Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Eoiside 61 Jatuh Cinta pada Pandangan pertama


__ADS_3

Rania sedang bercanda tawa dengan kedua orang temannya di sebuah cafe, entah sudah berapa lama ia berada di cafe namun tak jua membuatnya bosan, temu kangen dengan kedua sahabatnya membuatnya enggan untuk meninggalkan kafe.


Suara cekikikan Rania dan teman temannya menggema di seluruh penjuru cafe hingga membuat beberapa pengunjung cafe mengalihkan pandangannya kepada ketiga gadis itu.


Termasuk juga dengan pemuda tampan yang nampak tengah mengobrol di sudut cafe dengan lawan bicaranya, ia merasa terganggu dengan gelak tawa mereka yang memekakan sluruh penjuru cafe, namun pemuda itu memilih acuh urusan hatinya jauh lebih penting daripada tawa cewek cewek alay itu, begitu pikirnya.


Pemuda tampan yang beberapa hari ini terlihat begitu sedih, penampilan yang begitu kacau rambut rambut halus tumbuh subur di area wajahnya yang tampan, ia tidak punya waktu untuk mengurus dirinya waktunya hanya ia habiskan untuk meratapi kisah cintanya yang menyedihkan.


Rendy menyesap caramel macchiato miliknya lalu kembali mengobrol dengan sepupunya, pemuda itu adalah Rendy seorang sad boy yang akan ditinggal menikah wanita pujaannya, huhhu menyedihkan ya..


Setelah beberapa saat kedua teman Rania pulang lebih dulu karena ada sesuatu hal, Rania berjalan gontai menuju arah kasir, mata cowok cowok nakal kini tak luput memandanginya, terdengar juga suara siulan dan rayuan yang menggoda Rania disana sini namun gadis itu memilih tak menghiraukannya, baginya sudah biasa dengan tatapan para lelaki yang terpesona akan dirinya.


Saat Rania hendak membayar bill nya, sial ia tak menemukan dompetnya di dalam tas, ahh ternyata ia lupa membawa dompet, bagaimana ini?, tagihannya tidak lah murah karena cafe ini adalah cafe yang sangat populer di Jakarta tentu saja semua yang dijual disini tidak murah.


Rania bingung harus berbuat apa, ia semakin panik saat melihat sudah ada dua orang di belakangnya untuk membayar tagihan mereka.


Rania menebalkan mukanya mencoba bernegoisasi dengan pegawai kasirnya, meminta untuk memberikan waktu kepadanya untuk mengambil dompetnya yang tertinggal, tentu saja pegawai itu menolaknya, bagaimana jika Rania sampai kabur justru dia yang akan terkena masalah, begitu pikir pegawai kasir itu.


Setelah perdebatan yang cukup panjang dan antrian kasir yang sudah mulai mengular membuat pegawai itu memutuskan untuk menyerahkan Rania kepada manager cafe.


"Mbak tolonglah, aku ngga bohong dompetku ketinggalan aku janji aku akan datang lagi nanti untuk membayarnya". Ucap Rania dengan kesal, sepertinya pegawai itu tidak tahu siapa dirinya bisa bisanya dia mengira dirinya akan kabur dan tidak mau membayar.


"Sebentar nona saya akan panggilkan manager cafe, nanti nona bicara saja dengannya". Pegawai itu hendak pergi dari tempatnya berdiri namun ia urungkan saat seorang pemuda tiba tiba mencampuri perdebatan mereka.


"Maaf saya ikut campur, sebenarnya ini ada apa?, Bisakah kalian menyelesaikan perdebatan kalian setelah antrian panjang ini lenyap, lihatlah dibelakang sudah panjang". Rendy menunjuk antrian di belakang Rania yang sudah memanjang.


Rania terpana dengan pemuda yang berada di depannya, ia tertegun melihat Rendy yang begitu mempesona dimatanya, ada senyuman di wajah Rania ia tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya pada pemuda di hadapannya yang baru pertama ia jumpai itu.


Pegawai kasir itu menceritakan duduk permasalahannya kepada Rendy, tanpa berpikir panjang Rendy segera mengeluarkan dompet dari saku celana jeans yang ia kenakan, mengeluarkan beberapa lembar uang lalu memberikannya kepada pegawai kasir untuk membayar tagihan milik Rania dan dirinya.


Sedangkan Rania, gadis itu masih sibuk memandangi wajah Rendy, menyusuri setiap inci wajah yang sudah membuatnya terpana dan tak bisa mengalihkan pandangannya.


Setelah membayar tagihan miliknya dan milik Rania, Rendy berlalu pergi tanpa menghiraukan Rania yang masih menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan olehnya.


Menyadari hal itu Rania dengan cepat berlari menyusul Rendy dan sepupunya yang sudah di ambang pintu cafe.


"Hey, tunggu tuan". Teriaknya sambil lari tergopoh gopoh menyusul Rendy dan sepupunya.

__ADS_1


Rendy dan sepupunya menghentikan langkahnya.


"Ada apa?". Tanya Rendy dingin.


"Aku hanya ingin berterima kasih kepadamu sudah mau membantuku". Rania tersenyum hangat, berharap Rendy akan membalas senyumnya, namun naas pemuda itu malah mengacuhkannya.


"Namaku Rania". Tuturnya sambil mengulurkan tangan dan memasang senyum penuh pesona andalannya untuk menaklukan cowok.


"Rendy". Sahut Rendy cepat, lalu ia kembali melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Rania yang masih ingin berbicara dengannya.


"Hey, tuan bolehkan aku minta nomer ponselmu, aku akan mengganti uang mu lain waktu". Seru Rania sambil kembali berjalan cepat menyusul Rendy.


"Itu tidak perlu nona". Rendy menoleh ke arah Rania lalu kembali melanjutkan langkahnya keluar dari cafe.


"Siall, kenapa dia dingin sekali bahkan dia tidak tertarik denganku, dengan senyuman mematikanku tadi juga ngga mempan". Rania mendengus kesal, menghentakkan satu kakinya di lantai hingga terdengar suara gaduh.


Rania memutuskan untuk pulang ke rumah, sepanjang perjalanan pikirannya dipenuhi oleh wajah Rendy yang sudah memikat hatinya pada pandangan pertama.


Rania senyum senyum sendiri membayangkan wajah Rendy.


"Tapi tunggu deh, wajahnya terlihat begitu sedih. Apa dia mempunyai masalah yang berat". Gumam Rania sambil mengingat wajah Rendy yang terlihat sendu kala itu.


Seumur umur baru kali ini ia merasakan berbunga bunga saat bertemu dengan laki laki, merasakan ketertarikannya pada pandangan pertama padahal ia menjadi salah satu incaran para eksekutif muda di Amrik sana, teman kuliahnya juga banyak yang menaruh hati dan mengejar ngejarnya, kalau ditanya soal tampan? sudah pasti mereka tampan tapi entahlah Rania malah tidak tertarik sama sekali.


Sedangkan Rendy juga sama, terlintas bayangan cewek alay yang baru saja ditemuinya, ya menurutnya Rania adalah cewek alay yang hanya bisa bergaya namun tak memiliki uang buktinya buat bayar tagihannya saja ia tidak bisa malah beralasan dompet ketinggalan, cihh alasan klasik sungguh memalukan sekali cewek alay itu, begitu pikirnya.


Tapi sebentar, Rendy serasa tidak asing dengan wajah cewek alay itu, namanya pun seperti ia pernah mendengarnya.


Apa mereka pernah bertemu sebelumnya?, Ahh Rendy tidak punya waktu untuk memikirkan hal hal seperti itu, yang ada dipikirannya adalah wanita pujaannya yang akan menikah, hiks Rendy kembali murung.


Rania sudah memarkirkan mobilnya, ia berjalan memasuki rumah sambil bersenandung ria, aura bahagia tampak terlihat jelas di wajah cantiknya.


"Haii papa...". Rania memeluk tuan Angga saat mendapati papanya sedang duduk bersantai meminum kopi di ruang tengah.


"Haii sayang, kemarilah". Tuan Angga menepuk sofa disampingnya menyuruh Rania duduk disana.


"Dari mana saja kamu?, baru datang sudah keluyuran". Omel tuan Angga.

__ADS_1


"Rania habis ketemu teman teman Rania pa". Rania duduk di sofa samping tuan Angga lalu kembali memeluk pinggang papanya.


"Rania berpakaianlah yang benar!". Tutur tuan Angga tiba tiba penuh penekanan, merasa risih melihat baju putrinya yang sedikit terbuka itu.


Rania memang memakai crop top shirts yang menampakkan pusernya dipadukan dengan celana jeans ketat berwarna hitam.


"Ini Rania sudah tertutup pa". Kesal Rania.


"Tertutup dari mana?, Pusermu saja kelihatan seperti itu!". Tegas tuan Angga, Rania hanya memutar bola mata sebal.


"Ini bukan Amrik Rania, ini Indonesia". Tuturnya lagi.


"Ihh, papa anak datang jauh jauh dari Amrik malah diomelin terus". Rania melepas pelukannya sambil mencebikkan bibirnya.


"Betul kata papamu sayang, berpakaianlah yang sopan kamu itu perempuan". Timpal nyonya Rani yang baru saja datang membawa sepiring makuta lemon ditangannya.


"Apaan sih mama, malah ikut ikutan". Rania semakin malas mendengar omelan kedua orang tuanya.


Bukankah dia sudah berpakaian sopan pikirnya, ya jika dibanding dengan teman temannya di Amrik Rania sudah tergolong berpakaian tertutup.


Rania berlari meminta pembelaan sang kakak, saat dirinya melihat Rangga baru saja turun dari tangga.


"Kakak, lihatlah mama dan papa memarahiku". Rania berlari memeluk Rangga.


"Makanya kamu jangan bandel!". Seru Rangga sambil mengacak puncak kepala Rania.


"Apaan sih kakak, kalian semua sama saja!". Gerutu Rania, ia berlari menaiki tangga merasa kesal tidak ada yang membelanya.


"Lihat anak itu, selalu seperti itu kalau dinasehati orang tua". Tutur tuan Angga sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Sudah lah pa, nanti mama coba nasehati dia".


"Sekarang coba papa icip, makuta lemon buatan mama". Nyonya Rani menyodorkan sepiring kue buatannya di hadapan suaminya.


Tuan Angga mengambil sepotong kuenya lalu memasukkannya kedalam mulut, makuta lemon memang salah satu kue favorit keluarga Pramudita.


****

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote novel ini ya kakak..


tinggalkan komentar kalian untuk penyemangat author, terimakasih sudah mampir😘😘


__ADS_2