Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode12 First Kiss


__ADS_3

Suasana kampus yang terlihat sibuk dengan aktivitas para mahasiswa dan mahasiswi yang mengejar ilmu di dalamanya. Siang ini terlihat Nabila sedang asyik berbincang dengan kedua sahabatnya di taman yang tidak jauh dari fakultas kedokteran, taman itu tidak jauh juga dari mini cafe yang berada di pusat kampus, Ketiga gadis itu memang berusaha menyempatkan waktu untuk sekedar mengobrol, sharing, curhat atau bahkan makan siang bersama. Kepadatan jam belajar mereka membuat mereka sedikit kesusahan untuk menghabiskan waktu besama sama, seperti saat ini mereka hanya punya waktu sebentar untuk mengobrol, Lisa dan Maya hanya mempunyai waktu 20 menit lagi sebelum mereka kembali ke kelas masing masing. Ketiga gadis itu memanfaatkan waktu yang sempit itu untuk duduk santai dan berbincag ringan ditaman yang tidak jauh dari kelas mereka.


"Bil, jadi giamna kelanjutan hubungan kamu dengan mas Rangga?". Ucap Maya sangat antusias.


"Gimana apanya?". Nabila pura-pura tidak mengerti sambil mengalihkan pandangan ke arah cafe yang tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Udah deh Bil, jangan pura-pura ngga ngerti dehh". Lisa mencubit pelan lengan Nabila.


"Aku emang ngga ngerti kok maksud kalian". Nabila mengusap lengan yang bekas cubitan Lisa.


"Masa kalian pdkt nya lama banget bil, apa kalian ngga mau membawa hubungan kalian untuk bisa lebih dari teman". Maya menggeser duduknya dan memutar tubuhnya berhadapan dengan Nabila, Ia ingin menatap mata Nabila yang tidak bisa menyembunyikan perasaan yang dimilikinya kepada Rangga.


"Apaan sih kamu". Nabila tersenyum malu ,wajahnya terlihat merona seperti tomat.


"Lihat lihat baru ngomongin mas Rangga aja mukamu udah memerah gitu, aku sih yakin kamu juga punya perasaan yang sama kan seperti mas Rangga". Goda Maya yang melihat rona merah di wajah Nabila.


"Ayolah Bil, jangan tutupin perasaanmu sama kita. Kita tau kok kamu sebenarnya cinta juga kan sama mas Rangga". Lisa menimpali.


"Udah ngaku aja, ya ngga lis?". Maya menaikkan kedua alisnya meminta pesetujuan Lisa.


"Sebenernya apa sih yang buat kamu ngga mau nerima mas Rangga Bil?". Tanya Lisa penasaran.


"Iya Bil, dia itu kan idaman semua cewek. Banyak loh yang ngejar ngejar dia. Ini kamu yang dikejar kejar malah cuek cuek aja". Maya protes dengan sikap Nabila kepada Rangga selama ini.


"Bukan begitu, justru aku sadar diri siapa aku, rasanya aku ngga pantes aja buat dia. Kalian tau kan perbedaan kita sangat jauh, dan seperti yang kalian bilang barusan banyak cewek yang ngejar ngejar dia, kalau aku dibandingin sama mereka ya aku ngga ada apa-apanya". Ucap Nabila lirih.


"Jangan merendah begitu Bil, kamu juga cantik, baik, cerdas, dan yang paling penting mas Rangga lebih memilih kamu daripada mereka". Ucap Maya meyakinkan.


"Iya Bil, kalau menurutku sih apa salahnya jalanin dulu sama dia. Kedepannya kan kamu bisa liat kalau udah berjalan". Lisa memberikan saran.


"Aku masih belum yakin sama perasaanku". Nabila menatap kedua sahabatnya bergantian.


"Terserah kamu aja Bil, kita pasti dukung apa yang terbaik buat kamu ". Lisa merangkul punggung Nabila.


"Eh aku harus ke kelas sekarang deh, kalian ngga ada kelas lagi?". Maya berdiri dan hendak meninggalkan Nabila dan Lisa.


"Aku juga masih ada kelas nih, kita tinggal dulu ya Bil". Lisa ikut berdiri dan menggandeng tangan Maya.


"Iya , eh nanti aku balik duluan ya. Ngga bisa nungguin kalian. Ucap Nabila setengah berteriak kepada Lisa dan Maya yang sudah beberapa langkah meninggalkan dirinya. Maya dan Lisa hanya mengacungkan jempolnya.


Nabila sedang asyik memainkan ponselnya dan masih setia duduk di tempat tadi, tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya dan berdehem . Membuatnya reflek menoleh ke arah pria yang ada disampingnya.


"Ekkheeeemm". Pria itu berdehem.


"Serius banget kayanya". Ucap pria itu.


"Hey Ren, apa kabar? Kayanya udah lama ya kita ngga ketemu". Nabila mengulum senyum. Nabila dan Rendy memang sudah cukup lama tidak bertemu.


"Aku baik, ya iyalah orang kamu sibuk berduaan terus sama si songong itu". Ucap Tendy dengan nada sedikit kesal.


"Si songong siapa maksud kamu Ren?". Tanya Nabila dengan polosnya.


"Mas Rangga mu itu lah siapa lagi". Ucap Rendy dengan nada sinisnya.


"Appan sih kamu Ren". Nabila mendorong pelan bahu Rendy.


"Eh Lisa sama Maya mana?, Tumben kalian ngga bareng biasanya udah kaya roda becak, kemana bertiga-tiga". Seloroh Rendy sontak membuat Nabila terkekeh.


Nabila dan Rendy asyik berbincang bincang ngalor ngidul, melepas kangen setelah beberapa lama tidak bertemu, saling cerita satu sama lain, menertawakan hal kecil remeh yang menurut mereka lucu, bahkan mereka sesekali tertawa lepas menertawakan obrolan mereka yang menurut mereka sangat konyol. Mereka berdua terlihat sangat bahagia namun tidak dengan seorang pemuda yang berdiri menatap tajam mereka dari kejauhan. Pemuda itu Rangga yang sudah sejak lama memperhatikan Nabila dan Rendy dengan tatapan seperti elang, tatapan tajam dan membunuh , siap menerkam mangsanya kapanpun Ia mau.


Guratan cemburu terpancar jelas dari wajahnya yang sudah mulai merah padam, garis rahangnya terlihat jelas disana. Ia mengepalkan kedua tangannya dan berjalan menuju Nabila dan Rendy. Rangga langsung menarik tangan Nabila agar Nabila berdiri dekat dengan dirinya, hal itu sontak membuat Nabila dan Rendy kaget, Nabila berusha untuk melepaskan genggaman Rangga yang sudah membuat pergelangan tangannya merasa sakit, Rendy yang melihat itu semua beranjak dari duduknya dan hendak melepaskan tangan Nabila namun Rendy kalah cepat, Rangga sudah terlebih dulu melayangkan pukulan tepat dirahang tegasnya, membuat sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah dengan cepat Rendy mengusapnya dengan jempolnya, Nabila sudah mulai cemas Ia takut kedua pemuda di dekatnya itu akan berkelahi seperti yang terjadi waktu itu. Saat Rendy hendak membalas pukulan Rangga, Nabila menggelengkan kepalanya seolah memberi isyarat agar tidak menanggapi Rangga. Rendy hanya bisa mengeram kesal menatap Rangga yang kemudian pergi dengan membawa Nabila bersamanya, dengan sedikit menyeret tangan Nabila yang tidak mau mengikuti langkahnya. Rangga membawa Nabila naik menuju ke atas rooftop kampus.


"Lepasin tanganku mas , kamu mau bawa aku kemana". Racau Nabila. Rangga tidak mengindahkannya Ia terus saja menarik tangan Nabila agar mengikuti langkahnya.


Sesampainya di Rooftoop Rangga melepaskan genggamannya yang sejak tadi menggenggam pergelangan tangan Nabila. Rangga mendorong Nabila ketembok dan menguncinya dengan tubuhnya. Tangan kokohnya mengurungnya dengan bertumpu di tembok, posisi mereka berhadapan sangat dekat , deru nafas mereka tak beraturan beradu satu sama lain. Nabila berontak hendak keluar dari kungkungan tubuh kekar Rangga, namun apalah daya tenaganya kalah kuat darinya. Ia mencoba mendorong tubuh Rangga namun tak bergerak sama sekali. Rangga mendaratkan bibirnya di bibir ranum Nabila, entah setan apa yang merasuki Rangga hingga Ia nekat berbuat seperti itu. Nabila mencoba berontak sekuat tenaga tapi yang ada malah dia yang kehabisan tenaga, tubuh tegap Rangga masih tak bergeming di depannya. Rangga mulai ******* lembut bibir Nabila, setelah beberapa saat Rangga melepaskan bibirnya dari bibir Nabila Ia melihat ada bulir bening menggenang dipelupuk Nabila.


Rangga memundurkan tubuhnya dan memegang kedua tangan Nabila, ada rasa penyesalan yang begitu dalam saat melihat Nabila menitikan air matanya.


PLAAAKKKK...!!.

__ADS_1


Nabila menampar pipi Rangga, Rangga hanya bisa memegangi pipinya yang sudah memerah.


"Beraninya kau menciumku..!!".Teriak Nabila dengan tatapan penuh emosi.


"Maaf, maafkan aku Bil, a..aku ngga bermaksud menyakitimu". Ucap Rangga terbata sambil memegang kedua tangan Nabila dan menatap wajahnya penuh sesal.


Dengan cepat Nabila melepaskan tangannya dari genggaman Rangga, Ia berlari meninggalkan Rangga. Rangga mengejar Nabila dengan cepat dan kembali menahannya, Ia benar-benar menyesali atas perbuatannya.


"Bil, maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku..aku ..hanya tidak suka melihatmu dengan cowok sialan itu". ucap Rangga, Nabila menghapus dengan cepat air mata yang sempat membasahi pipinya.


"Arrrghhhh". Rangga mengusap wajahnya kasar merutuki kebodohannya.


Nabila kembali berlari meinggalkan Rangga, menuruni tangga dengan cepat, tanpa sengaja Ia berpapasan dengan Rendy yang memang sejak tadi mencari keberadaannya dengan Rangga.


Melihat Nabila berlari dan dengan mata memerah seperti mata habis menangis Rendy langsung menghentikan langkahnya.


"Bil, kamu kenapa?, Apa yang terjadi sama kamu?". Rendy menatap cemas wajah Nabila.


"Aku ngga apa apa Ren?". Nabila tersenyum kemudian Ia kembali berlari pergi meninggalkan Rendy.


Rendy melihat Rangga yang masih mengejar Nabila, membuat Rendy menyimpulkan kalau Rangga pasti sudah menyakiti Nabila. Rangga berlari hendak mengejar Nabila dihentikan langkahnya oleh Rendy yang sudah penuh amarah. Rendy menahan pergelangan tangan Rangga, tanpa berkata apa pun Rendy langsung melayangkan pukulan kepada Rangga.


Buuuuuggggghhhhhh!!!!


"Dasar cowok brengsek lo!!, Beraninya lo buat Nabila nangis". Teriak Rendy yang terus melayangkan pukulan kepada Rangga.


Rangga pun tidak tinggal diam begitu saja, Ia yang sejak tadi kemakan api cemburu membalas pukulan Rendy bertubi tubi, terjadilah perkelahian sengit diantara mereka. Banyak mahasiswa yang hanya menonton mereka tanpa berani melerai, bukannya mereka tidak memiliki rasa kemanusiaan namun mereka memilih untuk tidak berurusan lebih jauh dengan Rangga, yang bisa saja menghancurkannya kapan pun Ia mau.


Sudah beberapa saat mereka beradu pukulan, wajah mereka sudah terlihat babak belur dengan luka memar dan darah segar yang bercucuran dari hidung dan mulut mereka. Sampai akhirnya Alan datang melerai perkelahian itu namun naas Rangga malah melayangkan pukulan kepada Alan.


"Woii bro.., udah bro udah". Alan mencoba menahan tubuh Rangga agar tidak melanjutkan perkelahian itu, dengan cepat Rangga memukul Alan agar Ia bisa melanjutkan perkelahian sengit itu.


Buuuuuughhhh..!!!.


" Jangan ikut campur lo". Rangga memukul Alan hingga Alan tersungkur, tak berapa lama Ia bangkit dan kembali menahan tubuh Rangga.


"Bro udah bro, lo mau sampe bokap lo tau". Ucap Alan sedikit berteriak.


"Cukuuuuuppppp!!". Nabila berteriak kepada Rangga yang masih saja hendak memukul Rendy yang sudah tidak berdaya. Mendengar itu Rangga langsung mengurungkan niatnya.


Nabila membangunkan Rendy dan memapahnya menuju klinik untuk mengobati luka luka di tubuh dan wajah Rendy. Rangga yang melihat pemandangan di depannya hanya bisa mengeram kesal. Semua mahasiswa yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu mulai membubarkan diri setelah Alan mengibaskan tangannya mengisyaratkan untuk bubar.


"Minum dulu ini bro". Alan memberikan air mineral kepada Rangga. Rangga meneguknya hingga hampir setengah botol.


"Lan lo anter gue pulang ya, lo udah ngga ada kelas kan?". Tanya Rangga sambil memberikan air mineralnya kembali kepada Alan.


"Lo yakin bro mau pulang?, Lo ngga takut bokap lo tau, lagian kenapa lo ngga ke klinik kampus aja sihh". Ucap Alan.


"Bokap nyokap gue lagi di Jepang, baru kemarin berangkat jadi semua aman terkendali, kalau gue ke klinik lo mau gue mati sesak nafas karena cemburu" Jawab Rangga sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Maksud lo apaan gue ngga ngerti". Ucap Alan polos.


"Tadi kan lo liat sendiri Nabila bawa cowok sialan itu ke arah klinik , sudah pasti mereka masih disana sekarang". Ucap Rangga kesal.


"Bhahahaha". Alan terbahak...


"Ketawa lo, senang kan lo liat gue kaya gini". Seloroh Rangga.


Rangga mencari kontak Leon kemudian melakukan panggilan.


**Panggilan telefon berlangsung


"Yon, lo pantau semua media sosial, media cetak maupun elektronik jangan sampe ada berita tentang gue, gue habis mukulin anak orang , lo beresin jangan sampe bokap tau". Ucap Rangga menjelaskan.


"Baik tuan muda". Jawab Leon di seberang sana.


"Oiya yon lo urus semua kerjaan gue, gue mau istirahat dulu untuk beberapa hari".


"Apa tuan muda sakit?".

__ADS_1


"Ngga gue cuma ngga mau ngurus kerjaan dulu, gue mau nenangin pikiran dulu**".


"Baik tuan muda". Jawab Leon singkat sebelum Rangga menutup telefonnya.


"Lo anter gue , nih lo yang bawa mobilnya". Rangga melempar kunci mobil kearah Alan dengan sigap Ia menangkapnya.


Mobil yang ditumpangi Rangga dan Alan sudah keluar dari area kampus, di dalam mobil Rangga merebahkan tubuhnya di kursi belakang sedangkan Alan duduk di depan kemudi.


"Sialan lo bro, gue udah kaya supir lo aja, pindah lah kedepan". Gerutu Alan melihat Rangga yang memilih kursi belakang.


"Ah elah ngeluh terus lo, udah kaya ibu ibu tau ngga".


"Saialn lo". Gerutu Alan.


"Eh bentar deh emang gimana ceritanya sih lo bisa berantem sama cowok itu". Tanya Alan sambil melirik ke spion di depan nya menatap Rangga yang sudah mulai memejamkan matanya.


"Tuh kan penyakit kepo lo kumat, udah ngalah ngalahin emak emak komplek tau ngga lo". Ucap Rangga sambil memejamkan matanya.


"Udah ahh, lo jangan brisik gue mau tidur". Tambahnya lagi.


"Elah, beneran kan gue jadi supir kalau kaya gini mah". Gumam Alan lirih namun masih bisa didengar oleh Rangga.


Sementara itu di klinik kampus


Terlihat Rendy sudah mendapat perawatan dan pengobatan dari dokter yang bertugas disana, sekarang Ia terlihat sedang berbaring menunggu Nabila yang pamit membeli makanan untuknya. Tak berapa lama Nabila pun datang membawa semangkuk bubur ayam hangat dan sebotol air mineral. Nabila meletakkannya di atas nakas samping tempat tidur pasien, kemudian Ia menarik kursi yang ada di samping kasur dan mendudukinya.


"Kamu makan dulu Ren, itu udah aku bawain bubur ayam". Ucap Nabila.


"Sepertinya tanganku masih sakit deh Bil, aku belum bisa makan sendiri". Rendy beralasan.


"Jadi mau aku suapin?". Tanya Nabila. Rendy mengangguk cepat sambil mengembangkan senyum indahnya.


Nabila mulai menyuapi Rendy perlahan satu persatu, suap demi suapan sangat dinikmati oleh Rendy, hatinya sangat bahagia mendapatkan perlakuan yang sangat manis dari Nabila.


Bil, kalau kamu kaya gini aku rela babak belur tiap hari biar kamu bisa kasih perhatian kaya gini tiap hari juga. Batin Rendy.


"Kenapa kamu senyum senyum begitu?". Tanya Nabila yang melihat Rendy senyum senyum.


"Emmm..ini bubur ayamnya enak banget apalagi kamu yang nyuapin". Seloroh Rendy yang membuat Nabila tersenyum tipis.


"Oiya Bil, kamu ngga kerja?, Ini udah hampir jam 3 loh".


"Aku ngga mau kerja lagi di restoran mas Rangga". Jawab Nabila sambil memberikan satu suapan kepada Rendy.


"Kenapa?".


"Tunggu deh, sebenarnya apa yang dilakukan si songong itu sama kamu?, Kenapa kamu nangis tadi?". Sambungnya lagi.


"Siapa yang nangis, aku ngga nangis kok". Jawab Nabila singkat.


"Apa dia nyakitin kamu?". Rendy menatap lembut wajah Nabila, gadis itu hanya menggeleng.


"Terus kenapa sekarang , kamu mau keluar dari restorannya?". Tanya Rendy lagi.


"Yaa aku mau keluar aja". Nabila tidak mau menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Rendy, tentu saja itu hanya akan memperkeruh keadaan, hanya akan membuat Rendy marah besar kepada Rangga.


Maaf Ren, aku ngga bisa kasih tahu kamu yang sebenarnya, aku cuma ngga mau kalian berantem lagi cuma gara gara aku. Batin Nabila.


"Oke, kalau kamu ngga mau cerita ngga apa-apa itu hak kamu Bil, tapi ijinkan aku nyariin kerjaan buat kamu ya". Rendy memegang tangan Nabila.


"Tidak usah Ren, kayanya aku mau coba buka toko bunga aja deh". Jawab Nabila.


"Kamu serius?, Kalau begitu aku akan bantu kamu mengurusnya". Sahut Rendy antusias .


"Boleh , kamu bantuin aku cari ruko yang letaknya strategis ya, tapi aku cuma bisa menyewanya ngga sanggup buat beli hehehe". Nabila terkekeh.


"Aman itu, serahin semuanya sama aku". Jawab Rendy.


"Makasi ya Ren".

__ADS_1


"Ngga usah sungkan, kaya sama siapa aja kamu Bil". Ucap Rendy sambil menarik gemash ujung hidung Nabila.


__ADS_2