Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 88 Aku akan menunggumu


__ADS_3

Nabila menghambur memeluk kedua sahabatnya Lisa dan Maya, rasanya ia senang sekali dengan kedatangan kedua sahabatnya itu.


Lisa dan Maya berdecak kagum dengan keindahan rumah Rangga, rumah yang sangat besar dan mewah dengan interior modern membuat rumah itu terlihat megah.


Lisa dan Maya mengedarkan pandangan mereka menyapu setiap sudut ruangan rumah itu.


"Bil, rumah kamu besar banget, mewah lagi". Ujar Maya matanya masih mengelilingi setiap bagian demi bagian rumah itu.


"Ralat, rumah Mas Rangga bukan rumahku". Nabila tersenyum.


"hahaha, kamu kan sudah jadi istrinya jadi ini rumah kamu juga dong". Maya terkekeh.


"Bil, kamu lagi masak?". Tanya Lisa saat melihat apron menggantung di leher Nabila.


"Oh ini, tadi aku habis buat kue. Eh kita ke ruang tv aja yukk nonton drakor, ada Rania juga di sana". Nabila melepas apronnya dan melipatnya.


Nabila dan kedua sahabatnya menuju ruang tv, disana ada Rania yang tampak sedang memilih milih film apa yang akan di tonton.


Sebelum itu Nabila mampir ke dapur terlebih dahulu untuk menyimpan apron yang ia kenakan saat membuat kue.


"Dek, kenalin ini teman temanku". Rania terperanjat dari aktivitasnya memilih film dari puluhan kaset yang tertata rapi di laci bawah meja televisi.


Rania menghampiri Lisa dan Maya dan menyalaminya.


"Rania". Menyalami Lisa dan tersenyum.


"Lisa".


"Rania".


"Maya".


"Silahkan duduk May, Lis". Nabila mempersilahkan kedua sahabatnya, Rania kembali memilih film yang akan di tonton.


Setelah ia menemukannya ia segera memutarnya, lalu mengambil posisi nyamannya di sofa.


Permisi nona, suara Bi Minah yang membawa beberapa minuman dingin untuk mereka.


"Silahkan diminum nona". Bi Minah meketakkan minumannya di meja di samping kue dan cup cake yang Nabila dan Rania buat.

__ADS_1


"Terimakasih Bik". Nabila tersenyum, Bi Minah pun membalas senyumnya dan berlalu dari sana.


Mereka berempat menonton drama korea sambil memakan kue dan berceloteh hingga ber jam jam lamanya.


Rania pun sudah terlihat akrab dengan Lisa dan Maya.


Hingga sore menjelang mereka menghabidkan waktu dengan berenang, setelah puas berenang mereka makan makanan cepat saji yang telah di pesan online oleh Nabila, mereka makan di gazebo sambil berceloteh ria.


****


Pagi ini Rania sudah berada di bandara, ia di temani Nabila. Rangga tidak bisa mengantar adiknya karena dia ada meeting pagi dengan klien penting.


Kedua orang tua Rania sedang berada di luar kota mengurus bisnisnya.


Nabila hanya bisa mengantarkan Rania hingga pintu keberangkatan. Nabila membantu Rania membawakan kopernya.


"Dek, kamu hati hati ya. Jaga dirimu baik baik, belajarlah yang rajin agar bisa cepat lulus". Nabila memeluk Rania dan menyerahkan koper milik Rania.


"Iya kak, terimakasih. Aku akan merindukan kalian semua". Mata Rania berkaca kaca, bagaimanapun juga ia tidak ingin meninggalkan tanah air namun ia tak memiliki pilihan lain, ia harus menyekesaikan pendidikannya.


"Jangan sedih, satu tahun itu tidak lama". Nabila mengusap pelan punggung Rania.


Setelah Rania sudah tidak terlihat lagi Nabila langsung pergi ke kampus diantar oleh supir pribadi keluarga Pramudita.


Sementara di dalam bandara Rania tengah duduk di boarding room sambil mendengarkan lagu lagu favoritnya menggunkaan earphone setelah sebelumnya melakukan check in.


Rania ikut bernyanyi dan mengetuk ngetukkan kakinya di lantai menikmati dan mengikuti alunan musik yang ia dengarkan.


Setelah petugas bandara memberitahukan bahwa pesawat yang akan ditumpangi Rania akan segera lepas landas, dan meminta para penumpang untuk segera menaiki pesawat,


Rania beranjak dari duduknya, menarik koper yang ia bawa ikut mengantri berjalan menuju pintu masuk tempat pesawatnya berada.


Sayup sayup Rania mendengar suara teriakan seseorang memanggil namanya, ia melepas aerphone yang masih terselip di telinganya, kembali ia mendengar seseorang berteriak memanggil namanya.


Rania menoleh ke arah belakang dan mata gadis itu membeliak saat melihat Rendy tengah membungkuk mengatur nafasnya yang terengah engah seperti habis berlari marathon.


Ya laki laki itu baru saja berlari kesana kemari mencari keberadaan Rania, setelah ia meloby penjaga pintu dan menyelipkan beberapa lembar uang akhirnya bisa juga ia masuk hingga ke boarding room.


Rania menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Rania keluar dari antrian dan menghampiri Rendy yang masih sibuk mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Ren, ngapain kamu disini?". Rania masih tidak percaya dengan keberadaan pria itu fi hadapannya.


Rendy menegakkan tubuhnya masih sibuk mengatur nafasnya, beberapa detik kemudian


"Boleh aku memelukmu sebelum kamu pergi?". Rendy merentangkan tangannya.


Rania terkesiap dengan ucapan Rendy, detik berikutnya ia langsung menghambur memeluk pria itu meninggalkan kopernya yang sejak tadi ia tarik.


Mereka berpelukan sangat erat, saling melepaskan rasa yang bersemayam dalam diri mereka masing masing, rasa yang entah apa namanya Rendy tidak tahu.


"Kenapa kamu tidak bilang mau pergi sekarang?". Rendy melepaskan pelukannya agar bisa leluasa menatap wajah Rania.


"Aku ngga penting buat kamu Ren, jadi buat apa aku memberitahumu".


"Siapa bilang kamu ngga penting, kamu sangat berarti buatku". Rendy


menarik hidung mancung Rania hingga meninggalkan bekas kemerahan disana.


Kata kata Rendy membuat Rania berkaca kaca, ia tidak menyangka jika dirinya berarti buat Rendy, laki laki itu sampai menyusulnya ke bandara, ah sungguh membuatnya terharu.


"Jaga dirimu baik baik, aku akan menunggumu". Rendy membelai rambut Rania lembut lalu menggenggam erat kedua tangan gadis itu.


Air mata Rania kini menetes, ia benar benar tidak menyangka Rendy akan mengatakan hal itu, dia bilang dia akan menunggunya, mungkin itu hanya sebuah kalimat yang sederhana namun tidak untuk Rania baginya itu adalah kalimat yang sangat berarti, kalimat yang mampu membuat hati dan jantungnya jadi tak beraturan.


Rendy menghapus air mata Rania dengan jemarinya, pesawat yang akan ditumpangi gadis itu akan segera lepas landas ia harus segera memasuki pesawat.


Ingin rasanya mereka menghentikan waktu saat itu juga, mereka ingin menghabiskan waktu berdua lebih lama lagi sebelum perpisahan itu datang.


Namun apalah daya, mereka bukanlah Tuhan yang mampu menghentikan waktu, mereka hanyalah dua insan manusia biasa yang tak berdaya.


Rendy melepas kepergian Rania dengan berat hati, melepaskan genggaman tangannya secara perlahan.


Begitu juga dengan Rania yang tak ingin perpisahan itu terjadi, Rania melambaikan tangannya, air matanya masih mengalir, ia bahagia dengan perlakuan Rendy kepadanya namun ia juga bersedih karena harus meninggalkan pria yang sudah membuat hari harinya dipenuhi cinta dan air mata.


****


Haii Readers.. Jika kalian suka novel ini minta like, vote dan rate nya ya...


dukung terus novel ini, biar author semangat nulisnya๐Ÿ˜˜

__ADS_1


Tinggakan komentar kalian untuk penyemanagat author, dan terimakasih sudah mau mengikuti kelanjutan novel ini ๐Ÿ™๐Ÿ˜€


__ADS_2