Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode43, semua aman terkendali!


__ADS_3

Rendy mengernyitkan dahinya menatap pri seram itu, sejenak ia berpikir kenapa dia tidak suka saat dirinya memegang tangan Nabila.


"Ah, itu pasti orang suruhan Rangga". Batin Rendy.


Nabila segera melepaskan tangannya dari Rendy, membuat pria itu terperanjat.


"Maaf Bil, aku hanya khawatir dengan tanganmu".


"Tidak apa apa Ren, ini hanya luka lecet karena terjatuh".


"Eh Bil, kita ke atas aja yukk auranya ngga bagus disini". Celetuk Maya membuat bodyguard tadi kembali kembali melototkan matanya.


"Astaga dia merasa". Maya segera membungkam mulutnya sendiri merutuki mulutnya yang ceplas ceplos asal bicara.


"Maksudku disini panas sekali, matahrinya terlalu terik". Ucapnya lagi sambil melirik ke arah pria seram itu memastikan apakah masih melotot atau tidak.


Ternyata sudah tidak melotot sudah kembali ke mode seram tanpa ekspresinya.


"Dasar baperan!!". Celutuknya lagi kali ini pria seram itu terlihat bergerak Maya segera mengambil langkah seribu menaiki tangga menuju lantai dua ruko.


Padahal pria seram itu hanya bergerak untuk sedikit mengubah posisinya saja, membuat Nabila dan Lisa terkekeh namun tidak dengan Rendy yang terlihat sibuk memikirkan sesuatu.


"Ya sudah ayo kita ke atas". Ajak Nabila kepada Lisa dan Rendy.


Nabila berjalan bersisian dengan Lisa menaiki tangga sedangkan Rendy mengekor di belakangnya.


"Bil, sebenarnya mereka itu siapa sih?". Tanya Lisa.


"Sssttt jangan keras keras, lihatlah orangnya ada di belakang!". Bisik Nabila kepada Lisa, membuat gadis itu menoleh.


"Astaga kenapa dia ikut naik?". Lisa membulatkan matanya saat mendapati salah satu pria seram itu ikut naik ke atas dan berada di belakang Rendy.


"Kalian duduk dulu aja ya". Nabila mempersilahkan Lisa dan Rendy duduk di sofa bergabung dengan Maya yang sudah lebih dulu.


"Pak kemarilah". Nabila menjentikkan tangannya kepada pria seram itu.


Pria seram itu segera menghampirinya dan menunduk memberi hormat.


"Ada apa nona?".Tanyanya dengan suara berat membuat Nabila menelan salivanya.


"Glekk, mendengar suaranya saja sudah membuatku takut". Batin Nabila.


"Sebaiknya bapak tunggu di bawah saja, mereka semua teman teman saya pak tidak akan ada hal buruk terjadi". Jelas Nabila berharap pria seram itu segera menghilang dari pandangannya.


Nabila benar benar tidak tahan melihat wajah seramnya, dan kenapa dia selalu mengikutinya kemana Nabila pergi itu sangat membuatnya tidak nyaman.


"Maaf nona, saya tidak bisa saya akan terus berada di dekat nona. Karena ini sudah menjadi tugas saya menjaga dan memastikan nona baik baik saja". Tuturnya tak lupa ia menunduk lagi memberi hormat.


"Saya mengerti itu pak, tapi saya baik baik saja jadi bapak bisa menjaga saya dari bawah sana". Nabila menunjukkan lantai bawah kepada pria seram itu bermaksud mengusirnya secara halus.


Tapi lihatlah dia bergeming di tempatnya.


"Maaf nona saya tidak bisa meninggalkan nona, saya tidak tahu bahaya apa yang akan mengamcam nona nantinya jadi saya harus tetap berada di dekat nona". Tuturnya justru membuat Nabila menjadi kesal.


"Bahaya apa?, Astaga!!, Sudah kubilang mereka teman teman saya tidak akan mencelakai saya". kesal Nabila, memijat pangkal hidungnya tak tahu lagi bagaimana menghadapi pria seram itu.

__ADS_1


"Maaf nona saya tidak bisa". Jawaban yang sama keluar dari mulut pria seram itu.


Ya sudah lah capek juga ternyata menyuruh pria seram tanpa ekspresi itu pergi, hanya membuang sia sia tenaga Nabila saja.


"Bodyguard sama tuan mudanya sama aja keras kepalanya". Gerutu Nabila sambil menghentakkan kakinya meninggalkan pria seram itu.


"Nona". Panggilnya.


"Apa lagi?!". Nabila menoleh ke arah pria seram itu.


"Pasti mau bilang maaf nona saya tidak bisa, begitu kan?". Ucap Nabila menirukan gaya bicara pria seram itu yang berat dan tegas.


Hal itu tentu membuat Lisa dan Maya juga Rendy menahan tawanya, tapi tidak dengan pria seram itu yang masih tanpa ekspresi, entah bagaimana bisa ada orang yang begitu tanpa ekspresi dan pergerakan seperti patung manekin yang ada di mall mall.


Hanya sesekali berkedip menandakan dia bukanlah manekin melainkan manusia yang sedang menjalankan tugasnya.


"Maaf nona". Ucap nya singkat, ia merasa tidak enak melihat Nabila begitu kesal kepadanya.


Akhirnya Nabila tidak menghiraukan si manekin itu maksudku bodyguardnya itu, ia lebih memilih bergabung dengan ketiga sahabatnya yang tengah duduk menunggunya.


Setelah Nabila mendaratkan pantatnya duduk di atas karpet bersama Lisa, sedangkan Maya dan Rendy duduk di sofa di belakang Nabila.


"Bil, aku jadi penasaran deh bagaimana ekspresi dia saat mau buang air?". Cetus Maya seketika mereka semua menatap pria seram itu bersamaan lalu tertawa setelahnya.


"Bhahaha, ngga bisa bayangin kalau dia tetap dengan ekspresi seperti itu saat ingin buang air". Maya memegangi perutnya karena terlalu heboh tertawa membuat perutnya sakit.


Pria seram itu menatap tajam Maya, namun kali ini Maya terlihat seperti ingin menantangnya.


"Apa lo liat liat?!, Wekk". Maya melotot sambil menjulurkan lidahnya mengejek sambil melipat kedua tangan di dada.


"Ihhh, takuuttt". Maya langsut beringsut ngumpet di balik punggung Rendy.


"Bil, jadi sebenarnya tangan kamu kenapa?". Rendy mengalihkan topik.


"Sudah kubilang Ren ini cuma lecet karena terjatuh kemarin". Nabila mengalihkan pandangannya ke sembarang arah menghindari tatapan Rendy yang penuh selidik.


"Sudah diobatin?". Tanyanya lagi.


"Sudah, ini juga sudah membaik".


"Lalu kenapa kamu tiba tiba memakai jasa bodyguard?". Rendy menelisik.


"Mmmm". Nabila menggigit bibir bawah nya, bingung mau jawab apa jika ia jujur tentang kejadian kemarin pasti semua sahabatnya akan sangat khawatir tetutama Rendy.


"Iya Bil kenapa?, aku juga penasaran kenapa kamu tiba tiba pakai jasa bodyguard?". Lisa tak kalah penasaran dari Rendy, begitu juga Maya ia beringsut kedepan tidak sabar mendengar jawaban dari Nabila.


Nabila menghela nafas berat, sepertinya ia harus menceritakan ini semua kepada ketiga sahabatnya ini.


Bagaimanapun juga mereka adalah sahabatnya, teman susah dan senang Nabila, mereka sangat menyayangi Nabila begitupun sebaliknya Nabila sangat menyayangi mereka, termasuk Rendy namun rasa sayang sebagai sahabat tidak lebih.


"Baiklah aku akan cerita kejadian yang sebenarnya". Nabila menudukkan wajahnya berusaha menyembunyikan wajah sedihnya dari ketiga sahabatnya, mata nya sudah mulai berkaca kaca padahal belum juga memulai ceritanya.


Rasa takut dan sedih yang teramat dalam membuatnya rapuh ketika mengingat kejadian kemarin sore.


Nabila mulai menceritakan kejadian yang menimpanya sore itu, dari mulai mobil yang ditumpanginya selalu diikuti sampai ia ditangkap dan berakhir di rumah sakit semua ia ceritakan.

__ADS_1


Kecuali dirinya yang memutuskan untuk tinggal sementara di apartemen milik Rangga itu ia skip, Nabila takut ketiga sahabatnya itu salah paham terlebih lagi Rendy yang memiliki perasaan cinta begitu besar kepadanya pasti akan sangat marah jika mengetahui hal ini.


"Jadi kedua bodyguard itu adalah orang yang di sewa mas Rangga untuk menjagaku". Ucap Nabila sambil mengusap air mata yang dengan tidak tahu dirinya mengalir begitu saja di pipi mulusnya.


Ketiga sahabat Nabila terkesiap mendengar cerita Nabila, mereka ikut menangis dan kini memeluk Nabila begitu erat.


"Sabar ya Bil, aku yakin hal itu tidak akan terjadi lagi". Lisa mengusapa usap punggung Nabila yang ada dalam pelukannya.


"Iya Bil, mas Rangga pasti akan mengurusnya, aku yakin dia tidak akan membiarkanmu terluka". Maya mengusap usap punggung tangan Nabila, menenangkan sahabatnya itu.


Rendy sejak tadi hanya diam menahan amarahnya yang bergejolak, kedua tangannya mengepal kuat hingga buku buku jarinya memutih, ia benar benar ingin menghabisi Johan saat itu juga, Rendy memang tahu betul bagaimana perlakuan Johan kepada Nabila.


Sepertinya ini sudah sangat keterlaluan Rendy akan memberi pelajaran kepada Johan, dari dulu Nabila selalu saja mencegahnya namun tidak untuk kali ini Rendy akan tetap memberi Johan pelajaran sekalipun Nabila melarangnya.


----------


Rangga datang menjemput Nabila, memasuki toko bunga yang sudah hampir tutup.


Berjalan dengan langkah lebar menyelipkan kedua tangan di saku celananya diikuti Leon di belakangnya.


"Selamat sore tuan Rangga". Sapa Dea yang tengah merapikan bunga bunga.


Rangga membalasnya dengan senyuman tipis yang nyaris tak terlihat, ya begitulah Rangga ia memang tidak suka menebar senyum kepada semua wanita terkecuali dengan Nabila, ia lebih memilih mengacuhkannya tapi kali ini apa salahnya sedikit ramah dengan pegawai toko kekasihnya itu.


Hal itu juga yang di lakukannya saat kedua pegawai Nabila yang lain menyapanya, hanya menyematkan senyuman tipis di wajahnya.


Nabila dan ketiga sahabatnya segera turun saat mengetahui Rangga telah tiba di toko, sepertinya pria itu sudah memberi tahu Nabila terlebih dulu saat mau menjemputnya.


Alis Rangga berkerut saat melihat Rendy juga ada di sana, Rangga menatap bodyguard yang ada tak jauh dari mereka seolah meminta penjelasan, dan bodyguard itu hanya menggeleng dan memberi isyarat bahwa semuanya aman terkendali.


Rangga bernafas lega, sebenarnya Rangga memberikan tugas tambahan kepada kedua bodyguard itu untuk menjauhkan Nabila dari semua laki laki yang mencoba mendekatinya, dan menatap intens kekasihnya itu bila perlu beri peringatan keras, seperti itulah kira kira titah Rangga kepada kedua bodyguardnya sebelum mereka resmi bekerja untuk Nabila.


"Mas kamu sudah pulang dari kantor?". Tanya Nabila saat mereka semua sudah ada di lantai bawah.


"Hmmm". Jawabnya singkat.


"Bil, kita pulang duluan ya". Pamit Lisa dan Maya memeluk Nabila.


"Iya hati hati ya kalian".


"Mas Rangga mas Leon, kita pulang duluan ya". Lisa dan Maya juga berpamitan kepada Rangga dan Leon.


"Iya, hati hati di jalan". Tutur Rangga lembut.


Rendy pun ikut berpamitan kepada Nabila namun tidak kepada Rangga, ia justru melewatinya begitu saja.


Seperti ada peperangan dingin di antara mereka, Nabila hanya menghela nafas panjang melihat keduanya yang tidak pernah akur.


Setelah semua sahabatnya dan ketiga pegawainya pulang, Nabila segera menutup tokonya dibantu Rangga dan Leon.


"Biar aku dan Leon saja sayang menutup tokonya, tunggulah di mobil".


"Baiklah". Nabila melangkahkan kakiny ke mobil milik Rangga.


Saat Nabila hendak membuka pintu mobil ia begitu terkesiap saat mobil misterius itu kini ada lagi di seberang jalan tokonya.

__ADS_1


Tubuh Nabila tiba tiba gemetar hebat, lemas dan tak mampu berdiri dengan cepat ia berpegangan di sisi mobil menahan tubuhnyanya yang akan ambruk.


__ADS_2