
Pagi yang cerah menyambut semangat penduduk bumi mengawali harinya, Nabila terlihat sedang merapikan dan membereskan piring piring bekas sarapan dirinya dan Aditya.
Aditya yang kini sudah lengkap dengan seragam sekolahnya beserta tas di pundaknya segera menyambar segelas susu hangat miliknya, meneguknya hibgga tetes terakhir.
"Kak, apa kakak yakin tidak mau Aditya antar ke kampus?". Tanya Aditya sambil merapikan rambutnya.
"Tidak Dit, kamu berangkat saja dulu, ini masih terlalu pagi nanti kakak kelamaan nunggu di kampus". Ucap Nabila tanpa menoleh Aditya, tangannya masih sibuk dengan piring piring kotor di hadapannya.
"Ya udah Adit, berangkat dulu ya kak". Aditya berpamitan kepada Nabila.
"Hati hati kamu Dit, jangan ngebut bawa motornya". Ucap Nabila setengah berteriak saat Aditya sudah meninggalkan dapur.
Setelah selesai mencuci piring Nabila bergegas pergi ke kamarnya mengecek ponselnya untuk mengurus beberapa orderan yang masuk lewat toko onlinenya, tak terasa sudah satu jam lamanya Ia berkutat dengan ponselnya.
"Astaga, sekarang sudah jam setengah tujuh, sebentar lagi mas Rangga jemput". Nabila bergegas mengganti pakaiannya dan bersiap untuk pergi ke kampus.
Memoles tipis wajahnya dengan riasan make up natural, mengikat rambutnya kuncir kuda, Nabila terlihat santai dengan blouse berwarna cream dan midi skirt serta sepatu kets berwarna putih serta tas slempang di tubuhnya.
Nabila duduk di kursi yang ada di depan rumahnya menunggu Rangga menjemputnya, karena semenjak mereka pacaran Rangga selalu mengantar Nabila ke kampus sebelum Rangga ke kantor, dan selalu menjemput Nabila di toko nya saat Ia pulang kantor.
"Kamu sudah lama nunggu sayang?". Tanya Rangga yang baru saja tiba di rumah Nabila.
Pria dengan balutan setelan jas berwarna grey itu kini sudah berdiri tepat di hadapan Nabila, membuat Nabila terlonjak seketika dengan kehadirannya, sejak tadi gadis itu fokus dengan ponselnya hingga tak menyadari kedatangan Rangga.
"Astaga, mas Rangga ngagetin aja!". Cetus Nabila sambil memegang dadanya yang sedikit berdebar karena kaget.
"Kamu serius banget sihh, sampai sampai ngga tahu aku datang".
"Hemm, ya sudah ayo berangkat Nanti mas Rangga telat ke kantor". Nabila berjalan melewati Rangga yang masih bergeming di tempatnya.
"Mas ayo". Nabila menarik tangan Rangga.
"Nah gitu dong sayang, di gandeng". Rangga mengedipkan sebelah matanya sambil mengulas senyum.
"Idiihh, kamu kenapa jadi genit begitu sih mas?". Nabila mengedikkan bahunya.
"Kebanyakan main sama Alan sih". Imbuhnya.
Rangga hanya terkekeh mendengar ucapan Nabila.
"Selamat pagi nona Nabila". Sapa Leon sambil membungkukkan kepalanya.
"Pagi mas Leon". Nabila tersenyum tipis.
Kini mereka telah berada di dalam mobil, Leon memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, pria berkumis tipis itu fokus dengan jalanan di depannya tanpa menghiraukan tuannya yang kini sedang bermesraan dengan Nabila.
Sejak tadi Rangga menautkan jemarinya dengan jemari Nabila dan berkali kali mendaratkan ciuman di punggung tangan Nabila.
"Mas, sudah ah malu dilihat Leon". Ucap Nabila lirih.
"Ngapain malu, anggap saja Leon ngga ada sayang". Rangga kembali mendaratkan ciuman di punggung tangan Nabila yang masih menaut dengan jemarinya.
"Sayang, kamu jangan genit genit ya di kampus, awas saja kalau kamu dekat dekat dengan laki laki sialan itu lagi". Cetus Rangga membuat Nabila mengalihkan pandangan dari jendela mobil ke arah Rangga.
"Maksud kamu Rendy?". Tanya Nabila menatap Rangga dengan malas.
"Hmmm".
"Aku kan sudah bilang sama kamu mas, jangan cemburu sama Rendy kita cuma sahabatan!". Seru Nabila.
__ADS_1
"Tapi sayang...". Rangga belum sempat melanjutkan ucapannya.
"Stop mas, aku ngga mau berdebat sepagi ini". Nabila membuang kembali pandangannya ke arah jendela.
"Baiklah". Rangga mengalah saja daripada Nabila marah, dia tidak akan tahan melihatnya.
Leon menepikan mobilnya saat mereka sudah sampai di kampus, Leon bergegas membukakan pintu untuk Rangga dan Rangga berjalan memutar untuk menghampiri Nabila yang baru saja turun dari mobilnya.
"Sayang sepertinya nanti sore aku ngga bisa jemput kamu di toko, aku lembur hari ini banyak pekerjaan yang urgent di kantor". Ucap Rangga sambil membelai rambut Nabila dengan sayang. Membuat semua mahasiswi yang tengah berlalu lalang memperhatikan mereka begitu iri melihatnya, Rangga sangat tidak peduli dengan hal itu namun tidak dengan Nabila yang merasa tidak nyaman di perlakukan manis di depan umum oleh Rangga, Ia merasa malu kini pipinya bersemu merah menahan malu.
"Ngga apa apa mas, biar aku pulang naik angkutan umum atau naik taksi saja". Nabila mencoba menghentikan tangan Rangga yang masih membelai nrambutnya.
"Jangan sayang, nanti aku kirim supir untuk menjemputmu ".
"Itu ngga perlu mas".
"Sayang, please jangan menolak!".
Nabila menghela nafas kasar, pria ini selalu saja memaksa.
"Baiklah, ya sudah aku masuk dulu, kamu hati hati ya mas, semangat kerjanya!!". Nabila mengulas senyum manisnya.
"Iya sayang". Rangga mengecup sekilas puncak kepala Nabila lalu masuk kedalam mobil setelah Leon membukakan pintunya.
--------
Rangga baru saja keluar dari ruang meeting diikuti Leon di belakangnya, dengan langkah gontai Rangga berjalan menuju ruangannya, duduk dikursi kebesaran miliknya menyandarkan tubuhnya dan melipat satu kakinya.
"Tuan muda, sudah saatnya makan siang, tuan muda mau makan dimana?".Tanya Leon yang kini tengah berdiri di belakang kursi Rangga.
"Gue mau makan disini aja Yon, tolong lo pesenin makan". Ucap Rangga sambil memainkan ponselnya.
Rangga sejak tadi sibuk menghubungi Nabila, mencoba melakukan panggilan video call, saat dua kali mencoba akhirnya terhubung juga dengan Nabila.
"Haii sayang, apa aku mengganggumu?". Rangga tersenyum saat layar ponselnya menampakkan wajah cantik Nabila.
"Ngga mas, hari ini ngga begitu sibuk, kamu sendiri bagaimana di kantor?".
"Ya lumayan sibuk, setelah makan siang nanti ada meeting lagi dengan beberapa klien".
"Oiya kamu udah makan siang belum mas?".
"Belum sayang, sebentar lagi. Aku kangen sama kamu mau ngobrol dulu sama kamu". Rangga terlihat tersenyum begitu indahnya di depan layar ponselnya.
"Makan dulu mas, jangan sampai telat makan". Ucap Nabila terlihat khawatir.
"Iya sayang, Leon lagi belikan makanan untukku".
"Oiya sayang, nanti sore kamu di jemput pak kasim ya, supir kantor yang akan aku suruh jemput kamu untuk beberapa hari ke depan".
"Iya mas ngga apa apa, kamu fokus saja dulu sama pekerjaan kantor".
"Ya sudah kalau begitu aku makan dulu ya sayang, nih Leon sudah datang bawa makanan". Rangga melirik ke arah pintu terbuka terlihat Leon membawa sepiring makanan dan segelas air putih.
"Iya mas, selamat makan ya dan selamat bekerja". Ujar Nabila penuh semangat dan bibir ranumnya mengulum senyum.
"Iya sayang , terimakasih".
"Bye". Nabila melambaikan tangannya sebelum memutus sambungan video callnya.
__ADS_1
------
Nabila dan ketiga pegawai tokonya tengah sibuk bersiap untuk menutup tokonya, setelah semua siap Nabila mengambil tas nya yang Ia letakkan di lantai atas toko.
Beberapa saat kemudian Nabila turun sudah memakai tas selempangnya menuruni anak tangga lalu bergegas untuk menutup rolling dor dibantu oleh Dea dan kedua pegawai barunya.
"Terimakasih ya". Ucap Nabila setelah berhasil menutup tokonya.
Sudah beberapa hari ini Aditya di sibukkan dengan kegiatan sekolahnya yang semakin padat dari mulai eskul, tugas kelompok dan masih banyak lagi, sehingga Ia tidak bisa menemani dan membantu Nabila di toko.
"Mbak pulangnya mau bareng?". Tanya Dea yang sudah duduk di atas motornya, kali ini Dea memang membawa motornya untuk bekerja.
"Maaf De bukannya aku ngga mau, tapi supir mas Rangga sebentar lagi jemput". Tolak Nabila sopan.
"Ya sudah kalau begitu kita duluan ya mbak". Dea dan kedua pegawai baru Nabila pulang lebih dulu, sedangkan Nabila menunggu supir yang telah dijanjikan Rangga untuk menjemputnya.
Tak lama kemudian ada sebuah mobil mewah berwarna putih menepi ke depan ruko Nabila, dan tak lama keluarlah seorang laki laki paruh baya dengan kumis lebat yang mengenakan baju serba hitam menghampiri Nabila yang tengah berdiri menyandar tembok sambil memainkan ponselnya.
"Nona Nabila ya?, Saya Kasim nona supir kantor Pradipta Corporation". Sapa laki laki paruh baya itu yang tak lain adalah supir kantor yang dikirim oleh Rangga, laki laki paruh baya itu menganggukkan kepalanya memberi hormat kepada Nabila.
"Iya pak saya Nabila, bapak supir yang dikirim untuk menjemput saya bukan?". Tanya Nabila memastikan.
"Iya nona, saya di suruh tuan muda menjemput nona dan mengantarkan nona pulang untuk beberapa hari kedepan nona". Jawabnya.
"Silahkan nona". Pak kasim mempersilahkan Nabila menuju mobil, dengan cepat Ia membukakan pintu penumpang untuk Nabila.
"Terimakasih pak". Ucap Nabila setelah duduk di dalam mobil.
Pak kasim mengemudikan mobilnya menuju rumah Nabila, namun sepanjang perjalanan beliau terlihat begitu gelisah, berkali kali Ia melihat ke arah spion mobil.
Dengan ragu Ia mencoba memberitahukan apa yang membuatnya gelisah kepada Nabila.
"Nona". Ucapnya sambil melirik spion dalam yang terdapat pantulan Nabila tengah menatap jalanan ibu kota dari sisi jendela.
"Iya pak kasim, ada apa?". Tanya Nabila yang melihat kegelisahan dari sang supir.
"Sepertinya ada yang ngikutin kita nona". Jawabnya sambil melirik ke spion, memang benar ada sebuah mobil yang sejak tadi mengikuti mereka.
"Benarkah?". Nabila menoleh ke arah belakang mencari apa yang dimaksud pak kasim, netra Nabila membulat sempurna saat manik nya menangkap sebuah mobil yang benar benar mengikutinya.
"Pak apa bapak tahu itu mobil siapa?". Tanya Nabila.
"Saya tidak tahu nona, saya belum pernah melihat mobil itu sebelumnya di kantor".
Nabila mencoba tenang, barangkali itu hanya mobil yang kebetulan memiliki jalur sama dengannya. Namun memang terlihat aneh mobil itu mengikuti mereka hingga ke komplek perumahan yang Nabila tinggali.
Pak kasim turun dari mobil setelah memasuki halaman rumah Nabila, beliau bergegas membukakan pintu untuk Nabila , mata laki laki itu tak lepas dari mobil yang sejak tadi mengikutinya yang kini berhenti tak jauh dari rumah Nabila.
Nabila keluar dari mobil dan memperhatikan mobil yang juga ikut berhenti tak jauh dari rumahnya, Nabila mencoba menunggu siapa yang akan keluar dari dalam mobil itu namun setelah beberapa menit menunggu tak ada siapa pun yang keluar dari dalam mobil itu, sepertinya orang dibalik kemudi itu hanya mempethatikan Nabila dari dalam sana dan tak berniat untuk turun atau menemui gadis itu.
"Pak terimakasih ya, sekarang bapak tidak usah pikirkan mobil itu lagi mungkin itu hanya orang yang kurang kerjaan saja". Ucap Nabila.
Pak kasim pun pamit pulang kepada Nabila.
Nabila segera melangkahkan kakinya memasuki rumahnya, namun Ia masih benar benar penasaran dengan mobil yang tadi, gadis itu mengintip dari balik tirai yang menutupi jendela rumahnya.
Dan mobil itu masih berada di tempat yang sama tanpa ada yang keluar dari dalamnya, Nabila menunggu pergerakan dari mobil itu benar saja tak lama kemudian mobil itu pergi dari sana meninggalkan rumah Nabila dan menyisakan segudang tanda tanya di kepala Nabila.
Nabila menghembuskan nafas perlahan mencoba menghilangkan dan melupakan kejadian itu dari dalam pikirannya, Ia bergegas memasuki kamarnya dan membersihkan diri dari peluh dan debu yang menempel di tubuhnya.
__ADS_1