Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode30 Hampir dilecehkan!


__ADS_3

Rangga tersenyum saat melihat penampilannya yang begitu sempurna dari pantulan cermin. Ia menggunakan tuxedo warna hitam dilengkapi dengan vest dan dasi kupu kupu serta sepatu pantofel berwarna hitam mengkilat dengan bahan kulit membuatnya terlihat lebih berkelas dan berkharisma.


Rangga bergegas keluar dari apartemennya untuk pergi ke pesta pernikahan anak dari salah satu kliennya, Rangga menjemput Nabila terlebih dulu untuk menemaninya ke pesta.


Beberapa saat kemudian mobil Rangga telah sampai di halaman rumah Nabila.


Tok..


Tok..


Tok..


Ceklek


"Kak Rangga, mari masuk kak". Ucap Aditya mempersilahkan masuk.


"Aku tunggu diluar saja dit". Rangga mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di teras rumah Nabila.


"Baiklah, sebentar aku panggil kakak dulu".


"Kak Rangga, mau minum apa?". Imbuhnya sebelum Ia beranjak dari pintu.


"Ngaa usah repot repot dit, kita mau langsung berangkat saja". Tutur Rangga.


"Ya sudah, Adit panggil kak Nabila dulu ya kak". Rangga mengangguk pelan.


Beberapa menit kemudian.


"Maaf lama mas". Ucap Nabila yang baru saja keluar dari pintu rumahnya menghampiri Rangga yang tengah duduk di kursi teras.


Rangga yang sejak tadi memainkan ponselnya menoleh ke arah Nabila yang terlihat begitu cantik nan anggun dengan balutan gaun malam selutut berwarna hijau mint dengan model kerah sabrina, rambutnya Ia bentuk curly dibagian ujungnya ditambah make up yang flawles natural membuat netra Rangga enggan berkedip saat menatapnya.


"Mas?". Nabila mengernyitkan dahinya melihat pria yang ada di hadapannya malah tak berkedip menatapnya.


"Apa penampilanku buruk mas?". Tanya Nabila tak percaya diri.


"Kamu justru sangat cantik malam ini". Rangga memberikan senyum terbaiknya, seolah masih mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya.


"Kamu bisa aja mas". Nabila merona seketika atas pujian yang baru saja Rangga lontarkan.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang ya takut telat". Rangga bangkit dari duduknya dan menggandeng Nabila menuju mobil.


----------


"Wahh ini pestanya mewah sekali mas". Seru Nabila sambil mengedarkan pandangannya di setiap sudut ballroom.


"Iya, kamu jangan jauh jauh dari aku ya. Disini ramai sekali". Tutur Rangga, Nabila pun mengiyakan.


Rangga dan Nabila berjalan menuju kedua mempelai, hendak memberikan ucapan selamat.


Sebelum mereka sampai di tempat kedua mempelai, tiba tiba om Raymond datang menghampiri dan menyambut mereka terlebih dulu.


"Nak Rangga, terimakasih sudah mau datang". Seru om Raymond.


"Iya om, sama sama".


"Sebentar ya om akan panggilkan Elsa dulu". Tuan Raymond meninggalkan Rangga dan Nabila hendak memanggil Elsa anak perempuannya yang akan di jodohkan dengan Rangga.


"Ckk". Rangga berdecak kesal.

__ADS_1


Tak lama kemudian tuan Raymond datang bersama dua gadis cantik, yang tak lain adalah Elsa anak perempuannya dan gadis yang sudah tak asing lagi untuk Rangga dan Nabila yakni Sania. Ya Sania adalah keponakan tuan Raymond sepupunya Elsa.


"Rangga?, Kamu datang juga?, Tahu gitu kita berangkat bareng ya". Ucap Sania sambil menatap sinis ke arah Nabila yang berdiri di samping Rangga.


"Aduuh, aku benar benar ngga nyaman disini, kenapa ada nona Sania juga sihh". Gerutu Nabila dalam hati.


Nabila mencoba setenang mungkin lalu menyunggingkan sedikit senyum kepada Sania yang menatapnya sinis.


"Kalian sudah saling kenal?". Seru tuan Raymond sambil menatap Rangga dan Sania bergantian.


"Sania temen kuliahku om". Ucap Rangga dengan malas, Rangga sudah tidak nyaman berada diantara mereka kalau bukan untuk menghormati om Raymond dia mungkin sudah pergi meninggalkan acara pesta.


"Iya om kita satu kampus, lagian papa juga kan rekan bisnis om Angga". Sahut Sania.


"Nak Rangga kenalkan ini Elsa anak perempuan om, kalian bisa ngobrol ngobrol dulu biar lebih akrab".


"Kalau kalian cocok om akan bicarakan perjodohan kalian dengan tuan Angga secepatnya". Imbuhnya.


Pernyataan tuan Raymond benar benar membuat Nabila dan Sania terkesiap.


"Apa?, Mas Rangga mau dijodohkan dengan nona Elsa?". Batin Nabila.


Entah kenapa, hati Nabila terasa begitu sakit, nafasnya begitu sesak serasa terhimpit diantara tembok yang begitu besar. Ia mencoba bersikap tenang dan menyadarkan diri agar tidak larut dalam perasaannya.


Nabila menyadari bahwa Ia tidak sepadan jika dibandingkan dengan Elsa maupun Sania, Nabila kalah telak dari segi apapun dengan kedua wanita yang ada di depannya, begitu kira kira pikiran Nabila.


"Ya Tuhan, harusnya aku sadar diri aku ngga boleh berharap lebih kepada mas Rangga, walaupun dia mencintaiku tapi kita bagai bumi dan langit yang sangat jauh berbeda, keluarga mas Rangga tidak mungkin mau menerimaku". Gumam Nabila dalam hati, netranya dipenuhi bulir bulir bening yang siap terjun bebas membasahi pipi Nabila.


"Jadi om Raymond mau jodohin Elsa dengan Rangga, ngga ini ngga boleh terjadi!!". Batin Sania.


"Elsa". Ucap gadis cantik yang berdiri di samping tuan Raymond dengan senyum menawan sambil mengulurkan tangan ke arah Rangga.


"Om sebelumnya maaf, sebaiknya om tidak menjodohkan Rangga dengan Elsa karena Rangga sudah memiliki kekasih dan akan segera tunangan". Cetus Rangga seketika membuat keempat orang yang ada di sampingnya begitu terkesiap.


"Saya permisi". Sambungnya.


Rangga menarik lembut pinggang Nabila lalu pergi meninggalkan mereka yang masih berusaha mencerna ucapan Rangga.


"Sialan!!, Jadi mereka sudah jadian?, Aku akan buat perhitungan sama cewek kampungan itu, lihat saja". Batin Sania dengan senyum sinisnya.


"Papa Elsa ngga mau tahu pokoknya papa harus jodohin Elsa sama Rangga, dia harus jadi milik Elsa". Rengek Elsa kepada tuan Raymond.


"Kamu tenang saja sayang, papa akan bicarakan ini kepada tuan Angga". Sahut tuan Raymond.


"Sepertinya Elsa menyukai Rangga, aku bisa manfaatin dia buat balas dendam kepada cewek kampung itu". Gumam Sania dalam hati disertai senyuman licik di wajahnya.


Sania mulai membisikkan sesuatu kepada Elsa, dengan semangat Elsa menganggukkan kepalanya mengiyakan.


Entah rencana apa yang akan dilakukan kedua gadis itu kepada Nabila dan juga Rangga.


Setelah menyalami dan mengucapkan selamat Rangga mengajak Nabila menikmati kudapan pesta di sebuah meja bundar yang cukup besar.


"Hai bro, udah lama ya kita ngga ketemu". Seru dua orang pria dengan setelan jas berwarna biru laut dan jas berwarna merah maroon menghampiri Rangga dan Nabila, bergabung dengan meja mereka.


"Alex?, Eric?". Sahut Rangga, meletakkan garpu serta sendoknya lalu memberikan pelukan kepada kedua pria itu. Kedua pria itu merupakan pengusaha muda sekaligus anak anak dari rekan bisnis papanya Rangga.


"Kalian apa kabar?". Imbuh Rangga , sepertinya mereka terlihat begitu akrab.


"Baik, lo gimana?". Tanya Eric.

__ADS_1


"Baik juga".


"Bro siapa cewek cantik ini?, Dia sekretaris lo?". Tanya Alex dengan tatapan penuh ketertarikan kepada Nabila, membuat gadis itu merasa sangat tidak nyaman.


Rangga yang menyadari tatapan yang tak biasa dari Alex raut wajahnya mendadak berubah dingin tidak seperti saat awal mereka datang.


"Dia cewek gue, bentar lagi kita mau tunangan". Cetus Rangga penuh penekanan.


"Sorry sorry, gue kira sekretaris lo!". Ucap Alex kikuk.


"Tapi boleh lah bro kita kenalan?". Tambahnya lagi, tatapannya tak beralih dari paras cantik Nabila.


"Sayang kenalin ini teman temanku". Ucap Rangga lembut, Ia sengaja menggunakan kata sayang agar kedua sahabatnya itu tidak berniat menarik perhatian Nabila.


"Sayang?, Kenapa lagi lagi dia mengaku kalau aku ini pacarnya". Batin Nabila.


Nabila menatap Alex sekilas, pria itu menatapnya intens dengan senyuman merekah tak lepas dari wajahnya.


Nabila mengernyitkan dahinya.


"Kenapa dia menatapku seperti itu?, Mungkin ini alasan mas Rangga bilang kalau aku ini pacarnya". Gumam Nabila dalam hati.


"Alex". Pria itu mengulurkan tangannya dengan netra masih tak berkedip.


"Nabila". Nabila menjabat tangan Alex namun saat Nabila hendak melepaskan tangannya, justru Alex semakin mengeratkan tangannya seperti enggan melepaskan.


"Jangan lama lama". Seru Rangga sambil melepaskan tangan mereka dengan cepat.


"Sorry sorry". Ucap Alex lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Eric". Kini giliran Eric memperkenalkan diri.


"Nabila". Gadis itu tersenyum tipis.


Ketiga laki laki itu membicarakan banyak hal, dari mulai bisnis sampai wanita membuat Nabila hanya bisa menjadi pendengar setia saja.


"Mas, aku ke toilet dulu ya". Pamit Nabila yang sudah tidak bisa menahan hasrat buang air kecilnya.


"Iya sayang, jangan lama lama ya". Rangga sengaja menunjukkan kemesraannya kepada kedua laki laki itu, agar mereka tidak terpikir utuk mendekati Nabila yang mereka tahu sebagai kekasih Rangga.


Nabila berjalan menuju toilet setelah bertanya letak toilet pada pelayan beberapa detik yang lalu.


Toilet wanita dan toilet Pria letaknya bersebelahan, Nabila memasuki toilet wanita yang cukup luas dengan dua kamar kecil di dalamnya, saat itu tidak ada orang lain disana selain Nabila.


Setelah Nabila selesai Ia segera menuju wastafel untuk mencuci tangan, tak lupa Ia juga merapikan riasannya pada cermin raksasa yang ada di depannya.


Nabila keluar dari toilet tiba tiba saja Ia disergap oleh pria yang sepertinya sedang mabuk, pria itu mendorong Nabila ke tembok, mengurungnya dengan kedua tangannya tak lupa senyum penuh gairah muncul dari bibirnya.


Nabila mendorong tubuh pria itu dengan kuat namun, tenaganya kalah kuat tubuh pria itu tak bergerak sedikitpun.


"Haii cantik, bolehkan aku menciummu". Tuturnya sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Nabila, dengan cepat Nabila menggeleng gelengkan kepalanya membuat pria itu kesusahan menciumnya.


Bau alkohol meyeruak menusuk indra penciuman Nabila hingga membuatnya ingin muntah.


Pria itu mulai geram, Ia menarik kerah gaun yang Nabila kenakan hingga menampakkan sedikit bagian dadanya, Nabila mulai terisak, Ia mencoba berteriak namun pria itu dengan cepat membungkam mulut Nabila dengan tangannya.


"Jangan sok jual mahal!". Bisiknya tepat di telinga Nabila membuat bulu kuduk Nabila meremang, air matanya berlinang membasahi kedua pipinya saat tangan pria itu mulai membelai rambut Nabila penuh gairah, menyentuh pipi dan menelusuri leher jenjangnya.


Rangga yang sejak tadi asyik mengobrol baru menyadari kalau Nabila begitu lama di toilet, Ia mencoba menunggunya sambil melanjutkan obrolan dengan Alex dan Eric.

__ADS_1


__ADS_2