Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 36 Salah paham


__ADS_3

Panasnya terik matahari membuat Nabila ingin segera meneguk habis lemon tea ice miliknya, Nabila yang sedang berbincang bincang dengan ke tiga sahabatnya, Lisa , Maya dan Rendy.


Sepulang kuliah mereka mengunjungi toko bunga milik Nabila menghabiskan waktu hingga sore hari, kini mereka berada di lantai atas toko bunga milik Nabila, menonton film sambil bercengkerama ditemani minuman dingin dan 2 kotak pizza.


Sesekali Nabila turun ke bawah membantu Dea dan dua karyawan barunya yang baru bekerja 3 bulan ditokonya.


Nabila, Lisa dan Maya kini tengah duduk di lantai beralaskan karpet menikmati film drama korea kesukaan mereka, sedangkan Rendy tengah tertidur di sofa yang berada di belakang ke tiga gadis itu.


Matahari sudah mulai tenggelam meninggalkan langit yang sudah menjingga, Nabila turun ke bawah untuk membantu para pegawai tokonya bersiap menutup toko.


"De, laporan untuk hari ini sudah kamu selesaikan?". Tanya Nabila kepada Dea yang tengah sibuk merapikan buku yang baru saja Ia catat.


"Sudah mbak, semuanya sudah saya tulis disini". Dea menyerahkan buku laporan mengenai penjualan kepada Nabila.


"Oke, makasi ya De, nanti malam ku cek lagi.


"Apa hari ini ada komplain?".


"Ada mbak, tadi ada customer komplain mengenai keterlambatan pengiriman pesanan".


"Itu saja?". Tanya Nabila Dea pun mengangguk mengiyakan.


"Baiklah besok aku coba ngomong sama kurir nya".


"Ya sudah De, kamu dan yang lainnya boleh pulang sekarang, biar aku yang menutup toko".


"Baiklah kalau begitu kami pamit pulang dulu ya mbak". Ucap Dea dan kedua pegawai barunya bergantian.


"Kalian hati hati ya". Seru Nabila kepada ketiga pegawainya yang sudah hampir keluar dari toko.


"Bil, kamu bangunin Rendy di atas, dia susah banget dibanguni, kali aja kamu yang bangunin langsung bangun". Ucap Maya yang sudah menyerah karena tidak berhasil membangunkan Rendy.


"Ya sudah biar aku saja yang bangunkan". Nabila bergegas menaiki tangga hendak membangunkan Rendy yang masih tertidur di lantai atas.


"Kita tunggu disini ya". Ucap Lisa sambil mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di lantai bawah.


Bersamaan dengan itu ada mobil mewah yang baru saja menepi, dan berhenti. Maya dan Lisa sudah tahu mobil mewah siapa yang kini terparkir di depan toko.


Rangga keluar dari mobil, di temani dengan Leon di belakangnya. Ya mobil mewah itu sudah pasti milik Rangga kekasih dari sahabat mereka.


"Haii, kalian disini?". Sapa Rangga kepada kedua sahabat Nabila yang tengah duduk di sofa.


"Bisa gawat nih urusan kalau Rangga sampe tahu Nabila dan Rendy sedang ada di lantai atas". Gumam Maya


"Aduuhh, bagaimana ini Nabila sedang ada di atas sama Rendy, Rangga pasti akan salah paham". Batin Lisa


"Hai Rangga, Haii Leon". Sapa Maya denga raut wajah dipenuhi kecemasan.


Rangga menyadari dengan tingkah aneh kedua sahabat Nabila, seperti sedang gugup dan menyembunyikan sesuatu.


"Nabila mana?". Tanya Rangga.


"Mmmmm...Na..Na..". Belum sempat Maya menyelesaikan ucapannya.


Terdengar derap langkah kaki menuruni tangga, membuat Rangga dan yang lainnya mengalihkan perhatiannya ke anak tangga.


Terlihat Nabila berjalan menuruni tangga dengan diikuti Rendy di belakangnya, penampilan pria itu sedikit berantakan, rambut nya acak acak khas orang bangun tidur, Rendy terlihat masih sangat mengantuk Ia menuruni tangga dengan malasnya sambil meletakkan kedua tangannya di bahu Nabila, membuat Rangga yang melihat itu mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengetat sorot matanya menghujam tajam menatap Rendy.


"Mas Rangga?, Sudah lama mas?". Tanya Nabila, sepertinya Ia paham dengan tatapan rangga yang tidak ramah, Nabila melihat Rangga tengah menahan amarahnya.

__ADS_1


Rendy yang menyadari itu segera menurunkan tangannya, mata yang sejak tadi sangat sulit di buka kini membeliak dengan sempurna, rasa kantuknya hilang begitu saja.


"Ngapain kalian berdua di atas?". Tanya Rangga penuh selidik.


"Itu...itu..tadi aku habis bangunin Rendy, dia ketiduran di atas saat kita semua nonton film". Jelas Nabila dengan terbata, Ia merasa takut saat melihat Rangga begitu marah.


"Ya Tuhan, sepertinya mas Rangga sudah salah paham". Batin Nabila.


"Iya mas Rangga, tadi siang kita semua nonton film di atas, dan Rendy ketiduran, sebenarnya kita sudah turun tadi tapi karena Rendy belum bangun Nabila naik lagi untuk membangunkannya". Jelas Lisa, semoga


penjelasannya nya bisa meluruskan kesalahahaman ini.


Rangga hanya mendengarkan tak mau memberi komentar, rasa cemburunya sudah terlanjur menjalar membakar hatinya.


"Kalian pulang duluan saja, nanti aku pulang bareng mas Rangga". Ucap Nabila kepada ketiga sahabatnya, biar dia sendiri dan Rangga yang akan meluruskan kesalahpahaman ini, pikirnya.


"Kamu yakin?". Ucap maya kepada Nabila tanpa suara agar tidak di dengar oleh Rangga, namun gerakan mulutnya bisa di pahami gadis itu dan membalasnya dengan anggukan kepala.


Maya merasa takut meninggalkan sahabatnya itu bersama Rangga yang tengah diliputi emosi.


"Ya sudah kalau begitu kita pulang duluan ya". Ucap Lisa sambil cipika cipiki dengan Nabila, begitu juga dengan Maya.


"Apa yang mereka katakan itu benar adanya, jadi lo ngga usah salah paham sama Nabila". Seru Rendy kepada Rangga saat dirinya melewati Rangga sebelum keluar dari toko.


"Ck". Rangga berdecak tanpa menghiraukan apa yang baru saja Rendy katakan.


Ketiga sahabat Nabila kini sudah pulang lebih dulu, tinggal Rangga, Nabila dan Leon disana, sejak tadi Leon hanya menyimak perdebatan diantara mereka semua tanpa berniat untuk ikut bicara.


"Sebentar aku ambil tas dulu". Nabila beranjak dari tempatnya berdiri mengambil tas yang ada di meja yang tak jauh dari tangga. Rangga hanya diam tak mengucapkan sepatah kata pun.


"Lo bantu dia nutup tokonya, gue tunggu di mobil". Titah Rangga kepada Leon.


Rangga sudah keluar dari toko dan duduk di mobil, menunggu Nabila dan Leon menutup tokonya, Rangga benar benar masih kesal atas kejadian tadi.


Bagaimana tidak, Rangga melihat dengan mata kepalanya sendiri, laki laki lain menyentuh kekasihnya, sedangkan melihat laki laki lain menatap Nabila dengan intens saja dia tidak suka apalagi ini sampai menyentuhnya, Ia benar benar kesal dibuatnya.


Setelah Nabila dan Leon selesai menutup tokonya dan memastikan bahwa rolling dor itu sudah terkunci dengan benar Nabila dan Leon berjalan menuju mobil.


Leon membukakan pintu untuk Nabila, setelh itu Ia berlari menuju kemudi.


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan dari ketiganya, hanya ada deru nafas yang saling bersahutan di dalam mobil.


Nabila melirik Rangga sekilas, Rangga nampak masih marah, Ia melemparkan pandangannya ke arah luar tanpa mau melihat Nabila yang duduk di sampingnya.


"Mas Rangga, bagaimana pekerjaan mas Rangga hari ini?, Lancar?". Tanya Nabila akhirnya gadis itu memecah keheningan.


"Lancar!". Jawabnya singkat dengan pandangan tak beralih dari tepi jalanan dibalik kaca mobil.


"Mas Rangga marah?". Tanya Nabila namun Rangga hanya diam membisu.


"Mas jangan salah paham ya soal tadi". Ucap Nabila lagi.


"Aku ngga suka kamu dekat dekat dengan laki laki itu". Seru Rangga.


"Jauhi dia!!, aku ngga mau kamu masih berhubungan dengannya!".


Nabila tersentak dengan kata kata Rangga, bagaima mungkin Nabila bisa jauhi Rendy sedangkan Nabila sudah janji kepada Rendy untuk tidak pernah menghindar ataupun menjauhinya.


Nabila diam sejenak sambil mengurut pelipisnya.

__ADS_1


"Maaf aku ngga bisa mas". Jawaban Nabila membuat Rangga terkesiap seketika Ia menatap kekasihnya dengan penuh tanda tanya.


"Dia sahabatku, sama seperti Lisa dan Maya, kita sudah lama sahabatan jadi ngga mungkin aku jauhi dia". Pungkasnya.


"Tapi aku ngga suka lihat kamu dekat dekat dengannya!".


"Kamu cemburu?, Mas kita cuma sahabat ngga lebih". Nabila menggenggam tangan Rangga untuk meyakinkan pria itu. Rangga hanya diam dan membuang pandangannya ke sembarang arah.


Leon yang sejak tadi seperti obat nyamuk hanya bisa pura pura tuli di balik kemudinya.


"Kamu ngga percaya sama aku?". Tanya Nabila.


"Aku percaya sama kamu, tapi aku tidak percaya dengannya!". Seru Rangga mengalihkan pandangannya menatap Nabila penuh penekanan.


"Dia cinta sama kamu Bil, bisa saja dia akan cari celah di antara kita, dan merebut kamu dari aku". Tambah Rangga dengan nada kesal.


"Mas aku sahabatan dengannya sudah lama, jauh sebelum kenal kamu, jika aku mau mungkin sudah dari dulu aku pacaran dengannya tapi itu ngga terjadi karena aku cuma anggap dia sahabat, ngga lebih!". Seru Nabila dengan nada sedikit marah sebelum Ia turun dari mobil dan meninggalkan Rangga begitu saja.


Mobil sudah berhenti di halaman rumah Nabila, menjadikannya alasan untuk menyudahi perdebatan panjang dengan Rangga.


Rangga yang menyadari Nabila turun dengan keadaan marah, Ia langsung turun dengan cepat mengikuti Nabila.


"Bil, kamu marah?". Rangga mencoba meraih tangan Nabila namun dengan cepat gadis itu menepisnya.


"Aku minta maaf Bil, aku hanya cemburu dan ngga suka lihat kamu dekat dengan laki laki lain". Rangga menggenggam erat tangan Nabila.


"Harusnya kamu percaya sama aku mas, aku ngga mungkin mengkhianati kamu".


"Aku percaya sayang, maafkan aku". Rangga mencium tangan Nabila yang berada di genggamannya.


Leon yang sejak tadi berdiri tak jauh dari Rangga dan menyaksikan kelakuan tuan mudanya hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya.


"Tuan..tuan..kau lemah jika berurusan dengan nona Nabila, seperti bukan tuan muda yang aku kenal". Gumam Leon dalam hati.


"Mas Rangga mau mampir?". Tanya Nabila setelah menetralkan suasana hatinya.


"Lain kali saja, aku lelah mau istirahat. Aku pulang sekarang ya". Rangga mengecup sekilas puncak kepala Nabila.


"Hati hati ya mas". Nabila melambaikan tangannya saat Rangga sudah hendak memasuki mobilnya.


Rangga sudah duduk menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di jok belakang, menghembuskan nafas kasar dan mengacak rambutnya frustasi.


Leon yang sudah menjalankan mobilnya fokus dengan kemudinya, hanya sekali kali melirik ke arah spion melihat tuannya yang nampak gusar.


Rangga memukul kursi mobil yang ada di depannya membuat Leon tersentak.


"Apa tuan baik baik saja?". Tanya Leon dari balik kursi yang sempat dipukul Rangga.


"Hemmm". Jawabnya.


Rangga terdiam sejenak, sebelum akhirnya Ia membuka suaranya.


"Yon, menurut lo apa gue terlalu berlebihan melarang Nabila dekat dengan laki laki SIALAN itu!!". Tanya Rangga dengan menekankan kata sialan.


"Kalau menurut saya tuan tidak berlebihan, tuan melakukan itu karena tuan sangat mencintai nona Nabila, itu hal yang wajar tuan". Jawab Leon sambil melirik ke arah spion dalam mobil.


"Tapi maaf tuan, seharusnya tuan juga percaya kepada nona Nabila dia tidak akan mengkhianati tuan muda karena saya yakin nona Nabila juga sangat mencintai tuan muda". Imbuhnya.


"Ahh ngga ada gunanya ngomong sama lo Yon, lo kan jomblo abadi, jatuh cinta aja ngga pernah jadi lo ngga akan ngerti gimans perasaan gue sekarang".

__ADS_1


"Kenapa jadi aku yang kena, Ck!!". Gerutu Leon dalam hati.


__ADS_2