
Saat Nabila hendak membuka pintu mobil ia begitu terkesiap saat mobil misterius itu kini ada lagi di seberang jalan tokonya.
Tubuh Nabila tiba tiba gemetar hebat, lemas dan tak mampu berdiri dengan cepat ia berpegangan di sisi mobil menahan tubuhnyanya yang akan ambruk.
Rangga dan Leon telah selesai menutup toko, Rangga berjalan menghampiri Nabila melihat Nabila begitu pucat dan gemetar ia benar benar panik.
"Sayang kamu kenapa?, Apa kamu sakit?". Rangga memasukkan kunci ruko ke dalam tas Nabila lalu membantunya masuk ke dalam mobil.
Nabila hanya terdiam dengan wajah begitu pucat dan ketakutan yang hebat mendera dirinya.
Rangga segera memasuki mobil setelah Leon membukakan pintunya, di dalam mobil Rangga mencoba merangkul tubuh Nabila yang masih gemetar.
Leon menginjak pedal gas melajukan mobilnya meninggalkan ruko diikuti dengan mobil kedua bodyguard Nabila.
"Tuan muda sepertinya itu yang membuat nona takut, ada yang mengikuti kita". Leon melirik arah spion melihat ada mobil asing yang mengikuti mobilnya dan mobil bodyguard.
Rangga menoleh kebelakang, dan benar saja ada mobil yang tidak ia kenal sedang mengikutinya.
Rangga memeluk Nabila dengan erat, mengusap rambutnya lembut.
"Jangan takut, ada aku sayang, semuanya akan baik baik saja".
"Aku takut.. aku takut mas". Nabila mulai terisak, bayangan kejadian kemarin sore seperti berputar di kepalanya bak film pendek yang sedang diputar.
"Leon lo suruh kedua bodyguard itu membereskannya sekarang juga!". Titah Rangga.
"Baik tuan muda". Leon segera mengambil ponselnya dan menghubungi bodyguard yang mengikuti mereka dengan menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan fokus dengan kemudinya.
"Kalian urus sekarang mobil yang sejak tadi mengikuti kita, jangan sampai mereka mengetahui dimana nona Nabila tinggal sekarang!". Ucap Leon begitu tegas setelah sambungan telefon berlangsung, setelah itu ia segera mematikan panggilannya.
"Kamu dengar sayang, semuanya sudah ditangani jadi tenanglah". Rangga mencium sekilas puncak kepala Nabila.
"Terimakasih mas". Nabila mengangguk dan mencoba menenangkan dirinya.
-------
Rangga dan Nabila kini sudah berada di apartemen, sebelum mereka pulang mereka sempat mampir ke swalayan yang berada dekat dengan apartemen untuk membeli bahan bahan makanan dan kini Nabila tengah sibuk memasak di dapur.
Rangga yang baru saja selesai mandi dan sudah memakai kaos santainya menghampiri Nabila dan memeluknya dari belakang.
"Kamu masak apa sayang?". Rangga memeluk Nabila yang sedang sibuk memasak membuat gadis itu tersentak kaget.
"Astaga mas Rangga!!, Kamu ngagetin saja".
"Aku masak sayur asem sama ayam goreng mentega mas". Nabila berbalik badan hingga posisinya saling berhadapan dan jarak mereka sangat dekat membuat Rangga menelan salivanya.
"Shiitt!!, Bibirnya membuatku frustasi". Umpat Rangga dalam hati.
Rangga segara memundurkan tubuhnya dan berjalan menuju mini bar yang berada di dapur.
Rangga duduk dan menuangkan air putih lalu segera menenggak habis menghilangkan hawa panas yang tiba tiba saja menyergapnya.
Rangga harus benar benar bisa mengontrol dirinya jangan sampai berbuat yang tidak tidak kepada Nabila , kalau tidak gadis itu akan sangat membencinya.
Nabila mengernyitkan dahinya bingung melihat kelakuan Rangga.
"Sepertinya sangat lezat, aku akan menunggunya disini". Ucap Rangga setelah berhasil menguasai dirinya.
"Ini sudah matang mas, tapi aku mau mandi dulu mas makan saja dulu". Ujar Nabila sambil meletakkan dan menata masakannya di atas meja makan yang ada disana.
Nabila membersihkan semua perabot yang baru saja dipakai untuk memasak, setelah itu ia hendak pergi ke kamar.
"Mas Rangga mau makan sekarang?, Biar aku ambilkan". Ujarnya sebelum meninggalkan dapur.
"Nanti saja setelah kamu selesai mandi kita makan bersama". Tutur Rangga.
__ADS_1
"Ya sudah aku mandi dulu ya". Nabila masuk ke dalam kamar yang ditempatinya kamarnya bersisian dengan kamar milik Rangga.
Beberapa saat kemudian Nabila keluar dari kamarnya setelah selesai dari ritual mandinya dan kini sudah terlihat cantik dengan kaos polos dan hot pant yang ia kenakan.
Nabila mengerucutkan bibirnya saat berjalan menuju meja makan, Nabila duduk di kursi di hadapan Rangga, sepertinya pria itu tidak menyadari kedatangan Nabila karena saking asyik dengan ponselnya.
Nabila menuangkan nasi di atas piring dan mengambilkan lauknya untuk Rangga.
"Hey, kamu udah selesai mandi sayang?". Rangga segera meletakkan ponselnya di atas meja.
"Kamu kenapa yang?, Kok cemberut gitu?".
"Aku sebel kenapa semua baju baju yang mas Leon siapkan semuanya seksi seksi". Nabila semakin mengerucutkan bibirnya.
"Seksi?, Aku rasa itu masih wajar sayang, ngga seksi". Rangga mengingat baju baju yang di belikan Leon yang masih terbilang wajar, beberapa mini dress selutut dan beberapa blouse yang sama sekali tidak terlihat seksi.
"Tidak seksi gimana sih mas ini seksi". Kesal Nabila.
"Coba mana lihat?".
"Tidak mau!!".
"Sayang coba lihat, biar nanti Leon kumarahin". Cicit Rangga sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.
Nabila terpaksa berdiri hingga menampakkan hot pants yang ia kenakan membuat Rangga tak berkedip dan tak bisa mengalihkan pandangannya dari kaki jenjang Nabila yang terlihat begitu putih dan mulus, Nabila segera duduk kembali merasa tidak nyaman dengan tatapan Rangga.
"Siall, sepertinya Leon sengaja mau menyiksaku". Rangga menelan salivanya dengan susah payah.
"Mungkin Leon pikir untuk santai di rumah sayang, lagian tidak akan ada melihatnya". Ujar Rangga.
"Tapi mas Rangga melihatnya". Nabila mencebikkan bibirnya.
"Tidak sayang, aku akan menutup mata seperti ini". Rangga menutup wajahnya dengan kedua tangannya membuat Nabila terkekeh.
"Sudah ayo kita makan dulu, sepertinya sangat lezat". Rangga memegang sendok garpunya siap menyantap makan malamnya.
Tok..
Tok..
Tok..
"Mas, mas Rangga bangun sholat subuh dulu waktunya sudah mau habis". Teriak Nabila dari balik pintu kamar Rangga.
Rangga mengerjap dan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Mas Rangga". Teriak Nabila lagi.
Dengan malas Rangga bangun, posisinya masih duduk di atas kasur lalu bukannya ia turun dari ranjangnya malah meraih bantal guling memeluknya erat dan berbaring kembali di bawah selimutnya.
"Mas Rangga". Teriakan Nabila membuat Rangga tersentak.
Ia segera turun dan membuka pintunya dengan mata masih terpejam dan tubuh yang menyandar di pinggiran pintu.
"Iya sayang aku udah bangun". Tuturnya.
"Cepat mandi lalu sholat subuh, aku mau siapkan sarapan dulu". Ucap Nabila.
"Baiklah". Rangga berbalik memasuki kamarnya, bukannya ke kamar mandi ia malah kembali menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
Dia tidak sadar kalau Nabila masih berdiri di depan pintu dan sedang memperhatikannya.
"Astaga malah tidur lagi". Kesal Nabila.
Nabila berjalan masuk ke kamar Rangga.
__ADS_1
"Mas kenapa tidur lagi!!". Ucapnya dengan nada kesal.
Rangga terkejut dan segera berdiri.
"Ehh sayang, aku pikir ini kamar mandi". Cicit Rangga sambil menutup mulutnya yang menguap.
"Sudah cepat sana mandi!!".
"Iya sayang, I Love you". Rangga mengerlingkan matanya berharap Nabila tidak marah lagi.
--------
Sebuah mobil alphard berwarna hitam terlihat memasuki halaman rumah Nabila, sang kemudi turun setelah ia berhasil memarkirkannya.
Seorang pria tampan berkostum casual berjalan menuju pintu rumah dan mengetukkkan jemarinya disana, ia adalah Rendy sahabat Nabila.
Semalam laki laki itu menginap di rumah sepupunya yang terletak tak jauh dari komplek perumahan Nabila, sehingga pagi ini Rendy bermaksud mengajak Nabila berangkat ke kampus bersama.
Tok..
Tok..
Tok..
Berkali kali Rendy mengetuk pintu tak ada jawaban sama sekali, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Nabila.
Rendy meraih ponselnya dan siall ponselnya ternyata mati.
Jelas saja tidak ada jawaban, Aditya sudah pergi ke sekolahnya sedangkan Nabila sedang ada di apartemen Rangga.
"Ahhh shiittt!!!, Aku lupa charge ponselku semalam".
Rendy kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, mencoba mengetuk kembali berkali kali.
Hingga hampir satu jam lamanya Rendy duduk menunggu di kursi yang berada di teras rumah Nabila namun gadis itu tak kunjung keluar dari rumahnya.
"Nabila kemana ya?, Kok belum keluar juga". Rendy berulang kali melihat jam tangannya.
"Apa mungkin Nabila sudah berangkat". Rendy segera bangkit dari duduknya dan memasuki mobilnya tanpa membuang waktu ia segera menancap gas meluncur menuju kampusnya.
Setelah 20 menit perjalanan akhirnya Rendy memasuki pelataran kampus, segera memarkirkan mobilnya.
Disisi lain mobil range rover berwarna hitam milik Rangga baru saja memasuki pelataran universitas Pandawa.
Leon segera membukakan pintu mobil tuannya dan disusul membukakan pintu mobil Nabila.
Kedua bodyguardnya pun baru saja turun setelah memarkirkan mobilnya.
Rangga mengecup sekilas puncak kepala Nabila dan mengusapnya penuh sayang seolah tak menghiraukan semua pasang mata yang ada disana yang sedang memperhatikan mereka.
"Sayang aku ke kantor dulu ya, kamu hati hati di kampus". Rangga melambaikan tangannya sesaat sebelum memasuki mobilnya.
Nabila tersenyum dan memandangi mobil Rangga yang mulai meninggalkan pelataran kampus.
Rendy yang sejak tadi memperhatikan mereka dari area parkir merasa heran kenapa Nabila baru saja sampai, harusnya jika memang Nabila baru berangkat Nabila masih ada di rumahnya saat ia menjemputnya.
Tapi kenapa tadi tidak ada padahal Rendy sudah hampir satu jam menunggu, kalau memang Nabila sudah berangkat kenapa dia baru saja sampai di kampus sedangkan jarak tempuhnya hanya membutuhkan waktu 20 menit saja.
"Sepertinya ada yang tidak beras, aku akan mencari tahu!!". Gumam Rendy.
Nabila berjalan diikuti dua orang bodyguard di belakangnya, jangan tanya bagaimana reaksi orang orang yang melihatnya.
Mereka sibuk menggosip dan menerka nerka tentang Nabila, membuat gadis itu merasa tidak nyaman.
Mau bagaimana lagi ini semua demi kebaikannya agar ia bisa aman dari para penculik yang katanya anak buah madam Karla.
__ADS_1
Ahh sudahlah Nabila tidak mau memikirkan itu semua, otaknya sungguh terasa ingin meledak jika mengingatnya.