
Leon menyambut kedatangan Rania di depan lift, laki laki itu sudah menunggu Rania datang sejak beberapa waktu yang lalu.
Leon membungkuk hormat dan Rania hanya membalasnya dengan tersenyum tipis.
"Mari saya antar nona ke ruangan nona," tutur Leon, tangannya menunjuk arah sebuah ruangan yang tak jauh dari lift.
Rania mengangguk lalu mengikuti kemana kaki laki laki dengan setelan jas hitam itu melangkah.
"Ini ruangan nona," Leon membuka pintu sebuah ruangan yang akan dijadikan ruang kerja Rania sebagai sekretaris pribadi Rangga.
Rania berjalan memasuki ruangan yang cukup luas, semua yang ada disana tertata dengan rapi dan terstruktur.
Leon memberikan job desk kepada Rania dari meja kerja yang akan ditempati Rania.
"Nona silahkan anda pelajari dulu job desknya," Leon menyerahkan beberapa lembar kertas yang berisi tentang tugas dan tanggung jawab apa saja untuk Rania sebagai sekretaris pribadi Rangga.
"Terimakasih Leon," Rania tersenyum tipis.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya nona, jika anda membutuhkan sesuatu saya berada di ruagan saya yang berada di depan ruanganmu," ucapnya sebelum berlalu pergi meninggalkan Rania yang sudah duduk di meja kerjanya sambil mempelajari job desknya.
****
Nabila sedang berada di perjalanan menuju kantor, hari ini ia memang sengaja tidak langsung pulang ke rumah entah kenapa tiba tiba dirinya merasa sangat merindukan suaminya.
Untuk itulah dia meminta supir kantor yang menjemputnya dari kampus untuk mengantarnya ke kantor Rangga.
Padahal baru beberapa jam saja dirinya pisah dengan Rangga tapi rasa rindu tiba tiba saja membuncah dalam dirinya, entahlah biasanya Nabila tidak seperti ini.
"Sudah sampai nona," ujar sang supir sambil membukakan pintu mobil untuk Nabila.
Nabila terperanjat, ah sepertinya tadi dirinya melamun hingga tak menyadari jika mereka sudah sampai.
"Terimakasih pak," ucap Nabila tersenyum saat dirinya sudah keluar dari mobil.
"Nona, apa mau saya antarkan ke ruangan tuan muda?" Pak Kasim menawarkan.
"Tidak perlu pak, biar saya sendiri saja. Bapak istirahat saja dulu, " ujar Nabila.
__ADS_1
"Baiklah nona," menganggukan kepala sopan.
"Kalau begitu saya, masuk dulu ya pak," pamit Nabila sebelum dirinya meninggalkan sang supir.
Nabila terperangah melihat bangunan megah tinggi menjulang tinggi hampir mencakar langit ibu kota, kantor yang sangat besar yang pernah ia lihat.
Nabila berjalan menuju loby, mata indahnya disambut dengan desain interior loby yang begitu apik, nyaman dan welcoming juga representatif sehingga membuat citra perusahaan lebih meyakinkan dan terpercaya.
"Permisi nona, saya mau ke ruangan tuan Rangga. Ruangannya ada di lantai berapa ya," tanya Nabila sopan kepada salah satu petugas receptionist kantor.
"Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?" tanya pegawai wanita itu.
"Belum," jawab Nabila singkat.
"Maaf, anda tidak bisa bertemu dengan tuan muda. Harus membuat janji terlebih dahulu," jawabnya sedikit ketus.
Nabila mengernyitkan dahinya, apa memang seribet ini jika ingin bertemu dengan orang penting di kantor ini, begitu pikirnya.
"Ya sudah, kalau begitu saya tunggu saja disitu" ujar Nabila sambil menunjuk sofa yang berada tak jauh dari meja receptionist.
"Terserah anda saja nona," sahutnya tak sopan. Sorot matanya meneliti penampilan Nabila dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Cihh, dia pasti wanita murahan yang ingin m*njual tubuhnya dan mengincar uang tuan muda," gumam pegawai wanita itu dalam hati saat melihat semua barang yang menempel ditubuh Nabila semua barang barang branded mahal.
"Barang barang yang ia kenakan pasti itu hasil dari m*njual tubuhnya," gumamnya lagi.
"Kenapa anda memperhatikan saya seperti itu nona?! Apa ada yang salah dengan penampilan saya?!" seru Nabila.
"Kenapa kamu tidak sopan sekali bicara denganku, dasar wanita m*rahan!" serunya sambil melototkan matanya dan berkacak pinggang menatap Nabila.
Salah satu pegawai receptionist lainnya yang baru saja datang terkesiap melihat temannya sedang adu mulut dengan istri dari tuan muda keluarga Pramudita, pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
Ya pegawai wanita itu ingat betul dengan wajah cantik istri Rangga, saat berita pernikahan Rangga memenuhi layar tv di rumahnya membuatnya sangat mengenali wajah Nabila walaupun baru pertama kali bertemu.
"Maafkan teman saya nona, anda nona Nabila bukan?" tanya pegawai wanita lainnya setelah membungkuk hormat.
Sementara pegawai wanita itu masih terlihat bingung dengan sikap temannya yang tiba tiba meminta maaf.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa saya bantu nona?" tanyanya sopan.
"Saya ingin bertemu suami saya, bisa beritahu saya dimana ruangannya," ujar Nabila ramah kepada wanita itu dengan senyum mengembang.
"Ruangan tuan muda Rangga ada di lantai 15 nona, mari saya antar," tawarnya.
"Ah tidak perlu nona, terimakasih biar saya sendiri saja. Silahkan nona lanjutkan kembali pekerjaannya," Nabila tersenyum ramah.
Pegawai wanita yang sempat bedebat dengan Nabila itu terperangah saat mengetahui kalau Nabila adalah istri dari Rangga, wajahnya memucat dan tubuhnya gemetar, ia meras kedua tangannya sendiri sambil menunduk.
"Dan untuk kamu nona, saya akan meminta suami saya untuk memindahkan anda di bagian lain karena saya pikir anda tidak cocok dengan bagian ini, karena etika dan atitude anda sangat buruk saat menyambut orang yang datang kemari," Nabila menatap wanita yang sempat berdebat dengannya yang kini sedang menunduk menahan malu.
"Ma..maafkan saya nona, sa.. saya tidak tahu kalau nona adalah istri tuan muda Rangga," ujarnya tergagap tak berani mengangkat wajahnya.
"Terlepas saya istri Rangga atau bukan kamu tidak boleh memperlakukan orang lain seperti itu, jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya saja."
"Kamu harus banyak belajar bagaimana cara menghormati dan menghargai lawan bicaramu, untuk itu saya akan meminta suami saya untuk mengganti posisi anda dengan orang yang lebih mempunyai etika dan kepribadian yang baik, bukan begitu nona Amelia," ujar Nabila, melirik name tag yang tersemat rapi di balzer berwarna hitam yang dikenakannya.
"No..na, no.. na saya mohon jangan pecat saya," ujarnya terbata dengan wajah memohon.
"Siapa yang akan memecatmu nona Amelia? Saya hanya meminta atasan anda untuk mengganti posisi kamu karena saya pikir citra perusahaan akan sangat buruk jika cara penyambutan orang yang datang kemari seperti yang anda lakukan," ujar Nabila sambil tersenyum, lalu melenggang menjauh dari meja receptionist.
Pegawai wanita itu terduduk lemas, ia merutuki kebodohannya karena sudah berlaku tidak sopan kepada istri dari anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja, dirinya nyaris saja kehilangan pekerjaanya.
Nabila sendiri tidak habis pikir perusahaan sebesar itu mempunyai pegawai receptionist yang buruk, yang mungkin saja akan berdampak fatal pada citra perusahaan, bukankah sesuatu itu akan ternilai bagus atau buruk salah satunya dilihat dari kesan pertamanya terlebih dulu.
Sebenarnya Nabila tidak mau ikut campur dengan masalah perusahaan, karena jujur dirinya tak mengerti sedikitpun tentang itu, namun ia juga tidak mau perusahaan milik keluarga suaminya itu akan hancur karena telah memperkerjakan orang yang tidak tepat.
Bagaimana jika dirinya bukanlah istri Rangga melainkan klien penting yang akan melakukan kerja sama dengan perusahaan ini, bukan tidak mungkin dirinya akan membatalkan rencana kerjasamanya karena kesan yang buruk yang di berikan pegawai receptionist tadi.
Nabila sudah sampai di lantai dimana ruangan Rangga berada, sepanjang jalan menyusuri koridor dan kubikel para staf kantor dirinya tak henti membalas senyuman setiap karyawan yang menyapanya dengan sopan, membungkuk hormat.
Jujur sebenarnya Nabila tidak suka diperlakukan layaknya bos besar seperti itu namun ia senang karena itu artinya semua staf dan karyawan lainnya memiliki etika dan atitude yang baik tidak seperti pegawai receptionist yang ia temui di front office beberapa saat yang lalu.
"Kakak ipar?" Rania yang baru saja keluar dari ruangan Rangga berlari menghambur memeluk Nabila.
"Kakak ipar sedang apa disini?" Tanya Rania setelah melepas pelukannya.
__ADS_1
"Mau ketemu mas Rangga dek, eh gimana hari pertama kerja?" Tanya Nabila kepada Rania.