Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Eoisode 94 Kerepotan


__ADS_3

Setelah cukup lama berkeliling dari satu restoran ke restoran lainnya untuk mencicipi setiap menu andalan restoran yang mereka kunjungi, kini Nabila dan Rangga melanjutkan bersantai di sebuah cafe kekinian yang berada di antara persawahan, cafe dengan design klasik didominasi warna putih, dindingnya berbahan kaca sehingga Rangga dan Nabila bisa menikmati pemandangan gunung batur dan danau batur, hal ini membuat cafe terlihat unik dan berbeda dari kebanyakan cafe yang ada.


View yang sangat amazing membuat Nabila dan Rangga betah berlama lama nongkrong disini, view alam persawahan di tambah megahnya pemandangan gunung batur, memiliki udara yang sejuk dengan panorama yang indah membuat suasana begitu menenangkan.


Sejenak bisa mengalihkan pikiran Rangga dari masalah pesan yang dikirimkan Rendy untuk Nabila, jujur Rangga masih sangat kesal dengan pesan itu namun ia juga tidak bisa menyalahkan Nabila, karena dalam hal ini istrinya itu tidaklah bersalah.


Dengan susah payah Nabila membujuk agar Rangga mengurungkan keputusannya untuk kembali ke Jakarta saat itu juga dan tetap melanjutkan honeymoon mereka sesuai rencana awal, akhirnya Rangga pun setuju namun dalam hati kecilnya ia berjanji akan membuat perhitungan kepada Rendy saat dirinya telah sampai di Jakarta, ia benar benar geram kepada laki laki itu yang dengan tidak tau malunya mengirimkan pesan yang menyiratkan keinginannya untuk memiliki istrinya.


Bersantai di cafe sambil menikmati live music dan disuguhkan pemandangan yang begitu indah, mereka tak mau menyia nyiakan moment ini, mengabadikan moment dengan berselfie dengan latar tumbuhan ilalang dan gunung batur yang terpampang begitu indah.


Nabila sedang menikmati fruity croissant puff miliknya, namun Rangga tak hentinya memotrotnya hingga membuatnya kesal.


"Mas, aku lagi makan jangan foto dulu nanti jelek hasilnya". Ujar Nabila dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Kamu tetap cantik sayang, biarpun lagi makan".


"Stop mas, aku ngga mau lagian tadi kan sudah banyak foto kita ambil". Masih sibuk dengan makanannya.


"Kamu sangat menggemaskan dengan pipi menggembung begitu, mungkin kalau kamu gemuk kamu semakin menggemaskan dan cantik". Ujar Rangga sambil tersenyum.


"Jadi kamu mau aku gemuk mas?". Rangga mengangguk sambil tersenyum.


"Aneh, biasanya laki laki itu lebih suka cewek seksi yang bodynya seperti gitar spanyol, kenapa kamu suka cewek gemuk?".


Rangga meletakkan kedua tangannya di atas meja, tangan kanannya menopang dagunya dan matanya menatap lekat wajah Nabila, senyumnya merekah menyempurnakan wajah tampannya.


"Aku tidak menyukai cewek gemuk atau seksi manapun, aku hanya menyukaimu dan aku cuma pengen lihat pipi kamu bulat seperti tadi". Tuturnya.


"Ahh, gombal kamu mas. Yang namanya laki laki ya sama saja kalau lihat wanita cantik juga seksi pasti akan tertarik". Nabila memutar bola matanya.


Rangga terkekeh, menyedot ice Americano miliknya lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.

__ADS_1


"Bagiku cinta sejati hanya datang satu kali seumur hidup, dan itu kamu. Jika aku tertarik dengan wanita lain bisa kupastikan itu bukan cinta melainkan nafsu, Jadi..". Rangga memajukan tubuhnya, mendekatkan wajahnya dengan wajah Nabila sambil menyeringai.


"Puaskan nafsuku agar aku tidak tertarik dengan wanita manapun diluar sana". Sambungnya sambil menyeringai penuh maksud.


Jantung Nabila tiba tiba berdetak kencang, hembusan nafas Rangga mengenai wajahnya membuatnya meremang, ah atau karena ucapan Rangga tadi ia pun tak tahu yang jelas kini tubuhnya meremang.


Glek.. Nabila menelan salivanya.


Nabila tersinggung atas ucapan Rangga tadu, ada rasa bersalah dalam dirinya karena sering menolak ajakan suaminya bercinta, bukan tanpa alasan karena Rangga tidak cukup sekali jika sudah melakukan itu membuat badannya terasa remuk dan lelah hingga kadang ia enggan melakukannya lagi.


Rangga tersenyum puas melihat ekspresi istrinya, ia sengaja mengatakan itu ia ingin menggodanya.


Menyandarkan tubuhnya kembali, melipat kedua tangannya di dada, memiringkan kepalanya sambil tersenyum usil menatap Nabila yang salah tingkah dibuatnya.


"Mas, ayo kita foto lagi". Ujar Nabila mengalihkan topik pembicaraan.


Rangga tersenyum, ia meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja, di samping ice Americano miliknya.


***


Malam sudah datang, setelah puas bersantai di cafe Rangga dan Nabila melanjutkan dengan menonton pertunjukkan kesenian tradisional khas Bali seperti tari tarian Bali dan pertunjukan drama khas Bali.


Setelah itu mereka melanjutkan makan malam dan berburu oleh oleh di pasar malam, membeli kerajinan tangan khas Bali, baju Bali, kain pantai, kebaya Bali jajanan, makanan khas Bali, souvenir souvenir khas Bali dan masih banyak lagi yang lainnya.


"Sayang coba pakai ini". Ucap Nabila bersemangat sambil memakaikan udeng di kepala Rangga.


Nabila tersenyum puas saat udeng sudah berhasil menutupi kepala Rangga, namun tidak dengan Rangga, pria itu justru sejak tadi menggerutu kesal.


"Mas jangan bergerak biar aku foto". Nabila mengambil ponsel di tasnya, mulai memotret Rangga yang terlihat semakin kesal.


Bagaimana tidak kesal sejak tadi dirinya dibuat kerepotan membawa semua kantong belanjaan Nabila, ya Nabila belanja banyak oleh oleh untuk Aditya, sahabatnya, semua teman temannya dan semua pegawai tokonya bahkan pelayan dirumah Rangga pun ia belikan juga.

__ADS_1


"Mas, coba lihat kamu terlihat tampan sekali!". Seru Nabila sambil memperlihatkan hasil jepretan di ponselnya.


Rangga hanya melirik sekilas, memutar bola matanya malas.


"Tampan dari mana, jelek begitu mana bawa belanjaan begini". Gerutunya kesal.


"Aku foto lagi ya". Ucap Nabila antusias.


"Tidak mau!". Seru Rangga.


"Ya sudah kalau tidak mau, ayo kita lihat lihat di sebelah sana". Nabila memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya, berjalan lebih dulu meninggalkan Rangga yang masih menggerutu kesal. Setelah sebelumnya membayar terlebih dulu untuk udeng yang sudah bertengger di kepala Rangga.


"Tahu begini aku mengajak Leon juga, biar tidak repot begini". Gerutunya sambil berjalan mengekor Nabila.


Nabila menoleh " Apa kamu bilang mas?".


"Tidak ada sayang, I Love you". Kilahnya tersenyum yang dipaksakan.


"Jadi kamu tidak ikhlas membawakan belanjaanku?". Nabila berkacak pinggang.


"Ikhlas sekali sayang". Kembali senyum yang dipaksakan.


"Terus kenapa mau ngajak Leon?, biar kamu ngga repot Leon yang bawa semua belanjaan ini?". Dalam hati Nabila terkikik geli, senang sudah berhasil mengerjai suaminya.


"Bukan begitu sayang, aku ikhlas bawa semua belanjaan kamu, sini mana lagi yang mau ku bawakan?". Ujar Rangga memasang wajah seramah mungkin.


"Sudahlah sini biar aku saja yang bawa". Nabila hendak meraih semua kantong belanjaan yang ada di kedua tangan Rangga.


"Jangan sayang, biar aku saja. Ayo kita lanjutkan lagi belanjanya". Ucapnya sambil tersenyum, dalam hatinya mengumpat kesal.


Nabila berbalik memunggungi tersenyum penuh kemenangan, ternyata bisa juga dirinya mengerjai suaminya itu, seorang Rangga mana pernah repot repot membawa barang barang belanjaan tapi sekarang lihatlah pria itu sangat kerepotan.

__ADS_1


__ADS_2