
"Dek kamu tidak tahu masalahnya, jadi jangan sok tahu." Kesal Rangga.
"Aku bukannya sok tahu tapi memang itu kenyataannya, kakak saja yang terlalu berlebihan."
"Kamu tidak tahu kan kalau satu tahun yang lalu dia masih mengejar Nabila dan mau merebutnya dari kakak?!"
Rania terperangah, ia memajukan duduknya dan sedikit memutar tubuhnya hingga menghadap Rangga.
"A..apa maksud kakak?"
"Kamu yakin mau dengar penjelasan kakak?, kakak takut itu akan menyakiti hatimu." ujar Rangga.
"Sudahlah lupakan masalah itu, yang terpenting jauhi dia dan lupakan dia!" sambungnya.
Rangga sudah bersiap melajukan mobilnya kembali namun Rania mencegahnya.
"Tunggu kak, kakak jelaskan dulu semuanya kepadaku. Aku tidak akan sakit hati percayalah."
"Sudahlah lupakan saja."
"Kak, aku mohon," Rania menarik narik jas yang dikenakan Rangga layaknya anak kecil meminta sesuatu kepada ibunya.
"Baiklah, tapi kamu harus janji jangan bersedih dan lupakan dia!"
Rania terdiam, bagaimana bisa dia berjanji untuk melupakan Rendy. Hatinya sudah memberikan ruang tersendiri untuk laki laki itu.
Tapi ia juga sangat penasaran dengan apa yang terjadi satu tahun yang lalu, apa benar Rendy masih mengejar Nabila?, apa benar Rendy masih mau merebut Nabila dari Rangga?.
"Kamu tidak bisa janji kan dek?, ya sudah lupakan saja masalah itu." ucapan Rangga membuat Rania tersentak.
"Aku janji kak," tuturnya tiba tiba.
Rangga menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan.
Sementara Rania memasang telinganya dengan baik, menunggu penjelasan Rangga.
__ADS_1
"Satun tahun yang lalu dia pernah mengirim Nabila pesan."
"Pesan?"
"Iya pesan pribadi, dan kamu tahu apa isi pesan itu?" Rania menggeleng.
"Isi pesannya itu 'Aku turut bahagia melihatmu bahagia, namun jika kamu tak merasakan itu aku akan menjemputmu dan membahagiakanmu' seperti itu isi pesannya," Rangga menatap Rania yang terperangah.
Rania terkesiap dengan apa yang baru saja ia dengar, dadanya seakan menyesak seperti tidak ada pasokan oksigen di dalam sana, jantungnya mencelos seperti hendak keluar dari tempatnya.
Rania mengerjapkan matanya untuk menahan air matanya yang meronta hendak keluar.
Dengan susah payah ia menahan namun tak berhasil, bulir bening itu berjatuhan membasahi pipinya, sakit sungguh sakit hatinya mendengar kenyataan itu.
Bukankah selama ini Rendy sangat baik padanya, Rendy sangat perhatian padanya bahkan selama satu tahun ini mereka berkomunikasi dengan intens, Rendy selalu menyempatkan diri untuk melakukan video call di sela sela kegiatannya sehari hari, selalu mengirimi Rania pesan setiap saat, menanyakan kabar, mengingatkan dia ini itu, bercerita banyak hal, tapi kenapa kenyataanya justru seperti ini.
Lalu apa maksud dari semua itu?, bukankah dia juga pernah mengatakan kalau dirinya sangat berarti buat dia, dan dia juga pernah mengatakan kalau dia akan menunggunya pulang, jadi apa maksudnya ini semua?.
Apa Rania yang terlalu berharap hingga membuatnya salah mengartikan semua kebaikan Rendy kepadanya.
Entahlah yang jelas saat ini Rania tidak bisa menahan air matanya, rasa sakit di hatinya begitu terasa.
"Kenapa menangis, heum? kamu kan sudah janji tadi tidak akan bersedih." Rangga mengusap pelan puncak kepala Rania yang ada dalam pelukannya.
"Apa kamu masih mencintainya?"
Rania semakin menangis mendengar pertanyaan Rangga.
Ya dirinya masih mencintainya bahkan semakin mencintainya, cinta itu tidak bisa ia musnahkan dari dalam hatinya justru semakin tumbuh subur di dalam sana.
Rania tak menjawab pertanyaan Rangga.
Yang jelas saat ini dia telah kecewa, ternyata dia telah salah mengartikan semua kebaikan Rendy, ternyata laki laki itu masih mengejar kakak iparnya.
"Jangan menangis lagi ya, kamu tenangkan dirimu dulu, jangan lagi memikirkan dia yang sudah menyakitimu." Rangga melepas pelukannya, menghapus air mata Rania dari wajah cantiknya.
__ADS_1
Rania mengangguk pelan, ia menarik tubuhnya kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, Menatap kosong ke arah jendela.
Rangga kembali menjalankan mobilnya menuju kediamannya.
Sepanjang perjalanan, Rania hanya terdiam menatap jalalanan dengan tatapan sendu, tidak ada lagi keceriaan dalam dirinya, tidak ada lagi semangat dalam dirinya seperti saat pertama ia menginjakkan kakinya di Indonesia beberapa saat yang lalu.
Hatinya sakit dan kecewa ia tak mampu lagi berkata kata, keceriaan dalam dirinya menguap begitu saja ditelan rasa kecewa yang begitu dalam, semangatnya yang menggebu pun ikut sirna tersapu air matanya yang menyiratkan kepedihan hatinya.
"Dek, sudah sampai, masuklah aku harus kembali ke kantor," Rangga menghentikan laju mobilnya tepat di depan gerbang yang menjulang tinggi yang menjadi pintu masuk kediaman Pramudita.
"Iya kak," Rania melepas sabuk pengamannya.
"Kak koperku," ujarnya saat hendak membuka pintu mobil.
"Oiya," Rangga menepuk keningnya sendiri, iya pun keluar dan membantu Rania mengeluarkan kopernya dari bagasi mobil.
"Nanti malam, kamu jangan pergi makan malam dengannya. Lebih baik makan malam di rumah dan temani kakak iparmu," Rangga mengacak puncak kepala Rania.
"Aku balik ke kantor dulu ya," Rangga mengecup sekilas puncak kepala Rania, lalu meninggalkan gadis itu yang masih berdiri mematung.
Mobil Rangga sudah tak terlihat lagi dari pandangan Rania ia segera masuk ke dalam rumah setelah penjaga rumah membukakan pintu gerbangnya.
Ucapan Rangga tadi membuat Rania teringat akan janjinya dengan Rendy untuk makan malam bersama, Rania dilema apa dirinya harus membatalkan moment yang sangat ia tunggu tunggu selama satu tahun dirinya di Amerika.
Ya moment bertemu dengan Rendy adalah moment yang sangat ia nanti natikan, dan nanti malam moment itu akan datang tapi entahlah Rania menjadi sangat malas untuk bertemu dengan laki laki itu.
Rania berjalan tanpa semangat dari pintu gerbang menuju pintu utama, cukup lama ia berjalan karena memang jaraknya cukup jauh ditambah ia berjalan dengan malas mlasan, pikirannya melayang jauh kemana mana.
Setelah beberapa saat kemudian ia sampai di depan pintu, ia menekan bel dengan sangat malas.
Ting...
Tong..
Ting..
__ADS_1
Tong..
Tak lama kemudian muncullah Nabila dari balik pintu setelah pintu itu terbuka.