Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 68 Leon dan Lisa


__ADS_3

Alan pun tidak mau kalah, ia mengajak Maya untuk berdansa memang tidak lah sulit bagi playboy seperti Alan untuk meminta seorang gadis berdansa dengannya, dan kali ini targetnya adalah Maya, walau begitu mereka berdua terlihat sangat menikmatinya.


Semua pasangan yang berdansa di lantai dansa terlihat sangat romantis diiringi performance artis ibu kota yang menyanyikan lagu romantis.


Dalam pesta pernikahan ini tak ketinggalan kehadiran Leon sang asisten pribadi, pria dewasa itu terlihat tampan dengan balutan tuxedo berwarna hitam dengan rambut disisir dan tertata rapi.


Leon berjalan mendekati Lisa yang tengah duduk sendirian sambil menikmati sepotong kue, gadis itu lebih memilih menyaksikan perform dari artis ibu kota sekaligus menyaksikan keromantisan pasangan pasangan yang tengah berdansa.


"Nona bolehkah saya duduk disini menemani nona?". Tanya Leon pada Lisa.


"Bo..boleh tuan Leon, silahkan". Jawab Lisa terbata.


Leon tersenyum sambil mendaratkan tubuhnya duduk di kursi yang melingkari sebuah meja bundar.


"Eh, dia senyum. Ternyata bisa juga dia tersenyum aku pikir dia hanya bisa pasang wajah kaku". Batin Lisa.


"Nona, tidak ikut dansa". Tanya Leon.


"Apa katanya?, Kenapa aku tidak ikut dansa?, aku kan jomblo mau dansa dengan siapa coba huhu". Gumam Lisa dalam hati.


"Tidak tuan, tuan sendiri tidak ikut dansa?". Tanya Lisa.


Leon tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya, hampir saja Lisa jatuh pingsan karena senyum Leon yang begitu menawan, andai saja Leon lebih sering tersenyum seperti itu mungkin dia tidak akan jomblo selama 30 tahun ia hidup di dunia.


"Mana ada wanita yang mau dansa denganku nona". Tutur Leon.


"Benarkah?". Lisa akui Leon memang tampan namun wajah laki laki itu sangat kaku tidak pernah tersenyum wajar saja jika tidak ada wanita dalam hidup Leon.


"Apa nona mau berdansa denganku?". Lanjutnya membuat Lisa tersedak kue yang sedang dikunyahnya.


"Apa?!, dia mengajakku dansa?, Apa aku ngga salah dengar?". Batin Lisa.


"Minumlah nona". Leon beranjak mengambil segelas minuman dari stand jamuan pesta lalu memberikannya kepada Lisa.


Dengan segera Lisa meneguk minuman yang diberikan Leon berharap bisa segera meredekan tenggorokannya.

__ADS_1


"Sudah lebih baik?". Tanya Leon.


Lisa mengangguk, ia malah jadi salah tingkah dengan perlakuan Leon yang tidak biasa, bagaimana tidak, biasanya laki laki itu irit bicara, tersenyum pun hampir tidak pernah tapi lihatlah malam ini Leon banyak bicara dan tersentum bahkan laki laki itu mengajaknya berdansa, apa dia sedang mabuk? Lisa semakin bertanya tanya, tapi kalau dilihat dia tidak kelihatan seperti orang sedang mabuk, ah entahlah.


Jangankan Lisa Leon sendiri saja bingung tiba tiba hatinya tergerak ingin mengajak dansa Lisa, padahal selama hidupnya ia tidak pernah tertarik untuk berurusan dengan wanita yang hanya bisa merepotkan saja, dia laki laki normal hanya saja ia belum menemukan wanita yang benar benar membuatnya tertarik, tapi umurnya yang sudah tidak muda lagi membuatnya ingin mencoba mendekati seorang wanita dan menghapus gelar jomblo yang melekat kuat dalam dirinya.


"Nona?, Bagaimana apa nona mau berdansa denganku?". Tanya Leon lagi.


"Eh dia masih belum menyerah!". Batin Lisa.


"Boleh juga tuan Leon". Jawab Lisa.


"Astaga!, Aku jawab apa barusan?, Kenapa aku malah menerima tawarannya sih". Gumam Lisa merutuki kebodohannya, pikirannya mengatakan untuk menolak namun hatinya tidak demikian.


Akhirnya Leon dan Lisa pun ikut bergabung dengan yang lainnya di lantai dansa.


Nabila terkesiap melihat pemandangan yang tak biasa ini, seorang Leon yang lebih cocok jadi manekin toko kini berdansa dengan sahabatnya, apa yang terjadi dengan pria berekspresi datar itu?.


"Mas, coba lihat deh itu Leon ikut berdansa dengan Lisa". Nabila menarik narik tuxedo Rangga dan menunjukkan keberadaan Leon dan Lisa dengan bola matanya karena tangannya masih mengalung dileher Rangga.


"Iya coba lihat itu".


Rangga mengikuti gerak bola mata Nabila memandang.


"Astaga!, dia kesambet setan dari mana tiba tiba dia berdansa dengan seorang gadis". Rangga menahan tawanya baru kali ini ia melihat Leon dekat dengan wanita.


"Jangan gitu mas kasian dia, mungkin Leon juga pengen dekat sama perempuan" .


"Kamu benar sayang, biar saja si jomblo itu dansa sepuasnya malam ini".


"Mas lihat disana juga ada Alan sama Maya, kenapa Maya mau sama Alan? dia kan playboy!". Kesal Nabila, merasa tidak terima dengan kedekatan Alan dan Maya.


"Biarpun playboy Alan itu baik sayang".


"Tetap saja playboy!".

__ADS_1


"Bilangin sama dia mas, jangan coba coba deketin Maya, aku ngga mau Maya jadi korban Alan". Seru Nabila berapi api ia tidak mau Maya dipermainkan oleh Alan si playboy itu.


"Br*ngsek!!, Kenapa cowok sialan itu dansa dengan Rania". Emosi Rangga meluap luap saat matanya menangkap Rendy berdansa dengan Rania.


"Maksud kamu siapa mas?". Nabila tidak mengerti kenapa suaminya tiba tiba marah seperti itu, Nabila mengikuti kemana arah mata Rangga memandang ia sama terkejutnya dengan Rangga, kok bisa Rendy berdansa dengan Rania?, Apa mereka sudah saling kenal.


Rangga melepaskan kedua tangannya dari pinggang Nabila, hendak menghampiri Rendy dan Rania. Rangga kesal karena Rendy sudah kurang ajar, berani beraninya dia menyentuh adik kesayangannya.


"Mas kamu mau kemana?". Dengan kuat Nabila menahan tubuh Rangga agar suaminya itu tidak pergi.


Rangga diam dengan raut wajahnya yang masih dipenuhi kemarahan.


"Mas, tenanglah jangan buat keributan, kamu lupa ada banyak tamu penting keluarga kamu disini?, Yang ada malah kamu akan mempermalukan keluarga kamu sendiri mas".


Apa yang dibilang Nabila benar, jika dia nekat bertindak bodoh nama baik keluarganya yang akan jadi taruhannya, dengan berat hati Rangga mengurungkan niatnya.


"Sabar mas, kamu tenang ya aku yakin Rania bisa jaga diri dan Rendy tidak mungkin berbuat macam macam sama Rania, lagian coba lihat sepertinya mereka terlihat akrab itu artinya mereka memang sudah saling mengenal mas".


"Ngga mungkin kan Rania mau diajak dansa dengan orang yang belum ia kenal, aku sih yakin mereka sudah berteman sebelumnya". Sambung Nabila.


Rangga terdiam seperti sudah tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan pestanya, ia memilih untuk mengajak Nabila kembali duduk di pelaminan.


Sepertinya menonton perform beberapa artis ibu kota yang ia undang untuk mengisi acara pesta bisa membuat hatinya sedikit lebih tenang.


Stage yang berhadapan lurus dengan pelaminan membuat Rangga dan Nabila bisa menysksikan perform para artis ibu kota dengan jelas.


Setelah semua acara telah dilangsungkan sang pembawa acara menutup acara resepsi pernikahan ini, tak lupa ia mengucapkan selamat kepada Rangga dan Nabila dan mengucapkan terimakasih kepada para tamu yang hadir serta terimakasih kepada para readres yang sudah mampir ke novel ini. Hehe.


***


Terimakasih sudah mampir ke novel ini, imuti terus kelanjutan cerita novel ini ya kak..


Jangan lupa like dan vote nya ya, tinggalkan komentar kalian untuk penyemangat author..


terimakasih🙏😘

__ADS_1


__ADS_2