Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 71 Malam pertama yang menyebalkan


__ADS_3

Setelah sarapan Nabila dan Rangga memutuskan untuk kembali ke kediaman Pramudita, kedatangan mereka disambut hangat oleh kedua orang tua Rangga yang kala itu tengah bersantai di ruang tengah, tak ketinggalan Rania juga ada disana memeluk manja mamanya.


"Kalian sudah pulang?". Tanya nyonya Rani saat Rangga dan Nabila ikut bergabung di ruang tengah.


Rangga dan Nabila duduk di sofa ikut menonton acara tv yang sedang Rania dan mamanya tonton, sedangkan tuan Angga lebih memilih membaca korannya sambil menikmati kopi hitam miliknya.


"Iya ma". Jawab Nabila.


"Mama pikir kalian akan lama menginap di hotel".


"Ngga ma, di hotel sangat membosankan ma". Sahut Rangga.


"Kenapa memangnya?". Rani mengerutkan keningnya.


Belum sempat Rangga menjawab Rania sudah memotongnya.


"Kakak bagaimana malam pertama kalian?". Tanya Rania sambil cengengesan, dirinya merasa heran dengan raut wajah kakaknya yang nampak masam.


"Malam pertamanya menyebalkan". Rangga mendesah frustasi hingga membuat semua orang yang ada disana terheran heran, namun tidak dengan Nabila yang sudah tahu apa yang membuat mood suaminya itu buruk hari ini.


"Kenapa?". Rania antusias ingin mendengarkan cerita kakaknya, melepaskan tangannya yang sejak tadi memeluk mamanya.


Nabila mengigit bibir bawahnya, takut kalau kalau Rangga akan menceritakan penyebab bad mood nya.


"Nabila datang bulan, kita tidak bisa melakukannya". Tuturnya dengan ekspresi begitu menyedihkan.


"Aaaaa kenapa dia jujur sekali sih". Ingin rasanya Nabila menenggelamkan diri di dasar laut, ia sangat malu dengan kelakuan suaminya.


"Hahahaha". Rania terbahak.


Nyonya Rani dan tuan Angga pun tertawa, merasa lucu dengan raut wajah Rangga yang menyedihkan hanya karena gagal malam pertama.


"Diam kamu dek!, Kamu senang lihat kakakmu ini menderita?". Rangga menghunuskan tatapan tajam kepada Rania.


"Hahaha, hummmp". Rania mencoba menahan tawanya.


"Lagian kakak lucu sekali, hanya karena tidak bisa malam pertama wajah kakak semenyedihkan itu". Cicit Rania.


"Diam kamu anak manja, tahu apa kamu soal itu, kamu ngga akan ngerti". Rangga menjintikkan kelima jemarinya tangannya.


"Enak saja aku ngertilah kak, aku kan sudah dewasa bahkan sama kakak ipar saja lebih tuaan aku umurnya". Tuturnya tidak terima.


"Dewasa apanya?, manja iya!".

__ADS_1


Rania memutar bola mata sebal.


"Memangnya benar sayang umurmu lebih muda dari Rania?". Tanya nyonya Rani penasaran.


"Iya ma, umurku baru 20 tahun".


"Cuma beda satu tahun sama adek, tapi kalau masalah dewasa mama lihat Nabila lebih dewasa dari kamu sayang". Nyonya Rani mencubit gemash pipi Rania yang duduk di sampingnya.


"Ihh mama apaansih, sakit tau!". Rengek Rania, nyonya Rani terkekeh.


"Oiya sayang cobain ini kue fudgy brownis buatan mama". Ucap nyonya Rani kepada Nabila sambil menunjuk, satu kotak besar kue brownis sekat bertoping coklat dan kacang almond.


"Aku cobain ya ma". Nabila mulai mengambil sepotong kuenya.


"Hmmm, enak banget ma, mama suka membuat kue juga?". Tanya Nabila.


"Iya sayang".


"Sama ma, aku juga suka banget membuat kue".


"Wah boleh tuh kapan kapan kita buat kue bareng".


"Iya ma".


"Aku ngga kalian ajak?". Sahut Rania.


Mama dan Nabila ngobrol ngobrol seputar hobi mereka membuat kue, sementara Rania sibuk memainkan ponselnya, membalas chat dari Rendy.


Rangga dan papanya membicarakan soal perusahaan mereka.


"Pa, papa ngga ngantor hari ini?". Tanya Rangga sambil mengambil satu potong kue dan memakannya.


"Hari ini tidak ada pertemuan penting atau lainnya, semuanya bisa papa kerjakan dari rumah. Oiya kapan kamu mau masuk kantor?". Tuan Angga melipat korannya, meletakkannya di meja.


"Besok Rangga masuk kantor".


"Kalian tidak berbulan madu?". Tanya tuan Angga sambil menyesap kopi miliknya.


"Nanti Rangga atur waktunya dulu pa, di kantor banyak yang harus dikerjakan lagi pun Nabila sedang ada tamu bulanan". Tuturnya.


------


Rania sudah terlihat cantik dengan balutan mini dress berwarna biru dengan tas dan sepatu flat shoes warna senada dengan bajunya.

__ADS_1


Siang ini ia akan bergi hangout dengan Rendy, hatinya sangat senang bisa mempunyai kesempatan untuk pergi bersama dengan laki laki itu.


Sebelum pergi Rania berpamitan dulu kepada kedua orang tuanya, kakak dan kakak iparnya yang masih sibuk mengobrol di ruang tengah.


Rania dan Rendy ketemuan di restoran cepat saji yang berada tak jauh dari cafe tempat pertama mereka bertemu.


Rania mengendarai mobil miliknya sendiri tanpa supir, gadis itu memang tidak suka jika harus pergi di temani oleh supir atau bodyguard, padahal tuan Angga selalu meminta Rania untuk dikawal bodyguard karena dia anak perempuan yang harus benar benar dijaga keselamatannya namun ia selalu menolak dengan keras permintaaan papanya.


Rania sudah berada di restoran cepat saji tempat janjiannya, Rania menyapu ruangan mencari sosok Rendy, wajahnya berbinar saat manik hitamnya menangkap sosok yang dicarinya sedang menyesap secangkir kopi.


Rania berjalan gontai menghampiri meja Rendy, menarik kursi di depannya dan mendaratkan tubuhnya disana.


"Kamu sudah lama Ren?, maaf ya aku telat" . Tutur Rania sambil melepaskan tas jinjingnya dan meletakkannya di sebuah kursi kosong di sampingnya.


"Tidak juga, belum ada setengah jam kok". Sahut Rendy.


"Kamu cantik sekali Ran". Puji Rendy membuat wajah Rania merona.


Gadis itu memang sengaja berdandan secantik mungkin untuk menarik perhatian Rendy dan benar saja sekarang laki laki itu memujinya membuatnya berbunga bunga, hatinya seperti melayang jauh di angkasa lepas.


Bukankah memang begitu jika kita dipuji oleh seseorang yang kita sukai maka akan sangat berefek pada diri kita, ada rasa senang, bangga, semangat dan masih banyak lagi rasa lain yang tak bisa diungkapkan.


"Kita makan siang dulu ya". Sambungnya, tangannya melambai ke arah pelayan wanita memanggilnya untuk memesan makanan.


Setah memesan makanan, tak lama kemudian pesanan mereka datang, mereka menikamti makan siangnya sambil mengobrol.


"Ran bagaimana kabar Nabila?". Tanya Rendy sambil menikmati makan siangnya.


"Kakak ipar baik". Sahut Nabila tanpa ada rasa curiga atau apapun.


Ya setahu Rania Rendy adalah sahabat Nabila jadi wajar saja jika laki laki itu menanyakan kakak iparnya.


"Kamu tahu Ren, Kak Rangga dan kakak ipar gagal melakukan malam pertamanya". Tutur Rania membuat Rendy semakin bersemangat mendengarkan cerita gadis cantik itu.


"Kenapa memangnya?". Ada rasa senang meliputi hati Rendy mendengar hal itu.


"Iya karena kakak ipar sedang datang bulan, dan kamu tahu Ren kakak seperti menderita sekali dengan hal itu". Ucap Rania sambil terkekeh, Rendy pum tertawa puas mendengarnya, entahlah Rendy terdengar seperti orang jahat menertawakan penderitaan Rangga tapi sungguh ia merasa senang mendengar hal itu.


"Mereka berdua tinggal di kediaman Pramudita Ran?".


"Iya Ren mama dan papa menyuruh mereka tinggal dirumah saja, kalau di apartemen kasian kakak ipar ngga ada teman ngobrol kalau kakak kerja".


"Iya kasian juga nanti Nabila bosan kalau harus diam di apartemen sendirian".

__ADS_1


"Tapi Nabila masih tetap melanjutkan kuliahnya kan Ran?". Lanjutnya.


"Tentu, kakak ngga melarang kakak ipar untuk mealnjutkan pendidikannya dan mengurus tokonya". Jawab Rania, jawaban gadis itu sedikit membuat Rendy bernafas lega, ia masih bisa menemui Nabila di kampus atau di tokonya, begitulah pikiran Rendy.


__ADS_2