Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode45, ini tidak mungkin!!


__ADS_3

Hari Minggu memanglah waktu yang sangat pas untuk bersantai dan melakukan hal hal yang disukai, menghabiskan waktu dengan hal hal yang menyenangkan itu akan membuat hari libur kita terkesan.


Seperti hal nya yang dilakukan Rendy saat ini, pemuda tampan itu sedang menghabiskan waktunya dengan berenang, ditengah matahari yang begitu terik memang sangat cocok mendinginkan tubuh dengan berenang.


Kolam renang yang cukup luas dengan air berwarna biru membuat siapa saja ingin segera meluncur menikmati segarnya air di dalamnya.


Rumah Rendy memang luas, ia merupakan anak dari salah satu pengusaha sukses Yudha Malik Pranaja yang mempunyai beberapa perusahaan besar perusahaan yang bergerak dalam bidang properti.


Rendy merupakan anak tunggal dan ia yang akan menjadi pewaris tunggal kekayaan keluaraga Malik.


Setelah puas menghabiskan waktu di kolam renang Rendy memutuskan untuk menyudahi acara berenangnya, ia berjalan mengambil handuk berwarna putih yang terdapat di kursi santai di samping kolam renang.


Membalutkan handuk di pinggang, tubuhnya menampakkan dada bidang seksi berototnya, bulir bulir air menetes dari ujung rambutnya membuat ia segera mengambil handuk kecil untuk mengeringkannya.


Rendy merebahkan dirinya di atas kursi santai sambil menikmati orange jus miliknya yang sejak tadi begitu menggodanya.


Tiba tiba Rendy teringat sesuatu, ia meraih ponselnya yang berada di atas meja bundar berpayung besar di sampingnya, ia segera menghubungi seseorang dengan ponselnya.


"Hallo, bagaimana apa kalian sudah dapat informasinya tentang tempat tinggal Nabila?". Tanya Rendy kepada informan bayarannya.


Rendy memang membayar informan handal untuk mencari tahu tentang tempat tinggal Nabila karena ia merasa begitu janggal saat dirinya hendak menjemput Nabila pagi itu, seperti ada yang disembunyikan begitu pikirnya.


"Tentu saja tuan saya sudah mendapatkan informasinya". Tuturnya di seberang sana.


"Bagus, tidak salah aku bayar mahal kalian".


"Segera kirim alamatnya, satu lagi apa kalian juga sudah menemukan keberadaan Johan?". Sambung Rendy sambil mengepalkan tangannya, entah kenapa jika membicirakan Johan ia tidak bisa mengontrol emosinya.


"Sudah tuan, beliau ada di salah satu hotel di Bali".


"Cepat kirimkan alamat lengkapnya, aku akan menyuruh orang orangku membawanya ke Jakarta!!".


"Baik tuan, saya kirim sekarang alamatnya tuan".


Klik, Rendy mematikan sambungan telefonnya tak lama kemudian ada bebrapa pesan masuk berisi alamat tempat tinggal Nabila dan hotel tempat Johan bersembunyi.


"Siall!!, Ini bukannya apartemen milik Rangga". Mata Rendy membeliak saat membaca alamat yang dikirimkan informan bayarannya.


Rendy terkesiap dengan kenyataan yang baru saja ia dapat, hatinya berusaha membantahnya namun kejadian tempo hari seolah membenarkan dan menunjukkan bahwa itu memang benar.


"Ngga ini semua pasti salah, ngga mungkin Nabila mau tinggal bersama Rangga". Rendy menggeleng tidak percaya.


"Aku harus menanyakan ini langsung kepadanya". Rendy mengangguk mantap.


"Shittt!!, Ini hari Minggu sudah pasti Rangga ada di toko Nabila, sebaiknya besok saja aku menanyakan hal ini di kampus, malas berurusan dengan cowok br*ngsek itu!".


Rendy kembali sibuk mengirimkan pesan kepada orang orang suruhannya, mengirim foto Johan beserta alamat persembunyiannya yang baru saja ia dapatkan


Tak butuh waktu lama orang suruhannya menelfon Rendy, dengan cepat Rendy menempelkan benda pipih itu di telinganya setelah menggeser tombol berwarna hijau.


"Hallo tuan, ada tugas apa untuk kami?". Suara salah satu orang suruhan Rangga setelah sambungan telefon berlangsung.


"Cari laki laki itu sampai dapat di Bali cepat bawa ke hadapanku!!". Titah Rendy penuh penekanan.


"Baik tuan, kami akan segera membawanya ke hadapan tuan".

__ADS_1


"Bagus!!".


-------


Lain halnya di toko bunga milik Nabila Rangga terlihat sedang duduk santai sambil menikmati kopi dan pizza sambil memperhatikan Nabila yang tengah sibuk melayani pengunjung.


Hari ini memang ingin di habiskan Rangga untuk menemani Nabila menjaga tokonya, sebenarnya ia ingin menghabiskan waktunya dengan berkencan atau jalan jalan namun gadis itu kekeh menolaknya dan tidak mau meninggalkan tokonya yang lumayan ramai jika hari Minggu.


Mau tidak mau Rangga menurutinya daripada melihat Nabila ngambek ia benar benar tidak tahan, entah apa yang bisa membuat sosok pria angkuh dan arogan seperti Rangga bisa bucin kepada gadis itu.


"Mas maaf ya dari tadi aku cuekin". Nabila mendudukkan tubuhnya di sofa seberang Rangga.


"Ngga apa apa sayang, apa pun asal bisa lihat wajah kamu terus, aku ngga masalah". Rangga tersenyum membuat Nabila terpesona dengan ketampanannya.


"Kita makan siang yukk, aku lapar". Rangga beranjak dari duduknya dan menggandeng tangan Nabila yang masih duduk manis di sofa.


"Mau makan dimana?". Tanya Nabila yang masih belum bangun dari duduknya.


"Dimana aja sayang, yang penting sama kamu". Rangga mengerlingkan matanya genit.


"Apaansih kamu mas, genit deh". Nabila tersipu malu.


"Ayo dong sayang bangun, apa mau aku gendong". Ucap Rangga sambil menaik turunkan alisnya.


"Iya ini bangun". Nabila segera bangkit dari sofa.


"Sebentar mas aku mau pamit sama Aditya dulu". Nabila berjalan menuju lantai dua hendak berpamitan kepada Aditya.


Hari Minggu Aditya bisa menemani Nabila menjaga toko tapi di hari lainnya sungguh Aditya benar benar tidak bisa, banyak sekali kegiatan sekolah yang menguras tenaganya, apalagi sekarang Aditya di gadang gadang akan di nobatkan menjadi ketua Osis di sekolahnya, dia benar benar kesulitan membagi waktunya.


"Dit, kakak mau pergi makan siang dulu ya sama mas Rangga". Nabila mengambil tas dan berpamitan kepada Aditya yang sedang berbaring di sofa menonton film action kesukaannya.


"Iya dit, kamu mau kakak beliin apa buat makan siang?".


"Terserah kakak aja deh, apa aja pasti Adit makan".


"Kalau kakak bawain kamu batu, apa kamu mau makan juga?". Tanya Nabila kesal.


"Ya ngga dong kak, ahh kakak ini ada ada aja. Udah sana buruan! mas Rangga kelamaan nunggu berabe urusan". Ucap Aditya dengan senyum mengejek.


"Ya udah kakak pergi dulu ya dit". Nabila turun dari tangga diikuti salah satu bodyguardnya.


Setelah itu Nabila menghampiri ketiga pegawai tokonya.


"Kalian istirahat saja dulu makan siang, mumpung toko ngga ada pengunjung". Tutur Nabila.


"Aku mau keluar sebentar ya". Tambahnya.


"Iya mbak hati hati ya". Ucap Dea diikuti kedua pegawai lainnya.


Nabila dan Rangga menuju mobil Rangga sambil bergandengan tangan.


"Mas apa mereka juga ikut?". Nabila menunjuk kedua bodyguard yang berjalan di belakang mereka.


"Tentu sayang, mereka kan aku bayar buat jagain kamu jadi harus ikut kemanapun kamu pergi, untuk menjaga dan memastikan kamu baik baik saja". Cetusnya.

__ADS_1


"Ahh, kebetulan sekali aku jadi pengen tahu gimana cara mereka makan". Nabila terkikik geli membayangkan bagaimana kedua pria seram itu makan.


"Hahaha, kamu ada ada aja sih sayang ya mereka makan sama seperti kita makan, mereka kan manusia". Rangga terbahak mendengar ucapan Nabila yang konyol.


"Habisnya mereka ngga terlihat seperti manusia mas, lebih kaya manekin ". Bisik Nabila.


"Lihat wajahnya tanpa ekspresi bahkan kita juga ngga tahu dia masih bernafas ngga".


"Kalau mereka ngga bernafas ya mati dong sayang, ah kamu ini ada ada aja". Rangga mencubit gemash kedua pipi Nabila.


"Aww, sakit mas, Kamu kebiasaan deh suka nyubit nyubit pipiku". Nabila mencebikkan bibirnya membuat Rangga terkekeh.


-----


Kini mereka sudah berada di sebuah restoran besar, salah satu restoran milik keluarga Rangga, restoran favorit kalangan atas jika ingin makan disini harus reservasi jauh jauh hari.


Ribet memang tapi karena cita rasa yang khas dan sangat enak di setiap menunya dan pelayanan yang sangat baik tentu tidak akan menjadi masalah bagi para pelanggannya.


Restoran dengan suasana, nuansa dan dekorasi yang apik dengan di suguhkan pemandangan kota yang begitu indah.


Semua sudutnya begitu cantik, Di area indoor kesan mewah nan elegant begitu nyata sementara di area outdoor terasa lebih santai dan fresh menyatu dengan alam berkat pepohonan rimbun yang ada di sekelilingnya.


Kini Rangga dan Nabila memilih meja yang berada di area outdoor agar bisa lebih santai menikmati makan siangnya sambil memanjakan mata dengan dekorasi dan suasana sekitar restoran.


Rangga dan Nabila di sambut sangat baik oleh manager restoran, dan mempersiapkan para pelayan yang benar benar profesional untuk melayani anak dari pemilik restoran ini, tak lain maksudnya untuk meminimalisir kesalahan karena sang manager tahu betul bagaimana sifat seorang Rangga.


Beberapa saat setelah berbincang dengan sang manager yang menyambut mereka datanglah para pelayan dengan membawa beberapa hidangan hingga memenuhi meja mereka.


"Mas kenapa banyak sekali makanannya, lagian kita kan belum pesan kenapa bisa mereka membawa makanan makanan ini". Nabila terlihat bingung melihat banyaknya menu di atas meja yang iya yakini harga satu menunya tidaklah murah.


"Aku sudah bilang sama manager mereka kalau aku akan makan siang disini jadi mereka sudah menyiapkannya".


"Tapi ini kebanyakan mas Rangga". Kesal Nabila mana mungkin mereka berdua bisa menghabiskan semua makanan itu tentu saja makanannya akan terbuang mubazir dan Nabila sangat tidak suka itu.


"Ini semua menu special disini sayang kamu harus cobain semuanya".


"Aku ngga mau mas, perutku ngga sanggup untuk menampung semua makanan ini".


"Ya sudah makanlah secukupnya".


"Begini saja mas, sebagian kita bungkus saja buat Aditya dan para pegawai toko pasti mereka suka". Nabila mengangkat alisnya antusias seperti baru saja menemukan ide cemerlang.


"Ya sudah itu urusan gampang, yang penting kita makan dulu".


"Mas pria seram itu ngga makan?". Tanya Nabila.


"Mereka sudah selesai makan, lihatlah". Rangga menunjuk kedua bodyguard yang ada di meja yang tak jauh dari mereka.


"Yang benar saja, kita saja belum mulai makan, masa iya mereka sudah selesai makan?". Nabila tak percaya saat melihat beberapa piring kosong yang ada di atas meja kedua bodyguard itu yang hanya menyisakan sisa sisa makanan mereka.


"Sayang tugas mereka kan menjaga majikannya jadi mereka tidak boleh lengah sedikitpun, makan pun harus cepat". Tutur Rangga sambil mengunyah makanannya.


"Secepat cepatnya mas tapi aku bahkan tidak sempat melihat mereka memegang sendok". Nabila benar benar heran dengan kedua bodyguardnya itu tapi apa yang dibilang Rangga benar piring piring mereka sudah kosong hanya ada sedikit sisa sisa makanan saja, itu berarti mereka memang sudah selesai makan.


Apakah memang harus seperti itu?, Sungguh kasian orang yang memiliki pekerjaan sebagai bodyguard, begitulah pikir Nabila.

__ADS_1


"Sudahlah sayang, kenapa jadi mikirin mereka, cepat makan yang banyak kalau bisa habiskan semuanya, biar Aditya dan yang lainnya kita pesankan lagi".


Nabila mulai menyantap makan siangnya tanpa mau memikirkan lagi keanehan pada kedua bodyguardnya.


__ADS_2