lain". Batin Nabila.
"Ren, sebaiknya kamu lupain aku, kamu harus bisa jatuh cinta sama perempuan lain Ren, aku ngga pantes buat kamu". Ucap Nabila lirih.
"Ren, aku menyayangi kamu sama seperti aku menyayangi Lisa dan Maya, bahkan aku sudah menganggap kamu seperti kakak ku sendiri". Sambungnya.
Deg...ucapan Nabila membuat Rendy seperti tersengat listrik, sebenarnya Ia tahu dari dulu gadis itu tidak pernah mencintainya, tapi entah kenapa kata kata Nabila membuatnya semakin lemah, tubunya lemas seperti tak bertulang, hatinya terasa seperti disayat sayat dengan pisau yang sangat tajam.
"Ren, maafkan aku, maaf". Nabila menitikan air matanya merasa sangat bersalah melihat Rendy saat ini seperti lemah tak berdaya.
Genggaman yang erat ditangan gadis itu kini mulai terkulai, ada sedikit bulir bening di setiap sudut mata pria itu, namun Ia segera membuang mukanya ke sembarang arah dan segera menghapusnya.
"Apa ini semua karena kamu mencintai Rangga Bil?". Pria itu kembali menatap Nabila dengan tatapan sendu.
"Bu..bukan Ren, bukan itu alasannya". Ucap Nabila ragu.
"Aku ngga menerima kalian berdua, karena memang aku ngga mau nyakitin perasaan salah satu dari kalian". Akhirnya Nabila menceritakan alasannya tidak menerima cinta kedua pria yang sudah mencintainya.
Ada perasaan yang begitu lega saat Rendy mendengar alasan Nabila, namun Ia juga merasa bersalah karena sepertinya Nabila menyimpan perasaan lebih kepada Rangga.
"Bil, kalau memang kamu cinta sama Rangga, kenapa kamu ngga terima dia saja". Ucapan Rendy membuat Nabila terkesiap.
"Kamu ngga boleh bohongin perasaan kamu sendiri Bil, kalau kamu cinta sama dia tidak usah pedulikan aku. Kejar cinta kamu". Rendy tersenyum pelik.
Nabila masih tidak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar.
"Aku tahu banget bagaimana rasanya memendam rasa cinta kepada seseorang, itu bukan hal yang mudah Bil, ada rasa sakit yang begitu dalam saat kita berusaha membohongi hati kita".
Air mata Nabila kian menderas mendengar ucapan yang baru saja Rendy ucapkan.
"Aku ngga mau kamu merasakan sakit seperti yang aku rasakan, aku cuma pengen lihat kamu bahagia walaupun bukan denganku". Air mata Rendy menetes tak tertahankan lagi, dengan cepat pria itu menghapusnya berharap Nabila tidak melihatnya, namun sayang Nabila sudah sempat memergokinya.
"Aku tahu Bil, cinta itu ngga bisa dipaksakan, aku mengerti itu. Aku tahu posisi kamu sangat sulit, karena kamu ngga mau nyakitin perasaan aku kan?, Sebenarnya kamu mencintainya kan Bil?". Tanya Rendy membuat Nabila semakin terisak.
"Maaf, maafkan aku Ren". Hanya itu yang mampu Nabila ucapkan kepada pria yang begitu tulus mencintainya sejak dulu, Nabila memeluk Rendy dan menangis di dalam pelukan pria itu, Rendy pun ikut melepaskan kesedihannya.
__ADS_1
Sudah 3 tahun Ia mencintai Nabila, namun Ia masih belum bisa mendapatkan cinta gadis itu, membuatnya semakin frustasi.
Rendy melepaskan pelukannya dan menatap Nabila lekat, memegang kedua lengan Nabila.
"Tapi aku boleh minta satu hal dari kamu Bil?". Tanya Rendy dengan tatapan sendu.
"Apa Ren?".
"Jangan pernah menghindariku setelah ini Bil, itu akan membuatku semakin tersiksa". Ucapan Rendy membuat air mata Nabila kian menderas, rasa bersalah itu semakin menenggelamkannya.
"Walaupun aku ngga bisa milikin kamu setidaknya aku bisa menjaga kamu, dan selalu ada di samping kamu, aku ingin kita tetap seperti ini Bil". Nabila mengangguk cepat.
"Tapi Ren, sebaiknya kamu berhenti mencintaiku, lupain aku Ren. Aku ngga mau kamu tersiksa karena aku".
"Bil, kamu boleh menolak cintaku karena itu hak kamu, tapi kamu tidak berhak melarangku mencintai kamu apalagi menyuruhku berhenti mencintai kamu, aku tidak bisa". Jawab Rendy dengan nada sedikit kesal.
"Tapi Ren, mau sampai kapan?. Itu semua hanya akan menyakiti hati kamu Ren".
"Aku ngga tahu, tapi yang jelas aku ngga akan berhenti mencintai kamu Bil, aku ngga bisa perasaan itu tumbuh dengan sendirinya, aku harap kamu mengerti".
Nabila semakin merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia ini.
"Yang penting kamu harus janji jangan pernah menghindariku setelah ini".
"Iya aku janji Ren".
Rendy tersenyum, Ia bisa bernafas lega Nabila tidak akan menghindarinya apapun yang terjadi mereka bisa tetap saling menyayangi sebagai sahabat.
Setelah mereka berdua mengungkapkan isi hatinya, kini mereka memilih untuk mencari obrolan lain dan melupakan kekacaun hati mereka yang sempat terjadi.
------
Rangga terlihat sangat sibuk dengan laptopnya, walaupun hari Minggu Ia masih tetap harus menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor yang urgent.
Rangga menyesap kopi hitam yang sejak tadi menemaninya.
Tiba tiba ponselnya berbunyi ada tanda pesan masuk, Rangga tak menghiraukannya dan tetap memfokuskan dirinya dengan layar monitor di hadapannya.
Alan : Bro, gue tunggu di cafe biasa, kita ngopi bareng.
Setengah jam berlalu Rangga tetap tak melihat isi pesan masuk dari Alan.
Hingga dering ponselnya pun berbunyi membuatnya mau tidak mau harus mengangkatnya.
Rangga melipat laptopnya dan menyimpannya di meja belajar sekaligus meja kerja yang ada di kamarnya.
Rangga mengambil ponselnya dari atas nakas yang masih berdering dengan sangat nayaring, lalu menggeser ponselnya menuju ikon warna hijau.
**Alan : "Lo kemana aja, ngga bales pesan gue gue udah nugguin dari setengah jam yang lalu disini!!". Pekik Alan membuat Rangga sejenak menjauhkan ponselnya dari telinganya.
Alan : "Bro...., Ngaa... Rangga...!!". Teriaknya lagi.
Rangga : "Hemmm, ada apa?". Tanya Rangga dengan santainya.
Alan : "E buseeet!!, Lo ngga dengerin dari tadi gue ngomong". Pekiknya lagi.
Rangga: "Lo ngomong teriak teriak mulu, gue males dengernya juga".
Alan : "Ya lo dari tadi ngga dengerin gue ngomong". Cetus Alan.
Rangga : "Udah buruan, Lo mau ngomong apa, gue lagi banyak kerjaan nih".
Alan : "Kerjaan?, Sekarang hari Minggu bro waktunya santai, lo duit udah ngga ketampung juga masih aja hari Minggu kerja, heran gue".
Rangga: "Cerewet sekali!!, Gue tutup juga nih telefon".
__ADS_1
Alan : "Jangan dong, ah elah sensi amat lo begitu doang".
Rangga: "Udah buruan mau ngomong apa?".
Alan : " Lo kesini ya, gue tunggu di cafe biasa. Kita ngopi bareng".
Rangga : "Gue ngga bisa, banyak kerjaan lagian gue lagi males, lo aja ke apartemen gue".
Alan : "Kok lo di apartemen bro?, Kenapa ngga tinggal di rumah?".
Rangga: "Suka suka gue lah**!!".
Tut...tut...Rangga menutup panggilan telefonnya. Membuat Alan tak berhenti mengumpat di seberang sana.
Rangga menyandarkan tubuhya di bahu tempat tidurnya sambil meluruskan kakinya tiba tiba ada bayangan Nabila berkelebat di kepalanya membuatny senyum senyum sendiri.
"Nabila lagi ngapain ya". Gumamnya lirih.
Rangga langsung mencari kontak Nabila lalu melakukan panggilan video call.
Setelah beberapa saat panggilan tersambung dan nampaklah wajah ayu Nabila di layar ponsel Rangga.
"Pagi Bil". Sapa Rangga dengan senyum terbaiknya.
"Pagi mas Rangga". Nabila membalasnya dengan senyum simpul.
"Ada apa mas?". Tanya Nabila.
"Tidak ada, aku hanya kangen saja sama kamu". Seru Rangga hingga membuat pipinya memerah karena kata katanya sendiri.
"Uhuukk..uhuukk..". Kata kata Rangga membuat Rendy yang tengah minum teh manis di sebelah Nabila keselek seketika.
"Suara siapa itu Bil?". Tanya Rangga penuh selidik, di layar ponselnya tidak terlihat wajah Nabila melainkan langit langit rumah Nabila membuat Rangga semakin penasaran.
"Nabila..". Panggil Rangga, wajah gadis itu belum juga muncul di layar ponselnya.
Rupanya Nabila sedang menolong Rendy yang tiba tiba saja keselrk.
"Bil..". Panggil Rangga lagi.
"Maaf mas, maaf ya". Nabila sudah menampakkan dirinya di layar ponsel dengan mengembangkan senyumnya.
"Tadi siapa yang keselek?". Tanya Rangga penasaran.
"Itu ta.. tadi Rendy keselek mas". Jawab Nabila ragu, pasti Rangga akan salah paham pikirnya.
"Ngapain cowok itu pagi pagi udah di rumah kamu?!". Ucap Rangga dengan nada tidak suka sambil melirik sekilas jam dinding yang berada lurus di depannya.
"Tadi Rendy ngga sengaja lewat, terus mampir kesini".
"Modus aja dia itu". Cetus Rangga yang sudah terlihat kesal.
"Ehheem". Rendy yang mendengar itu semua pura pura berdehem.
"Lagian kamu kenapa ngga ke toko Bil, ini kan hari Minggu pasti toko mu ramai pengunjung".
"Ini aku baru mau ke toko, tadi pagi aku harus bersih bersih rumah dulu, mas Rangga kan tahu rumahku kotor banget kemarin".
"Kamu diantar sama cowok itu ke toko?".
"Ngga mas, aku naik taksi, Rendy juga sudah mau pulang".
"Ya sudah kalau gitu kamu hati hati ya, nanti siang aku kesitu sama Alan".
"Iya mas, udahan dulu ya mas aku mau berangkat sekarang".
__ADS_1
"Iya, Bye". Rangga melambaikan tangannya sebelum mengakhiri panggilan video callnya.