Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 114 Kebodohanku


__ADS_3

"Rania?" Tanyanya sambil menangkup wajah Rania membuat Rania tersentak.


"Kamu kemana saja, kenapa kamu menghilang?" Racaunya.


"Aku sangat merindukanmu Rania," racaunya lagi, Rania terperangah. Benarkah Rendy merindukannya?


Rania seperti baru saja merasakan sejuknya air pegunungan mendengar ucapan Rendy, ada rasa bahagia dalam dirinya.


Selama ini ia mati matian melupakan pria itu, dan sekarang dirinya bertemu lagi dengannya, rasanya perjuangannya untuk melupakan pria itu sia sia saja, hanya dengan mendengar kata rindu dari Rendy dirinya sudah kembali terperangkap dalam cintanya.


Rania jatuh kembali di dalam jeratan cinta yang rumit, cinta yang beberapa bulan ini coba ia lupakan, tapi hanya dengan perkataan dan perlakuan manis Rendy Rania sudah kembali dibuat mabuk kepayang oleh pria itu.


Perlakuan manis Rendy membuat Rania merasa dirinyalah wanita yang dicintai pria itu, melupakan kenyataan bahwa bukanlah dirinya yang terukir indah di hati Rendy.


Rendy memeluk Rania erat mulutnya tak henti meracau. Rasanya bahagia bisa merasakan pelukan hangat pria itu, Rania membalas pelukan Rendy lalu berkata "Aku juga sangat merindukanmu Ren," ucapan Rania entah bisa ditangkap dengan jelas atau tidak oleh pria yang setengah kesadarannya sudah terbang melayang layang itu.


Rania kembali memapah Rendy menuju mobilnya, badan Rendy yang lebih besar darinya membuatnya sangat kesusahan untuk mendudukkan laki laki itu di mobilnya.


Dengan susah payah Rania menidurkan Rendy di jok penumpang, pria itu masih tak berhenti meracau tak jelas, Rania bernafas lega saat tubuh Rendy sudah berada di dalam mobilnya, badannya terasa remuk redam memapah pria itu, huhh.


Rania berlari memutari mobil, melajukan kembali mobilnya saat sudah berada di balik kemudi, sesekali ia melirik Rendy melalui kaca spion di depannya, pria itu sudah terpejam tak terdengar lagi racauannya.


"Ya Tuhan aku harus mengantarnya kemana?" Rania merasa dejavu, kejadian seperti ini sudah pernah dialaminya dulu saat baru mengenal Rendy dan kini ia berada dalam kondisi seperti ini lagi, Rania merasa sedang dipermainkan oleh takdir.


Rania memutuskan membawa Rendy ke hotel milik keluarganya, sama persis dengan kejadian dulu waktu dirinya juga membawa pulang pria itu dalam kondisi mabuk seperti ini.


Rania meminta petugas hotel untuk membawa Rendy ke kamar yang sudah disiapkan setelah dirinya sampai di salah satu hotel milik keluarganya.


Sesaat petugas itu pergi Rania pun ikut melangkah menuju pintu untuk keluar dari kamar, namun tiba tiba saja Rendy berlari dan menahannya, pria itu seperti sudah setengah sadar dari mabuknya.


Ia menarik tubuh Rania hingga gadis itu berada dalam dekapannya, mulai menyatukan bibirnya dengan bibir Rania.


Pagutan dan lum*tan yang lembut membuat Rania merasakan sensasi yang tidak pernah ia rasakan, walaupun waktu itu pernah merasakan ini dengan Rendy namun kali rasanya berbeda tidak cukup sampai disitu kini Rendy mulai menelusuri leher jenjang Rania hingga membuat gadis itu merasa seperti tersengat listrik, namun ia sangat menikmati setiap sentuhan yang Rendy berikan.

__ADS_1


Rendy menggiring Rania menuju tempat tidur, mulai melucuti semua pakaian yang ada di tubuh keduanya, Rania menjerit dan menangis saat Rendy mencoba menerobos benteng pertahanan milik Rania yang masih tersegel.


Air matanya mengalir membasahi pipinya, namun sensasi yang dirasakannya membuat ia melupakan semuanya.


"Nabilaaahh!" serunya saat Rendy mencapai pelepasannya.


Seketika itu pun Rania tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, ia menangis tersedu meratapi kebodohannya, telah menyerahkan harta yang paling berharga yang ia miliki, yang selama ini dirinya jaga mati matian.


Air matanya begitu deras mengalir di wajahnya, isak tangisnya menggema memenuhi ruangan, betapa bodohnya dia, bagaimana bisa ia terbawa bujuk rayu setan hanya karena dia sangat mencintai laki laki itu ia rela menyerahkan semuanya, ia benar benar sudah kehilangan akal, entahlah kejadian itu terjadi begitu saja.


Rania meringkuk menangis pilu, kini masa depannya telah hancur, harga dirinya telah direnggut, bagaimana nasibnya setelah ini, apa masih ada pria yang akan menerimanya nanti?


Rania benar benar menyesali perbuatannya namun semuanya sudah terlambat, semuanya sudah terjadi dan tidak bisa ditarik kembali, masa depannya sudah benar benar hancur.


Rania melirik Rendy yang sudah tertidur di sampingnya dengan tubuh yang masih polos, ia kembali menangis mengingat saat pria itu mencapai pelepasannya justru nama kakak iparnya yang disebut, sungguh hatinya sangat sakit dan perih, sembilu tajam menyayat hatinya mencabik cabik luka yang sudah sempat mengering, Rania menangisi kecerobohan dan kebodohan dirinya hingga ia tertidur dengan posisi meringkuk sambil memeluk dirinya sendiri.


****


Matahari sudah menelasak masuk melalui celah celah jendela kamar, sinarnya menyilaukan mata Rania yang masih terlelap mengusik tidurnya.


Ah Rania baru ingat semalam ia telah melakukan dosa terkutuk itu dengan Rendy, air matanya berhamburan dari matanya yang sembab, semalaman menangis membuat matanya sembab.


Rania menangis tersedu, hingga membuat Rendy terbangun dari tidurnya.


Rendy terlonjak kaget saat melihat ada seorang wanita yang sedang duduk menangis sambil memeluk erat selimut yang menutupi tubuh polosnya.


"Ra..Rania," ucapnya tergagap.


"Kenapa kamu ada disini? Apa yang terjadi?" Tanya Rendy bingung saat mendapati tubuh dirinya dan Rania sama sama polos.


Rania semakin menangis meraung raung, membuat Rendy semakin kalut. Rendy menyibak sebagian selimut yang membalut tubuh Rania, dan betapa terkejutnya dia saat melihat ada bercak darah di tempat tidur yang mereka tempati.


"Shittt!!"

__ADS_1


"Apa yang sudah aku lakukan kepadamu?" Rendy menjambak rambutnya frustasi, mengusap wajahnya dengan gusar.


Melihat Rania yang tak berhenti menangis membuatnya merasa sangat bersalah, tapi Rendy sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi semalam, bukankah semalam dirinya bermimpi sedang bercinta dengan Nabila, terkutuk memang menghayal bercinta dengan istri orang, namun itulah yang terjadi semalam.


Tapi rasanya bukan seperti mimpi, melainkan terasa sangat nyata. Rendy merasakan kenikmatan yang begitu nyata, dan kenapa ada Rania di sampingnya dengan tubuh polos, dan bercak darah itu? Itu artinya apa yang terjadi semalam bukanlah mimpi, tapi kenyataan dan wanita itu bukan Nabila melainkan Rania.


"Aarrrgghh!!" Rendy berteriak frustasi, dirinya telah merenggut harga diri Rania, telah menghancurkan masa depan gadis itu.


Rania masih tak berhenti menangisi keadaannya, Rendy menatap Rania dengan iba, perasaan bersalah dalam dirinya mulai mengungkungnya.


"Ran, maaf maafkan aku," Rendy memeluk Rania, Rania meronta ronta dalam pelukan Rendy sambil menangis pilu, tangisan Rania membuat hati Rendy teriris perih, tidak tega melihatnya seperti ini, gadis ceria yang selama ini ia kenal kini menangis menyedihkan dan itu karena perbuatannya.


"Aku akan tanggung jawab, aku janji Ran," Rendy semakin mengeratkan pelukannya, mencium kening Rania begitu dalam.


Rania melepaskan diri dari pelukan Rendy, berlari menuju kamar mandi dengan selimut tebal masih membalut tubuhnya yang polos.


Rendy menatap kepergian Rania dengan sendu, berkali kali ia merutuki kebodohannya, mengumpati dirinya sendiri yang sudah merusak masa depan seorang gadis yang beberapa bulan ini membuatnya rindu.


Rania menyalakan shower, menangis dan menjerit di bawah guyuran air shower, menggosok tubuhnya dengan kuat berharap bisa menghilangkan ingatannya tentang kejadian semalam, Rania jijik dengan melihat tubuhnya sendiri, tubuhnya sudah kotor, dirinya sudah tidak suci lagi.


Satu jam sudah Rania berada di dalam kamar mandi membuat Rendy khawatir, pria itu kini sudah memakai pakaian miliknya kembali.


Mencoba mengetuk pintu kamar mandi, merasa cemas dengan keadaan Rania yang sudah satu jam tak kunjung keluar dari kamar mandi.


"Ran, kamu sedang apa? Kenapa lama sekali," Berkali kali Rendy menggedor pintu kamar mandi namun tak ada jawaban dari Rania, hanya ada suara gemricik air mengalir yang ia dengar.


Cukup lama Rendy menunggu di depan pintu kamar mandi, membuat dirinya semakin cemas, tidak ada pilihan lain lagi akhirnya Rendy memutuskan untuk mendobrak pintunya.


"Ran, aku dobrak pintunya ya," tutur Rendy setengah berteriak. Tak ada jawaban juga.


BRAAKKK!!!


Pintunya sudah terbuka, Rendy terbelalak saat melihat tubuh Rania terkulai di dalam bathtub dengan air yang masih mengalir di dalam bathtub hingga hampir menenggelamkan tubuh polos Rania.

__ADS_1


Rendy segera mengangkat tubuh Rania dari bathtub, menggendongnya, dengan tergopoh gopoh Rendy membawanya dan membaringkannya ke tempat tidur.


__ADS_2