Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 96 Pijat


__ADS_3

"Aku ngga akan senyum kepada laki laki lain aku janji, tapi aku ngga mau pake masker, kamu mau aku sesak nafas mas?".


"Bagus, pegang janjimu gadis pintar". Rangga mengacak puncak kepala Nabila sambil tersenyum.


"Aneh aneh saja dia ini!". Gumam Nabila dalam hati, geram.


***


Nabila tengah sibuk merapikan semua barang belanjaanya seusai ia mandi, Nabila yang kala itu masih memakai piyama mandinya dengan rambut basahnya tergerai , ia memisahkan satu dengan yang lainnya antara oleh oleh untuk Aditya, untuk sahabatnya, pegawai tokonya, dan oleh oleh untuk pelayan di rumah besar Rangga.


"Sayang, kenapa kamu belum mengganti piyama mandimu?". Ujar Rangga yang baru saja keluar dari kamar mandi baru saja menyelesaikan ritual mandinya bertelanjang dada hanya mengenakan handuk putih yang membalut tubuhnya, tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


"Ya sebentar lagi". Sahutnya tanpa menoleh.


Rangga berjalan mendekati Nabila dengan membawa lingerie berwarna hitam dengan belahan dada rendah setelah ia selesai memakai baju tidurnya.


Memeluk tubuh Nabila dari belakang.


"Sayang, pakai ini". Rangga menyodorkan lingerie yang sengaja ingin ia berikan kepada Nabila, tangannya masih memeluk tubuh Nabila.


"Apa ini mas?". Nabila meraih lingerie berwarna hitam, ekor matanya berusaha menjangkau wajah Rangga yang menelusup ke ceruk lehernya.


"Pakai saja sayang".


"Tapi ini tipis dan menerawang sekali aku ngga mau mas, bisa bisa aku masuk angin kalau pake ini". Nabila meraih tangan Rangga lalu mengembalikan lingerie itu.


"Sayang aku ingin kamu memakainya". Rangga melepaskan pelukannya sebagai aksi protesnya karena Nabila tak mau memakainya.


"Ya sudah mana, sini berikan". Nabila meraih lingerie dari tangan Rangga.


"Kamu mau kemana pakai saja di depanku". Rangga enggan melepas pelukannya saat Nabila hendak melepas pelukannya dan pergi untuk memakainya.


"Aku malu, biarkan aku pakai ini disana". Nabila menunjuk kamar mandi.


Ya walaupun sudah hampir satu bulan Nabila menikah dengan Rangga namun ia masih malu jika harus berpakaian di depan suaminya itu, jika di rumah Rangga biasanya ia akan berpakaian di walk in closet namun berhubung disini tidak ada jadi ia lebih memilih berpakaian di dalam kamar mandi.


"Ya sudah cepat, aku tunggu disana". Rangga melepaskan pelukannya menunjuk tempat tidur mereka.


Nabila bergegas menuju kamar mandi, lama Nabila mematut dirinya di depan cermin saat sudah mengenakan lingerie itu.


"Memakai ini aku jadi terlihat seksi begini, bagaimana ini aku malu sekali sama mas Rangga". Gumam Nabila.


"Sayang, kenapa lama sekali" Teriak Rangga.

__ADS_1


"Lihat dia sangat tidak sabaran!". Gerutu Nabila sambil melangkah keluar dari kamar mandi.


Pelan pelan ia berjalan menuju tempat tidur, menundukkan wajahnya yang memerah, kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi bagian sensitifnya yang begitu terlihat.


Nabila mengutuki pakaian yang ia gunakan saat ini, pakaian macam apa itu tipis dan menerawang sekali bahkan seperti sedang tidak memakai baju, pikirnya.


Rangga tersenyum jahil saat Nabila sudah mendekat ke arahnya, melihat Nabila memakai pakaian itu membuatnya tak sabar untuk segera menerkamnya.


Berkali kali ia bersusah payah menelan salivanya, tubuh Nabila terlihat sangat seksi dan menggodanya.


Nabila mencoba mengangkat wajahnya ingin melihat bagaimana ekspresi suaminya itu.


"Apa?!, dia sudah melepas bajunya?. Sepertinya dia memang sengaja". Gumam Nabila dalam hati.


Nabila duduk di tepi tempat tidur, jantungnya begitu cepat memacu saat Rangga memperhatikannya dengan begitu intens.


"Lihat dia tersenyum jahil, menyebalkan sekali!". Gerutu Nabila lagi dalam hati.


"Kenapa duduk disitu?, Naiklah". Rangga menarik tangan Nabila perlahan menuntunnya naik ke atas tempat tidur.


Kini Nabila sudah berada di atas tempat tidur, Rangga mulai mengikis jarak di antara mereka menempelkan bibirnya di bibir ranum Nabila.


Jantung Nabila serasa mau copot, ah kenapa jadi seperti malam pertama lagi rasanya ia begitu deg degan saat ini.


Rangga melepas pagutan bibirnya, menyapu salivanya yang menempel di bibir Nabila dengan ibu jarinya.


"Aku capek sekali, tidur yuk". Nabila pura pura menguap membuat Rangga kesal.


"Sayang, kok tidur sih?!". Ujarnya kesal.


"Aku capek sekali mas, seharian jalan jalan dan belanja membuat badanku sakit semua". Kilah Nabila ia segera membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hingga ke leher.


"Biar aku pijat sayang". Bujuk Rangga.


"Ngga usah mas, kita tidur saja besok juga sudah hilang capeknya". Rangga mendengus kesal.


"Kamu tidak mau melayani suamimu?". Tanyanya sarkas, Nabila membisu.


"Aku...aku capek mas".


"Biar aku pijat". Rangga menyibak selimut yang sudah mentupi Nabila, melemparkannya ke lantai.


Dengan cepat Nabila menyilangkan kedua tangannya menutupi dada saat selimut tak lagi menyembunyikannya.

__ADS_1


Rangga menggeser tubuhnya agar bisa menjangkau kaki Nabila, mulai memijatnya.


"Mas, ngga usah". Nabila menyingkirkan tangan Rangga dari kakinya.


Merasa tidak enak jika suaminya itu harus memijatnya.


"Diamlah, biar ku pijat". Ucapnya memaksa membuat Nabila tak bisa lagi menolaknya.


Nabila membiarkan Rangga memijat kakinya, kini ia memejamkan matanya sambil menikmati pijatan Rangga.


"Pijatannya enak juga". Batin Nabila.


"Enak?". Rangga melihat ekspresi Nabila yang begitu menikmati pijatannya.


"Enak sayang, sebelah sini". Tuturnya sambil mengarahkan Rangga menunjuk bagian tubuh yang ingin ia pijat.


"Cih, tadi ngga mau sekarang malah keenakan". Gerutu Rangga dalam hati.


Cukup lama Rangga memijat kaki Nabila, kini beralih ke tangan.


"Sayang ini ngga gratis ya, kamu harus membayarnya". Ujar Rangga tersenyum miring.


Nabila tak menyahut, nafasnya sudah mulai teratur ya dia sudah tertidur.


"Kenapa dia malah tidur?!". Kesal Rangga.


Rangga berhenti memijat, merangkak naik ke atas tubuh Nabila mulai menciumi wajah istrinya membuat Nabila menggeliat.


"Enak saja kamu tidur, kamu harus membayarnya dulu". Bisiknya.


"Hmmm".


"Menyebalkan sekali!".


"Bangun yank". Rangga tak hentinya berbisik tepat di telinga Nabila hingga membuat istrinya itu terbangun.


Nabila mengerjapkan matanya.


"Apa ini, kenapa berat sekali". Gumam Nabila masih setengah sadar.


Rangga menyatukan kembali bibir mereka, Nabila terbelalak.


"Pantas saja berat, dia sudah diatas rupanya". Batin Nabila

__ADS_1


sepertinya ia harus segera menyelesaikan urusannya dengan suaminya dulu agar suaminya itu berhenti menggangunya.


Rangga segera melancarkan aksinya saat melihat Nabila terbangun, hingga terjadilah percintaan panas di malam yang panjang itu.


__ADS_2