Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode18 rumah Nabila dijual


__ADS_3

30 menit kemudian Rangga dan Leon memasuki ruang meeting untuk bertemu beberapa klien penting, pertemuan kali ini memang untuk membahas rencana kerja sama antar perusahaan, setelah dua jam kemudian meeting telah selesai, mereka sudah mendapat kesepakatan yang sudah disetujui dari kedua belah pihak, Rangga dan Leon keluar dari ruang meeting dan diikuti beberapa kliennya itu.


Saat Rangga hendak memasuki ruangannya tiba tiba salah satu klien Rangga memanggilnya dan hendak membicarakan sesuatu hal.


"Nak Rangga". Teriak Tuan Raimond pria paruh baya yang usianya hampir seumuran dengan papanya Rangga.


"Iya Tuan Raimond, ada yang bisa saya bantu?". Rangga menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Tuan Raimond.


"Bisakah kita ngobrol santai sebentar ?". Tuan Raimond menepuk pelan punggung Rangga.


"Bisa Tuan, mari ikut saya. Kita ngobrol di ruangan saya saja". Rangga tersenyum tipis sambil memegang daun pintu dan memutarnya. Rangga memasuki ruangannya diikuti dengan Tuan Raimond dan Leon.


"Silahkan duduk tuan Raimond". Rangga mempersilahkan tuan Raimond untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.


"Terimakasih nak Rangga, panggil saja saya om Raimond biar lebih akrab". Ucapnya sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Baiklah om". Rangga tersenyum tipis.


"Sebenarnya , apa yang akan dibicarakan tuan Raimond?, Bukankah tadi kita sudah mencapai kesepakatan kerja sama". Gumam Rangga dalam hatinya.


"Om mau minum apa?". Tanya Rangga.


"Apa saja nak Rangga".


"Baiklah". Rangga memberikan sebuah isyarat kepada Leon, dengan cepat laki laki itu keluar dari ruangan tuannya dan meminta office boy untuk menyiapkan minum.


"Ada apa om?, Sepertinya ada yang mau om bicarakan?". Belum sempat Tuan Raimond menjawab terdengar suara ketukan pintu yang membuat kedua lelaki itu menoleh kearah pintu secara bersamaan.


Tok..


Tok..


Tok..


"Masuk". Sahut Rangga.


Terlihat Leon memasuki ruangan diikuti dengan office boy yang membawakan dua cangkir kopi dan satu toples kue kering di atas nampannya.


"Silahkan diminum tuan". Office Boy itu membungkukkan badannya meletakkan kopi dan kue kering itu di atas meja.


"Terimakasih". Ucap Rangga.


"Saya permisi tuan". Office boy membungkukkan badannya lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan Rangga.


"Jadi Bagaimana om?". Tanya Rangga setelah menyesap kopi miliknya.


"Om bangga sama kamu Rangga, kamu masih sangat muda tapi sudah terlihat berbakat sekali mengurus bisnis orang tuamu". Tuan Raimond mengambil kopi miliknya kemudian menyesapnya.


"Om terlalu berlebihan, saya masih belum bisa apa apa om". Rangga tersenyum tipis.


"Om juga punya anak seumuran kamu Rangga, perempuan. Anak om juga masih kuliah sama sepertimu".


"Dia anaknya cantik, baik, sopan sepertinya akan cocok jika bersanding dengan kamu nak Rangga". Sambungnya sambil sedikit terkekeh.


"Jadi ini maksud om Raimond mengobrol denganku, dia mau menjodohkan anaknya denganku". Gumam Rangga dalam hati.


Rangga sudah benar benar tidak nyaman dengan pembicaraan ini, ingin sekali Ia mengakhiri obrolannya dengan tuan Raimond tapi Rangga hanya berusaha menghormati klien penting papanya itu.


"Bagaimana kalau kamu om jodohkan dengan Tania anak om, nanti biar om bicarakan dengan papa kamu jika kamu setuju". Ucapnya lagi.


"Maaf sekali om, tapi Rangga benar benar belum kepikiran untuk menikah". Tolak Rangga dengan sopan.


"Itu tidak masalah nak Rangga, kalian bisa tunangan saja dulu".

__ADS_1


"Siall!!, kenapa beliau jadi ngotot banget pengen jodohin aku sama anaknya!!". Umpat Rangga dalam hati.


"Sekali lagi maaf om, Rangga masih kuliah dan masih belum memikirkan itu semua". Rangga menyandarkan punggungnya di sofa.


"Baiklah , tapi kalian bisa bertemu dulu . om yakin kalian akan suka satu sama lain". Tuan Raimond kembali menyesap kopi miliknya.


"Akan Rangga pikirkan itu om". Jawab Rangga sambil mengulum senyum.


"Apa masih ada yang mau om bicarakan?, setengah jam lagi Rangga akan ada meeting jadi Rangga tidak bisa mengobrol lama lama". Rangga mencoba mengakhiri obrolannya yang sudah membuatnya merasa tidak nyaman.


"Baiklah nak, kalau begitu om pamit dulu . Oiya ini kartu nama anak om, coba kamu hubungi dia dan adakan pertemuan dengannya , dinner sepertinya menarik untuk kalian". Raimond mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada Rangga.


"Baik, terimakasih om". Jawab Rangga singkat sambil menerima kartu nama yang diberikan kepadanya.


Tuan Raimond beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan Rangga diantar oleh Leon hingga keluar pintu ruangan.


Leon kembali masuk ke ruangan Rangga dan duduk di sofa , di hadapan Rangga.


"Lihatlah yon, om Raimond mau jodohin gue sama anaknya". Rangga tersenyum pelik.


"Lo ambil nih kartu namanya, dia lebih cocok dijodohin sam lo". Rangga melemparkan kartu nama ke meja tepat di hadapan Leon sambil terkekeh.


"Maaf tuan muda saya tidak bisa, tuan Raimond kan ingin menjodohkan anaknya dengan tuan muda bukan dengan saya". Jawab Leon.


"Kalau lo ngga mau, lo buang aja Yon kartu nama itu". Rangga beranjak dari sofa berjalan menuju meja kerjanya. Melepaskan jas hitam yang dipakainya dan menggantungnya di ruang istirahat yang berada di sudut ruangannya.


"Berani beraninya mau jodoh jodohin gue, walaupun bokap gue yang akan jodohin gue sama cewek lain gue juga ngga akan mau". Rangga mendudukkan tubuhnya dikursi kebesarannya.


"Walaupun sama Nabila?". Tanya Leon yang sengaja menggoda tuan mudanya.


"Kalau itu beda lagi yon". Wajah Rangga seketika berbinar saat mendengar nama Nabila. Leon hanya sedikit terkekeh melihat ekspresi tuan mudanya yang tiba tiba saja sumringah.


"Tuan dua jam lagi akan ada meeting dengan para pemegang saham". Ucap Leon sambil berjalan menuju meja kerja Rangga.


"Tidak ada tuan, semuanya lancar paling cuma ada sedikit kendala dari para suplier bahan baku, tapi itu semua sudah bisa di atasi".


Rangga hanya menganggukkan kepalanya, sejenak Ia mengingat Nabila hingga membuatnya menyuruh Leon untuk mencari tahu tempat kerja Nabila yang baru.


"Oiya yon tolong lo cari tahu tempat kerja Nabila yang baru ya, gue minta infonya secepatnya".


"Baik tuan muda, saya akan cari tahu info tentang Nona Nabila".


"Bagus , kalau begitu silahkan kembali bekerja". Rangga melanjutkan kembali pekerjaannya begitu juga Leon Ia hendak kembali ke ruangannya yang berada tak jauh dari ruangan Rangga.


"Baik, saya permisi tuan muda". Leon membungkukkan badannya lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan Rangga.


"Hemmmm". Jawab Rangga tanpa menoleh ke arah Leon.


-----


Nabila terlihat baru saja pulang kuliah Ia segera membersihkan dirinya , setelah itu Ia pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuknya dan Aditya.


"Kakak udah pulang". Aditya menghampiri Nabila yang tengah sibuk menggoreng ayam.


"Iya sudah dit, kenapa?, Apa kamu sudah lapar?". Tanya Nabila tanpa menoleh ke arah Aditya, pandangannya fokus ke penggorengan yang ada di hadapannya.


"Lumayan lapar hehe". Adit menarik kursi meja makan dan mendaratkan pantatnya disana.


"Oiya dit, bagaimana tadi di toko ?, Apa ada masalah?". Sepulang sekolah Aditya memang ditugaskan Nabila untuk menjaga toko bunganya, karena hari ini Nabila pulang kuliah hingga larut malam.


"Semuanya aman aman saja kak, tidak ada masalah atau kendala apapun". Jawab Aditya.


"Syukurlah". Nabila mematikan kompornya , dan bergegas menyiapkan masakannya di meja makan dibantu oleh Aditya.

__ADS_1


"Mari makan". Nabila menarik kursinya mendudukkan tubuhnya disana dan segera melahap makanan yang sudah mengundang selera itu, begitu juga Aditya Ia menyendok nasi dan meletakkan diatas piring kosong miliknya dan menambahkan lauk pauk disana, lalu dengan cepat Ia menyantapnya.


Nabila dan Aditya menyantap makan malam dengan begitu nikmatnya sesekali ada perbincangan ringan di sela sela makan mereka. Setelah selesai makan malam, Nabila membersihkan sisa dan piring kotornya, saat Nabila sedang sibuk mencuci piring tiba ada suara ketukan pintu dari luar rumahnya.


Tok..


Tok..


Tok..


"Siapa datang bertamu malam malam begini". Nabila mematikan keran air dan mengeringkan tangannya yang basah dengan lap yang menggantung tidak jauh dari wastafel. Nabila hendak melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu yang masih terdengar ketukan namun Aditya dengan cepat menahannya.


"Biar Adit saja kak yang buka pintu, kakak lanjutkan saja mencuci piringnya". Aditya berjalan menuju pintu utama rumahnya dan membukanya dengan cepat.


"Selamat malam". Ucap dua orang laki laki berbadan besar memakai kaca mata hitam dan berkepala plontos itu.


"Selamat malam". Aditya menjawab dengan sedikit ragu, hatinya bertanya tanya akan dua laki laki yang kini ada dihadapannya.


"Mari silahkan masuk tuan". Sambungnya sambil mempersilahkan tamunya duduk di sofa, namun dua laki laki itu memilih untuk tetap berdiri disana dan menyerahkan sebuah sertifikat rumah dan surat jual beli rumah kepada Aditya.


"Apa ini tuan?". Aditya mulai membuka berkas yang diberikan kedua laki laki itu, Aditya begitu terkesiap , Ia membulatkan matanya dengan sempurna saat mengetahui surat yang Ia pegang saat itu adalah surat jual beli rumah milik neneknya yang sekarang Ia dan Nabila tempati.


"Apa maksud ini semua?". Aditya mengeraskan suranya sambil melempar surat itu kehadapan kedua laki laki di hadapannya.


"Rumah ini dan beserta isinya sudah dibeli oleh bos kami, jadi kami mohon anda segera keluar dari rumah ini!". Ucap salah satu dari laki laki itu dengan nada penuh penekanan.


"Omong kosong apa ini ?!, Kami tidak pernah menjual rumah ini kepada siapapun, jadi silahkan kalian pergi dari sini". Aditya menegaskan ucapannya.


"Tapi Johan sudah menjualnya kepada bos kami, jadi kami harap kalian angkat kaki dari rumah ini sekarang juga !".


"Sialan !!". Umpat Aditya.


"Paman memang selalu saja membuat hidupku dan kakak menderita !!". Aditya mengepalkan kedua tangannya , ingin rasanya Ia mengjabisi Johan jika lelaki itu ada di hadapannya.


"Ada apa dit ?". Nabila merasa heran melihat Aditya yang terlihat sangat marah.


"Paman Johan menjual rumah ini kak, dan kita harus pergi dari sini malam ini juga". Dengan ragu Aditya mengatakannya kepada Nabila tapi mau bagaimana lagi Ia harus mengatakannya.


"Apa??!, Tidak itu tidak mungkin". Nabila menggeleng gelengkan kepalanya merasa tidak percaya dengan kenyataan yang saat itu terjadi.


"Silahkan nona baca sendiri". Laki laki pelontos itu memberikan surat jual beli rumah dan sertifikat rumah yang sudah berganti nama kepemilikannya.


Nabila membacanya dengan seksama dan memang benar itu adalah surat jual beli rumah yang sah dengan materai serta tanda tangan Johan di atasnya, tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja dari mata indahnya. Aditya segera memeluk kakaknya dan mendekapnya erat.


"Nona cepatlah bereskan barang barang kalian, kita tidak punya banyak waktu !".


"Apa tidak bisa menunggu besok tuan, ini sudah larut malam kami harus mencari tempat tinggal dimana malam malam begini". Aditya mencoba meminta kelonggaran kepada kedua laki laki yang terlihat bengis itu.


"Tidak bisa, kami beri waktu 1 jam untuk kalian membereskan barang barang kalian !! ". Jawabnya ketus.


"Tapi tuan, kami mohon . Setidaknya ijinkan kami bermalam disini, kami janji besok pagi kami akan keluar dari rumah ini !". ucap Aditya lagi.


"Tidak bisa tuan !! , Kalau tuan tidak mau membereskan barang barang kalian sekarang juga, biar kami yang akan mengeluarkannya secara paksa !". Salah seorang dari laki laki pelontos itu hendak menerobos masuk kedalam rumah Nabila namun dengan cepat Aditya mendorongnya.


"Apa apaan kau !!, Kami bisa melakukannya sendiri !!, Jangan pernah lancang menyentuh barang barang kami!!" . Aditya mendorong laki laki itu dan meneriakinya sambil meegaskan telunjuknya dihadapan wajah laki laki itu.


"Sudah dit, ayo kita bereskan barang barang kita". Nabila mencoba menenangkan Aditya yang sudah mulai terlihat emosi.


"Beri kami waktu 1 jam untuk membereskan barang barang kami tuan". Ucap Nabila lirih.


"Cepatlah !!". Sahut laki laki pelontos itu.


Nabila dan Aditya meninggalkan kedua laki laki itu untuk membereskan barang barang mereka. Aditya mencoba menguatkan Nabila yang masih terisak . Aditya merangkul Nabila berjalan menuju kamar kakaknya itu dan membantu mebereskan barang barang milik kakaknya, Aditya mengambil 2 buah koper dengan ukuran yang cukup besar dan mulai memasukkan baju baju serta barang lainnya milik Nabila ke dalam koper, setelah itu Ia segera membereskan barang barangnya dan memasukkannya kedalam koper miliknya.

__ADS_1


__ADS_2