
"Ran, aku dobrak pintunya ya," tutur Rendy setengah berteriak. Tak ada jawaban juga.
BRAAKKK!!!
Pintunya sudah terbuka, Rendy terbelalak saat melihat tubuh Rania terkulai di dalam bathtub dengan air yang masih mengalir di dalam bathtub hingga hampir menenggelamkan tubuh polos Rania.
Rendy segera mengangkat tubuh Rania dari bathtub, menggendongnya, dengan tergopoh gopoh Rendy membawanya dan membaringkannya ke tempat tidur.
Dengan panik ia berlari mengambil handuk dan bathrobe, mengeringkan tubuh polos Rania dengan handuk kemudian memakaikan bathrobe agar tubuh gadis itu tidak kedinginan.
Berkali kali Rendy menepuk nepuk pipi Rania, menggosok telapak tangan Rania yang terasa dingin dengan kedua tangannya, Rendy pun tak lupa membalutkan selimut tebal hingga menutupi sebagian tubuh Rania.
"Ran, bangun Ran," menepuk nepuk pipi Rania dengan lembut.
Rendy berniat untuk membawa Rania ke rumah sakit namun gadis itu mulai mengerjapkan matanya, Rendy segera mengambilkan air putih yang berada di atas nakas, membantu Rania duduk dan membantunya minum.
Rendy bernafas lega melihat Rania sudah sadar, Rania menatap tubuhnya yang sudah terbalut denga bathrobe, ia menatap Rendy tajam sorot matanya seolah minta penjelasan dari pria di hadapannya itu.
"Maaf tadi kamu pingsan, aku takut kamu kenapa kenapa jadi aku yang memakaikan itu," jelas Rendy. Tapi waktu ia memakaikan bathrobe di tubuh Rania sungguh ia tak menikmati pemandangan indah itu, ia terlalu panik hingga tak sempat menikmati pemandangan indah di depan matanya.
Yang ia pikirkan adalah kesehatan Rania tak memikirkan hal lainnya. "Kita ke rumah sakit ya, aku takut terjadi apa apa sama kamu Ran."
"Tidak perlu," sahutnya ketus.
"Tadi kamu pingsan, sebaiknya kamu di periksa dulu oleh dokter," bujuk Rendy.
"Aku tidak mau!"
Rendy menghela nafas. Sementara Rania hanya terdiam, memalingkan wajahnya dari Rendy. Air matanya kembali mengalir deras, ia mencoba mengerjapkan matanya menahan air matanya yang tak berhenti mengalir.
Tangan Rendy terulur, jemarinya mengusap lembut air mata di kedua pipi Rania, dengan kasar gadis itu menepisnya ," Jangan sentuh aku!" Serunya, Rendy segera menarik tangannya, " Maaf Ran," ujar Rendy lirih.
Rendy mencoba menggenggam kedua tangan Rania yang ada di pangkuan gadis itu, namun dengan kasar Rania menarik tangannya dari genggaman Rendy.
__ADS_1
"Ran aku minta maaf atas semua kejadian semalam," ujar Rendy, lagi lagi Rendy memgumpati perbuatannya yang terkutuk itu.
Rania menangis hingga tubuhnya bergetar, netranya enggan menatap Rendy. Ingin rasanya Rendy memeluk gadis itu, menenagkannya agar ia tak menangis lagi namun Rendy yakin pasti gadis itu akan sangat marah jika ia melakukannya.
Rendy sadar perbuatannya semalam itu sudah membuat masa depan dan hidup Rania hancur, maka dari itu ia akan bertanggung jawab atas semuanya.
"Ran, aku akan bertanggung jawab atas semua perbuatanku semalam, aku akan menikahimu Ran," tutur Rendy.
Namun tak di duga justru penolakan yang diterima oleh Rendy.
"Tidak perlu! Aku tidak mau menikah denganmu!" seru Rania, tatapannya begitu tajam. Mata yang sendu yang masih mengalirkan buliran bening itu mernyiratkan kemarahan yang begitu besar kepada Rendy.
Rendy memakluminya, wajar saja jika Rania semarah itu dan membenci dirinya karena apa yang telah dilakukannya kepada Rania adalah perbuatan terkutuk yang tidak seharusnya ia lakukan.
"Ran aku tahu kamu marah padaku tapi, ijinkan aku mempertanggung jawabkan sumua perbuatanku, aku sudah menodaimu merenggut kesucianmu sudah sewajarnya aku menikahimu," tutur Rendy dengan nada lembut.
"Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak mencintaiku," sahut Rania, kata katanya terdengar begitu menyayat hati.
Rendy terdiam, cinta? jika kata orang cinta itu indah tapi tidak menurut Rendy. Karen cinta justru membuatnya sengsara, karena cinta hampir membuatnya hilang akal, sempat terpikir untuk merebut istri orang lain, apa namanya kalau bukan gila.
"Karena di hati kamu masih ada kakak ipar, iya kan!" sergah Rania, tersenyum getir menatap Rendy yang tertunduk lesu.
"Gantilah dulu pakaianmu, nanti kita turun sarapan," Rendy memunguti pakaian milik Rania yang berserakan di lantai, dan memberikannya kepada gadis itu.
Rania segera menyambar pakaian yang diberikan Rendy, lalu berlari ke kamar mandi.
Sementara Rendy mengusap wajahnya frustasi. Apa yang harus dilakukannya selain dengan tanggung jawab menikahi Rania.
Pikiran Rendy benar benar kacau saat ini, dirinya tak bisa berpikir jernih. Rendy terperanjat saat Rania sudah berada di hadapannya.
"Kamu sudah selesai? Ayo kita turun sarapan," ajak Rendy dia sudah berdiri.
"Aku mau pulang , kak Rangga pasti mencariku," ujarnya Rania.
__ADS_1
"Aku antar kamu pulang ya," Rendy mendekatkan dirinya ke arah Rania, gadis itu langsung memalingkan wajahnya. Rania masih enggan menatap wajah Rendy.
"Aku tidak pulang ke rumah, kakak pasti sekarang marah besar karena aku tidak pulang,"
"Lalu kamu mau pulang kemana? Biar aku antarkan tapi sebelum itu kita sarapan dulu ya," Rendy tersenyum simpul.
Rania terdiam menatap Rendy dengan sendu, bagaimanapun juga ini semua tidak sepenuhnya salah pria ini. Ini juga karena kebodahan Rania sendiri yang terbuai dengan semua bujuk rayu setan, hingga membuat dirinya atak bisa berpikir jernih, hanyut dalam kenikmatan yang ditimbulkan dari setiap sentuhan Rendy.
Jika Rendy berniat untuk menikahinya tentu dia merasa sangat senang bisa menikah dengan pria yang memang sangat dicintainya namun Rania tidak mau jika Rendy menikahinya hanya karena merasa kasihan kepadanya, dan mengatasnamakan tanggung jawab atas pernikahan mereka.
Rania tidak mau menikah dengan laki laki yang tidak mencintainya. Saat ini saja rasa sakit yang ia rasakan karena cintanya bertepuk sebelah tangan sudah cukup membuatnya tersiksa, apalagi jika dalam suatu hubungan pernikahan dan pasangan hidupnya tidak mencintai dirinya, ah Rania tak sanggup membayangkan bagaimana sakitnya.
"Ran," Rendy meraih tangan Rania mengejutkan gadis itu dari lamunannya.
"Ayo kita sarapan dulu," ujar Rendy.
Rania pun mengangguk, mengikuti kemana langkah kaki Rendy melangkah.
Kini Rania dan Rendy berada di restoran yang berada di lantai bawah hotel, mereka menikmati sarapan mereka dengan perasaan yang berkecamuk.
Setelah mereka meyelesaikan sarapannya Rania dan Rendy menuju mobil Rania, Rendy berniat untuk mengantarkan Rania pulang.
Rania meraih tas miliknya yang memang ia tinggal di dalam mobil semalaman, karena semalan ia berpikir hanya mengantar Rendy sebentar jadi ia tidak perlu membawa tasnya namun yang terjadi malah di luar dugaannya.
Rania mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, dengan hati was was jantungnya sudah berdetak kencang tak karuan, tangannya mulai gemetar ia yakin pasti semalaman Rangga sudah mencoba menghubunginya.
Dan benar saja ada puluhan panggilan tak terjawab dari Rangga dan Nabila, dan puluhan rentetan pesan dari mereka.
Rania tidak berani membuka pesan pesan dari Rangga, Rania lebih memilih untuk membaca pesan pesan dari Nabila.
Nabila: "Dek, kamu dimana kenapa jam segini belum pulang?" 12.35
Nabila: "Dek, kenapa tidak angkat telefonku?" 12.37
__ADS_1
Nabila: "Dek, kamu tidak apa apa kan?" 01.03
Nabila: "Dek, kakakmu mencarimu kenapa belum pulang juga?" 06.15