
Tak lama kemudian Nabila sudah berada di ruangan Rangga, ia mulai membuka satu per satu kantong plastik yang berisi makanan yang baru saja di belinya.
Nabila duduk di sofa sambil menikmati satu cup besar es krim gelato dengan taburan coklat dan kacang almond di atasnya.
"Sayang kamu tunggu disini dulu saja ya, aku ada meeting dengan klien. Kalau mau ke kamar mandi masuk saja ke kamar itu," Rangga menunjuk ruangan yang ia jadikan tempat istirahatnya itu.
"Iya mas," sahutnya masih asyik menikmati es krim miliknya.
Rangga mendekati Nabila duduk di sampingnya.
"Kamu tidak mau membaginya denganku?" Tanya Rangga.
"Hehehe, kamu mau mas? Aku sua...Mmmmphh," Belum selesai Nabila dengan ucapannya Rangga sudah menyatukan bibir mereka berdua.
Setelah beberapa saat kemudian Rangga melepas pagutannya, "Aku maunya langsung dari bibir kamu sayang," ujarnya sambil mengusap bibir Nabila dari sisa salivanya yang menempel disana.
"Sudah sana katanya mau meeting," ujar Nabila sambil melanjutkan memakan es krimnya.
Rangga beranjak dari duduknya, namun tiba tiba Nabila menahannya, "Mas, kamu belum makan siang tadi, duduklah biar aku suapin cake coklat," Nabila meletakkan cup es krim miliknya dan mulai membuka bungkusan yang berisi cake coklat.
Rangga pun menurut saja, kembali duduk dan membiarkan Nabila menyuapi cake coklat hingga habis dua potong.
"Sudah, aku sudah kenyang," ujar Rangga ia beridiri berjalan menuju meja kerja. Mengambil gelas berkaki yang berisi air putih miliknya.
Meneguknya hingga habis, bersamaan dengan itu Leon memasuki ruangan Rangga setelah beberapa saat mengetuk pintunya.
"Tuan muda, apa meetingnya bisa dimulai sekarang? Semua staf sudah menunggu," tuturnya setelah menganggukkan kepalanya memberi hormat.
"Baiklah, ayo kita mulai sekarang," ujarnya.
Sebelum Rangga meninggalkan ruangannya, ia mengecup kening Nabila sekilas, "Kamu jangan kemana mana ya, tunggu sampai aku kembali," ujar Rangga.
"Iya sudah cepat sana, kasian mereka nunggu kamu lama," sahut Nabila.
__ADS_1
Rangga tersenyum lalu, ia berjalan mundur menuju pintu keluar. Rasanya ia sangat berat meninggalkan istrinya yang terlihat begitu menggemaskan saat menikmati es krimya.
Nabila sudah menghabiskan satu cup es krim miliknya, rasanya perutnya sudah tidak bisa menampung makanan lagi.
Ia melihat di meja masih ada 3 cup besar es krim, beberapa potong kue dan satu box donat, karena tidak mungkin ia habiskan semua itu ia berinisiatif membagi makanan itu kepada Rania dan keryawan yang lainnya.
Nabila memyimpan beberapa potong cake dan satu cup es krim untuk Rangga.
Nabila keluar dari ruangan Rangga di lantai itu terlihat sangat sepi karena sepertinya semua staf ikut meeting dengan Rangga termasuk juga Rania, Nabila berjalan menyusuri koridor menaiki lift untuk turun ke lantai 14 sepertinya disana akan banyak karyawan Nabila berpikir untuk membagikan makanan itu kepada mereka saja.
Nabila disapa begitu hangat oleh para karyawan saat Nabila sudah berada dekat kubikel mereka.
Nabila menyerahkan beberapa kantong yang berisi makanan miliknya itu kepada mereka, mereka menerimanya dengan senang, tentu saja mendapat makanan untuk menemani kerja keras mereka itu merupakan suatu keberuntungan bagi mereka.
"Ini saya ada sedikit makanan, tadi saya membelinya terlalu banyak. Kalau kalian mau, ambil dan bagikan sama yang lain," tutur Nabila kepada dua orang karyawan perempuan yang kini berdiri di dalam kubikelnya, ya mereka berdua berdiri dan memberi hormat saat mereka tahu Nabila sedang berjalan ke arah kubikel mereka.
"Terimakasih nona Nabila," sahut salah satu dari mereka sambil tersenyum, menerima beberapa kantong yang diberikan Nabila kepada mereka.
"Iya sama sama," Nabila berlalu meninggalkan mereka yang mulai membagi bagikan makanan pada teman temannya yang satu deretan dengan kubikel mereka.
Nabila berkali kali menguap, rasa kantuk yang tak tertahankan membuatnya tertidur di sofa dengan posisi duduk sambil menyandar di sandaran sofa.
***
Nabila dan Rangga sudah terlelap dalam tidurnya dari beberapa jam yang lalu setelah melakukan aktivitas malamnya kini mereka tidur sambil berpelukan dengan tubuh yang masih polos dan terbalut selimut tebal.
Nabila terbangun dari tidurnya saat hasrat ingin buang air kecilnya tiba tiba menyeruak tak tertahankan. Nabila berlari ke kamar mandi setelah memakai kembali baju tidur miliknya yang teronggok di lantai karena ulah Rangga beberapa jam yang lalu.
Setelah menyelesaikan hajatnya Nabila kembali merebahkan tubuhnya di samping Rangga, mencoba memejamkan matanya untuk melanjutkan mimpi yang sempat terputus.
Namun sial, Nabila tak bisa memejamkan matanya kembali, tiba tiba saja ia ingin sekali memakan rujak buah, potongan buah segar dengan saus kacang membuat salivanya mengalir hampir jatuh dari mulutnya.
Rasa asam memenuhi mulutnya, bayangan rujak buah yang sangat lezat itu menari nari di depan matanya membuat Nabila tak bisa memejamkan matanya kembali.
__ADS_1
Nabila melirik Rangga yang tidur di sampingnya, tidur dengan begitu pulas membuatnya tak tega untuk membangunkannya.
Nabila membolak balikkan tubuhnya gelisah sambil terus mencoba memejamkan matanya namun tak berhasil juga.
Rangga yang merasa istrinya itu tidur dengan gelisah membuka matanya, "Sayang kamu kenapa?" Tanyanya, memiringkan tubuhnya menghadap Nabila yang memunggunginya.
Nabila membalikkan tubuhnya menghadap Rangga, "Maaf mas, kamu jadi terbangun gara gara aku," tuturnya.
"Tidak apa apa, memangnya kamu kenapa, heum? Kamu lapar? atau kamu sakit?" Rangga menempelkan punggung tangannya di kening Nabila. Degan cepat Nabila menggeleng.
"Lalu?" Tanya Rangga lagi.
Nabila mengigit bibir bawahnya merasa ragu ingin mengatakannya, "Aku...Aku.."
"Mau lagi?" Potong Rangga sambil tersenyum usil.
"Isshhh, mulai deh mesum!" Sungut Nabila.
Rangga tertawa "Lalu, kamu kenapa?"
"Mas, aku aku pengen makan rujak buah?" Ujar Nabila terbata, bibirnya mencecap membayangkan rujak buah yang begitu nikmat.
Sekarang?" Rangga mengernyitkan dahinya. Nabila mengangguk membuat mata Rangga membulat sempurna.
Rangga melirik jam dinding di kamarnya, sudah pukul satu dini hari, mau nyari rujak buah dimana. Ada ada saja, pikirnya.
"Besok ya sayang aku belikan, bila perlu satu gerobak," ujarnya sambil menepuk nepuk pelan kepala Nabila.
"Aku maunya sekarang mas," rengek Nabila membuat Rangga terlonjak duduk.
"Sayang ini sudah pukul satu, mau nyari rujak buah dimana?. Besok ya aku janji kamu bisa makan sepuasnya," tuturnya mata Rangga sudah kembali terpejam.
"Aku maunya sekarang, hikks," rengeknya sambil menangis.
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis?" Rangga kembali membuka matanya, menopang kepalanya dengan tangan sambil menatap Nabila dengan posisi tubuh miring.
"Kamu jahat mas hikks, kamu ngga mau beliin aku rujak buah hikks," ujarnya sambil menangis.