
Nabila dan Rangga tidur begitu pulasnya setelah melewati malam panjang mereka, melewati malam pengantin yang sempat tertunda.
Nabila terbangun dari tidurnya saat alarm dari jam weker yang berada di atas nakas berbunyi, Nabila memang sengaja mensettingnya pada pukul 04.30 untuk membangunkannya sholat subuh.
Nabila beranjak duduk dari tidurnya sambil mengerjapkan matanya berkali kali menyusuaikan pandangannya dengan lampu kamar yang temaram.
Nabila mendesis saat rasa sakit dan perih di bagian pangkal pahanya mulai terasa, Nabila tersentak melihat tubuh polosnya hampir saja ia beteriak jika tidak mengingat aktivitas panasnya dengan Rangga semalam.
Nabila melirik Rangga masih tertidur pulas dengan tubuh polos sama dengan dirinya hanya ditutupi selimut tebal yang menghangatkan tubuhnya.
Nabila hendak turun dari tempat tidur namun terhenti karena rasa sakit dan perih dibawah sana.
"Ssshhhh, sakit sekali". Nabila mendesis.
Rupanya hal itu membangunkan Rangga dari tidurnya.
"Kamu mau kemana sayang?". Tutur Rangga yang melihat Nabila hendak turun dari tempat tidurnya.
"Aku mau mandi mas, mau sholat subuh". Ucap Nabila.
"Biar ku bantu sayang". Rangga turun dari tempat tidurnya lalu menggendong tubuh polos Nabila menuju kamar mandi.
"Turunkan aku mas, aku bisa jalan sendiri!". Nabila meronta, mengayun ayunkan kedua kakinya minta diturunkan.
"Sayang buat jalan kamu pasti sakit, jadi biar aku yang menjadi kakimu untuk sementara waktu". Rangga mengecup kening Nabila yang berada dalam gendongannya.
Akhirnya Nabila menuruti apa yang dibilang suaminya itu, membiarkan Rangga menggendongnya hingga ke kamar mandi.
Ritual mandi yang harusnya bisa diselesaikan dengan cepat kini menjadi lama, karena sepasang pengantin baru itu kembali melanjutkan percintaan mereka di dalam kamar mandi.
Setelah selesai dengan aktivitas mandinya Nabila dan Rangga melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim, sholat subuh berjamaah membuat mereka terlihat lebih tenang dan bersemangat.
Rangga kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur untuk melanjutkan tidurnya, matanya masih ingin terpejam membangun mimpi dan enggan untuk membuka mata.
Sementara Nabila, gadis itu memutuskan untuk menyelesaikan tugas kuliahnya yang masih belum selesai karena untuk berjalan kesana kemari masih terasa sakit di bagian bawah sana.
Pagi pagi begini biasanya Nabila akan memasak untuk sarapan dan makan siang dirinya dan Aditya sewaktu di rumahanya dulu tapi kini berbeda semua makanan yang disediakan di kediaman Pramudita dimana rumah yang ia tinggali sekarang akan dimasak langsung oleh chef profesional, jadi Nabila tak repot repot memasak dan menyiapkannya.
Setelah satu jam lamanya Nabila berkutat dengan tugas kuliahnya kini ia mulai menutup laptopnya merapikannya dan menyimpannya di meja kerja Rangga.
Nabila berjalan pelan menuju balkon kamar, sudah satu minggu ia tinggal di rumah ini namun ia belum sempat melihat balkon kamar Rangga, apa pemandangannya sama indahnya dengan pemandangan saat dirinya lihat dari baklon apartemen milik Rangga?, Nabila menggeser pintu yang terbuat dari kaca transparan itu dan Wow pemandangannya tak kalah menakjubkan dari balkon apartemen milik Rangga.
Pemandangan yang bisa melihat indahnya halaman belakang kediaman Pramudita, halaman yang di dominasi warna hijau berkat suburnya semua tanaman yang ada disana, rumput jihau membentang luas, dari balkon kamar itu juga ada anak tangga yang langsung menghubungkannya turun ke halaman belakang.
Disisi lain balkon, bisa menikmati pemandangan indah ibu kota, tepatnya pemandangan sekitar komplek perumahan elite kediaman Pramudita berada.
Dari atas sana Nabila bisa merasakan tiupan angin yang berhembus menyejukkan udara di pagi hari, Nabila merentangkan tangan, mengadahkan wajahnya ke atas sambil memejamkan matanya menghirup udara dalam dalam dan membuangnya perlahan.
Nabila tersentak saat tangan seseorang melingkar diperutnya.
"Kamu sudah bangun mas?".
"Kamu meninggalkanku!". Tutur Rangga sambil memeluk erat Nabila dan menelesupkan wajahnya di ceruk leher Nabila.
__ADS_1
"Aku kan ngga kemana mana mas, aku disini menikmati udara segar di pagi hari". Tangan Nabila ikut menempel diatas tangan Rangga yang melingkar di perutnya.
"Buruan mandi, setelah itu sarapan aku mau ke toko hari ini".
"Sayang ini kan hari Minggu, aku mau kita menikmati hari ini di dalam kamar saja". Tutur Rangga semakin mengeratkan pelukannya.
"Maksudnya?". Nabila gagal mencerna ucapan Rangga.
Rangga membalikkan tubuh Nabila hingga membuat posisi mereka saling berhadapan.
"Hari ini kita ngga akan keluar kamar sayang, kita akan bekerja keras melanjutkan yang semalam". Tutur Rangga sambil cengengesan, menaik turunkan alisnya.
"Bekerja keras apa?!, pagi pagi sudah omes!". Nabila mencubit perut Rangga hingga suaminya itu meringis kesakitan.
"Ampun...ampun..sayang". Rangga memiringkan tubuhnya meringis sambil mengangkat kedua tangannya.
"Makanya jangan omes". Nabila mencebik.
"Apa masih sakit yank?". Tanya Rangga sorot matanya menunjuk sesuatu milik Nabila.
Membuat Nabila jadi malu dan salah tingkah.
"Sayang, apa masih sakit?". Tanyanya lagi.
"Sedikit". Tutur Nabila sambil mengalihkan pandangannya menghindar dari tatapan suaminya itu.
"Maaf ya sayang". Rangga mencium puncak kepala Nabila lembut.
"Sayang sebenarnya aku pengen hari ini ngga keluar kamar tapi karena kamu masih sakit, baiklah aku ngga akan memaksa". Ujar Rangga sambil melenggang pergi masuk ke dalam kamar.
Nabila menggeleng gelengkan kepalanya sambil melipat tangan di dada menatap punggung Rangga yang sudah mulai menghilang di balik pintu geser berbahan kaca itu.
Rangga dan Nabila baru saja menuruni tangga, sementara tuan Angga, nyonya Rani serta Rania sudah menunggu Rangga dan Nabila di meja makan hal itu membuat Nabila merasa tidak enak.
Lain halnya dengan Rangga, suaminya itu justru biasa biasa saja malah sekarang sedang tersenyum bahagia, entah apa yang membuatnya sebahagia itu hari ini Nabila tidak tahu.
"Kalian kenapa lama sekali!, aku sudah sangat lapar!". Rania mencebik.
"Maaf kan kami Pa, ma , dek". Ucap Nabila sambil menarik kursi lalu mendaratkan tubuhnya disana.
"Kamu memang ngga pengertian, adik macam apa kamu dek?, kita kan pengantin baru wajar dong kita lama keluar dari kamarnya!". Seru Rangga sambil tersenyum.
"Aaaa mas Rangga kenapa ngomong begitu". Wajah Nabila memerah menahan malu.
"Iya kan sayang?". Tanyanya sambil menoleh ke arah Nabila yang sudah ingin menghilang dari sana.
"Sepertinya kalian sudah mulai program membuatkan cucu untuk mama dan papa". Tutur nyonya Rani sambil terkekeh.
"Ya ampuunn mama, aku jadi semakin ingin menghilang dari sini". Batin Nabila.
Nabila lebih memilih menundukkan kepalanya, mulai memotong beef sandwich dengan baluran saus keju dan mayones serta sayur segar sebagai pelengkapnya.
__ADS_1
"Hehehe". Rangga hanya terkekeh saja.
"Sudah cepat habiskan sarapan kalian". Tutur tuan Angga.
Setelah sarapan Nabila dan Rangga kembali ke kamar mereka, hari ini Nabila tidak dijinkan pergi ke toko oleh Rangga karena Rangga ingin menghabiskan hari liburnya bersama Nabila.
Tok..
Tok..
Tok..
"Kakak ipar, kakak.. kakak ipar.. !".
Terdengar suara ketukan dan teriakan dari balik pintu kamar saat Rangga hendak mencium bibir istrinya, membuatnya tak berhenti mengumpat.
Nabila hanya terkikik melihat suaminya yang berjalan hendak membukakan pintu sambil bersungut sungut.
Ceklek.. Rangga membuka pintu dengan wajah yang nampak kesal.
Setelah pintu terbuka tampaklah Rania sedang berdiri dengan wajah tak berdosanya dia berkata "Kakak kenapa?".
"Kamu yang kenapa?, ganggu orang saja". Sungutnya.
Rania tak menghiraukan kakaknya yang masih terlihat kesal yang entah apa alasannya dirinya tak mau tahu, Rania nyelonong masuk ke kamar Rangga, menabrak tubuh tegap sang kakak.
"Mana kakak ipar?", Kakak ipar..!!". Seru Rania menerobos tubuh tegap Rangga yang masih begeming di depan pintu.
"Ada apa dek?". Sahut Nabila yang sudah beralih tempat duduk, kini ia duduk di sofa. Malu rasanya jika Rania sampai tahu kalau sebelumnya dirinya dan Rangga hendak memulai percintaan mereka di tempat tidur.
"Kakak ipar ayo temani aku shoping dan perawatan". Rania duduk di samping Nabila.
"Tidak boleh!". Sahut Rangga, berjalan menghampiri Nabila dan Rania setelah dirinya menutup pintu kamar.
"Apaansih kak, aku kan ngga ngajak kakak". Rania menoleh ke arah Rangga yang berdiri di depan dirinya dan Nabila.
"Jangan ganggu kakak iparmu, pergi saja sama teman teman kamu".
"Aku maunya sama kakak ipar!".
"Tapi kakak ngga ngijinin kakak iparmu pergi, sudah sana keluar". Rangga menarik Rania menyuruhnya keluar, (menariknya pelan ya tak sampai menyakitinya).
"Memangnya kakak mau apa sih?, ini kan hari Minggu biasanya kakak juga ngegym, sudah sana ngegym saja". Rania melepaskan tangan Rangga yang masih menarik narik tangannya.
"Sudah sudah jangan berantem lagi". Nabila beranjak dari duduknya.
"Mas, ijinin aku nemenin Rania ya aku juga bosan kalau harus dirumah terus". Lanjutnya.
Rania yang mendengarnya tersenyum puas, sementara Rangga bersungut sungut ingin rasanya mengumpati kedua wanita itu.
Bagaimana tidak, dirinya sudah berada dalam gairah yang hampir meledak tadi sebelum Rania datang mengacaukannya, kini ia harus membiarkan hasratnya tak tersalurkan. Sungguh menyebalkan.
"Ya sudah tapi jangan lama lama kalian perginya". Ucap Rangga, dia tidak punya pilihan lain selain mengijinkan adik dan istrinya itu pergi. Rangga tidak mau melihat kedua wanita yang disayanginya kecewa.
__ADS_1