
"Kamu kangen banget ya sama aku, sampai sampai narik narik tanganku seperti ini. Padahal tadi pagi udah ketemu". Celetuknya sambil menahan tawanya. Hal itu justru membuat Nabila semakin kesal pada Rangga.
Setelah dirasa jauh dari lapangan basket dan berada di tempat yang tidak begitu ramai, Nabila menghentikan langkahnya dan melepaskan tangan Rangga yang sejak tadi Ia tarik agar pria itu mengikutinya.
Senyum Rangga yang sejak tadi mengembang sirna saat melihat raut wajah Nabila yang tak ramah dengan tatapan penuh selidik.
"Mas Rangga aku mau tanya, Apa benar mas Rangga yang buat aku menerima beasiswa di kampus ini?".
"Apa benar mas Rangga yang sengaja ikut campur dan menjadikan aku salah satu penerima beasiswa di kampus ini?", tanya Nabila dengan wajah penuh kekecewaan.
"Maksud kamu apa?, Aku benar benar tidak mengerti". Tanya Rangga bingung.
"Mas Rangga jangan pura pura , aku tahu kalau aku dapat beasiswa disini itu bukan karena kemampuanku, tapi itu karena mas Rangga yang ngatur semuanya". Ucap Nabila yang sudah mulai berkaca kaca.
"Astaga!!, Kenapa kamu berpikiran seperti itu?, Siapa yang hasut kamu?". Kening Rangga mengernyit tak mengerti.
"Tidak ada yang menghasutku, aku hanya butuh jawaban iya atau tidak?!!". Ketusnya.
"Bil, aku tidak pernah melakukan itu semua sungguh".
"Apa mas Rangga pikir aku akan percaya begitu saja?".
"Ya Tuhan Bil, ngapain aku bohong sama kamu?, Aku benar benar tidak melakukan itu". Rangga meraih tangan Nabila berusaha meyakinkannya.
"Aku tidak pernah bantu kamu apapun agar mendapat beasiswa itu Bil, demi Tuhan aku tidak melakukannya". Sambung Rangga.
Sejenak Nabila terdiam dan mencerna semua ucapan Rangga, kini Ia bernafas lega dan rasa kecewa yang sempat menghujam dadanya berangsur hilang setelahnya.
"Apa kamu masih belum percaya?". Tanya Rangga.
"Aku akan mempercayai orang yang berani bersumpah dengan nama Tuhan". Nabila tersenyum simpul.
"Syukurlah". Rangga menghembuskan nafas lega.
"Jujur ya Bil, sebenarnya aku dulu memang sempat terpikir buat bantuin kamu, tapi aku pikir pikir lagi dan aku sangat yakin kalau kamu pasti bisa mendapatkan beasiswa itu karena otak kamu yang cerdas, lagi pun aku takut suatu saat nanti kamu akan kecewa kalau aku melakukannya, seperti sekarang ini". Pungkasnya.
"Terbukti kan, kamu bisa dapat beasiswa itu murni karena kerja keras kamu dan karena kemampuan kamu bukan karena bantuanku". Rangga tersenyum simpul.
"Iya sekarang aku percaya mas, maaf kalau aku tadi sempat kecewa sama kamu".
"Tidak masalah". Jawab Rangga sambil mengulum senyum.
"Aku pulang dulu ya". Nabila berjalan meninggalkan Rangga, dengan cepat Rangga mengikutinya dan mensejajarkan diri dengan Nabila.
"Memangnya kamu bisa masuk apartemen tanpa aku?". Bisik Rangga sambil menyeringai.
"Aku mau toko". Ucap Nabila lalu menjulurkan lidahnya mengejek membuat Rangga terkekeh.
"Kamu tunggu disini, biar aku antar aku juga harus ke kantor". Rangga menghentikan langkah Nabila.
"Aku naik taksi aja mas".
"Tunggu sebentar saja, aku ngga lama". Rangga berlari meninggalkan Nabila untuk mengganti baju basketnya yang sudah dipenuhi peluh itu.
"Ck". Nabila berdecak kesal.
Nabila berjalan menuju kursi taman yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, duduk disana menunggu Rangga sambil menjawab beberapa chat di toko onlinenya.
15 menit kemudian Nabila dan Rangga sudah berada di dalam mobil Rangga menuju toko bunga milik Nabila, tidak ada percakapan diantara keduanya hanya ada alunan musik yang keluar dari audio musik Rangga.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 35menit akhirnya mereka sampai di toko bunga milik Nabila.
"Bil, maaf ya aku ngga bisa turun, aku harus ke kantor sekarang". Ucap Rangga dengan penuh sesal.
"Ngga apa apa mas, terimakasih sudah mau nganterin". Nabila melepas seat beltnya.
"Mas Rangga hati hati ya, jangan ngebut". Nabila tersenyum kepada Rangga sebelum membuka pintu mobil.
Rangga melanjutkan perjalanannya menuju kantor yang kebetulan satu arah dengan toko bunga Nabila jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di kantor.
__ADS_1
Rangga berjalan cepat menuju lift yang akan membawanya menuju lantai dimana ruangan kerjanya berada, setelah berada dilantai tujuannya sebelum memasuki ruang kerjanya Rangga menghubungi Leon agar Ia datang ke ruangannya.
Rangga merebahkan tubuhnya di kursi kebesarannya untuk sejenak melepaskan lelah.
Tak berapa lama Leon memasuki ruangan Rangga setelah tuannya itu mempersilahkan masuk, Leon berjalan dengan gontai mendekati meja kerja Rangga lalu menyerahkan pakaian kerja untuk Rangga.
"Selamat siang tuan muda". Sapa Leon dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Siang Yon". Rangga tersenyum tipis.
"Silahkan tuan". Leon menyerahkan kemeja dan setelan jas yang sejak tadi Ia tenteng.
Rangga segera mengambil pakaian kerja yang diberikan Leon lalu Ia berjalan menuju ruang istirahat untuk mengganti outfit santainya dengan pakaian kerjanya.
Sedangkan Leon memilih untuk menunggu Rangga di sofa sambil memeriksa beberapa berkas yang baru saja Ia ambil dari meja kerja Rangga.
"Yon, apa lo udah berhasil beli rumahnya Nabila?". Tanya Rangga yang baru saja keluar dari ruang istirahatnya membuat Leon menoleh kearah Rangga sejenak meninggalkan pandangannya dari berkas berkas yang sedang Ia pegang.
"Sudah tuan muda". Leon berjalan sambil merogoh saku celananya mengambil sebuah kunci.
"Ini kunci rumah Nona Nabila tuan muda". Leon menyerahkan kunci rumah milik Nabila kepada Rangga yang sudah duduk di kursi kebesarannya.
"Kerja bagus Yon". Rangga tersenyum puas sambil meraih kunci itu dari tangan Leon.
"Saya juga sudah memberi tuan Johan pelajaran tuan". Ucap Leon.
"Gue senang dengan cara kerja lo Yon". Rangga semakin puas mendengar ucapan Leon, Ia merasa sangat senang bisa membalaskan sedikit penderitaan Nabila dan Aditya kepada Johan.
Leon kembali duduk di sofa dan melanjutkan mengecek berkas berkas yang ada di atas meja tepat di hadapannya, sedangkan Rangga sudah mulai sibuk dengan setumpuk laporan dan berkas yang harus segera Ia cek dan tandatangani.
Tok..
Tok..
Tok..
"Selamat sian nak Rangga". Ucap pria paruh baya yang baru saja memasuki ruangan Rangga.
"Siang". Rangga menoleh ke arah pria itu, yang ternyata adalah tuan Raymond salah satu klien papanya.
"Silahkan duduk om". Rangga berdiri lalu mempersilahkan tuan Raymond duduk setelah berjabat tangan.
"Maaf om, apa ada yang bisa Rangga bantu?, Bukankah kita belum ada jadwal untuk meeting bersama lagi". Tanya Rangga.
"Iya nak Rangga, om kesini hanya mampir sebentar untuk memberikan undangan ini kepadamu". Tuan Raymond menyodorkan sebuah undangan kepada Rangga.
"Undangan apa ini om?". Rangga menerima undangan itu lalu membolak balikkannya.
"Itu undangan pernikahan anak laki laki om nak Rangga, om harap kamu bisa datang biar om bisa sekalian mengenalkan kamu dengan anak perempuan om yang tempo hari om ceritakan kepadamu". Jawab tuan Raymond sambil menyandarkan tubuhnya di kursi yang ada di depan meja kerja Rangga.
"Acaranya minggu depan ya om?". Rangga membuka dan mulai membaca isi undagan tersebut.
"Rangga akan usahakan om". Rangga tersenyum simpul.
"Terimakasih , oiya nak Rangga apa kamu belum menghubungi anak om?, Waktu itu bukannya om sudah kasih kamu kartu namanya?". Tanya Raymond penuh selidik.
Sejenak Rangga merasa gugup, tidak tahu mau jawab apa, karena memang kartu nama itu sudah Ia buang di tempat sampah karena Ia benar benar tidak mau dijodoh jodohkan dengan anak tuan Raymond.
"Maaf sekali om, Rangga sangat sibuk jadi belum sempat menghubunginya". Kilah Rangga yang membuat Leon tersenyum saat mendengar alasan tuannya itu, karena Ia tahu betul bahwa kartu nama itu jelas jelas sudah di buang oleh Rangga.
"Oo begitu, tidak apa apa nak Rangga, om mengerti kamu pasti sangat sibuk".
"Baiklah nak, om harus pamit sekarang masih banyak pekerjaan yang menunggu". Tuan Raymond bangkit dari duduknya lalu menyodorkan tangannya kepada Rangga.
"Iya om, terimakasih ya sudah mau mampir". Rangga berdiri dan menerima jabat tangan tuan Raymond.
Setelah tuan Raymond sudah hilang di balik pintu, Rangga berjalan menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya disana.
"Lo dengar kan tadi Yon, om Raymond masih bersikukuh jodohin gue sama anaknya". Ucap Rangga sambil melipat satu kakinya. Leon hanya terkikik meresponnya.
__ADS_1
"Ketawa lo, senang kan lo Yon lihat gue menderita". Seru Rangga.
"Bukan begitu tuan muda, tapi apa salahnya tuan muda coba dulu ketemu siapa tahu cocok". Cicit Leon.
"Lo kan tahu gue cuma cinta sama Nabila, hati gue udah penuh sama dia Yon". Seloroh Rangga membuat Leon kembali menyeringai.
"Kalau begitu tuan muda harus berjuang lebih keras lagi untuk dapatkan cinta nona Nabila". Leon merasa iba dengan tuannya yang belu. juga bisa dapatkan hati Nabila.
"Entah lah Yon, kenapa gue belum bisa dapetin hati Nabila, hubungan gue sama dia belum ada perubahan apa apa". Rangga merasa sedih mengingat hubungannya dengan Nabila tidak ada tanda tanda kemajuan.
"Yang sabar tuan muda". Ucap Leon sambil menahan tawa.
"Mau ketawa ketawa aja lo Yon, jangan di tahan, memang kamu tu asisten durhaka seneng banget lihat bosnya menderita". Ucap Rangga yang kembali membuat Leon terkekeh.
"Tuan muda satu jam lagi kita akan ada meeting dengan beberapa klien baru". Leon mengalihkan pembicaraan, daripada nanti tuan mudanya tambah galau, pikirnya.
"Sudah kamu siapkan semuanya Yon?".
"Sudah tuan muda".
---------
"Yon hari ini gue ngga bisa lembur, gue harus pulang sekarang. Tolong lo urus semuanya ya Yon". Rangga membereskan tempat kerjanya dan bersiap untuk pulang.
"Baik tuan muda". Leon menganggukkan kepalanya.
"Lo jangan pulang larut malam Yon, aku pulang dulu".
"Iya tuan muda, hati hati di jalan". Leon memberi hormat kepada tuan mudanya sebelum Rangga keluar dari ruangannya.
Rangga berjalan gontai dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana membuat Ia terlihat sangat cool dan berwibawa, semua karyawan yang berpapasan dengannya memberi hormat yang Rangga balas dengan senyum tipisnya.
Setelah Rangga sampai di parkiran kantor, Ia segera menyalakan mobilnya dan melesat menuju toko bunga milik Nabila, 15menit kemudian Ia sampai di toko bunga dan segera menepikan mobilnya, terlihat disana Aditya sedang menutup dan mengunci rolling dor toko.
Sedangkan Nabila tengah berbincang bincang dengan Dea, Rangga turun dari mobil membuat ketiganya menoleh secara bersamaan.
"Haii, sudah mau pulang?". Rangga berjalan menuju Nabila dan Dea.
"Iya mas, hari ini mas Rangga ngga lembur?".
"Ngga, aku ada perlu sama kamu dan Aditya". Ucap Rangga yang membuat Nabila penasaran.
Aditya bergabung dengan mereka setelah selesai mengunci rolling dor.
"Sudah selesai ayo kita pulang". Ucap Aditya.
"Kalian berdua iku mobilku ya, biar Aditya sendiri naik motor". Ucap Rangga
"Kita naik taksi aja mas Rangga". Jawab Nabila.
"Kakak sama kak Rangga saja, biar Dea sama aku naik motor". Sahut Aditya.
"Iya mbak, aku pulang sama Aditya saja. Mbak Nabila ikut naik mobil mas Rangga saja". Dea ikut menimpali.
"Kalian pengertian sekali, terimakasih ya". Rangga tersenyum senang.
"Ya sudah ayo". Nabila berjalan lebih dulu menuju mobil dan diikuti Rangga.
"Dit, nanti kamu ikutin mobilku dari belakang ya. Ada yang mau aku tunjukkan sama kamu dan Nabila". Seru Rangga kepada Aditya dan juga Dea yang sudah berada di atas motornya. Aditya mengacungkan jempolnya.
"Apa yang mau ditunjukkan mas Rangga kepadaku dan Aditya?". Batin Nabila. Rasa penasaran Nabila menelisik hatinya namun Ia memilih untuk tidak menanyakannya kepada Rangga.
Sepanjang perjalanan Nabila hanya menatap sisi jalanan dari balik kaca mobilnya, begitu juga dengan Rangga yang fokus menatap jalanan di depan kemudinya.
Nabila terperanjat saat mobil yang Ia tumpangi ternyata berbelok ke arah jalanan yang bukan menuju apartemen Rangga, tapi menju komplek perumahan rumah neneknya dulu.
"Loh mas, kita ngga pulang ke apartemen?, Kok malah belok kesini?". Tanya Nabila bingung.
"Nanti juga kamu akan tahu". Jawaban Rangga membuat Nabila hanya menghela nafasnya, jawaban yang tidak membuatnya puas. Nabila kembali menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.
__ADS_1