Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 54 Segera menikah!


__ADS_3

Rangga kembali menggandeng tangan Nabila berjalan menuju ruang makan, menemui papa dan mamanya.


Rangga menuntun Nabila berjalan menuju ruang makan, perasaan Nabila semakin gugup berkali kali ia menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan.


Jika saja tidak ada insiden memalukan di apartemen itu mungkin Nabila tidak akan segugup ini.


Saat mereka sudah sampai diruang makan Rangga menyapa papa dan mamanya yang memang sudah menunggu mereka.


"Selamat malam pa, selamat malam ma". Rangga mencium pipi kanan dan kiri nyonya Rani.


"Malam". Jawab tuan besar Angga singkat.


Nabila pun ikut menyapa dan menyalami kedua orang tua Rangga.


"Selamat malam om". Nabila mencium punggung tangan tuan Angga.


"Malam". Sahut tuan besar Angga.


"Selamat malam tante". Nabila mencium punggung tangan nyonya Rani.


"Malam". Jawab nyonya Rani dengan ekspresi yang sulit di artikan.


"Mari makan, nikmatilah makan malam nya". Ucap tuan besar Angga kepada Rangga dan Nabila.


Rangga menarik kursi untuk Nabila lalu ia juga menarik kursi di sebahnya untuk dirinya, Rangga dan Nabila duduk berhadapan dengan tuan besar Angga dan nyonya Rani membuat Nabila semakin gugup.


Rangga menggenggam tangan Nabila sesaat setelah mereka duduk, menatapnya sambil tersenyum hangat, seolah ingin menenangkan dan memberi kekuatan kepada Nabila.


Jujur perlakuan Rangga yang seperti itu benar benar bisa membuat Nabila sedikit lebih tenang.


Nabila mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Rangga.


"Terima kasih sayang". Ujar Rangga tersenyum setelah Nabila mengisi piring miliknya.


Rangga tak sungkan memperlihatkan kemesraannya kepada Nabila di depan orang tuanya, entah lah dia malah merasa ingin memamerkan kepada kedua orang tuanya, menunjukkan bahwa dirinya sangat mencintai Nabila, gadis itu sangat berarti baginya, dia adalah segalanya.


Insiden sore tadi di apartemennya memang sedikit membuat Rangga takut, takut mereka menilai buruk Nabila lalu menyuruhnya meninggalkan gadis itu, oleh sebab itu Rangga ingin menunjukkan bahwa apapun yang terjadi dia tidak akan meninggalkan Nabila karena ia sangat mencintainya.


Mereka sudah mulai ritual makan malam, tidak ada percakapan maupun pembicaraan yang mencairkan suasana yang begitu mencekam di ruang makan itu, hanya terdengar suara dentingan sendok garpu yang beradu dengan piring.


Rangga melirik Nabila lalu muncul idenya untuk kembali memamerkan kemesraannya kepada kedua orang tuanya.


"Sayang, aku mau udang gorengnya dong". Ucap Rangga kepada Nabila.


Nabila yang mengerti maksud Rangga segera mengambilkannya dan menaruh di piringnya sesekali matanya melirik ke arah kedua orang tua Rangga yang nampak sedang memperhatikan mereka, membuat Nabila canggung dan salah tingkah.


"Sayang kamu mau ini ngga?, Ini enak lohh sini aku suapin, aaaa". Rangga menyodorkan sendok ke arah Nabila membuat Nabila merasa tidak enak sekaligus malu terhadap kedua orang tua Rangga yang masih memperhatikan mereka.

__ADS_1


"Ngga mas, ini punyaku masih ada ini juga enak". Nabila mencoba menolaknya dengan halus.


Gila saja jika harus suap suapan di depan orang tua Rangga, ahh entahlah kenapa Rangga seperti tidak tahu malu begitu.


"Cepet sayang buka mulutmu, aaaaa". Rangga masih belum menyerah dan masih ingin memaksa Nabila membuka mulutnya.


Mau tidak mau Nabila membuka mulutnya, ia tersenyum malu saat matanya bersiborak dengan tatapan kedua orang tua Rangga.


Tidak cukup sampai disitu, Rangga kembali membuat ulah membuat wajah Nabila semakin memerah menahan malu bak kepiting rebus.


"Sayang". Panggil Rangga membuat Nabila menoleh ke arahnya.


Rangga menjulurkan ibu jarinya ke wajah Nabila, mengusap pelan sudut bibir Nabila seolah mengusap bibir Nabila karena belepotan padahal tidak ada apa apa disana, Nabila makan dengan baik tidak berantakan dan belepotan.


Ahh, lagi lagi Rangga memang sengaja ingin memamerkan kemesraannya.


"Astaga, mas Rangga ini apa apaan sih kenapa dia tidak tau malu begini!". Batin Nabila kesal.


Tuan besar Angga dan nyonya Rani hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan putra sulungnya sambil melanjutkan makan malam mereka.


Setelah beberapa menit kemudian akhirnya mereka telah menyelesaikan makan malamnya.


"Papa tunggu kalian di ruang keluarga ada yang ingin papa bicarakan". Tutur tuan besar Angga sambil berlalu meninggalkan ruang makan diikuti nyonya Rani di belakangnya.


"Ayo sayang". Rangga menggandeng Nabila menuju ke ruang keluarga.


Rangga dan Nabila memasuki ruang keluarga, tuan besar Angga dan nyonya Rani sudah duduk di sofa mewah berwarna abu abu.


Rangga dan Nabila duduk di sofa yang berhadapan dengan tuan dan nyonya besar, Nabila berdecak kagum saat melihat kaca berukuran besar yang berada di belakang sofa yang diduduki kedua orang tua Rangga, kaca besar yang menampakkan halaman belakang rumah, banyak bunga bunga bermekaran dan tanaman yang menghiasi halaman, ada kolam kecil yang Nabila yakini adalah kolam ikan dengan air mancur di dalamnya, membuat Nabila penasaran ingin menyusuri halaman belakang rumah Rangga yang terlihat indah dari sana.


"Rangga mama sudah memberitahu papa tentang insiden memalukan yang kau buat di apartemenmu". Ucapan tuan besar Angga mengejutkan Nabila dari buaian pemandangan yang sempat membuatnya terpana.


"Bisa kalian jelaskan, kenapa itu bisa terjadi?". Sambungnya.


Nabila menunduk malu sekaligus takut, sungguh ia tidak punya muka untuk menatap kedua orang tua Rangga.


"Pa, itu semua ngga seperti yang papa dan mama pikirkan. Rangga dan Nabila tidak melakukan itu pa".


"Tapi mama lihat dengan mata kepala mama sendiri kalian sedang berciuman panas dan posisi kalian...". Nyonya Rani tak sanggup melanjutkan kata katanya, beliau begitu malu mengingat insiden itu.


"Ma, tapi kami ngga melakukan hubungan suami istri, kami masih pakai pakaian lengkap ma, mama jangan mikir terlalu jauh, Rangga masih tahu batasan". Kesal Rangga.


Sungguh Nabila semakin merasa malu dengan ucapan Rangga yang begutu vulgar.


"Rangga mau melakukan hubungan suami istri atau tidak kalian tetap salah, dua orang tanpa ikatan yang sah berada dalam satu kamar itu tidak di benarkan". Ucap tuan besar Angga.


"Iya pa Rangga salah".

__ADS_1


Nabila hanya menunduk sambil memilin ujung dress yang ia kenakan, ia benar benar gugup dan takut, bagaimana ini?, Nabila sampai tak kuasa mengangkat wajahnya untuk sekedar melihat ekspresi tuan besar Angga.


"Papa juga sudah tahu kalau kalian tinggal bersama, apa itu benar Rangga?!".


Nabila mencoba mengangkat wajahnya dan mencoba bersuara, ia tidak mau Rangga mendapatkan masalah gara gara dirinya yang tinggal di apartemen Rangga.


Dengan susah payah Nabila berkata.


"Om tante, ini semua salah Nabila Rangga tidak salah om tante, Nabila yang salah dengan tidak tahu dirinya tinggal di apartemen Rangga, maafkan Nabila om tante". Ucap Nabila dengan nada sedikit gemetar.


"Sayang, ini bukan salah kamu aku yang memintamu untuk tinggal di apartemenku, jangan menyalahkan dirimu sendiri". Rangga menatap Nabila dengan hangat, tangannya menggenggam erat kedua tangan Nabila yang dingin.


Tuan dan nyonya besar lagi lagi harus menyaksikan adegan romantis dan kemesaraan yang dibuat oleh putra sulungnya, sepertinya Rangga memang sangat mencintai Nabila sorot mata penuh cinta dan senyum hangat serta perlakuan manis Rangga terhadap Nabila sudah mampu menjadi bukti yang kuat kalau putra mereka sungguh sungguh mencintain Nabila.


"Rangga yang meminta Nabila untuk tinggal di apartemen pa, tapi Rangga punya alasan Rangga ingin melindungi Nabila dari orang yang sudah menjualnya dan akan menjadikannya wanita penghibur, Rangga yakin papa juga sudah tahu itu". Amarah Rangga kembali tersulut jika mengingat kejadian itu.


"Ya, papa memang sudah tahu semuanya Rangga, tapi tindakanmu itu bisa saja tercium oleh media, dan nama baik kalian yang jadi taruhannya, nama baik keluarga ini, belum lagi beritanya akan menjadi konsumsi publik dan bisa juga sampai ke mancanegara".


"Kalau sudah seperti itu apa yang bisa kamu lakukan?, Apa kamu tidak kasian dengan Nabila jika sampai nama baiknya hancur?". Sahut nyonya Rani menimpali.


Rangga terdiam, memang ada benarnya apa yang dikatakan papa dan mamanya tapi mau bagaimana lagi saat itu ia benar benar tidak punya pilihan lain.


"Selama kalain tinggal satu atap, apa saja yang sudah kalian lakukan?". Tanya tuan besar penuh selidik.


"Kami tidak melakukan apapun pa, Rangga kan sudah bilang Rangga tahu batasan". Ucap Rangga kesal.


"Tahu batasan tapi kalian tertangkap basah sedang berduaan di kamar, apa namanya itu tahu batasan?". Tutur tuan besar sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Rangga, papa juga dulu pernah muda jadi papa tahu betul bagaimana rasanya di mabuk cinta, kalian bisa gelap mata karenanya apalagi jika kalian tinggal satu atap". Tuan besar tersenyum kecil mengingat masa mudanya yang tak jauh beda dengan putranya.


Ah mungkin sifat Rangga menurun dari dirinya, begitu pikirnya.


"Kalian harus segera menikah!, Papa tidak mau terjadi hal hal yang tidak pantas dan memalukan terhadap kalian".


Ucapan tuan besar membuat Rangga dan Nabila terkesiap, susah payah mereka mencerna ucapan itu.


Ekspresi bahagia terpancar dari raut wajah Rangga yang kini tak henti mengembangkan senyum bahagianya.


"A..apa pa menikah?". Tanya Rangga tak percaya, ia pikir kedua orang tuanya itu akan memintanya meninggalkan Nabila tapi ini justru meminta mereka untuk segera menikah, sumpah demi apapun Rangga sangat bahagia ia memang sangat menginginkan hal itu.


Nabila pun sama seperti Rangga tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, Nabila justru mengira hubungannya dengan Rangga akan berakhir sampai disini karena orang tua Rangga telah menilainya buruk tapi lihat mereka meminta Nabila dan Rangga segera menikah.


Nabila senang karena ternyata orang tua Rangga masih merestui hubungannya dengan Rangga namun ia juga ragu apakah dirinya sudah siap menikah?, sudah siap menjadi nyonya Rangga?, menjadi bagian dari keluarga Pramudita?, Keluarga terpandang di negeri ini?, tentunya itu semua tidaklah mudah, banyak yang menyoroti gerak gerik dan segala tingkah laku dan perbuatannya, menjadi pusat perhatian seluruh masyarakat negeri ini bahkan dunia?, apa Nabila siap?.


***


Haii readers terimakasih sudah mampir di karyaku yang ini, mohon dukungannya ya readers like dan vote novel ini. Jangan lupa tinggalkan komentar untuk penyemangat author.

__ADS_1


Terimakasih readers❤️❤️😘...


__ADS_2