Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 74 Apa benar dia sahabat kakak ipar?


__ADS_3

Rangga dan Nabila tengah berada dalam perjalanan menuju kampus, sebelum ke kantor Rangga mengantar Nabila terlebih dahulu.


Sepanjang perjalanan Rangga tak henti hentinya mengingatkan Nabila untuk tidak tebar pesona dan dekat dekat dengan laki laki lain, termasuk dengan Rendy.


Nabila mengiyakannya, dirinya akan mencoba menjaga jarak denga Rendy sahabatnya, bukankah sudah sewajarnya jika wanita yang sudah menikah harus bisa menjaga jarak dengan laki laki lain, Nabila akan usahakan itu.


Rangga memeluk pinggang Nabila begitu erat, tak bosan bosannya menghujani Nabila dengan ciuman di pipi Nabila bukan hanya, itu ia berani mencium bibir Nabila sekilas walaupun ada Leon disana.


"Mas udah dong, ada Leon apa kamu ngga malu?!". Seru Nabila yang sudah kesal dengan kelakuan suaminya yang benar benar tak tahu tempat.


"Memang nya kenapa sayang, itu resiko dia kenapa dia jomblo!". Seru Rangga dengan menekankan kata jomblo membuat Leon bedecak sebal.


"Aku lagi yang kena!". Sungut Leon dalam hati, nasib jomblo gini amat yak.


"Sudah sana geser duduknya, jangan nempel nempel!". Ucap Nabila penuh peringatan.


"Syukurin lo!". Leon terkikik geli dibalik kemudi.


"Jangan gitu dong yank, kita kan pengantin baru wajar dong kalau maunya nempel terus". Cetusnya sambil kembali meraih tubuh Nabila yang sudah duduk menjauh menempel pintu mobil.


Nabila tak bisa berbuat banyak tenaga suaminya jauh lebih kuat, hanya dengan satu tarikan ia sudah kembali berada dalam dekapan suaminya.


Sepertinya Nabila harus mengalihkan perhatian Rangga, agar pria itu berhenti menciumi wajahnya.


"Mas Leon sebenarnya gimana hubungan mas Leon sama Lisa". Tanya Nabila kepada Leon sepertinya trik ini berhasil. Rangga menghentikan aktivitas menciumi wajah istrinya itu, kini Rangga tengah fokus ingin mendengarkan jawaban sang asisten.


"Aku dengan nona Lisa hanya berteman nona". Ucap Leon sambil melirik spion dalam yang menampakkan pantulan dari sana.


"Jangan nglirik istri gue Yon!". Seru Rangga tiba tiba mengagetkan Leon dan Nabila.


"Maaf tuan". Ucap Leon lirih.


"Fokus saja menyetir Yon, ngga usah lirik lirik istri gue. Kalau lo iri bilang Yon!". Serunya lagi.


"Tidak tuan muda, maafkan saya".


"Apaansih kamu mas, aku kan lagi ngobrol sama dia wajar dong dia nglirik aku". Kesal Nabila.


"Mas Leon ngga punya perasaan sam Lisa?, aku lihat waktu dansa kalian romantis sekali".


"Mana mungkin nona Lisa mau sama saya nona". Leon terkekeh.


"Kamu perjuangin dong kalau kamu suka, aku dukung kamu asalkan kamu bisa bahagiain dia". Nabila sangat mendukung jika Leon menyukai Lisa, Leon laki laki yang baik sangat cocok dengan Lisa, begitu pikirnya.


"Iya Yon, kalau lo suka pepet terus dong sampai dapet. Iya kan sayang?". Rangga mentowel dagu Nabila gemash.


"Kayak gue dong Yon, lihat akhirnya gue berhasil dapetin dia". Lanjutnya sambil membusungkan dada bangga.

__ADS_1


Leon hanya terkekeh, tidak tahu bagaimana jadinya jika Rangga tak berhasil mendapatkan Nabila, mengingat tuan mudanya itu terlalu tergila gila sama Nabila.


Mobil memasuki pelataran kampus, seperti biasa Rangga akan ikut turun sebentar, mengingatkan Nabila kembali untuk tidak dekat dekat denga laki laki manapun.


Setelah Rangga puas memberikan banyak peringatan kepada istrinya kini ia bergegas menuju ke kantor.


Nabila berjalan gontai menuju ruang kelasnya namun di tengah jalan ia berpapasan dengan Rendy, lebih tepatnya pria itu memang sengaja menunggu kedatangan Nabila.


"Haii, Bil kamu apa kabar?". Tanya Rendy yang ikut mensejajarkan diri dengan Nabila yang berjalan gontai.


"Aku baik Ren, sangat baik". Jawab Nabila.


"Syukurlah, kamu sudah sarapan Bil?".


"Sudah Ren, aku buru buru Ren maaf". Nabila berjalan lebih cepat lagi meninggalkan Rendy, namun pria itu masih belum menyerah ia tetap mengejar Nabila.


Nabila menghentikan langkahnya, menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Ren, aku mohon sama kamu mulai sekarang kita harus jaga jarak". Tutur Nabila lirih.


Kata kata lirih yang baru saja Rendy dengar justru langsung menghujam tajam mengenai luka di hatinya yang masih menganga, ada rasa kecewa bersarang disana.


"Tapi kenapa Bil?, bukankah dulu kamu pernah janji apapun yang terjadi kamu ngga akan menghindar ataupun menjauh dariku?". Rendy menatap Nabila dengan sendu membuat Nabila semakin merasa bersalah.


"Ren sekarang aku sudah menikah, aku ngga mungkin dekat dengan laki laki lain selain suamiku". Lagi lagi kata kata Nabila menyayat hatinya, ya wanita pujaan hatinya kini sudah memiliki suami.


Nabila menatap kepergian Rendy, hingga nampak punggung laki laki itu yang telah bergerak menjauh dari jangkauan pandangannya.


"Maafkan aku Ren". Ucap Nabila lirih, air matanya pun ikut tersapu membasahi pipinya.


Sejujurnya Nabila tidak ingin menjauhi Rendy yang sudah bertahun tahun lamanya menjadi sahabatnya, namun ia tidak punya pilihan lain dirinya telah menikah ada hati suaminya yang harus ia jaga, apalagi Rangga orangnya sangat cemburuan sudah pasti akan murka jika tahu dirinya masih dekat dengan sahabat laki lakinya itu.


 


Rania tengah sibuk melihat lihat foto foto yang baru saja dikirimkan oleh Rendy, foto foto kemarin saat mereka hangout bersama.


Gadis itu kebingungan mana yang harus ia posting di akun media sosialnya, ya pasalnya semua hasil fotonya sangat bagus hobi Rendy tentang fotografi patut diacungi jempol semua hasil jepretannya ciamik.


Rania senyum senyum sendiri membayangkan betapa bahagianya dirinya saat ini, melihat foto foto berdua dengan Rendy yang terlihat romantis bak sepasang kekasih.


Rania memilih satu foto untuk ia jadikan walpaper diponselnya, yang ia pilih adalah foto bersama Rendy yang tengah tertawa lepas.


Setelah selesai memposting foto di akun media sosialnya Rania keluar dari kamarnya turun ke bawah untuk mencari mamanya.


"Bik mama mana?". Rania mencari cari keberadaan mamanya.


"Nyonya ke kantor non, nona Rania butuh apa biar bibik buatkan". Tutur Bi Minah.

__ADS_1


"Tidak perlu Bik, kalau begitu Rania balik ke kamar lagi ya bik".


Rania berlari menaiki tangga dan kembali bergelung dengan selimut di dalam kamarnya.


"Ahh, bosannya. Enaknya ngapain ya?". Rania berpikir keras, mencari cari ide untuk mengusir rasa bosannya.


"Aku mau main ke toko bunga kakak ipar saja deh, kata mama kakak ipar punya toko bunga".


Rania mencari kontak Nabila lalu menelfonnya.


"Hallo kakak ipar, kakak ipar lagi dimana?. Sudah pulang kuliah?". Tanya Rania kepada Nabila saat sambungan telefon sudah terhubung.


"Iya dek, aku sudah pulang kuliah ini lagi di toko, memangnya ada apa?". Ujar Nabila dari seberang sana.


Nabila memanggil Rania adek walaupun usianya lebih muda satu tahun dari adik iparnya itu, namun ia lebih nyaman memanggil Rania adek sama seperti Rangga dan mama mertuanya yang memanggil Rania adek.


"Aku bosan dirumah kak, aku ke toko kakak ipar sekarang ya".


"Ya sudah kesini saja dek, nanti ku kirim alamatnya ya".


"Ya sudah aku siap siap dulu kak".


"Ya sudah aku tunggu ya, kamu hati hati di jalan ya dek".


Panggilan berakhir, Rania mengganti baju rumahnya dengan mini dress tak lupa membubuhkan make up di wajah cantiknya.


Setelah semua siap ia segera menyambar tas merk kermes berwarna hitam miliknya.


Setelah 35 menit menempuh perjalanan akhirnya ia sampai juga di toko Nabila, Rania keluar dari mobilnya berjalan memasuki toko bunga yang nampak ada beberapa pengunjung.


Nabila sudah menyambutnya di pintu masuk, membimbingnya untuk naik ke lantai dua tokonya, disana sudah ada satu kotak pizza dan dua minuman dingin.


"Kakak ipar hebat ya bisa punya toko bunga sendiri". Tutur Rania saat baru saja duduk di sofa yang berada di lantai atas.


"Ah kamu bisa saja dek, ini belum ada apa apanya hanya toko kecil kecilan".


"Tapi bener loh kakak ipar hebat, aku belum tentu bisa bangun toko mulai dari nol". Rania meletakkan tasnya di atas meja lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Kamu juga pasti bisa suatu saat kalau kamu pengen punya usaha sendiri tanpa bantuan keluarga, yang penting niat dan tekadnya serta keuletannya dalam membangun sebuah usaha itu sendiri".


"Silahkan diminum dulu dek".


Rania meraih minuman dingin yang ada di atas meja lalu meminumnya.


"Kakak ipar aku boleh tanya sesuatu?". Rania mengambil sepotong pizza lalu mulai memakannya.


"Tanya apa?".

__ADS_1


"Apa benar Rendy itu sahabat kakak ipar?". Tanya Rania sambil mengunyah pizza yang ada di mulutnya.


__ADS_2