
Rania tidak berani membuka pesan pesan dari Rangga, Rania lebih memilih untuk membaca pesan pesan dari Nabila.
Nabila: "Dek, kamu dimana kenapa jam segini belum pulang?" 12.35
Nabila: "Dek, kenapa tidak angkat telefonku?" 12.37
Nabila: "Dek, kamu tidak apa apa kan?" 01.03
Nabila: "Dek, kakakmu mencarimu kenapa belum pulang juga?" 06.15
Dan masih banyak rentetan pesan lainnya yang tidak berani Rania baca.
Rania mulai berpikir keras, alasan apa yang akan ia katakan kepada Rangga. Kakaknya itu tidak akan percaya begitu saja dengan alasannya, sepertinya keputusan Rania untuk tidak pulang ke rumah saat ini adalah keputusan yang tepat untuk menghindari amukan dari Rangga.
Rendy yang sudah menjalankan mobilnya, menoleh ke arah Rania. Gadis itu terlihat sangat gelisah.
"Kamu benar tidak mau pulang ke rumah?" Tanya Rendy, ekor matanya melirik Rania yang sibuk mengetik pesan di ponselnya.
Rania tak menghiraukan pertanyaan Rendy, ia sibuk membalas pesan Nabila dan mengirimi teman temannya pesan.
Rania akan beralasan kalau dirinya menginap dirumah temannya di Bandung, semoga saja berhasil, begitu pikirnya.
Sesaat kemudian ponsel Rania berdering, ada panggilan masuk dari Nabila. Dengan takut takut ia menerima panggilan masuk itu.
"Hallo kakak ipar," Rania mencoba menetralkan suaranya yang gugup.
"Dek, kamu ini kemana saja tidak pulang semalaman? Aku dan kakakmu sangat mencemaskanmu," Kata Nabila dari seberang sana.
__ADS_1
Rania mengigit bibir bawahnya kuat, "Aku menginap di rumah temanku di Bandung kak, nanti malam akan ada acara barbeque disini," bohong Rania.
"Ini nih kakakmu mau bicara denganmu," ujar Nabila, tak lama kemudian terdengar suara bariton Rangga menggelegar di telinga Rania.
"Dek kamu ini kemana saja!" Pekik Rangga, Rania pun segera menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Aku menginap di rumah temanku di Bandung kak, nanti malam ada acara barbeque disini," sahut Rania dengan jantung yang berdebar, takut kalau Rangga tahu jika dirinya sedang berbohong.
"Kamu tidak sedang berbohong kan Dek?!" tukas Rangga dengan nada penuh selidik.
"Buat apa juga aku bohong kak," tegas Rania, berharap Rangga tidak mencurigainya lagi.
"Kakak akan menyuruh orang untuk mengecekmu ke Bandung," sahut Rangga.
Raia terbelalak, walaupun Rania memang sudah menduga jika Rangga tidak akan percaya begitu saja dengan alasannya tapi Rania tidak menyangka jika Rangga juga akan meyuruh orang suruhannya mengeceknya ke Bandung.
"Ya sudah kamu hati hati disana, awas saja kalau kamu bohongin kakak dek!" seru Rangga membuat Rania merinding.
Rendy melihat Rania begitu terlihat sangat cemas, "Ada apa Ran?" Tanya Rendy.
"Aku tadi terpaksa berbohong sama kak Rangga, aku bilang kalau tadi malam aku menginap di rumah temanku di Bandung, dan kakak bilang dia akan menyuruh orang untuk mengecekku di Bandung," tutur Rania.
"Sepertinya aku harus ke Bandung sekarang," tambahnya.
"Aku akan mengantarmu, bolehkan?" Rania mengangguk.
Rania dan Rendy melakukan perjalanan ke Bandung hari itu juga, Rania sudah mengirimi pesan kepada teman temannya yang tinggal di Bandung untuk mengatakan kalau Rania memang ada di Bandung menginap di salah satu teman perempuannya jika Rangga menghubungi mereka.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Rania dan Rendy hanya terdiam, Rania tertidur sementara Rendy sibuk dengan pikirannya, bagaimana caranya ia mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada Rania, mengingat Rangga sangat membencinya, begitu juga Nabila tentu akan ikut membencinya.
Rendy membangunkan Rania saat sudah sampai di alamat tujuan yang Rania tuju, sebuah rumah yang cukup besar, rumah khas pedesaan yang tampak asri dengan udara yang sangat sejuk.
"Ran, bangun kita sudah sampai," Rendy menepuk pelan pipi Rania, membangunkan gadis itu.
Rania membuka matanya perlahan, melihat Rendy tersenyum kepadanya membuat jantung Rania tiba tiba berdebar.
"Sudah sampai ya, maaf aku ketiduran," ujar Rania.
Rania dan Rendy turun dari mobil mereka sudah di sambut gadis yang kira kira usianya seumuran dengan Rania.
"Haii Ran, ayo masuk," ucap gadis itu.
"Haii Dis, kenalkan ini Rendy temanku, Ren ini Adis temanku," ujar Rania mengenalkan keduanya.
Rendy dan Adis pun berkenalan saling berjabat tangan.
"Ran, aku harus pulang sekarang. Kamu baik baik ya disini," Rendy mengusap lembut kepala Rania sambil tersenyum lembut.
Lagi lagi perlakuan manis Rendy membuat hati Rania meleleh, ingin rasanya Rania egois untuk memiliki laki laki itu dan tak memikirkan perasaan dan cintanya yang bukan untuknya.
Rania mengangguk, tersenyum tipis.
"Ran, kamu buka blokirannya ya agar aku bisa menghubungimu," ucap Rendy berbisik, Rania hanya terdiam.
Rania memang sengaja memblokir nomor Rendy agar pria itu tak bisa menghubungi dirinya, dan dirinya tak lagi berhubungan dengan pria itu, dengan begitu Rania harap bisa melupakan Rendy namun dirinya seolah terperangkap permainan takdir, ia kembali bertemu dengan pria itu bahkan karena kebodohannya ia merelakan kesuciannya terenggut olehnya.
__ADS_1
Rendy pun kembali ke Jakarta dengan memesan taksi online, meninggalkan Rania di Bandung.