Pangeran Impian Gadis Malang

Pangeran Impian Gadis Malang
Episode 102 Kepulangan Rania


__ADS_3

Seorang gadis cantik berjalan begitu ceria, menarik koper miliknya sambil bersenandung, senyuman manisnya tak menyurut dari wajah cantiknya.


Hatinya berbunga bunga, perasaan bahagia melingkupi dirinya hingga membuat jantungnya sedikit berdetak cepat.


Rania sangat bahagia, saat ini dirinya baru saja mendarat di salah satu Bandara Internasional di Jakarta, itu artinya tidak butuh waktu lama lagi dirinya akan bertemu pujaan hatinya, orang yang sudah satu tahun terakhir ini memenuhi setiap relung hatinya, laki laki yang berhasil membuat dirinya jatuh cinta, namanya sudah terukir indah di lubuk hatinya yang paling dalam.


Sebelum terbang ke Indonesia Rendy melakukan video call dengannya, mengobrol banyak hal, mereka juga membuat janji bertemu setelah Rania samapai di Indonesia, hanya karena hal sekecil itu sudah membuat hatinya berbunga bunga seperti saat ini.


Sebenarnya Rendy menawarkan untuk menjemput gadis itu di Bandara namun Rania menolaknya karena Rangga berjanji akan menjemputnya di Bandara, akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu malam nanti untuk makan malam bersama.


Rania mencari cari keberadaan Rangga diantara kerumunan orang yang menunggu di kedatangan.


"Ah itu dia", Rania menangkap sosok tampan Rangga yang tengah mencari cari dirinya.


"Kakak," Teriaknya sambil melangkah setengah berlari ke arah Rangga.


Rangga tersenyum simpul, menyambut pelukan Rania sambil mengacak puncak kepalanya.


"Selamat ya sayang, akhirnya kamu lulus juga, adik kakak yang manja ini ternyata bisa juga ya jadi Sarjana," Ujar Rangga sambil terkekeh.


"Ya bisa dong kak, aku kan pintar tidak seperti kakak," Rania membusungkan dadanya membuat Rangga kembali terkekeh.


"Mama sama papa tidak ikut pulang?"


"Mama sama papa masih mengurus bisnisnya disana, aku di suruh pulang duluan sepertinya lama mereka disana,"


"Tapi mereka datang kan waktu acara wisudamu dek?"


"Datang dong kak, aku kan anaknya juga." Gerutu Rania.


"Hahahah" Rangga tertawa "Kakak pikir kamu anak tetangga dek," ujarnya sambil tertawa.


"Ihhh kakak," Rania mencubit pinggang Rangga dengan kuat.


"Awww, iya ampun...ampun... Kamu anak mama papa," ujarnya memiringkan badannya menahan sakit karena cubitan Rania.


"Rasain tuh!" seru Rania berkacak pinggang.


"Sudah ya jangan marah lagi, oiya kenapa kamu ngga mau naik jet pribadi milik papa saja?, jadi tidak perlu repot mengantri ini dan itu," Rangga meraih koper yang di bawa Rania.

__ADS_1


"Ngga mau kak, aku kan bukan anak manja seperti kakak yang ngga biasa memakai transportasi umum," Rania menjulurkan lidahnya membuat Rangga tekekeh.


Pletak..


Rangga menjitak pelan kepala Rania.


"Aw sakit tahu kak," Rania memegangi kepalanya.


Rangga terkekeh, "Salah sendiri ngatain kakak manja."


"Sudah ayo pulang," Rangga menggandeng tangan Rania berjalan menuju tempat mobilnya terparkir.


"Babysitter kakak ngga ikut?, tumben?"


"Siapa maksudmu?"


"Leon lah siapa lagi, dia kan sudah seperti babysittermu kak. Ikut kemanapun kamu pergi, melayani semua kebutuhanmu. Apa namanya kalau bukan babysitter


"Dia di kantor banyak yang dia urus, setelah ini juga kakak balik lagi ke kantor,"


"Kenapa?, Kamu kangen ya sama dia?" ujar Rangga sambil terkekeh.


"Laki laki tanpa ekspresi begitu mana cocok sama aku yang cantiknya paripurna begini," sambungnya membuat Rangga tertawa.


"Kamu ini ada ada saja dek," Rangga mengacak rambut Rania.


"Makasi ya kakak sudah menyempatkan waktu kakak buat jemput aku," Rania bergelayut di lengan Rangga, Rangga mengacak puncak kepala Rania lalu mengecupnya.


Rangga dan Rania sudah berada di dalam mobil, setelah memakai sabuk pengaman dengan benar Rangga segera menancap gas keluar dari pelataran Bandara.


"Dek, nanti malam kamu temani kakak iparmu ya, kakak hari harus overtime mungkin akan pulang larut malam," ujar Rangga tanpa menoleh, fokus menatap jalanan di depan.


"Aku ngga bisa kakak, nanti malam aku mau makan malam dengan Rendy," ujar Rania dengan hebohnya.


Ciiiittttt!!!


Rangga menginjak rem dengan tiba tiba membuat Rania tersentak dan segera menutupi mulutnya yang sudah kelepasan bicara.


Rangga menatap Rania penuh selidik, kedua tangannya lepas dari kemudi lalu satu tangannya terulur meraih dagu Rania mengarahkan wajah Rania untuk menghadapnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu bilang barusan?, coba katakan lagi!" serunya, tangannya masih tak melepas dagu Rania.


"Astaga ini mulut kenapa bisa kelepasan begini sih!" Batin Rania.


Rania hanya membungkam, menunduk tak berani menatap sorot mata Rangga yang terdapat kilatan emosi.


"Dek, jawab kakak!"


Rania masih membisu sambil memejamkan matanya.


"Kamu mau makan malam dengan cowok s*alan itu?!" tanyanya lagi dengan nada cukup tinggi.


Sungguh Rania masih tak berani menjawab.


"Kamu masih berhubungan dengannya?, kan sudah kakak bilang jauhi dia! kenapa kamu keras kepala sekali!" Rangga melepaskan dagu Rania, tangannya memukul kemudi dengan frustasi.


"Apa kamu masih mencintainya?!" tanyanya penuh selidik.


"Aduh, bagaimana ini kakak sangat marah." Rania mengigit bibir bagian dalamnya.


"Dek, kakak mohon jauhi dia, lupakan dia. Dia cuma mau manfaatin kamu untuk balas dendam kepadaku." Kali ini nadanya sudah melembut.


"Kakak selalu saja bicara seperti itu, dia bukan orang seperti itu kak!" Rania buka suara, mengerucutkan bibirnya merasa kesal dengan tuduhan tuduhan Rangga kepada Rendy.


Dari mana kamu tahu kalau dia bukan orang seperti itu?!"


"Aku tahu dia, karena aku lebih kenal dia daripada kakak. Dia laki laki yang baik tidak seperti apa yang kakak pikirkan," Rania mencebik.


"Laki laki baik tidak akan mengejar istri orang lain!" seru Rangga membuat Rania kalah telak.


"Tapi kak, kakak salah paham perasaan dia ke kakak ipar sudah berubah, aku yakin dia tidak akan merebut kakak ipar dari kakak. Kakak saja yang cemburunya berlebihan."


"Dek kamu tidak tahu masalahnya, jadi jangan sok tahu." Kesal Rangga.


"Aku bukannya sok tahu tapi memang itu kenyataannya, kakak saja yang terlalu berlebihan."


"Kamu tidak tahu kan kalau satu tahun yang lalu dia masih mengejar Nabila dan mau merebutnya dari kakak?!"


Rania terperangah, ia memajukan duduknya dan sedikit memutar tubuhnya hingga menghadap Rangga.

__ADS_1


__ADS_2