
Perhatian Rendy dan Rania teralihkan saat suara pembawa acara menggema meminta kedua mempelai untuk berdansa.
Rangga menuntun Nabila dengan sangat hati hati membimbingnya menuju lantai dansa.
Rangga dan Nabila mulai berdansa mengikuti alunan music yang begitu romantis, suara sorak sorai mengiringi gerakan demi gerakan mereka, pasangan yang sangat romantis membuat jiwa iri dengki para jomblo meronta ronta.
Tak hanya mereka saja, para tamu undangan juga dipersilahkan untuk berdansa dengan pasangan mereka masing masing.
"Sayang, malam ini kamu sangat cantik". Bisik Rangga tepat ditelinga Nabila, tangan laki laki itu mendekap erat pinggang Nabila membimbing Nabila bergerak kesana kemari mengikuti alunan music dengan begitu romantis.
"Jadi cuma malam ini saja cantiknya?". Nabila mencebikkan bibirnya, tangan gadis itu mengalung mesra dileher Rangga.
"Bibirmu jangan menggoda seperti itu sayang, membuatku makin tersiksa". Bisik Rangga, Nabila mencubit pinggang Rangga membuat laki laki itu sedikit memiringkan tubuhnya.
"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi mas?, Jadi cuma malam ini saja aku cantiknya?". Tanyanya lagi.
"Bukan begitu sayang, tentu kamu terlihat cantik setiap saat namun malam ini kecantikanmu naik 1000 persen".
"Gombal kamu mas".
"Aku serius sayang".
Sejenak mereka terdiam menikmati setiap gerakan dansa mereka.
Nabila tak menyangka dirinya akan menikah diusia yang sangat muda, usianya yang masih 20 tahun, banyak mimpi yang belum ia raih mudah mudahan saja walaupun ia menikah muda ia sudah siap dengan segala cobaan rumah tangga yang pastinya tidaklah mudah, yang lebih tidak menyangka lagi ia menikah dengan Rangga seorang pemuda berusia 23 tahun anak dari pengusaha ternama negeri ini, sungguh tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Sayang kamu ingat ngga waktu pertama kali kita dansa di acara wisuda sekolah kamu?, kamu masih kaku tapi lihatlah sekarang kamu sudah mulai pintar berdansa". Rangga mengomentari Nabila yang sudah mulai pandai berdansa.
"Ah dulu kan aku terpaksa dansa sama kamu". Sahut Nabila, mengingat kejadian itu membuatnya malu bisa bisanya dulu dia mau berdansa dengan Rangga demi menghindari perkelahian antara Rangga dan Rendy yang hampir terjadi.
__ADS_1
"Kenapa?".
"Lupakan!".
"Jawab dong sayang kenapa kamu terpaksa?".
"Lupakan aku ngga mau bahas itu lagi". Nabila melototkan matanya membuat Rangga menyerah tidak lagi menanyakan alasan keterpaksaan Nabila waktu itu.
"Sayang kamu mau punya anak berapa?, aku akan berusaha membuatkan banyak untukmu". Bisik Rangga sambil terkekeh.
"Baru juga nikah udah ngomongin anak aja kamu mas".
"Memangnya kenapa?, Kita bisa membuatnya mulai malam ini juga, kamu mau berapa akan aku buatkan nanti".
"Dasar mesum!". Nabila kembali mencubit pinggang Rangga.
"Aww, sepertinya kamu sudah tidak sabar sayang, lihat kamu mulai remas remas pinggangku". Bisik Rangga lagi.
"Kenapa acaranya lama sekali selesainya, padahal aku sudah tidak sabar menggendong istriku ke kamar". Ujar Rangga membuat Nabila mendelik.
"Mas, bisa ngga sih kamu ngga mesum dulu". Kesal Nabila.
"Kenapa, kita kan sudah halal sayang. Nanti kamu mau berapa kali sayang?". Tanya Rangga lagi memancing Nabila.
"Berapa kali apanya?!".
"Itu loh yang, masa kamu ngga ngerti sih?".
Nabila mengedikkan bahunya pura pura tidak mengerti.
__ADS_1
"Proses pembuatan anak kita". Bisiknya tepat di telinga Nabila membuat gadis itu merinding seketika, bukan karena Rangga yang berbicara tepat di telinga tapi merinding karena membayangkan...ah sudah lah Nabila terlalu malu untuk mengatakannya.
Obrolan mereka memang hanya mereka saja yang tahu, para tamu undangan tidak bisa mendengarnya karena suara alunan music yang cukup keras dan suara riuh tamu undangan menyamarkan obrolan mereka.
Tentu saja Rendy melihat kemesraan dan keromsntisan kedua mempelai itu, karena sorot lampu mengarah pada mereka, lampu yang lain sengaja di padamkan suasana menjadi temaram, hanya ada kilatan cahaya dari lampu lampu kristal yang telah padam.
Sesak tiba tiba melingkupi dada Rendy, luka perih di hatinya kembali tersayat menyaksikan kemesraan mereka, kedua tangannya mengepal kuat menyalurkan hasrat emosinya yang ingin meledak.
Rasa cemburu kian menyiksanya, dengan sekuat tenaga Rendy menahan air matanya yang siap terjun bebas membasahi pipinya, entahlah kenapa Rendy menjadi sangat cengeng seperti ini, padahal sejak dulu ia tidak pernah menangisi apapun, namun karena Nabila karena sakitnya cinta yang tak terbalas membuatnya jadi gampang menangis, apalagi saat mengetahui Nabila akan menikah itu adalah puncaknya ia menangis.
"Ren, kamu kenapa?". Rania menatap Rendy bingung, kenapa laki laki itu tiba tiba terlihat begitu sedih.
Rendy menoleh ke arah samping, ahh dia melupakan gadis cantik yang sedang menemaninya.
Rendy mengusap sudut matanya yang sempat basah.
"Ran, kamu mau dansa denganku?". Tanya Rendy sambil mrngulurkan tangannya.
Sejenak Rania terperangah, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, ia hanya membisu sambil menatap laki laki yang entah sejak kapan membuat jantungnya berdebar jika dekat dengannya.
"Ran, kamu ngga mau ya". Rendy hendak menarik kembali uluran tangannya. Namun dengan cepat Rania meraihnya.
"Siapa bilang aku ngga mau, aku mau kok". Rania meraih tangan Rendy dengan cepat membuat Rendy menarik kedua sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman.
Rendy menggandeng Rania menuju lantai dansa, sudah ada banyak pasangan yang berdansa disana, namun yang menjadi pusat perhatian para tamu tentu saja Rangga dan Nabila sepasang pengantin sebagai tokoh utama dalam pesta tersebut.
Saat sudah mencapai lantai dansa Rendy melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Rania, menggantinya dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rania sementara Rania menempatkan kedua tangannya di bahu Rendy.
Jarak yang sangat dekat membuat Rania semakin gugup, jantungnya berdebar begitu kencang, rasanya ia sangat bahagia bisa sedekat ini dengannya, bisa menatap wajah tampannya dengan jarak sangat dekat, Rendy tersenyum hangat menatap Rania membuat perasaan gadis itu semakin tak menentu.
__ADS_1
Sedangkan Rendy, laki laki itu membisu hanya sesekali tersenyum menatap wajah cantik gadis yang sedang berdansa dengannya, pikirannya melayang layang membayangkan yang berdansa dengannya adalah Nabila.