Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode39 Aku dijual?!


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang sangat sibuk untuk Rangga, bagaimana tidak hampir sepanjang hari Ia habiskan dengan berkali kali meeting dari mulai meeting dengan beberapa klien, meeting dengan para calon investor, meeting dengan Dewan Direksi perusahaan, dan masih ada beberapa kali meeting lagi hingga petang nanti.


Kini Rangga menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruangannya, melonggarkan dasinya dan mengadahkan wajahnya keatas menatap langit langit ruangannya, setelah itu ia mencoba memejamkan matanya berharap bisa mengurangi rasa lelah pada otak dan tubuhnya.


Otaknya begitu lelah untuk berpikir, begitupun tubuhnya yang juga terasa letih, melihat kondisi tuannya Leon bergegas keluar ruangan dan meminta office girl membuatkan Rangga teh hijau dan sepiring buah potong.


Tak lama kemudian Leon muncul diikuti oofice girl di belakangnya membawakan 2 buah cangkir teh hijau dan sepiring buah potong dan meletakkannya di meja dengan sangat hati hati.


"Tuan muda, silahkan diminum teh nya tuan untuk merilekskan pikiran tuan muda". Tutur Leon setelah terdengar suara pintu ditutup oleh oofice girl itu.


Rangga yang tengah memejamkan matanya sambil memijat kedua pelipisnya kini mengerjap membuka matanya perlahan.


Leon paham sekali dengan kondisi Rangga, Ia pasti sangat lelah menghadapi pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya, Rangga masih baru beberapa minggu menjabat sebagai wakil direktur utama kerajaan bisnis milik keluarganya, perusahaan yang begitu besar dengan puluhan anak perusahaan baik di dalam maupun luar negeri.


Rangga masih harus banyak belajar dan beradaptasi dengan pekerjaan dan jabatan yang kini ia duduki, meskipun dulu ia sempat membantu mengurus bisnis keluarganya yang bergerak dalam bidang kuliner tapi itu tak membuatnya mahir dalam menjalankan tugasnya saat ini sebagai wakil direktur utama. Tentu ada perbedaan yang sangat jauh, pekerjaan dan tanggung jawabnya dulu berbeda dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya saat ini.


Namun Rangga memang memiliki bakat bisnis yang baik yang diturunkan dari tuan Angga membuatnya tidak begitu kesulitan dalam menghandle perusahaan raksasa milik keluarganya.


Selain itu Ia juga berusaha bekerja dengan sangat baik dan profesional seperti apa yang dinasehatkan tuan Angga kepadanya tempo hari.


"Thanks Yon, Lo emang the best. Lo juga diminum tehnya". Ucapnya dengan tubuh yang sudah tegak dari sandaran kursi, tangannya menjangkau secangkir teh hijau yang ada dihadapannya lalu menyesapnya perlahan.


Seketika pikiran Rangga merasa sedikit rileks, ia juga mulai memakan potongan demi potongan buah yang ada di atas piring.


Leon ikut bergabung dengannya duduk berdampingan di sofa sambil menyesap teh hijau miliknya.


------


Nabila terlihat gelisah, berkali kali matanya melirik ke arah jam tangan yang melingkar indah di tangannya.


Sudah hampir 20 menit berlalu ia berdiri di depan tokonya yang kini sudah tertutup rapat namun pak Kasim supir kantor yang ditugaskan menjemputnya tak kunjung datang.


Gadis itu menajamkan pandangannya melihat ke seberang jalan, ada mobil misterius yang sejak 3 hari lalu mengikutinya kini terparkir di sebrang jalan tepat di depan toko Nabila. Ya Nabila tidak salah melihat itu memang mobil misterius itu.


Seketika tubuh Nabila gemetar merasakan takut yang kini menyergap dirinya dan menjalar di sekujur tubuhnya.


Nabila mencoba mengalihkannya dengan bermain ponsel namun Ia masih saja tidak bisa menghilangkan ketakutan itu.


"Ck, kemana pak Kasim kenapa belum datang juga!!". Gerutunya , matanya berkali kali melirik mobil misterius itu yang masih terparkir di seberang sana.


Langit juga sudah mendung, awan awan yang berarak sudah menghitam pekat seperti tidak tahan lagi hendak menumpahkan air hujan yang di tampungnya, membuat gadis itu semakin gelisah.


"Aku pesan ojek online saja deh". Ucap Nabila sambil mencari cari aplikasi ojek online pada ponselnya.

__ADS_1


Jika menunggu disana semakin lama ia akan semakin merasa takut, Nabila benar benar ingin segera sampai rumah dan mengunci pintu rapat toh biasanya juga mobil itu hanya mengikutinya saja tanpa menampakkan batang hidung sang pemilik ataupun sang pengemudinya.


Suara deru mobil kian dekat terdengar di telinga Nabila yang tengah fokus dengan ponselnya, diliriknya mobil yang kini baru saja berhenti tepat di depan tokonya.


Senyum sumringah tergambar jelas diraut wajah Nabilaa saat pak Kasim turun dari kemudi, ia mengurungkan niatnya untuk memesan ojek online, segera memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang yang melekat di tubuhnya.


"Maaf nona saya terlambat, tadi isi bensin dulu". Pak Kasim membungkukkan badannya memberi hormat sekaligus meminta maaf atas keterlambatannya.


"Tidak apa apa pak, mari". Nabila segera memasuki mobil setelah pak Kasim membukakan pintu mobil untuknya.


"Terimakasih pak". Nabila tersenyum, rasa takut itu masih ada namun Ia mencoba mengabaikannya, Ia harap bisa cepat sampai di rumah agar mobil itu tak lagi mengikutinya.


Pak Kasim segera menginjak pedal gas perlahan meninggalkan toko milik Nabila, laki laki paruh baya itu sama gelisahnya dengan Nabila, pasalnya ini hari ke tiga mobil misterius itu mengikuti mereka.


"Nona, apa sebaiknya kita laporkan saja kejadian ini kepada tuan muda". Pak Kasim mencoba membujuk kembali Nabila, beliau sendiri merasa khawatir dengan keselamatan Nabila yang sepertinya dalam bahaya.


"Sebaiknya jangan dulu pak, aku tidak mau membuat mas Rangga khawatir". Jawaban yang sama yang di dapatkan laki laki berkumis tebal itu. Pak Kasim hanya menghela nafas berat, jika terjadi sesuatu dengan Nabia tentu dialah orang yang pertama di salahkan, tidak bisa dibayangkan bagaimana marahnya tuan mudanya jika hal itu terjadi.


Perjalanan menuju rumah Nabila terasa singkat saat pikiran Nabila berlarian kesana kemari, membuatnya tidak menyadari ketika pak Kasim berusaha memberitahunya.


"Sudah sampai nona". Pak Kasim membuka pintu mobil, namun Nabila terlihat termenung.


"Nona". Nabila masih diam.


"Nona Nabila kita sudah sampai". Pak Kasim sedikit menaikkan volume suaranya membuat Nabila tersentak dari lamunannya.


Nabila melirik mobil misterius itu lalu dengan langkah cepat Ia masuk ke dalam rumahnya.


"Syukurlah akhirnya sampai rumah juga". Nabila menyandarkan tubuhnya di pintu dengan nafas terengah engah dengan tangan memegangi jantungnya yang berdetak lebih cepat, Ia benar benar ketakutan.


Saat Nabila hendak melangkahkan kakinya menuju kamar, tiba tiba ada suara ketukan pintu membuatnya menghentikan langkahnya. Tubuhnya tiba tiba gemetar jantungnya makin berdegup kencang, ada apa ini?.


Tok..


Tok..


Tok..


Nabila balik badan, menghampiri jendela yang tertutupi tirai berwarna coklat tua. Nabila mengintip mencari tahu siapa yang datang ke rumahnya itu.


Nabila menutup mulutnya yang terbuka, netranya membeliak saat melihat 3 orang laki laki berbadan besar dan berambut gondrong, ada juga yang wajahnya dipenuhi bulu bulu lebat disekitar dagunya, brewokan membuat Nabila bergidik ngeri melihatnya.


Segera ditutupnya tirai coklat yang sempat dibukanya sidikit, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya memucat Ia benar benar takut, semenjak kejadian pelecahan di pesta tuan Raymond Nabila jadi parno jika melihat laki laki asing mendekatinya, terlebih ini 3 orang laki laki asing.

__ADS_1


Tok..


Tok..


Tok..


Pintu kembali diketuk, kali ini sangat kuat bahkan terdengar seperti gedoran.


Nabila menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, beberapa kali Ia lakukan seperti itu hingga Ia bisa sedikit mengontrol rasa rakutnya.


Dibuka nya pintu dengan tangan yang masih gemetar, dengan ragu Nabila mendongak menatap ketiga laki laki berbadan besar itu, nampaklah 3 wajah seram dihadapan Nabila membuat gadis itu lagi lagi bergidik ngeri.


"Ma..maaf ada perlu apa ya?". Tanyanya terbata.


"Kamu Nabila kan?!". Tanya laki laki brewok dengan ketusnya.


"I..Iya..sa..saya Nabila, ada apa ya?". Nabila mencoba menguasai dirinya agar tidak terlihat ketakutan namun percuma dari cara bicaranya saja ketiga laki laki itu bisa melihat ketakutan yang begitu besar dari gadis itu.


"Kamu harus ikut kami, karena pamanmu sudah menjualmu pada madam Karla bos kami!!". Seru laki laki berambut gondrong itu berusaha meraih tangan Nabila.


Dengan sigap Nabila memundurkan tubuhnya menjauh, dirinya terkesiap atas pernyataan laki laki itu. Johan menjualnya?, Apa dia tidak salah dengar?, Kenapa pamannya itu bisa setega itu padanya, apakah selama ini masih belum cukup membuatnya menderita.


Air mata Nabila mengalir begitu saja, rasa takutnya kian menjadi jadi saat ketiga laki laki itu mendekatinya dan hendak menyeretnya.


Dengan langkah gemetar Ia berusaha melarikan diri dari sana, tapi percuma saja lawannya tiga laki laki berbadan besar sudah jelas Ia akan kalah.


Nabila berlari dengan cepat keluar dari rumahnya, meskipun tubuhnya bergetar hebat ia tidak peduli ia tatap harus lari darisana.


Ketiga laki laki itu dengan cepat ikut berlari mengejar Nabila, dan berhasil mengepungnya hingga membuat gadis itu tak bisa lari lagi, tubuhny terasa sangat lemas seperti tak mampu lagi menopang tubuhnya, dirinya mau dijual kepada orang asing yang tidak pernah ia kenal, mendengar namanya saja tidak pernah.


Nabila hanya bisa menangis meraung raung saat ketiga laki laki itu berhasil menangkapnya dan membawabya masuk ke dalam mobil. Memberontak hanya akan membuatnya kehilangan tenaga saja, melawan tiga laki laki berperawakan besar seperti hal yang mustahil dilakukan apalagi kondisi saat ini Nabila sudah lemah tak berdaya.


"Ya Tuhan tolong aku, tolong aku". Batinnya menangis meminta pertolongan Tuhannya.


Nabila dimasukkan paksa kedalam kursi penumpang di belakang dengan kedua laki laki berambut gondrong di kedua sisi Nabila, membuatnya duduk terhimpit di tengah.


Kini laki laki brewokan melajukan mobilnya meninggalkan komplek rumah Nabila.


"Aku mau di bawa kemana, Ya Tuhan tolong aku". Nabila menangis pilu, batinnya menjerit meminta pertolongan.


Tubuhnya kian melemas, nafasnya terasa sesak terlebih dirinya duduk diantara dua laki laki berbadan besar membuatnya tidak memiliki ruang gerak.


Jederrrr.....!!! Suara gledek menggema bebarengan dengan hujan yang turun dengan sangat deras, namun tak menghentikan mobil yang kini masih melaju dengan cepat.

__ADS_1


Nabila terus saja merapalkan doa doa yang Ia bisa, berharap ada keajaiban atau ada dewa penolong yang akan menolongnya, Nabila masih terisak air matanya tak hentinya mengalir, gadis itu tidak bisa membayangkan apa jadinya jika ia benar benar dijual, dijual untuk apa?, Untuk dijadikan apa?, hancur sudah harapan dan impian Nabila yang belum sempat terwujud.


"Mas Rangga, tolong aku". Lirihnya sambil mengusap kedua pipinya yang terus saja basah karena air matanya.


__ADS_2